Saling Menyalakan Bukan Mengutuk Kegelapan


Setiap kali saya membaca analisis, tulisan, buku, ataupun narasi akademik lainnya, timbul suatu pertanyaan, “Dimana akal-akal raksasa tsb menemukan martir2xnya? Dimana ide brilian tsb menemukan pahlawannya hingga mampu menjadi solusi bg kemajuan bangsa? Di ruang kelas sajakah? Atau sebatas di ruang rapat?”

Sungguh, kami merindukan kembali spirit dua sinergi kepahlawanan dari seorang Prof. Nuruddin Zanki dan Shalahuddin Al-Ayyubi. Sinergi dari seorang pemikir dan seorang pejuang. Kolaborasi indah dari seorang pencetus ide-ide besar dan kinerja-kinerja besar. Mereka bersinergi, mengisi pos nya masing-masing, dan tidak pernah merasa lebih hebat di antara satu dan lainnya. Bukan posisi yang mereka cari, tapi prestasi yang mereka inginkan. Karena bagi mereka, prestasi adalah masterpiece hidup dari manifestasi pemaknaan seorang hamba kepada Tuhannya.

Bukan sosok mereka yang kami inginkan saat ini. Tapi, spirit perjuangan dan sinergi yang tercipta di antara keduanya. Bukan sebuah euforia sejarah kecermelangan suatu peradaban yang kami ingin tiru. Tapi, penghargaan mereka akan sebuah peradaban yang dibangun di atas keilmuan dan kepemimpinan. Lalu, dimana sekarang dua sinergi itu? Dimana sekarang kolaborasi penting dari batu-bata bangunan peradaban itu? Kalau sudah begini, miris kami melihat negeri ini. Semua saling menyalahkan. Bukan menyalakan, tapi sebaliknya: mengutuk kegelapan.

Para pemimpin, sebagai martir-martir lapangan, menyalahkan para narator ide besar karena narasi yang dibangun tidak lebih dari sekedar bentuk pemuas dan sangat rumit untuk diterjemahkan di lapangan. Para narator ide besar menyalahkan pemimpin karena sudah terlalu congak dan haus akan kebesaran sebuah jabatan sehingga sulit mendengarkan kebenaran dari sebuah solusi yang ditawarkan.

Kalau sudah begini, tak lain dan tak bukan, yang mereka ajarkan kepada kami, sebagai generasi muda, adalah sebuah sampah. Sampah Peradaban. Sampah yang tidak bisa didaur ulang apalagi menghasilkan uang. Tapi, sampah yang hanya bisa menghasilkan sebuah rantai kehancuran baru dari sebuah peradaban yang dibangun.

Kalau sudah begini, tak lain dan tak bukan, yang mereka tanamkan kepada kami, sebagai generasi muda, bukanlah nilai-nilai langit. Tapi, sekedar nilai-nilai bumi yang jauh dari tujuan manusia diciptakan: beribadah kepada-Nya. Yang mereka ajarkan kepada kami, tak lain adalah nilai-nilai kebengisan, keserakahan, kemunafikan, bahkan nilai-nilai kepongahan sekalipun.

Sungguh, bukan ini yang kami mau. Sungguh, bukan ini yang kami inginkan. Yang kami inginkan, hanyalah suri tauladan dari para pemimpin dan narator ide besar kami. Yang tidak saling mencaci, tapi saling mengisi. Yang tidak saling menjatuhkan, tapi saling memberdayakan. Yang tidak saling melecehkan, tapi saling mengingatkan. Semua saling mengerti dan menyadari posisi masing-masing.

Sungguh, karena yang kami butuhkan bukanlah sekedar pembangunan tapi peradaban. Dari sebuah bangsa yang kelak akan memimpin dunia dengan wajah barunya. Dan ini akan bisa tercapai manakala ada sebuah keterbukaan untuk menerima perbedaan dari sekumpulan anak muda yang menginginkan Indonesia yang berperadaban dan berjiwa kepemimpinan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s