Yang Mahal Itu..

gambar: muhammakiify.files.wordpress.com

Yang mahal itu kesendirian. Menikmati setiap detik waktu berjalan dan memaknai setiap pergantian fase hidup yang Tuhan berikan. Bukan tidak mungkin, padatnya pekerjaan, menjadikan kita buruh-buruh bagi berputarnya peradaban.

Yang mahal itu menjadi teladan. Saat setiap orang hanya ingin menjadi ikutan, sungguh sedikit yang mau menjadi panutan. Semua menunggu untuk diatur, khawatir takut digusur kalau kebanyakan bertutur.

Yang mahal itu diam. Berapa banyak tempat yang kita isi dengan riuhnya percakapan, hingga kadang mengeraskan jiwa-jiwa kemanusiaan. Hidup yang digerakkan otot mulut hanya membuat orang menjadi saling sikut untuk sekadar mengenyangkan perut.

Yang mahal itu rindu. Rindu untuk saling bertatap muka penuh cinta dan makna. Rindu yang dihiasi dengan saling mendoakan agar tetap berjalan dalam jalan-jalan keberkahan. Rindu yang tak bertepi ruang dan waktu. Selamanya, di tiap sujud tetap mendoakanmu.

Yang mahal itu belajar. Belajar untuk mau mendengar. Belajar untuk mau melihat lebih dekat . Belajar untuk mau dididik untuk menjadi lebih baik. Belajar kepada siapapun, dimanapun, dan dalam kondisi apapun.

Yang mahal itu sujud di waktu malam. Bertemu dengan Tuhan-mu di antara nikmatnya pembaringan. Dengan berbalur dosa, kita memohon pengampunan. Mohon ampun dari segala kekhilafan dan kedustaan yang kita lakukan. Qum Fa andzir! Bangun dan serulah Tuhan-mu.

Yang Mahal itu…


*gambar: muhammakiify.files.wordpress.com

 

Too Muck Talk Will Kill You

foto: ist

foto: ist

“Barangsiapa yang banyak perkataannya, niscaya banyaklah kesalahannya. Barangsiapa yang banyak salahnya, niscaya banyaklah dosanya. Dan barangsiapa yang banyak dosanya, niscaya neraka lebih utama baginya” (Umar bin Khattab ra.)

 

Bisa jadi, salah satu yang membedakan hidup di era kini (pasca reformasi) dengan sebelumnya adalah soal kebiasaan untuk mengeluarkan pendapat. Kebiasaan untuk berkomentar tentang hal apapun yang sedang menjadi pembahasan di publik. Ciri khas budaya – yang katanya – demokrasi tersebut, terlihat dari bagaimana riuhnya pertarungan wacana yang beredar di media sosial: mulai dari yang sekadar asal njeplak, berilmu, hingga berwacana dengan menggunakan ilustrasi (meme)

Ayahku pernah bilang, waktu Beliau masih muda, di zaman Pak Harto jangan coba-coba untuk berkonfrontasi dengan pemerintah. Jangankan memberi ruang untuk konfrontatif, berbeda pilihan meskipun tidak mengambil sikap melawan pun, akan berlaku hukum stick and carrot terhadapnya. Penjara-penjara memang disesaki banyak orang yang melawan rezimnya, tapi itu tak seberapa dibandingkan pemenjaraan pikiran yang diam-diam menyusup di dalam alam bawah sadar bangsa ini. Rezim Soeharto begitu kuat, tapi tipis bedanya dengan otoriter. Begitu tutur Ayah.

Sebagai seorang yang lahir di era transisi dan mendapat penjelasan dari Ayah tersebut, kini aku tahu titik dasar persoalannya: bukan karena dilarang berpendapat di muka umum, tapi substansi yang disampaikan dan efek domino yang ditimbulkan darinya kepada khalayak ramai. Kini kita rasakan itu. Kita rasakan betapa sebagian besar waktu dan emosi kita habis untuk menanggapi suatu hal yang sangat mungkin di luar kapasitas keilmuan, wawasan, serta pengalaman kita terhadapnya.

Sulitnya lagi, media melakukan kapitalisasi atas wacana yang berkembang liar di masyarakat tersebut. Bagai mengayun di antara dua ombak, media seakan menjadi perahu yang berselancar di atasnya dan paling berhak menentukan kemana arah layar pemberitaan yang diinginkannya. Kita sebagai penumpang? Tidak punya pilihan, selain ribut dan tidak membuat sekoci sendiri untuk mencoba keluar darinya.

Susahnya, tidak semua kita dibekali ilmu berenang di lautan lepas pemberitaan. Susahnya lagi, tidak semua kita diajarkan untuk membuat sekoci sendiri untuk tetap mengikuti pemberitaan tapi tidak terjebak dalam kapitalisasi media. Dan yang lebih susah lagi, tidak semua kita belajar teknologi membuat kapal terbang sehingga bisa melakukan helicopter view dalam setiap tren pemberitaan.  Poinnya, pada penguatan keilmuan dan tidak sekadar berwacana di muka umum.

Di satu sisi, Rezim Soeharto itu benar: masyarakat dibiasakan untuk tidak yang penting bicara. Tapi, kekuasaan yang tidak dikawal dan dibatasi pun akan tends to corrupt (Lord Acton) . Di sisi lain, bicara yang penting saja menuntut seseorang untuk memahami betul teks dan konteks setiap wacana yang ia sampaikan ke publik. Teks berkaitan dengan hal yang disampaikan, sedangkan konteks berkaitan dengan dampak (social cost) yang timbul dari setiap orang yang mendengar, melihat, atau membacanya. Sehingga, level yang harus ditapaki bukan lagi sebatas butuh keilmuan tapi juga butuh kearifan saat menyampaikan pendapat, baik dalam bentuk tulisan maupun pembicaraan

Bagai membuka kotak pandora, negeri kita memang baru belajar berdemokrasi secara substansif. Banyak serangga-serangga demokrasi yang membawa racun yang keluar dari kotak tersebut. Kita hanya perlu bersabar menunggu peri kecil hadir dari kotak tersebut, sambil belajar agar imun hadapi serangga-serangga beracun demokrasi. Salah satu pembelajaran yang dapat dipetik adalah belajar untuk menahan diri dari setiap pertarungan wacana, sambil menyiapkan diri kelak saat kita dimintai pendapat di forum terhormat dan disaksikan banyak orang dengan penuh khidmat.

Kalau Queen pernah bilang too much love will kill you, maka bangsa ini perlu menggantinya dengan too much talk will kill you

 

 

 

 

 

Pulitzer, Media Gurem, dan Pembangunan Opini

media-literacy

 

Media-media di Indonesia tampaknya harus banyak belajar dari media-media internasional, khususnya di Amerika Serikat, dalam melakukan pengemasan berita, baik dalam bentuk artikel maupun foto. Pasalnya, pada pemilu 2014 silam, media-media di Indonesia terlibat intensif dalam pertarungan opini publik dalam dukung-mendukung dua kandidat capres yang bertarung. Hal tersebut, tak ayal, tidak sekadar membuat opini publik ikut terbelah, melainkan juga kohesi sosial kebangsaan menjadi berpotensi terpecah

Pertarungan opini publik tersebut bisa terpecut dari beberapa hal dalam media, misalnya penggunaan paraphrase dalam judul, spinning opinion dalam kesimpulan, atau lead dalam suatu berita. Singkatnya, setiap artikel berita yang disampaikan memiliki pesan tertentu: apahidden agenda dibalik pemberitaan tersebut? Untuk publik yang telah memiliki budaya literasi yang cukup, ia tidak akan percaya pada “pandangan pertama”, tapi, sulitnya, bagi mayoritas publik yang memiliki “sumbu pendek”, pelintiran artikel berita tersebut akan dipahami berbeda dan mengoyak-ngoyak emosi pembaca
fgfdgfdgdfgfdgkdfgmfklmgkldfmgkldfmgklmfdklgmdfklmgkldfmg
Menakar Kekuatan Media dalam Politik
Para pakar media yang berasal dari Universitas San Fransisco California (2012) menjelaskan: Media is the fourth state. Media telah menjadi “negara keempat” dimana peranannya sudah setara dengan lembaga eksekutif, yudikatif, hingga legislatif sekalipun. Hal tersebut sebagaimana telah dijalankan Amerika saat harus bertarung melawan Vietnam dalam Perang Vietnam. Meskipun pada akhirnya kalah, Amerika telah berhasil membentuk “frase khusus” dalam laporan pemberitaan yang dilakukan
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
Sebagai contoh, Departemen Pertahanan Amerika menggunakan istilah “pemindahan paksa warga sipil” dengan istilah “relokasi”, atau istilah “kebohongan” menjadi “elemen-elemen kesenjangan kredibilitas”. Amerika paham bahwa dengan dengan mengggunakan istilah yang lebih hati-hati dan soft tersebut, membuat perang menjadi tidak terlalu menakutkan bagi banyak orang, Perang bukan didanai dari pajak tapi dilakukan untuk memperbaiki pajak, begitu semboyannya
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
Dengan kata lain, dalam rantai panjang pembangunan isu publik, Media adalah awal dari rantai tersebut, tapi meskipun demikian, Media memiliki berpengaruh kuat dalam percaturan politik yang terjadi di negara pun, hingga menentukan proses akhirnya
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
Mengapa Pulitzer?
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
Penghargaan Pulitzer adalah penghargaan tahunan bagi media-media di Amerika Serikat yang terbagi dalam 21 kategori: Layanan Publik, Liputan Berita Terbaru, Liputan Investigasi, Liputan Explanatory, Liputan Lokal, Liputan Nasional, Liputan Internasional, Penulisan Feature, Komentar, Kritik, Tulisan Editorial, Kartun Editorial, Foto Berita Terbaru, Fiksi, Drama, Sejarah, Biografi, Puisi, Non-FIksi Umum, dan Musik
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
Dikutip dari situs pulitzer.org, penghargaan ini dinilai sebagai penghargaan prestisius dalam bidang jurnalisme cetak di Amerika. Dengan mengambil momen di Bulan April, penghargaan ini diberikan pertama kali pada 4 Juni 1917, dengan diambil dari nama Joseph Pulitzer seorang wartawan investigasi pada koran new York World. Untuk lebih menilai secara objektif sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalisme, maka Columbia University Graduate School of Journalism menjadi tim penilai independen untuk menentukan peraih penghargaan tersebut.
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
Kekuatan penghargaan Pulitzer terletak pada Jurnalisme Investigatif. Mulai dari penulisan berita, hingga foto yang dinominasikan, tidak sekadar bernilai artistik tapi juga bernilai investigasi. Untuk kategori jurnalistik, misalnya, penghargaan Pulitzer 2015 diraih oleh kota The Post and Courier dari Charleston, Amerika Serikat. Media gurem yang hanya memiliki 80 karyawan dan oplah 85.000 eksemplar tersebut, faktanya, berhasil meraih medali untuk kategori pelayanan publik, karena mengisahkan tentang tingginya jumlah kematian wanita akibat kekerasan rumah tangga yang dilakukan oleh laki-laki yang terjadi di negara South Carolina
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
The Post and Courier tidak satu-dua bulan menuliskan laporan tersebut. Redaktur Eksekutifnya, Mitch Pugh, bahkan mengatakan laporan investigasi tersebut dilakukan hingga delapan bulan dalam tulisan yang sangat panjang. Dampaknya, dari tulisan investigas ini, kini angka kematian tertinggi wanita di seluruh negara bagian Amerika Serikat tersebut, perlahan mulai menurun
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
The Washington Post, bekerjasama dengan media Inggris, The Guardian, bahkan tahun lalu juga mendapatkan penghargaan tersebut karena menerbitkan serangkaian bertia tentang kegiatan penyadapan Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat, yang dibocorkan oleh Edward Snowden dalam wikileaks. Kini, wikileaks, menjadi salah satu alat politik untuk menekan kedaulatan suatu negara agar mengikuti kemauan suatu negara, seperti terjadi antara hubungan Indonesia dan Australia silam tentang Hukuman Mati Narkoba
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
Belajar dari Pulitzer
 
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
Apa yang bisa dipetik dari Penghargaan Pulitzer tersebut? Apa pesan yang ingin disampaikan kepada seluruh awak media beserta publik yang membacanya? Apa efek signifikan dari pembangunan opini publik menyangkut tatanan sosial-politik tanah air?Kita belajar banyak dari penghargaan ini. Bukan dalam konteks sematan simbolisnya, tapi pada kemampuan para awak media untuk memberikan second opinion, alternatif berita dari media-media mainstream yang sudah ada dengan kekuatan kapital dan jejaring yang sangat massif. Bahwa media tidak berdiri di atas kakinya sendiri. Ia tidak bebas nilai. Setiap pilihan kata (diksi), lead, hingga, judul yang disampaikan punya makna sendiri.kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
dkfmlkfdgmdfgfdg

Media gurem tidak selamanya gurem dari segi pemberitaan. Bisa jadi ia sedang mengabarkan fakta sesungguhnya, yang lebih nyata dibandingkan media kapital pada umumnya. Ia bisa menjadi alternatif saat media mainstream sering menjadi perpanjangan tangan pemerintah untuk melegitimasi kebijakannya. Kalau kebijakan tersebut benar, tercerahkan lah masyarakat, tapi jika salah? wallahu ‘alam bisshowabkfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
dgdfgfdgdfgdfgdf
Kita ingat, apa kata Cokroaminoto saat surat kabar Oetusan Hindia ingin dibredel Belanda karena mengabarkan perlawanan , “Siapa yang sebenarnya mengabarkan kebohongan? Anda sebut ini perlawanan, tapi kami sebut ini kebenaran”

Ceritaku tentang Kampung UGM: Soal Bullying (1st chapter)

kampung UGM

Well. Sudah sekitar ini dua bulan lebih, saya tidak menulis di blog pribadi ini. Agak miris, karena ternyata, dunia kerja secara tidak langsung membuat waktu produktif kita untuk menulis dan membaca menjadi berkurang. Dalam jangka panjang, ini berbahaya. Karena akan memunculkan bibit-bibit minim kearifan yang lahir dari membaca, dan juga kemunduran intelektual untuk dalam membangun narasi ide dari setiap dinamika sosial-politik yang sedang berlangsung.

Proses self-awarness ini, alhamdulillah, saya rasakan betul. Awarness itu setidaknya dari terukur dari mulai hampir tidak pernah lagi kirim tulisan opini ke media, menyelesaikan bacaan buku, bahkan untuk mengirimkan paper untuk konferensi internasional. Saya menduga, kekhawatiran ini tidak sekadar dialami oleh diri ini pribadi, tapi juga bagi mereka yang selama di kampus aktif menghadirkan gagasan ke publik, lalu tiba-tiba saat sudah lulus dan diterima bekerja, mereka menghabiskan sebagian besar waktunya untuk day to day kepentingan pekerjaannya.

Ah, tapi beruntungnya, saya masuk ke dalam sebuah grup bernama Kampung-UGM, baik di grup FB atau di Telegram. Bagi saya pribadi ini grup gokil (baca: aneh bin ajaib bin ngocol). Karena isinya campur-campur: lebih banyak soal politik, tapi juga tak jarang bully-membully satu dua orang. Saya ingat, pertama kali gabung di grup FB Kampung UGM ini dimasukkan oleh Ibu Andi Rahmah pada tahun 2011, sedangkan gabung di grup telegram Kampung UGM baru-baru saja itu pun juga karena saya baru menginstall-nya.

Kenapa saya bilang beruntung? Karena ternyata saya “di-bully” habis-habisan di grup ini,  tentang yang biasa anak muda bujang hadapi: soal jodoh-menjodohkan . Menarik, karena setidaknya, “bullying” ini memaksa saya membuat tulisan satu-dua halaman untuk merekam setiap dinamika yang terjadi di grup dalam bentuk tulisan. Dengan kata lain, dinamika yang terjadi secara keseharian kita, sebenarnya, dapat dijadikan sebuah narasi besar jika kita kaitkan dengan konteks makro, mengkomparasikannya dengan case lain, dan menarik hikmah di dalamnnya. Walaupun, bully-ing nya soal “cocok-mencocokkan”, tapi setidaknya, saya menganggap itu bagian dari kita memperluas silaturahim dan mendewasakan kita dalam berkomunikasi di dunia maya dengan banyak dan beragam kalangan.

Sehingga, bullying itu sebenarnya sebuah kewajaran dalam dinamika kehidupan kita antar sesama manusia (habblumminannas). Meskipun berpeluang untuk melampaui kewajaran, tapi, setidaknya, semua itu kembali kepada diri kita masing-masing: seberapa kuat kita berpegang teguh pada pendirian dan tidak terbawa pada arus emosi sehingga menghilangkan akal sehat untuk menanggapinya. Di sinilah makna dari silaturahim: silaat warahim (menyambung dan memberikan kasih sayang)

Proses memperluas silaturahim ini, harapannya, tidak berhenti sampai di dunia maya saja. Karena, dunia ini penuh topeng, terlebih dunia maya. Maka, kehadiran kita di dalam dunia nyata (baca: kopdar), tampaknya akan lebih bermanfaat dan akan benar-benar menginsyafi apa itu makna silaturahim sesungguhnya. Kalau kata Rasul, perbanyaklah bersilatuhim karena akan memanjangkan usia dan menambah rezeki.

“Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturahim.” (H.R Bukhari)”

Merawat Akal Sehat: Cara Mensyukuri Segala Nikmat

bersykur ITak seperti biasanya, malam ini, saya pulang dari kantor dengan kecepatan motor tak lebih dari 60 km/jam. Bukan karena sebab perjalanan di Jakarta yang masih macet sekitar pukul 06.30 pm, tepat saat-saatnya jam pulang kantor. Bukan. Bukan karena itu. Jika diniatkan, mungkin saja saya ambil gas di atas 70 km/jam sehingga dapat menghemat waktu pulang hingga 20 menit lebih cepat.

Tapi, ini soal pikiran yang mengganjal di kepala. Tiba-tiba seolah ada hal yang harus dipikirkan lamat-lamat sepanjang perjalanan pulang. Pentingkah? Mungkin saja penting. Kalau tidak penting, kenapa sampai saya jadikan teman sepanjang perjalanan pulang. Bahkan sebegitu pentingnya, terkadang saya harus meneteskan beberapa titik air mata. Tanpa sadar.

Sepanjang perjalanan pulang itu, saya banyak belajar tentang kehidupan. Terutama, soal mensyukuri setiap nikmat yang diberikan oleh-Nya – di tengah segala kemaksiatan yang tiap harinya saya lakukan. Sebagai hamba yang seringnya kufur akan nikmat dari-Nya, diri ini dihadapkan pada satu fakta bahwa: ternyata ada, bahkan banyak rekan-rekan di kantor, yang diberikan gaji per bulan lebih rendah dibandingkan saya. Bahkan, beberapa di antara mereka telah berposisi sebagai seorang kepala rumah tangga yang sudah tentu memiliki kewajiban untuk memberi nafkah kepada keluarganya

Menurut saya, ini bukan soal kapasitas kemampuan seseorang yang berbanding lurus dengan hak yang sepantasnya. Bukan. Jauh daripada itu. Kalau sekadar persoalan gaji yang kaitannya dengan kemampuan seseorang, itu persoalan kelembagaan yang bersifat eksternal. Tapi, ini kaitannya terhadap persoalan internal-individual: bagaimana saya mampu bersyukur atas segala nikmat dan menginsyafi setiap rezeki yang diberikan tersebut untuk berbuat lebih baik dari hari ke hari.

Ujian: Bukan Hanya Saat Susah, tapi Juga Saat Senang.

Bisa jadi, kita lebih mudah diuji dengan kesabaran saat dilanda kesusahan. Tapi, berapa banyak di antara kita yang tetap eling lan waspada saat diuji dengan kesenangan. Tetap mawas diri saat diuji dengan segala nikmat kemudahan, serta kelapangan hidup dan waktu. Ini lagi-lagi bukan berarti kita tidak bersyukur. Bukan. Bukan itu. Tapi, ini soal bagaimana kita belajar: rezeki berlebih yang Dia berikan kepada kita tersebut, untuk apa akan dihabiskan.

Lalu, apakah itu berarti Alloh tidak adil kepada hamba-Nya yang semestinya mendapatkan lebih karena perannya sudah sebagai kepala rumah tangga? Tidak juga. Yang paling mengetahui sesuatu adalah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Prinsip keadilan tidak didasarkan pada ukuran materi (hardware) antar sesama manusia. Tapi, ukuran keadilan ditentukan berdasarkan kemampuan manajerial seseorang dalam mendayagunakan seluruh potensi yang dimilikinya (software).

Kalau ada orang yang berkemampuan minim, lalu dia dikasih rezeki berlebih untuk mengelolanya, maka yang mungkin terjadi adalah kemudharatan baik kepada dirinya maupun keluarganya. Karena dia tidak mengerti bagaimana mengatur nikmat rezeki tersebut. Sebaliknya, kalau ada orang yang berkemampuan mumpuni, lalu dikasih rezeki yang kurang dari yang dibutuhkan, maka yang terjadi adalah kemudharatan bagi umat karena menjadi tidak optimal dalam melayani umat. Nah, mekanisme untuk menjaga kesetimbangan untuk saling memberi antara The Have dan Not Have tersebut, itu melalui adanya ZIS: Zakat, Infaq, dan Shodaqoh. Itu menjadi kewajiban mutlak bagi seorang muslim untuk membantu saudaranya yang kesusahan.

Dengan kata lain, setiap nikmat itu selalu meminta kita kesadaran untuk berpikir: untuk apa dan kemana saja segala nikmat tersebut digunakan. Kesadaran berpikir ini pada gilirannya yang akan menjaga akal sehat untuk tidak dimabuk akan segala nikmat: Saat susah, tetap bersabar; saat senang, harus bersyukur.  Jika kesadaran berpikir tersebut hilang dari porosnya, maka yang ada adalah: saat susah kita mengeluh, saat senang kita angkuh. Sehingga, merawat akal sehat juga bagian dari kita menjaga agar segala perasaan jiwa kita tetap stabil bagaimana pun kondisinya.

Mudahkah? Tentu tidak. Butuh pelatihan yang intens setiap waktunya. Namun yang jelas, berpagi-pagi Al-Qur’an diturunkan 15 abad silam, Dia telah mengingatkan setiap hamba-Nya untuk tidak lalai dari setiap ujian yang diberikan kepadanya. Kelalaian tersebut disebabkan karena kekaburan akal sehingga mengelabui nurani dan menutup mata untuk mengetahui. Maka, merawat akal sehat adalah bagian dari untuk menjaga kesetimbangan tersebut: agar bagaimana tipu daya ujian itu senantiasa diwaspadai agar tidak larut dalam ujian, lalu tiba-tiba hancur lebur atas nama kufur nikmat.

“ Maka apabila manusia ditimpa bahaya, ia menyeru Kami. Kemudian, apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata, “Sesungguhnya, aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku”. Sebenarnya itu adalah ujia, tetapi kebanyak mereka itu tidak mengetahui” (QS. Az-Zumar: 49)