Internasionalisasi Gerakan Mahasiswa: Suatu Tantangan Gerakan Mahasiswa Kontemporer dalam era Borderless State


Aku berpikir tentang Indonesia. Aku berpikir tentang segala pluralitas yang terjadi di negeri ini. Negeri yang memiliki kekayaan alam dan kultur yang sangat beragam. Dari Sabang sampai Merauke, dari Pulau Sumatera sampai Papua. Negeri yang memiliki segala potensi yang tersebar di setiap pelosok tanah airnya. Baik sumber daya alamnya maupun sumber daya manusianya. Negeri yang sangat diharapkan perannya dalam kancah politik internasional sebagai penjembatan antar kebudayaan. Singkat kata, inilah negeri masa depan yang akan menjadi lokomotif peradaban dari seluruh bangsa di dunia.

Jika dunia pernah mengenal Syria sebagai peradaban di sekitar 1191-745 SM, India sekitar 600-200 SM (Peradaban India I), Meso-Amerika dan Andea I 400-300 SM, India 224-490 SM (Peradaban India II), Byzantium 726-927/8 M, hingga Peradaban Barat 1563-1763 , maka tak ambisius rasanya jika Indonesia akan menjadi tulang punggung peradaban dunia ke depan, sebagaimana Samuel Huntington lukiskan secara implisit dengan menggunakan cover “Islam” – yang menjadi agama mayoritas di Indonesia dan penganut muslim terbesar di dunia. Oleh karena, logika sederhana penjelasnya adalah, jika Indonesia dalam dekade 1990-an akhir berhasil melewati fase transisi demokrasi – yang ditandai dengan pemilihan umum – dan sekarang Indonesia memasuki fase Konsolidasi Demokrasi tanpa ada gerakan separatisme yang sangat signifikan dan berkepanjangan, maka sebetulnya “keberhasilan” Indonesia menenangkan negeri ini di atas banyaknya perbedaan tersebut, bisa menjadi alasan untuk Indonesia memiliki pintu lebar untuk memimpin peradaban dunia ini. Luar biasa.
Namun, di tengah ketakjuban itu, Aku mencoba melihat lebih dalam dari miniatur Indonesia: Kampus atau universitas dengan segala kehidupan di dalamnya. Melihat lebih dalam lagi dari kelompok entitas terbesar di kampus yang bernama mahasiswa. Di sini, Aku menghadapi realita yang kontras dengan idealismeku di atas tentang peradaban dunia kelak. Mahasiswa, (yang semestinya) kelak menjadi amunitor terpenting penyiapan pemimpin masa depan Indonesia dan dunia, ternyata masih berkutat dalam persoalan besar dalam menghadapi dua dilema. Dilema antara kesibukan di kelas dan di luar kelas, antara memilih belajar di kelas dan belajar di luar kelas. Ini adalah sebuah fakta kontemporer yang tak mungkin terbantahkan.
Di satu sisi mereka memiliki tanggung jawab sebagai seorang mahasiswa untuk bisa kuliah dengan baik, namun di sisi lain mahasiswa punya tanggung jawab sejarah yang panjang sebagai, menurut M. Natsir, elemen ketiga penjaga nilai-nilai kebenaran setelah rumah ibadah dan sekolah agama. Tanggung jawab sejarah yang panjang itu sudah mengakar kuat sebagaimana yang terjadi pada Peristiwa 1966, Malari, Reformasi 98, hingga aksi BEM SI 2008. Semua peristiwa bersejarah tersebut lahir dan digerakkan oleh mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang sadar akan kebobrokan di negeri ini sesuai kapasitasnya sebagai social agent of change.

Jika sejarah panjang Indonesia, sebagian besar diisi oleh mahasiswa maka sebenarnya sejarah Indonesia adalah mahasiswa itu sendiri. Sejarah yang diisi oleh entitas rakyat terkecil dari keseluruhan rakyat Indonesia yang menempuh jenjang pendidikan dari SD hingga Perguruan Tinggi (PT). Tercatat bahwa, di tahun 2007-2008, dari sekitar 200 juta penduduk Indonesia, hanya ada 1,4 juta penduduk Indonesia yang menempuh pendidikan hingga lulus perguruan tinggi . Atau dengan kata lain, meskipun hanya ada sekitar 7% penduduk Indonesia yang dapat pendidikan hingga perguruan tinggi, namun sedikitnya jumlah, tetap menjadikan mereka adalah orang-orang minority creative yang senantiasa komitmen memberikan sejarah emas pada negeri ini.

Dilema mahasiswa tersebutlah, menurutku, yang seringkali membuat mahasiswa memilih – terlepas dari sadar atau tidak – untuk menjalankan salah satu saja diantara dua fungsi tersebut. Hanya menjadi mahasiswa yang pintar di dalam kelas dan pandai mengerjakan tugas, atau sebaliknya menjadi mahasiswa yang rajin turun ke jalan disertai dengan IPK pas-pasan. Padahal, mahasiswa adalah calon pemimpin-pemimpin masa depan, yang memang disiapkan untuk meregenerasikan negeri ini. Tidak dapat dibayangkan jika kader-kader masa depan ini, hanya sibuk mengurusi diri sendiri saja dengan aktif di kuliah dan lupa memberikan kontribusi kepada masyarakat. Sehingga tercipta sebutan “marmut”, yaitu Mahasiswa Ora Mutu atau “Mahasiswa Kupu-Kupu” (kuliah pulang-pulang). Atau sebaliknya, aktif berorganisasi, punya jaringan luas, menjadi tokoh lembaga, bahkan sering tampil di media massa, namun menjadi the loser tatkala mesti bersaing di kelas. Sehingga timbulah “Mangodong”, yaitu Mahasiswa Ngomong Doang”.

Inilah dilema tersebut. Dilema yang sudah terlanjur ada dalam diri mahasiswa. Namun, demikian, bagaimanapun juga, mahasiswa tetaplah memiliki karakteristik unik dalam memberikan peranan kepada kemajuan negeri ini. Padahal, jika Aku membuka buku dan melihat kembali apa yang disampaikan oleh Arbi Sanit dalam Sistem Politik Indonesia tahun 1990 halaman 91, ia mengatakan bahwa ada 5 karakteristik mengapa mahasiswa menjadi entitas unik dari tiap lapis pendidikan dari SD hingga Perguruan Tinggi, yaitu

1. Mahasiswa adalah kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik. Dalam artian bahwa mahasiswa mempunyai horizon yang luas di antara keseluruhan untuk lebih mampu bergerak di antara pelapisan masyarakat. Ini adalah poin di mana universitas memiliki suatu daya magnetic untuk mengalami mobilitas social (social mobility)

2. Mahasiswa menjadi kelompok masyarakat yang paling lama menduduki bangku sekolah. Sehingga mahasiswa adalah angkatan muda yang mengalami proses sosialisasi politik yang paling lama. Dimulai dari sekolah dasar, saat mereka mengenal Indonesia hanya sebatas peta geografis, hingga memahami Indonesia dari segi filosofis (sejarah, tata hukum, social, ekonomi, dan sebagainya). Inilah titik kulminasi saat bangunan kognisi tentang ke-Indonesia-an itu menjadi utuh dalam benak para angkatan muda. Sehingga, berangkat dari sejarah panjang Indonesia, para angkatan muda ini, tahu dan memahami, bagaimana seharusnya membangun Indonesia ke depan bahkan sampai dalam tataran taktis sekalipun. (cognitive)

3. Mahasiswa adalah angkatan muda dari kelompok masyarakat yang bersentuhan langsung dengan gaya kehidupan kampus yang unik (social life). Di mana terjadi sebuah akulturasi budaya yang begitu cepat dan kompleks di dalam internal kehidupan mahasiswa itu sendiri. Universitas menjadi wadah strategis bagi para anak bangsa yang berasal dari suku, agama, ras, dan antar golongan manapun untuk bisa belajar bersama, berkompetisi secara fair, bahkan saling toleran antar satu kebudayaan dengan yang lain. Inilah yang secara tidak langsung, mengkonstruksi dalam alam bawah sadar mahasiswa untuk mencari persamaan di antara perbedaan. Sehingga, penyiapan-penyiapan untuk menjadi pemimpin-pemimpin emas Indonesia (golden stock of Indonesa) yang berlandaskan atas pemahaman tentang keberagaman Indonesia menjadi terbangun.

4. Mahasiswa memiliki kesempatan besar untuk menjadi kelompok yang akan memasuki lapisan atas dari susunan kekuasaan, struktur perekonomian, dan prestise dalam masyarakat (elite class). Oleh karena jumlah yang paling sedikit di antara keseluruhan angkatan muda tersebut, maka secara tidak langsung mahasiswa menjadi kaum elite yang mempunyai pandangan luas dan memiliki keterampilan berorganisasi yang lebih baik – meskipun pemaknaan ”elite” terkadang menjadi bias dan dipandang negatif.

5. Terakhir, mahasiswa menjadi generasi yang terbangun jiwa kepemimpinannya (Leadership) secara matang dengan adanya organisasi-organisasi politik di tingkat mahasiswa yang disertai dengan adanya perubahan orientasi universitas. Sebelum adanya NKK/BKK di tahun ’77, banyak lahirnya organisasi mahasiswa di tingkat kampus untuk mengkritisi kebijakan nasional pemerintah Indonesia secara vertical. CGMI, GMNI, HMI, PMII, dan sebagainya adalah organisasi mahasiswa yang kerap “melawan” ketidakadilan negara. Namun pasca diberlakukan NKK/BKK oleh kampus, organisasi mahasiswa lebih banyak bergerak dalam pemberdayaan hingga advokasi masyarakat secara horizontal. Dan fase inilah, pasca 98, adalah saat dimana mahasiswa menemukan kembali “ruh perjuangannya” dengan menggabungkan dua hal: bergerak dalam ranah vertical tapi juga tidak melupakan ranah-ranah horizontal

Urgensitas Internasionalisasi Gerakan Mahasiswa

Di luar kompleksitas persoalan internal mahasiswa tersebut, Aku harus tetap berpikir ke depan. Bukan untuk lari dari kenyataan, tapi untuk terus berpikir maju tanpa melupakan sejarah. Berpikir untuk tetap optimis bahwa rakyat Indonesia kelak bukanlah sekedar “warga negara” (citizen of state), tapi juga akan menjadi “warga dunia” (citizen of world). Suatu konsep ke-warga-an yang tidak dibatasi oleh sekat-sekat geografis dan tipis diantara semua bangsa di dunia. Suatu konsep yang tidak menafikan paham Nasionalisme ke-Indonesia-an, tapi juga tidak mematahkan semangat untuk bersaing dalam kompetisi internasional dan memiliki jaringan global yang luas. Justru dengan memiliki semangat Nasionalisme yang tinggi tersebut, memberikan semangat bagi mahasiswa Indonesia mampu bersaing di tingkat global atas nama negara yang diwakilinya untuk memberikan kontribusi kepada permasalahan dunia.

Kesadaran bahwa Indonesia bukanlah satu-satunya negara di dunia ini yang berimplikasi menghasilkan kebijakan internasional sehingga dapat mempengaruhi kebijakan lokal dalam negeri, mestinya disikapi oleh mahasiswa Indonesia sebagai suatu peluang untuk eksis di ranah global. Kemampuan mahasiswa Indonesia untuk bisa bersaing di ranah global inilah yang dijelaskan oleh Anies Baswedan di situs Kompasiana dan Diskusi di Sugeng Surjadi Forum 2008, dalam menilai urgensitas membangun jaringan internasional ini,

”Mahasiswa memiliki tiga karakter dasar, yakni intelektualitas, moral, dan ke-oposisi-an. Selama ini dua karakter terakhir tersebut sudah bisa dikatakan tuntas. Timbulnya pergerakan organisasi-organisasi mahasiswa menunjukkan karakter oposisi mahasiswa…Akan tetapi, karakter pertama, intelektualitas, masih belum dihayati. Implementasi karakter ini adalah kemampuan menulis dan berbahasa internasional. Dalam suatu waktu, seseorang bukan hanya warga sebuah negara, tetapi juga menjadi warga dunia. Dengan kesadaran menjadi ”warga dunia, mahasiswa bisa melihat ke depan, memiliki international exposure, tidak hanya pemain lokal yang jago kandang, serta dapat melihat Indonesia dari perspektif global.”

Atas dasar itulah, Aku berpikir bahwa sudah saatnya mahasiswa Indonesia – terutama yang bergerak dalam gerakan mahasiswa sebagai gerakan yang penuh dengan muatan ideologis tentang nilai-nilai idealisme – berpikir ke depan untuk mengambil ranah-ranah internasional sebagai basis gerakan intelektual dan moralnya. Sebuah tindakan strategis yang memiliki dimensi jangka panjang serta penguatan jaringan internasional. Signifikansi output yang dihasilkan dari gerakan semacam ini adalah terciptanya gerakan mahasiswa yang bersifat pressure group – dalam tingkat Asean, Asia, atau bahkan dunia – untuk mengintervensi kebijakan internasional yang berimplikasi pada kebijakan dalam negeri di Indonesia.

Ada tiga hal mengapa internasionalisasi gerakan mahasiswa ini penting dan urgen untuk segera diterapkan dan menjadi narasi panjang dari agenda kerja gerakan mahasiswa.

1. Menguatnya wacana tentang Uni Asia-Pasifik (APU) di tahun 2020 sebagai suatu sistem pemerintahan negara-negara yang ada di dalam kepulauan Asia-Australia-serta Amerika Serikat untuk bergabung di atas satu bendera yang sama. Konsep ini menguat, sebagaimana yang dilansir oleh harian online Tempo interaktif (6 Juni 2008) dan Antara News (5 Juni 2008), ketika mantan PM Australia, Kevin Rudd, menegaskan bahwa kerjasama yang beranggotakan Indonesia, Amerika Serikat, Jepang, Cina, India, Australia, dan negara-negara Asia-Pasifik lainnya akan mewadahi kerjasama dalam bidang ekonomi dan politik. Khusus kerjasama dengan Indonesia adalah mengenai perdagangan bebas, kontra-terorisme, serta perluasan kerjasama penanggulangan bencana alam.

Adanya wacana borderless state ini menandakan bahwa dunia saat ini dan ke depannya sedang menuju suatu arah yang sama: negara dunia. Bukan lagi negara yang dibangun atas dasar rasa chauvinistik kedaerahan yang tinggi sehingga dapat melahirkan ”ras-ras Arya” baru, tapi negara yang dibangun atas dasar kepentingan bersama, tujuan bersama, serta persoalan bersama dan memiliki wadah bersama tanpa harus meninggalkan semangat untuk mencintai negeri sendiri. Oleh karena, ketika Indonesia menyadari bahwa negeri ini memiliki banyak kelebihan serta kekurangan, baik yang bersumber dari SDA dan SDM yang dimilikinya, maka Indonesia mesti memahami bahwa negeri ini tidak bisa hidup sendiri sehingga mengharuskan Indonesia bekerja sama dengan negara lain yang sifatnya tidak lagi jangka pendek (based on interest), namun juga ada landasan teritorial yang mewadahi kerja sama ini.
Oleh karena itu, dalam pandanganku bahwa gerakan mahasiswa sebagai laboratorium kepemimpinan dari mahasiswa itu sendiri, mesti merespon isu ini dengan sangat sigap untuk membangun jaringan internasional, baik untuk kepentingan jangka pendek ketika masih mahasiswa atau pasca mahasiswa kelak saat ingin melanjutkan studi atau bekerja di luar negeri. Proses kompetisi mahasiswa antar negara inilah yang ditegaskan kembali oleh Anies Baswedan,

”Kompetitor mahasiswa Indonesia adalah lulusan Melbourne, Amerika Serikat, Tokyo, dan lain-lain yang memiliki kemampuan bahasa, ilmu pengetahuan, dan jaringan internasional. Sehingga, saat ini harus ada kesadaran melampaui Indonesia, beyond Indonesia”

”Mahasiswa Indonesia – khususnya yang tergabung dalam gerakan mahasiswa – tidak lagi (hanya) bisa bicara serta menunjukkan keberpihakannya di tingkat lokal-nasional dan hanya menjadi jago kandang, tapi juga bisa bersikap dan menunjukkan keberpihakannya atas kebijakan internasional yang dapat merugikan kebijakan domestik Indonesia.

Artinya, bahwa adanya isu terbentuknya Uni Asia-Pasifik, menurut pandanganku, tidak selalu dipandang negatif bahwa akan terjadi penjajahan gaya baru dari negara maju terhadap negara Indonesia melalui liberalisasi perdagangan. Tapi, justru sebaliknya. Ini sebagai kekuatan utama gerakan mahasiswa untuk mengambil peran-peran di tingkat internasional yang mesti dipupuk dari sekarang juga. Sehingga, adanya global state tersebut diimbangi adanya global movement dari gerakan mahasiswa Indonesia itu sendiri.

2. Nilai ideologis yang diusung oleh mahasiswa. Nilai ideologis di sini, menurutku, adalah nilai yang dibentuk selama mahasiswa aktif dalam gerakan mahasiswa. Yaitu nilai-nilai yang berpegang dan berpihak kepada nilai-nilai kebenaran universal yang menjadi landasan banyak orang. Seperti keberpihakan terhadap rakyat miskin, kaum papa, dan anak yatim – sebagaimana yang tertuang dalam kitab suci Al-Qur’an Surat Al-Ma’un:1-3 – nilai demokrasi, persamaan hukum, kesetaraan, dan anti-korupsi. Ideologisasi mahasiswa ini tidak hanya tercipta dalam gerakan mahasiswa yang bergerak dalam bidang sosial-politik saja, tapi juga dalam bidang ranah keilmuan, bahkan keagamaan. Misalnya, penciptaan pluralitas perspektif dalam menilai semangat anti korupsi dari mahasiswa yang bergerak dalam kegiatan kerohanian keagamaan: Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, dan sebagainya; atau mahasiswa yang bergerak dalam ranah keilmuan yang terdiri dari interdisipliner ilmu untuk menolak korupsi.

Nilai-nilai ideologis ini menjadi penting dalam diri gerakan mahasiswa, oleh karena bertindak sebagai software dari sebuah hardware yang setiap detiknya bergerak dan melakukan banyak persinggungan dengan sebuah realita. Ia seolah menjadi ruh sekaligus bara api yang membakar setiap kali perubahan-perubahan kejiwaan yang dialami oleh mahasiswa mulai redup. Setiap kali mulai hampir padam semangat perbaikan kepada negeri ini, maka di saat itu pulalah ideologi tersebut bertindak untuk mengaktivasi kembali idealisme yang mulai luntur. Kerja dari ideologi gerakan mahasiswa ini pun tidak sampai situ saja. Karena ia bekerja seperti api yang membakar, maka dia pun juga memberikan cahaya dan kehangatan bagi setiap makhluk di sekelilingnya. Nah, bahasa kehangatan dan cahaya di dalam konteks gerakan mahasiswa adalah suatu pengaruh (influential effect). Dan karena cahaya dan kehangatan tersebut sangat menguntungkan, maka pengaruh yang dihasilkan dalam gerakan mahasiswa pun juga harus positif. Bukan sesuatu yang kontra produktif bagi semangat reformasi yang ingin dibangun untuk menunaikan janji-janji kemerdekaan Indonesia yang tertuang dalam Pembukaan UU 1945.

Oleh karena itu, suatu gerakan mahasiswa tidak akan layak disebut ”gerakan” jika tidak ada pengaruh yang bersifat positif dan produktif kepada masyarakat dalam kerangka untuk kemajuan bangsa ini. Positif berarti kerja-kerja yang dihasilkan diukur dari segi kualitas: seberapa besar nilai perubahan yang telah dihasilkan. Produktif berarti kerja-kerja yang dijalankan diukur dari sisi kuantitas: berapa banyak kajian intelektual yang dihasilkan, aksi-aksi lapangan yang dilakukan, dan sebagainya.

Itulah sebabnya, nilai ideologis dari gerakan mahasiswa akan memiliki inherent-sitas dalam diri mahasiswa tersebut yang pada gilirannya akan dibawa saat membangun relasi / jaringan internasional dalam kerangka untuk membangun internasionalisasi gerakan mahasiswa. Nilai inilah yang akan membedakan sekaligus menguatkan gerakan mahasiswa saat di luar negeri agar terkesan tidak sekedar jalan-jalan dan menghamburkan uang. Tapi, ada suatu bentuk bentuk kerjasama serta penguatan atau konsolidasi gerakan di tingkat regional (Asia atau Asean) dalam memainkan isu-isu global. Kerjasama, peran dalam dunia global, dan penguatan konsolidasi tersebut tidak lain adalah hasil dari pengejewantahan nilai-nilai ideologis gerakan yang dianut tersebut. Nilai-nilai ideologis tersebutlah yang pada hakikatnya akan menjadi kerangka berfikir sekaligus filter dalam setiap kegiatan internasional yang dilakukan.

3. Outward-looking policy berpengaruh inward-looking policy
Jika kita memahami lebih jauh, mengapa kebijakan-kebijakan yang menyengsarakan rakyat seperti di atas sangat cepat berkembang dan masuk mengkerangkai segala pengambilan keputusan pemerintah, itu tak lain karena Negara Indonesia adalah bagian dari masyarakat dunia. Artinya, bahwa setiap pengambilan keputusan ke dalam (inward looking) untuk rakyat Indonesia tidak bisa dilepaskan dari aspek dunia international (outward looking) yang mensyaratkan setuju atau tidaknya Negara lain yang diajak kerjasama oleh Indonesia.

Misalnya, kebijakan ACFTA, yang dimulai 1 Januari 2010, antara pemerintah Negara-negara di ASEAN (seperti Indonesia) dengan China. Timbulnya renegosiasi 128 pos tarif antara Negara bilateral karena ketidaksiapan Negara Indonesia untuk bersaing di tingkat global, mengakibatkan pemerintah Indonesia, melalui menteri perdagangan, mencoba menegosiasi ulang pos-pos tarif tersebut kepada menteri perdagangan China. Inilah yang disebut dengan inward looking policy versus outward looking policy.

Dengan menjadi bagian dari masyarakat dunia seperti ini, membuat sebagian besar kebijakan pemerintah Indonesia akan sangat mungkin dipengaruhi oleh Negara lain. Pemerintah Indonesia tidak bisa lagi menjalankan “politik mercusuar” kepada dunia luar tapi di satu sisi rakyatnya mati tak karuan. Pemerintah Indonesia mesti bekerja sama dengan Negara lain agar bagaimana caranya kebijakan dalam negeri yang diambil dapat ditopang oleh kebijakan dari Negara lain pula. Sehingga, titik tekan untuk meyelesaikan problem Negara ini, sebenarnya bukan pada – sebagaimana menurut Cornelis Lay – “melawan Negara”, melainkan dengan cara mempengaruhi kebijakan internasional melalui pelibatan banyak actor internasional.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s