My Resolutions in 2011

1. Young Leader for Indonesia Mc. Kinsey
http://futureyoungleaders.blogspot.com/2010/09/young-leaders-for-indonesia-yli-kampus.html

2. Study Aboard and Exchange Programs in University of Adelaide
http://futureyoungleaders.blogspot.com/2010/09/young-leaders-for-indonesia-yli-kampus.html

3. KKN (Social empowerment for society) and focus on thesis (undergraduate)

4. Call for papers ASIRPA (Asian Society for International Relations and Public Affairs) –> Indonesiafocus.net

Klak-Klik Foto Keluarga…

Paradoksal Kehidupan

“Belumkah datang saatnya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Alloh dan kepada kebenaran yang telah turun kepada mereka. Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.”

(Q.S Al-Hadid: 57)

Ada yang lain di pagi ini. Burung-burung memang masih bercerita kepada dunia tentang indahnya semalam. Mentari memang masih terbit dari ufuk timur untuk segera menggantikan malam. Bahkan, nyanyian alam masih menjadi primadona untuk dirasakan. Namun, semua tampak ada yang lain di pagi ini. Seperti ada yang berkata padaku,

 

“Hai, manusia! Apa sesungguhnya yang kau cari dalam hidup ini? Kekuasaan, harta, tahta, wanita, kedudukan, kekayaan? Apa yang senantiasa menggoda dan memalingkan wajahmu dari sembah sujud pada-Nya? Untuk sekadar menundukkan hati sejenak kepada Tuhanmu, yang telah menciptakanmu dari setetes air hina lalu menjadikan kau mulia. Mengapa kau menjadi begitu angkuh, padahal dahulunya kau adalah makhluk yang rapuh saat baru keluar dari rahim ibumu? Mengapa kau menjadi begitu congkak, padahal ada yang lebih berhak untuk lebih congkak darimu? Tidakkah kau tahu bahwa jika Dia berkehendak bisa saja hari ini Ia angkat dirimu dengan kedudukan tertinggi, lalu esok harinya Dia jatuhkan dirimu ke dalam lubang kehinaan di mata manusia? Tidakkah dirimu berpikir dan membuka hati?

 

Sesaat aku tersontak dengan semua ini. Kelelahan yang menimpaku selama sepekan, membuatku lebih banyak diam ketimbang banyak berbicara tapi tak menghasilkan sebuah makna. Entah karena memang sedang tidak ingin banyak bicara, tapi rasa lelah membuatku terdiam tak berdaya. Walhasil, aku menjadi lebih sering berpikir dan termenung melihat segala fenomena kehidupan.

 

Jalan yang ku lalui, sepulang dari kampus masih sama. Tempat beraktivitasku di kampus pun masih sama. Semua masih tampak sama secara sekilas. Tapi, aku merasa berbeda. Ada sesuatu yang berbeda: hilang, pergi, naik, turun, kuat, lemah. Semua tampak paradoks dan saling kontradiktif. Aku menjadi terbiasa berdiam di kamar, meskipun sendirian. Aku menjadi orang-orang sunyi dalam kerumunan keramaian. Aku menjadi orang-orang sepi saat gemuruh keramaian. Apa yang dulu ku pikirkan tentang dunia, kini perlahan memudar dan menemukan sisi lainnya. Cerita tentang ambisi terhadap posisi, macan yang mengaumkan keangkuhannya, hingga semangat dominasi atas segala hal, kini telah menguap dan terbang entah kemana.

 

Ini yang sering ku pertanyakan. Bahkan saat diriku jenuh mempertanyakan, Aku jawab dengan singkat, “Entahlah!”. Aku sadar ini bukanlah aku, tapi ini sisi lain dariku yang perlahan mulai menyeruak mendominasi jiwaku. Sehingga, wajar malah melahirkan banyak kekecewaan dan persepsi negatif tentang diriku. Aku maklumi hal itu.

 

Dan kini, di usiaku yang tersisa ini, aku hanya ingin satu hal saja untuk ku lakukan dimana saja: belajar. Aku hanya ingin belajar dari seorang kakek tua yang telah menjalani manis-pahit kehidupan sepanjang hidupnya. Aku hanya ingin belajar dari anak muda yang senantiasa energik, berjiwa optimis, dan banyak memiliki ide. Aku hanya ingin belajar dari orang tidak mampu tentang bagaimana menyiasati kondisi keuangan agar bisa adil memenuhi segalanya. Aku hanya ingin belajar dari orang yang kaya tentang bagaimana cara menjadi kaya dan kemana ia menginfakkan hartanya. Aku hanya ingin belajar dari orang-orang yang berilmu tentang bagaimana mereka menjaga ilmunya dan mewariskan kepada generasi selanjurnya. Aku Aku hanya ingin belajar dimanapun, kepada siapapun, dan kapanpun.

 

Semoga apa yang ku pelajari dari semua itu, membuatku menjadi kian arif dan bijaksana….Amin..

 

 

Mahasiswa dan Tanggung Jawab Sosial: Belajar dari Menjadi Relawan

Malam itu kian gelap. Dengan dibantu para relawan, para aparatur desa yang berpindah kantor karena musibah merapi, masih sibuk mengurusi segala keperluan yang sempat terlewatkan untuk para pengungsi. Mulai dari persoalan membuat kupon makan, tata laksana pembagian logistik, hingga mendata ulang kebutuhan obat-obatan. Semua dilakukan tiap malam. Karena memang malam adalah waktu yang sedikit lengang ketimbang di siang harinya.

Tidak hanya pengungsi yang hidupnya susah, para relawan pun juga ”bernasib sama”. Tidur di lantai dan hanya beralaskan tikar, terselimuti udara dingin, hingga makan nasi seadanya dan secukupnya. Jangan bayangkan ada sepotong daging besar bersama sayur dan lauk-pauk 4 sehat 5 sempurna lainnya. Yang ada hanya nasi dalam dua hingga tiga kepalan tangan beserta setengah butir telur dan sedikit mie rebus. Semua ini bagaikan teman keseharian yang tak mungkin bisa mengharap lebih. Namun, ada yang menarik dari peristiwa ini: siapapun anda dan darimanapun asal anda, kedudukan anda adalah sama. Meskipun, anda adalah seorang relawan mahasiswa dari kampus ternama dan mempunyai harta yang melimpah, namun jangan berharap anda diperlakukan berbeda nan istimewa.

Kondisi tersebutlah yang sekiranya dialami oleh mahasiswa ketika menjadi relawan bencana Merapi Yogya. Bertempat dan bermalam di beberapa lokasi padat pengungsi, seperti Dusun Margodadi, Maguwoharjo, dan Jetisharjo, membuat kami – sebagai mahasiswa – merasa ada tanggung jawab lain di luar Tanggung Jawab Akademik (Academic Obligation) semata, yaitu Tanggung Jawab Sosial (Social Obligation) . Sepatu rapi, pakaian bersih, dan ciri kehidupan yang mapan lainnya, seolah tidak berlaku di sini. Semua terlebur menjadi satu. Bersama bergerak di level masyarakat.

Hampir tidak ditemukan, kenyamanan sedikit pun untuk hidup bersama dengan para pengungsi seperti ini. Karena, mau tidak mau, para relawan mahasiswa seperti kami ketika datang ke lokasi pengungsian hanya akan memilih satu diantara dua hal: sekadar melihat realitas sosial di lapangan lalu menyerah (surrendering) dengan keadaan atau memahami kondisi sosial yang ada lalu bergerak untuk mengubah (changing) realitas sosial tersebut. Dan kami sadar bahwa tugas mulia seorang mahasiswa adalah menerjemahkan secara nyata hakikat teori sosial yang ada: tugas teori sosial bukanlah sekadar untuk memahami, tapi juga mengubahnya (Fakih, 2009). Untuk itulah kami pilih nomor dua.

 

Mahasiswa dan Perubahan Sosial

Dengan memiliki kesadaran intelektual yang peka terhadap realitas sosial seperti itulah, maka mahasiswa tergolong sebagai sub-altern intellectual, intelektual akar rumput. Lapisan kritis civil society yang bertindak sebagai artikulator anti-kemapanan dan ketidakadilan (Moeslim Abdurahman, 2003). Atau dalam bahasa Antonio Gramsci sebagai Intelektual Organik: suatu kelompok masyarakat terdidik yang bekerjasama di dalam dan dengan masyarakat sampai masyarakat tersebut terbebas dari ketidakadilan dan kezaliman lainnya.

Kesadaran ini bisa tercapai manakala mahasiswa memahami sejarah panjang kontribusi mahasiswa dalam membangun negeri ini serta memahami karakteristik dasarnya sebagai seorang mahasiswa. Dua infrastruktur kesadaran ini mirip seperti tiang pancang yang menopang bangunan idealisme dari seorang mahasiswa. Jika salah satu tiangnya roboh, maka tak mungkin bangunan tersebut akan berdiri tegak sempurna. Karenanya, proses penguatan tiang pancang idealisme tersebut harus selalu diperbaharui agar tidak lapuk termakan zaman, yang perlahan-lahan menggerus lalu menjadi roboh.

Sejarah panjang kontribusi mahasiswa tentu tak bisa lepas dari peristiwa pergolakan politik 1966, fase 80-an dengan banyak hadir kelompok-kelompok studi (study club), peristiwa reformasi 98, hingga hadirnya Peristiwa Tujug Gugatan Rakyat (TuGu Rakyat) yaang dideklarasikan di Yogya. Pun halnya dengan karakteristik dasar utama mahasiswa, yang salah satunya adalah sebagai kelompok masyarakat yang paling lama menduduki bangku sekolah dan karenanya mahasiswa mengalami proses sosialisasi politik terpanjang di antara usia sekolah lainnya (Arbi Sanit: 1990). Proses sosialisasi politik – di luar mainstream pada umumnnya yang biasa terjadi di keluarga – tersebutlah yang pada gilirannya mendorong mahasiswa untuk tidak sekadar memenuhi daily needs diri sendiri saja, tapi juga daily needs masyarakat dengan cara terjun langsung di masyarakat.

Dengan adanya ”beban” sejarah serta karakteristik dasar itulah, maka terminologi mahasiswa sebenarnya adalah terminologi yang bersifat given: antara maha dan siswa. Yang pertama, menunjukkan ciri high value dan yang kedua mencirikan suatu yang alamiah sebagai seorang ”siswa biasa”. Dengan adanya penambahan kata maha tersebut, secara tak langsung berarti ada konsekuensi lain di luar tanggung jawab sebagai seorang siswa biasa, yang terhitung mulai dari level SD hingga SMA.

Konsekuensi tersebut bisa bernilai ideologis, praktis, bahkan secara taktis. Artinya, mahasiswa tidak akan dikatakan mahasiswa jika dia tidak memiliki bangunan ideologis yang kuat untuk mendefinisikan suatu kebenaran yang dia yakini. Nah, implikasi secara taktis di lapangan untuk mewujudkan nilai-nilai ideologis tersebut salah satunya adalah bergerak di masyarakat. Bukan dalam pengertian bahwa masyarakat sebagai suatu obyek, yang harus dibina dan oleh karenanya mahasiswa dapat tergolong imperialis baru di masyarakat. Tapi, masyarakat dan mahasiswa adalah sama-sama subyek, yang berari proses take and give suatu pemberdayaan berlangsung dua arah. Mahasiswa memberikan suatu pendampingan, masyarakat pun menilai dan memberikan feed back secara nyata kepada mahasiswa dalam bentuk banyak hal dan konkrit untuk kemajuan masyarakat tersebut.

Oleh karena itu, kembali ke persoalan utama, kehadiran para relawan mahasiswa di lokasi-lokasi pengungsi mesti dibaca dalam perspektif bahwa mahasiswa Indonesia bukanlah entitas robot yang hanya bergerak untuk memenuhi daily needs mereka sendiri, melainkan juga harus merasakan langsung apa yang terjadi di masyarakat yang karenanya harus mau untuk hidup di luar kenyamanan keseharian.

 

Aku dapati dunia dengan segala perbedaannya

Aku dapati dunia dengan segala perbedaannya

Aku yang dahulu bukanlah Aku yang sekarang

Aku yang seambisius dahulu bukanlah Aku yang setenang sekarang

Aku yang segarang dahulu bukanlah Aku yang sebijak sekarang

 

Aku dapati dunia dengan segala perbedaannya

Jika dahulu adalah ombak yang bergelombang

Kini Elang yang bebas terbang mengudara

Jika dahulu adalah angin yang berputar sangat kencang

Kini Air yang tenang tapi diam menghanyutkan segala

 

Aku dapat dunia dengan segala perbedaannya

Mungkin kau bisa bertanya, ”Dimana Ridwan saat aksi berlangsung?”

Mungkin kau bisa bertanya, ”Dimana Ridwan saat perdebatan panas terjadi?”

Namun kini Aku bisa jawab dengan nada yang sangat halus namun dalam,

”Aku tetap di sini bersama kalian. Melihat kalian tumbuh menjadi dewasa”

”Aku tetap di sini bersama kalian. Mendukung kalian dengan cara yang berbeda”

”Aku tetap di sini bersama kalian. Memperjuangkan idealisme dengan kekuatan yang ada”.

 

Aku dapati dunia dengan segala perbedaannya

Memandang lebih jauh, lebih dalam, dan lebih bijaksana

Melihat sesuatu dari banyak perspektif.

Tidak tersekat oleh satu sekatan.

Tidak terjebak oleh suatu jebakan.

 

Aku dapati dunia dengan segala perbedaannya.

Sayang, hidup ini hanya satu kali

Mari nikmati satu kopi dengan rasa yang sungguh pahit

Sayang, hidup ini hanya satu kali

Mari nikmati sinar mentari pagi untuk menenangkan hati

 

Aku dapati dunia dengan segala perbedaannya

bisa jadi tulisan ini sekedar sampah

Tapi sampah lebih baik dibuang keluar

Bukan sekedar memenuhi ruang-ruang otak

Dan membusuk menjadi suatu penyakit

 

Dan Aku dapati dunia dengan segala perbedaannya

 

29 Januari 2010

-di kamar asrama yang sangat tenang-

 

 

 


Jenak-Jenak Jebakan Sejarah Kehidupan

Karena itu saya memiliki prinsip bahwa setiap orang berhak menulis sejarahnya sendiri. Selama ini, sejarah identik dengan penguasa dan pihak yang menang. Pihak yang kalah jarang menulis sejarahnya sendiri atau dituliskan sejarahnya oleh pihak lain. Hati saya bersama orang-orang kalah dan menderita. Ini bukan pidato, tetapi tulisan, tuan dan puan!”

(Indra J. Piliang – Mengalir Meniti Ombak: Memoar Kritis Tiga Kekalahan).

 

Maka, mari kita menulis sejarah kita masing-masing hari ini. Sejarah yang tidak perlu banyak kebohongan karena kita sendirilah yang paham tentang apa yang kita alami selama ini. Biarkan mereka tahu bahwa inilah apa adanya kita, sebagaimana manusia biasa yang terlahir tanpa sebuah dosa. Kejujuran, keterbukaan, dan keluguan adalah ramuan menarik yang mempercantik sejarah-sejarah yang kita tulis hari ini tentang siapa diri kita sebenarnya. Karena dengan menulis sejarah tentang diri kita, kita belajar melepas topeng-topeng kemunafikan yang selama ini sering kita kenakan agar membuat orang lain seolah-olah senang kepada kita. Padahal mereka tak tahu siapa sebenarnya diri kita.

Dengan menulis sejarah tentang kita, bukan berarti kita adalah orang-orang yang kalah. Yang mengalami sebuah gigantis-narsisme dengan sejarah diri kita sendiri. Siapa kita?! Bukan. Bukan itu maksudnya. Dengan menulis sejarah tersebut, kita menjadi bangsa pemenang, yang berhasil memenangkan ketakutan serta rasa inferior terhadap orang yang ”dianggap” menang tersebut. Kita menjadi bangsa yang merdeka, yang berhak menentukan sendiri kemana inginnya kita bergerak dan bersikap. Karena lazimnya, bangsa yang kalah – kata Ibnu Kholdun – akan mengikuti bangsa yang menang. Takdir alam!

Dengan menulis sejarah diri kita sendiri pula, kita belajar jujur atas apa yang dialami selama ini. Kita belajar menerima keadaan bahwa inilah karunia terbesar yang Tuhan berikan kepada kita melalui setiap jenak-jenak sejarah yang kita lampaui, serta mengevaluasi diri sebelum dievaluasi oleh orang lain. Itulah sebabnya, sejarah tercipta sebagai pembelajaran utama agar kita tak mengulang kesalahan yang sama. Jas Merah! Dan saking berharganya sejarah ini, sampai-sampai hanya keledailah yang hanya patut jatuh di lubang yang sama. Apa mau kita menjadi keledai?!

 

Sejarah Hari Ini: ”Keluar dari Lubang Jarum”

Dan narasi sejarah yang ingin ku tuliskan hari ini, ku sebut dengan ”keluar dari lubang jarum”. Mengapa ”ke luar dari lubang jarum”? Ya, karena rentetan-rentetan waktu yang aku alami belakangan ini, layaknya masuk ke dalam lubang jarum. Jika tidak segera ke luar, jarum ini akan menjadi tumpul dan tak mampu lagi memintal bahkan menenun kain-kain terbaik yang dihasilkannya. Karena sebuah benang, pada hakikatnya, mesti masuk dan segera keluar dari lubang jarum, agar menjadi solusi bagi terciptanya kain yang diinginkan. Benar, kan?

Rentetan waktu tersebut sebenarnya adalah siklus abadi dari roda perputaran zaman. Kadang di atas, kadang di bawah. Kadang naik, kadang turun. Namun, yang menjadi persoalan adalah ternyata turunnya roda tersebut memiliki banyak ruang untuk melakukan kenyamanan, rasa santai, apalagi rasa tak ambil peduli. Lagi-lagi bila, ketika kita sudah berikrar untuk menjadi Aktor Peradaban bangsa ini, bahkan untuk realisasi narasi hidup yang ingin kita capai. Walhasil, kita akan menjadi orang-orang yang pandai bermimpi, namun tak pandai merealisasikan. Kita hanya sanggup menjadi seorang desainer, namun tak cakap menjadi implementator.

Inilah musuh terbesar bagi pengemban cita-cita peradaban. Musuh  yang jika aku tidak jeli dalam melihat ini sebagai suatu peluang untuk terciptanya suatu kemunduran, maka aku akan terjebak dalam kenyamanan dan fenomena post-power syndrome yang luar biasa. Jebakan-jebakan sejarah ini, jika tak dikelola secara baik akan menghasilkan perasaan megalomania dalam memandang hebatnya torehan yang telah diraih. Bahwa, apa yang telah dicapai selama ini adalah hal yang besar dan karena itu menjadi suatu hal yang harus dibanggakan. Jadi, jebakan sejarah ini bermula dari minimnya aktivitas dari “aktor-aktor pasca”, yang lalu menimbulkan dua persoalan besar: kenyamanan dan kebanggaan. Kenyamanan dan Kebanggaan inilah yang pada gilirannya mematikan potensi yang sudah diasah selama ini.

Inilah yang aku alami dan aku sebut dengan ”lubang jarum”. Lubang yang tidak begitu besar. Kecil saja. Tapi, berpotensi besar untuk menumpulkan jarum kehidupan yang senantiasa menghasilkan kain-kain terbaiknya bagi peradaban. Jadi, jarum itu adalah kita sebagai manusia serta kehidupan; benang tersebut adalah jiwa serta emosi keseharian yang merajai kita; dan kain yang dihasilkan dari paduan jarum dan benang tersebut adalah amal-amal peradaban yang kita jalani setiap detikya. Sehingga, pertanyaannya adalah jika kita jarang menghasilkan ”kain-kain” terindah dalam hidup ini, dimanakah sisi stagnasi tersebut? Di jiwakah (benang) atau di jarumkah (kita sebagai manusia)? Mari, kita evaluasi bersama. Semoga aku, dirimu, dan kita semuanya mampu keluar dari lubang jarum ini.

 


Keluarlah, Saudaraku!

Saudaraku, kau tahu bencana datang lagi.

Porak lagi negeri ini

Hilang sudah selera orang-orang tuk mengharap

Sementara jiwa-jiwa nelangsa itu sudah sedari lama memanggil-manggil.

Keluar, keluar saudaraku!

Dari kenyamanan mihrabmu

Dari kekhusyuan iktikafmu

Dari keakraban saudara-saudaramu

Keluar, keluar Saudaraku!

Dari keheningan masjidmu

Bawalah roh sajadahmu ke jalan-jalan

Ke pasar-pasar

Ke Majelis Dewan yang terhormat

Ke kantor-kantor pemerintah dan pusat-pusat pengambilan keputusan

Keluar, Keluar Saudaraku!

Dari nikmat kesendirianmu

Satukan lagi hati-hati yang berserakan ini.

Kumpulkan kembali tenaga yang tersisa

Pimpin dengan cahaya-Mu kafilah nurani yang terlatih

Di tengah badai gurun kehidupan

Keluar, Keluar Saudaraku!

Berdiri tegap di ujung jalan itu

Sebentar lagi sejarah akan lewat

Mencari aktor baru untuk drama kebenarannya

Sebut saja dia

Sebab engkaulah yang Ia cari.


(Anis Matta)