Tantangan Bagi Negarawan # Narasi Inspirasi I


Sulit memang untuk merendah di saat kita merasa tinggi. Sulit rasanya untuk sekedar duduk beralaskan koran saat kita terbiasa duduk di atas sofa. Sulit rasanya hanya dihargai ucapan terima kasih saat kita terbiasa dihargai dengan prasasti.

Tapi, inilah seni kehidupan. Dari seorang Negarawan yang selalu berada dalam kegelimangan kekuasaan. Ia hanya akan menjadi tunduk, ketika ia tahu siapa yang menciptakan dan dari mana ia berasal: setetes air mani yang hina.

Inilah permainan kejiwaan. Dari seseorang yang ditakdirkan oleh Tuhan untuk menjadi Negarawan besar. Ia hanya akan menyelesaikan persoalan ini jika ia tahu kapan saat ia harus meninggi dan kapan ia harus merendah. Kapan ia mesti menggunakan baju perangnya dan kapan ia mesti menggunakan baju lusuhnya.

Karena yang dihadapi kelak bukan main-main: Sebongkah Kekuasaan. Tempat para manusia – mungkin juga kita- mencari dan memperebutkannya. Sesuatu yang membuat manusia seolah berada di puncak segalanya. Harta, Tahta, bahkan juga Wanita . Jika kita merendah di depan godaan kekuasaan tersebut, maka habislah kita. Sebaliknya, jika kita meninggi di depan rakyat yang kita pimpin, maka habislah kita.Jadi permainan kejiwaan tersebut bertemu dengan jasadnya, lalu permainan jiwa tersebut seakan menjadi filter untuk mengantisipasi segala godaan kekuasaan yang sangat mungkin melenakan jasad pemimpin tersebut

Karena yang dihadapi bukanlah sembarangan. Banyak manusia terjatuh di sini. Itulah ujian paling berat bagi Negarawan. Ia harus tetap jangan sampai terlena oleh kekuasaan. Sesuatu yang banyak membuat manusia – mungkin juga kita – seolah berada di puncak segalanya. Harta, Tahta, Bahkan wanita. Tidakkah kita tahu bahwa bisa jadi inilah cerita terakhir dari cerita panjang kepeloporan kita sebagai Negarawan yang hanya akan seperti kereta tua bagi generasi selanjutnya: indah dilihat, tapi sama sekali tak bisa bergerak dan hanya pantas dikenang

Semoga kita bisa evaluasi bersama…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s