Ketika Infrastruktur Pemilu Belum Terkelola


Sebuah ironi terjadi berulang kali di negeri ini. Tercatat, sudah sembilan kali republik ini mengadakan pemilu, namun persoalan demi persoalan tak kunjung berkurang. Bahkan di setiap kali pemilu, selalu saja ada persoalan mendasar yang itu sangat menentukan bagi proses perbaikan pemilu tiap kali diselenggarakan. Artinya, republik ini belum cukup dewasa untuk bisa belajar banyak dari sebuah kegagalan yang terus terjadi.

Kita bisa melihat, misalnya, di setiap kali pemilu selalu saja ada persoalan yang dicoba diangkat ke permukaan. Mulai dari persoalan ideologis sampai pada persoalan teknis sekalipun. Sebagai contoh, pemilu 1955, adalah momen saat isu nasionalis dan religius dikonfrontasikan; pemilu 1977 adalah timing ketika isu hegemoni Golkar dan parpol lainnya terangkat, bahkan hingga pemilu hari ini, yaitu saat isu-isu DPT, UU, dan lain sebagainya.

Dengan melihat fakta-fakta di atas, dalam analisis saya, ada sebuah pergeseran dari persoalan (isu) yang diangkat: dari isu yang bersifat ideologis ke isu teknis. Hal ini dapat dipahami sebagai bentuk proses pengadaptasian dari ruh zaman yang terjadi di dunia ini dalam skala global, dimana sebuah persoalan ideologis bukanlah sesuatu yang menjadi isu yang laku lagi untuk diperbincangkan.

Inilah yang sekiranya, menjadi dasar dalam menganalisis kenapa dalam dekade terakhir ini, isu yang diangkat dalam pemilu Indonesia selalu berkutat dalam masalah persoalan teknis yang itu sangat berhubungan dengan masalah infrastruktur pemilu itu sendiri. Kita tak pernah lagi mempersoalkan kenapa pemilu, sebagai suatu sarana, harus ada, melainkan kita selalu sibuk mengurusi akan prasarana dari pemilu itu sendiri.

Oleh karena itu, dalam konsep Kebijakan Publik, dalam menganalisis suatu permasalahan, tak kan lepas dari masalah sarana dan prasarana yang menjadi sebuah bahan dasar dari sebuah proses kebijakan. Maraknya kasus Daftar Pemilih Tetap (DPT) membuktikan bahwa KPU sebagai aktor penyelenggara utama Pemilihan Umum, belum banyak tanggap untuk mengurusi masalah prasarana yang serin diwacanankan oleh publik tersebut. Secara kinerja, semestinya KPU dengan cepat mengidentifikasi hal-hal apa yang dapat berimplikasi pada terlaksananya pemilu (sarana) tersebut.

Hal ini diperparah dengan kesadaran yang sangat lamban dari aktor-aktor politik lainnya yang punya andil cukup besar bagi terselenggaranya pemilu. Ada peran politisi di DPR di sana yang sangat berkepentingan tentang ”aturan main” pemilu. Setiap kali pemilu terselenggara, maka dengan gegabahnya politisi di DPR mepolitiki undang-undang agar bisa menguntungkan partainya. Ada juga di sana lakon partai politik yang menjadi aktor kompetitor utama yang saling bertarung. Semestinya mereka sedari awal, mempersoalkan tentang DPT ini jika mereka belajar dari kasus pilkada di Jawa Timur.

Oleh karena itu, dengan beranjak dari cara berpikir Kebijakan Publik yang dikaitkan dengan realitas pemilu yang terjadi, maka kita dapat melihat lebih jauh prediksi pemilu ke depan dalam konteks perbaikan sistem pemilu di Indonesia.

Pemilu tanggal 9 April besok, akan banyak tercederai oleh hal-hal yang bersifat prasarana teknis. Legitimasi dan substansi dari kemenangan seorang caleg atau parpol akan banyak digugat dan dipersoalkan. Akan banyak ”mendadak pengacara” yang dijadikan kuasa hukum oleh caleg atau parpol yang kalah. Akan semakin meningkatnya jumlah pasien rumah sakit jiwa yang sekedar berobat atau malah menjalani rawat inap. Bahkan akan semakin menambah banyak anggota dari komunitas yang tak punya identitas: pengangguran.

Selain itu, prediksi analisis tingginya angka golput pun juga takkan terbantahkan. Dari hasil penelitian kami, menunjukkan bahwa angka golput di kalangan mahasiswa UGM saja memperlihatkan angka yang cukup signifikan. Hal ini bisa dilihat dari rendahnya partisipasi mahasiswa UGM yang dengan cepat dan sadar mengurus surat mutasi model A5 di PPS tempat mereka berasal. Naiknya angka golput ini juga akan dipengaruhi oleh tanggal 9 April yang sangat berdekatan dengan hari raya Umat Kristiani, yaitu Wafatnya Isa Al-Masih. Tentu saja, para umat Kristiani ingin agar kesyahduan hari raya mereka tidak terusik oleh ”aktivitas dunia” seperti ini.

Namun, dari prediksi-prediksi negatif tersebut, pemilu kali ini pun juga akan banyak melahirkan efek positif yang tak kalah pentingnya. Pertama, pemilu kali ini menggunakan sistem suara terbanyak. Artinya, diharapkan akan ada sebuah seleksi alam yang sangat ketat bagi para caleg atau parpol untuk bertarung dalam arena pemilu. Mereka akan menjadi orang atau kelompok yang rasional dalam menghitung untung-rugi untuk ikut dalam pemilu atau tidak.

Kedua, mekanisme sistem de jure yang mempersyaratkan adanya kehadiran orang yang terdaftar di DPT sebagaimana alamat yang tercantum di KTP. Mekanisme seperti ini memungkinkan setiap orang akan tertib dalam administratif dan mengurangi maraknya ”pemilih hantu” dimana-mana, yaitu terdaftar namanya di DPT tapi tidak tampak secara de facto (nyata).

Ketiga, yang paling penting adalah perubahan mekanisme pencoblosan menjadi pencontrengan. Mekanisme seperti ini akan ”memaksa” para pemilih untuk bisa belajar baca-tulis secara tidak langsung. Proses kemandirian seseorang untuk bisa lebih maju dengan menggunakan pulpen dalam menandakan caleg atau parpol yang mereka pilih, akan membawa mereka akan sesuatu hal: bahwa sudah saatnya masyarakat pedesaan yang selama ini dianggap sebagai ”masyarakat kelas dua”, akan mempunyai kedudukan yang sama dengan masyarakat kota yang selama ini selalu dicitrakan sebagai ”masyarakat kelas pertama” .

Dengan melihat prediksi positif-negatif di atas, harapannya adalah pemilu kali ini merupakan pemilu tempat berkurangnya orang-orang yang haus kekuasaan dan popularitas. Dan untuk para pemilih, harapannya adalah pemilu kali ini menjadi bukti tidak adanya lagi perbedaan antara masyarakat kota dan desa dari segi kecerdasan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s