Dari Negeri Antah Berantah


Kita tidak pernah tahu kita terlahir sebagai apa. Kita tidak pernah dikasih tahu oleh Tuhan tentang garis hidup kita di dunia. Seandainya kita bisa memilih sewaktu di alam kandungan tentang dua pilihan: hidup makmur atau hidup miskin di dunia, tentunya hidup miskin bukanlah pilihan kita. Demikianlah adanya.

Itulah kondisi hidup kami saat ini. Senyum bahagia yang terpancar dari bibir sang bayi karena senangnya meminum susu, tak nampak karena begitu mahalnya harga susu. Makanan bergizi yang biasa terhidang di meja makan para hartawan, tak nampak di meja makan kami yang hanya dipenuhi oleh segelintir ikan asin, nasi yang jumlahnya tak seberapa dan masih harus dibagi-dibagi di antara kami, serta sebotol kecap dan saus yang siap menjadi pelengkap “mewahnya” hidangan kami.

Kami tak pernah menyesal kami terlahir di dunia dengan kondisi seperti ini. Karena percuma, toh nasib kami tidak pernah akan berubah hanya dengan mengatakan menyesal ataupun tidak. Kami mungkin keluarga bodoh yang tak pernah mengerti akan maksud Tuhan kenapa kami terlahir sebagai orang yang miskin.

Yang kami tahu hanyalah kami harus bekerja keras keluar dari lembah hitam ini. Kami harus bisa menghidupi keluarga kami yang membutuhkan banyak asupan gizi, biaya sekolah, pakaian, dan sebagainya. Yang kami tahu hanyalah mendapatkan uang sebanyak-banyaknya untuk bisa merealisasikan mimpi-mimpi kami. Sebuah mimpi yang mungkin terlalu tinggi: hidup berkecukupan.

Sesaat kami sekeluarga merenung tentang hidup ini. Mengapa dunia begitu semakin kejamnya. Memperlakukan manusia yang hidup miskin bagai binatang tak bertuan namun meng-gila hormati mereka yang memiliki banyak uang. Kami benci mereka.

Terlebih pada yang memiliki kekuasaan dalam pemerintahan. Rasanya percuma kami memilih mereka di setiap pemilu. Memilih atau tidak memilih toh sama saja tak ada perubahan pada nasib kami. Padahal kami yakin orang-orang yang kami pilih di pildes, pilgub, pileg bahkan pilpres adalah orang-orang yang memiliki kecerdasan lebih dibanding kami untuk merubah nasib bangsa ini, terutama orang-orang seperti kami. Tapi mengapa mereka cerdas untuk memperkaya diri sendiri saja? Tapi mengapa mereka malah tenggelam dalam lautan korupsi? Bukankah dengan mereka memiliki kecerdasan yang lebih mereka memiliki tanggung jawab intelektual yang lebih besar untuk memperbaiki nasib-nasib orang seperti kami daripada kami sendiri yang bodoh seperti ini? Kami menyesal memilih mereka.

Apalagi kepada para pengusaha. Kami sangat kecewa dengan mereka. Mereka mengatur kami dengan uang. Mulut kami disumpal dengan segepok uang untuk sekedar mencari popularitas dan jabatan. Tenaga kami diperas hingga kami lelah setiap harinya hanya untuk menambah jumlah komoditas ekspor. Otak kami dicuci dengan melihat kemewahan di televisi dan tempat perbelanjaan sehingga seakan-akan kami kampungan jika tidak mengikuti mode seperti ini. Pembual mereka semua. Pembual dengan CSR yang mereka gencarkan belakangan ini. CSR tidak lebih dari sekedar bedak untuk menutupi wajah buruk mereka di depan orang banyak.

Tragis. Sungguh tragis. Bukan berarti para akademisi, politisi, birokrat, jaksa, polisi, seniman, dan lain-lainnya adalah orang yang bebas dari dosa peradaban. Mereka juga memiliki andil dalam menciptakan hancurnya kondisi bangsa ini. Bahkan bisa jadi mereka lebih daripada itu.

Fiuh, kami lelah dengan semua ini. Semakin kami banyak menilai orang semakin kami sadar bahwasanya hidup ini terlalu singkat jika hanya diisi oleh penyesalan, kekecewaan, caci-makian, dan rasa sakit hati kami kepada mereka. Karena kami yakin sikap seperti ini tak bisa mengubah keadaan, yang ada hanyalah memperburuk keadaan.

Kami hanya keluarga kecil yang berada dalam sebuah skenario kebesaran Tuhan. Kami hanya keluarga sepi di tengah kehidupan yang riuh akan senda gurau.

Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau.

(QS. Muhammad: 36)

Kami hanya berdoa setiap saatnya sambil membaca kitab suci-Nya,”

Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebahagian yang lain dalam hal rezeki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau memberikan rezeki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezeki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?.

(QS. An-Nahl: 71)

Mungkin inilah bentuk penyampaian isi hati kami kepada pemimpin ke depan yang mau mendengar dan memahami orang-orang seperti kami. Kami tidak butuh orang yang hanya mau mendengar. Suara kami sudah cukup banyak terdengar di media massa, pilkada, atau pada sejenisnya yang penuh topeng itu. Kami hanya butuh pemimpin yang mau memahami: memahami nasib kami. Itu saja.

Ridwan Budiman

Mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisipol UGM

Dirjen Advokasi KOMAP

Kadiv Kastrat KAMMI Komsat UGM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s