Mahasiswa dan Tanggung Jawab Sosial: Belajar dari Menjadi Relawan


Malam itu kian gelap. Dengan dibantu para relawan, para aparatur desa yang berpindah kantor karena musibah merapi, masih sibuk mengurusi segala keperluan yang sempat terlewatkan untuk para pengungsi. Mulai dari persoalan membuat kupon makan, tata laksana pembagian logistik, hingga mendata ulang kebutuhan obat-obatan. Semua dilakukan tiap malam. Karena memang malam adalah waktu yang sedikit lengang ketimbang di siang harinya.

Tidak hanya pengungsi yang hidupnya susah, para relawan pun juga ”bernasib sama”. Tidur di lantai dan hanya beralaskan tikar, terselimuti udara dingin, hingga makan nasi seadanya dan secukupnya. Jangan bayangkan ada sepotong daging besar bersama sayur dan lauk-pauk 4 sehat 5 sempurna lainnya. Yang ada hanya nasi dalam dua hingga tiga kepalan tangan beserta setengah butir telur dan sedikit mie rebus. Semua ini bagaikan teman keseharian yang tak mungkin bisa mengharap lebih. Namun, ada yang menarik dari peristiwa ini: siapapun anda dan darimanapun asal anda, kedudukan anda adalah sama. Meskipun, anda adalah seorang relawan mahasiswa dari kampus ternama dan mempunyai harta yang melimpah, namun jangan berharap anda diperlakukan berbeda nan istimewa.

Kondisi tersebutlah yang sekiranya dialami oleh mahasiswa ketika menjadi relawan bencana Merapi Yogya. Bertempat dan bermalam di beberapa lokasi padat pengungsi, seperti Dusun Margodadi, Maguwoharjo, dan Jetisharjo, membuat kami – sebagai mahasiswa – merasa ada tanggung jawab lain di luar Tanggung Jawab Akademik (Academic Obligation) semata, yaitu Tanggung Jawab Sosial (Social Obligation) . Sepatu rapi, pakaian bersih, dan ciri kehidupan yang mapan lainnya, seolah tidak berlaku di sini. Semua terlebur menjadi satu. Bersama bergerak di level masyarakat.

Hampir tidak ditemukan, kenyamanan sedikit pun untuk hidup bersama dengan para pengungsi seperti ini. Karena, mau tidak mau, para relawan mahasiswa seperti kami ketika datang ke lokasi pengungsian hanya akan memilih satu diantara dua hal: sekadar melihat realitas sosial di lapangan lalu menyerah (surrendering) dengan keadaan atau memahami kondisi sosial yang ada lalu bergerak untuk mengubah (changing) realitas sosial tersebut. Dan kami sadar bahwa tugas mulia seorang mahasiswa adalah menerjemahkan secara nyata hakikat teori sosial yang ada: tugas teori sosial bukanlah sekadar untuk memahami, tapi juga mengubahnya (Fakih, 2009). Untuk itulah kami pilih nomor dua.

 

Mahasiswa dan Perubahan Sosial

Dengan memiliki kesadaran intelektual yang peka terhadap realitas sosial seperti itulah, maka mahasiswa tergolong sebagai sub-altern intellectual, intelektual akar rumput. Lapisan kritis civil society yang bertindak sebagai artikulator anti-kemapanan dan ketidakadilan (Moeslim Abdurahman, 2003). Atau dalam bahasa Antonio Gramsci sebagai Intelektual Organik: suatu kelompok masyarakat terdidik yang bekerjasama di dalam dan dengan masyarakat sampai masyarakat tersebut terbebas dari ketidakadilan dan kezaliman lainnya.

Kesadaran ini bisa tercapai manakala mahasiswa memahami sejarah panjang kontribusi mahasiswa dalam membangun negeri ini serta memahami karakteristik dasarnya sebagai seorang mahasiswa. Dua infrastruktur kesadaran ini mirip seperti tiang pancang yang menopang bangunan idealisme dari seorang mahasiswa. Jika salah satu tiangnya roboh, maka tak mungkin bangunan tersebut akan berdiri tegak sempurna. Karenanya, proses penguatan tiang pancang idealisme tersebut harus selalu diperbaharui agar tidak lapuk termakan zaman, yang perlahan-lahan menggerus lalu menjadi roboh.

Sejarah panjang kontribusi mahasiswa tentu tak bisa lepas dari peristiwa pergolakan politik 1966, fase 80-an dengan banyak hadir kelompok-kelompok studi (study club), peristiwa reformasi 98, hingga hadirnya Peristiwa Tujug Gugatan Rakyat (TuGu Rakyat) yaang dideklarasikan di Yogya. Pun halnya dengan karakteristik dasar utama mahasiswa, yang salah satunya adalah sebagai kelompok masyarakat yang paling lama menduduki bangku sekolah dan karenanya mahasiswa mengalami proses sosialisasi politik terpanjang di antara usia sekolah lainnya (Arbi Sanit: 1990). Proses sosialisasi politik – di luar mainstream pada umumnnya yang biasa terjadi di keluarga – tersebutlah yang pada gilirannya mendorong mahasiswa untuk tidak sekadar memenuhi daily needs diri sendiri saja, tapi juga daily needs masyarakat dengan cara terjun langsung di masyarakat.

Dengan adanya ”beban” sejarah serta karakteristik dasar itulah, maka terminologi mahasiswa sebenarnya adalah terminologi yang bersifat given: antara maha dan siswa. Yang pertama, menunjukkan ciri high value dan yang kedua mencirikan suatu yang alamiah sebagai seorang ”siswa biasa”. Dengan adanya penambahan kata maha tersebut, secara tak langsung berarti ada konsekuensi lain di luar tanggung jawab sebagai seorang siswa biasa, yang terhitung mulai dari level SD hingga SMA.

Konsekuensi tersebut bisa bernilai ideologis, praktis, bahkan secara taktis. Artinya, mahasiswa tidak akan dikatakan mahasiswa jika dia tidak memiliki bangunan ideologis yang kuat untuk mendefinisikan suatu kebenaran yang dia yakini. Nah, implikasi secara taktis di lapangan untuk mewujudkan nilai-nilai ideologis tersebut salah satunya adalah bergerak di masyarakat. Bukan dalam pengertian bahwa masyarakat sebagai suatu obyek, yang harus dibina dan oleh karenanya mahasiswa dapat tergolong imperialis baru di masyarakat. Tapi, masyarakat dan mahasiswa adalah sama-sama subyek, yang berari proses take and give suatu pemberdayaan berlangsung dua arah. Mahasiswa memberikan suatu pendampingan, masyarakat pun menilai dan memberikan feed back secara nyata kepada mahasiswa dalam bentuk banyak hal dan konkrit untuk kemajuan masyarakat tersebut.

Oleh karena itu, kembali ke persoalan utama, kehadiran para relawan mahasiswa di lokasi-lokasi pengungsi mesti dibaca dalam perspektif bahwa mahasiswa Indonesia bukanlah entitas robot yang hanya bergerak untuk memenuhi daily needs mereka sendiri, melainkan juga harus merasakan langsung apa yang terjadi di masyarakat yang karenanya harus mau untuk hidup di luar kenyamanan keseharian.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s