Jenak-Jenak Jebakan Sejarah Kehidupan


Karena itu saya memiliki prinsip bahwa setiap orang berhak menulis sejarahnya sendiri. Selama ini, sejarah identik dengan penguasa dan pihak yang menang. Pihak yang kalah jarang menulis sejarahnya sendiri atau dituliskan sejarahnya oleh pihak lain. Hati saya bersama orang-orang kalah dan menderita. Ini bukan pidato, tetapi tulisan, tuan dan puan!”

(Indra J. Piliang – Mengalir Meniti Ombak: Memoar Kritis Tiga Kekalahan).

 

Maka, mari kita menulis sejarah kita masing-masing hari ini. Sejarah yang tidak perlu banyak kebohongan karena kita sendirilah yang paham tentang apa yang kita alami selama ini. Biarkan mereka tahu bahwa inilah apa adanya kita, sebagaimana manusia biasa yang terlahir tanpa sebuah dosa. Kejujuran, keterbukaan, dan keluguan adalah ramuan menarik yang mempercantik sejarah-sejarah yang kita tulis hari ini tentang siapa diri kita sebenarnya. Karena dengan menulis sejarah tentang diri kita, kita belajar melepas topeng-topeng kemunafikan yang selama ini sering kita kenakan agar membuat orang lain seolah-olah senang kepada kita. Padahal mereka tak tahu siapa sebenarnya diri kita.

Dengan menulis sejarah tentang kita, bukan berarti kita adalah orang-orang yang kalah. Yang mengalami sebuah gigantis-narsisme dengan sejarah diri kita sendiri. Siapa kita?! Bukan. Bukan itu maksudnya. Dengan menulis sejarah tersebut, kita menjadi bangsa pemenang, yang berhasil memenangkan ketakutan serta rasa inferior terhadap orang yang ”dianggap” menang tersebut. Kita menjadi bangsa yang merdeka, yang berhak menentukan sendiri kemana inginnya kita bergerak dan bersikap. Karena lazimnya, bangsa yang kalah – kata Ibnu Kholdun – akan mengikuti bangsa yang menang. Takdir alam!

Dengan menulis sejarah diri kita sendiri pula, kita belajar jujur atas apa yang dialami selama ini. Kita belajar menerima keadaan bahwa inilah karunia terbesar yang Tuhan berikan kepada kita melalui setiap jenak-jenak sejarah yang kita lampaui, serta mengevaluasi diri sebelum dievaluasi oleh orang lain. Itulah sebabnya, sejarah tercipta sebagai pembelajaran utama agar kita tak mengulang kesalahan yang sama. Jas Merah! Dan saking berharganya sejarah ini, sampai-sampai hanya keledailah yang hanya patut jatuh di lubang yang sama. Apa mau kita menjadi keledai?!

 

Sejarah Hari Ini: ”Keluar dari Lubang Jarum”

Dan narasi sejarah yang ingin ku tuliskan hari ini, ku sebut dengan ”keluar dari lubang jarum”. Mengapa ”ke luar dari lubang jarum”? Ya, karena rentetan-rentetan waktu yang aku alami belakangan ini, layaknya masuk ke dalam lubang jarum. Jika tidak segera ke luar, jarum ini akan menjadi tumpul dan tak mampu lagi memintal bahkan menenun kain-kain terbaik yang dihasilkannya. Karena sebuah benang, pada hakikatnya, mesti masuk dan segera keluar dari lubang jarum, agar menjadi solusi bagi terciptanya kain yang diinginkan. Benar, kan?

Rentetan waktu tersebut sebenarnya adalah siklus abadi dari roda perputaran zaman. Kadang di atas, kadang di bawah. Kadang naik, kadang turun. Namun, yang menjadi persoalan adalah ternyata turunnya roda tersebut memiliki banyak ruang untuk melakukan kenyamanan, rasa santai, apalagi rasa tak ambil peduli. Lagi-lagi bila, ketika kita sudah berikrar untuk menjadi Aktor Peradaban bangsa ini, bahkan untuk realisasi narasi hidup yang ingin kita capai. Walhasil, kita akan menjadi orang-orang yang pandai bermimpi, namun tak pandai merealisasikan. Kita hanya sanggup menjadi seorang desainer, namun tak cakap menjadi implementator.

Inilah musuh terbesar bagi pengemban cita-cita peradaban. Musuh  yang jika aku tidak jeli dalam melihat ini sebagai suatu peluang untuk terciptanya suatu kemunduran, maka aku akan terjebak dalam kenyamanan dan fenomena post-power syndrome yang luar biasa. Jebakan-jebakan sejarah ini, jika tak dikelola secara baik akan menghasilkan perasaan megalomania dalam memandang hebatnya torehan yang telah diraih. Bahwa, apa yang telah dicapai selama ini adalah hal yang besar dan karena itu menjadi suatu hal yang harus dibanggakan. Jadi, jebakan sejarah ini bermula dari minimnya aktivitas dari “aktor-aktor pasca”, yang lalu menimbulkan dua persoalan besar: kenyamanan dan kebanggaan. Kenyamanan dan Kebanggaan inilah yang pada gilirannya mematikan potensi yang sudah diasah selama ini.

Inilah yang aku alami dan aku sebut dengan ”lubang jarum”. Lubang yang tidak begitu besar. Kecil saja. Tapi, berpotensi besar untuk menumpulkan jarum kehidupan yang senantiasa menghasilkan kain-kain terbaiknya bagi peradaban. Jadi, jarum itu adalah kita sebagai manusia serta kehidupan; benang tersebut adalah jiwa serta emosi keseharian yang merajai kita; dan kain yang dihasilkan dari paduan jarum dan benang tersebut adalah amal-amal peradaban yang kita jalani setiap detikya. Sehingga, pertanyaannya adalah jika kita jarang menghasilkan ”kain-kain” terindah dalam hidup ini, dimanakah sisi stagnasi tersebut? Di jiwakah (benang) atau di jarumkah (kita sebagai manusia)? Mari, kita evaluasi bersama. Semoga aku, dirimu, dan kita semuanya mampu keluar dari lubang jarum ini.

 


Keluarlah, Saudaraku!

Saudaraku, kau tahu bencana datang lagi.

Porak lagi negeri ini

Hilang sudah selera orang-orang tuk mengharap

Sementara jiwa-jiwa nelangsa itu sudah sedari lama memanggil-manggil.

Keluar, keluar saudaraku!

Dari kenyamanan mihrabmu

Dari kekhusyuan iktikafmu

Dari keakraban saudara-saudaramu

Keluar, keluar Saudaraku!

Dari keheningan masjidmu

Bawalah roh sajadahmu ke jalan-jalan

Ke pasar-pasar

Ke Majelis Dewan yang terhormat

Ke kantor-kantor pemerintah dan pusat-pusat pengambilan keputusan

Keluar, Keluar Saudaraku!

Dari nikmat kesendirianmu

Satukan lagi hati-hati yang berserakan ini.

Kumpulkan kembali tenaga yang tersisa

Pimpin dengan cahaya-Mu kafilah nurani yang terlatih

Di tengah badai gurun kehidupan

Keluar, Keluar Saudaraku!

Berdiri tegap di ujung jalan itu

Sebentar lagi sejarah akan lewat

Mencari aktor baru untuk drama kebenarannya

Sebut saja dia

Sebab engkaulah yang Ia cari.


(Anis Matta)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s