Menembus Ortodoksi Kesejahteraan Ekonomi


(Tulisan ini dimuat di Harian Cetak Seputar Indonesia Jabotabek dan di Harian Online Seputar Indonesia http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/261875/, tanggal 12 Agustus 2009

ADA kesalahan mendasar dari para pengambil kebijakan di negeri ini ketika berurusan dengan masalah kesejahteraan. Pemerintah, dari tingkat pusat hingga daerah, bertindak sekadar agar bagaimana rakyat yang mereka urus tidak mengalami kekurangan dalam hal pangan.

Oleh karena itu,tak ayal bila pada kampanye pemilu legislatif dan presiden kemarin terjadi perang psikis (psy war) antara partai-partai yang bersaing untuk saling mengklaim (making claims) keberhasilan pangan atas swasembada beras. Di sinilah letak kesalahan dari program peningkatan kesejahteraan masyarakat selama ini.

Adanya corak berpikir ortodoks bahwa kesejahteraan sekedar kesejahteraan ekonomi, membuat rakyat Indonesia selama ini sekedar dimanjakan oleh kecukupan ekonomi.Padahal, masih banyak sisi-sisi lain yang juga sangat berhubungan dengan kesejahteraan, misalnya kesejahteraan sosial, kesejahteraan budaya, kesejahteraan politik, dan sebagainya.

Kecenderungan pemerintah yang sangat sulit menembus ortodoksi makna Kesejahteraan seperti ini, dapat dianalisis dari beberapa faktor. Pertama, adanya posisi strategis kelas menengah (middle class) sebagai penikmat utama kesejahteraan ekonomi. Posisi kelas menengah ini sesungguhnya sangat menentukan dalam pembentukan wacana di media massa.

Tidak main-main,pembentukan wacana ini bisa tersebar hingga ke struktur-struktur kelas sosial lainnya. Kedua,kuatnya dominasi lembaga asing dalam menyetir perekonomian Indonesia (driven economy). Meskipun pada 2007 Pemerintah Indonesia telah membubarkan CGI, bukan berarti Indonesia akan lepas dari cengkeraman lembaga asing.Kesejahteraan akan tetap dipandang dari ekonomi saja.

Oleh karena ketika ekonomi akan tumbuh di suatu negara, segala aspek selain ekonomi haruslah bersifat stabil (ceteris paribus). Ketika “kestabilan”itu tercipta,itu berarti memotong aspek kesejahteraan lain untuk berkembang.(*)

(Naskah Asli ada di penulis)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s