Paradoksal Kehidupan


“Belumkah datang saatnya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Alloh dan kepada kebenaran yang telah turun kepada mereka. Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.”

(Q.S Al-Hadid: 57)

Ada yang lain di pagi ini. Burung-burung memang masih bercerita kepada dunia tentang indahnya semalam. Mentari memang masih terbit dari ufuk timur untuk segera menggantikan malam. Bahkan, nyanyian alam masih menjadi primadona untuk dirasakan. Namun, semua tampak ada yang lain di pagi ini. Seperti ada yang berkata padaku,

 

“Hai, manusia! Apa sesungguhnya yang kau cari dalam hidup ini? Kekuasaan, harta, tahta, wanita, kedudukan, kekayaan? Apa yang senantiasa menggoda dan memalingkan wajahmu dari sembah sujud pada-Nya? Untuk sekadar menundukkan hati sejenak kepada Tuhanmu, yang telah menciptakanmu dari setetes air hina lalu menjadikan kau mulia. Mengapa kau menjadi begitu angkuh, padahal dahulunya kau adalah makhluk yang rapuh saat baru keluar dari rahim ibumu? Mengapa kau menjadi begitu congkak, padahal ada yang lebih berhak untuk lebih congkak darimu? Tidakkah kau tahu bahwa jika Dia berkehendak bisa saja hari ini Ia angkat dirimu dengan kedudukan tertinggi, lalu esok harinya Dia jatuhkan dirimu ke dalam lubang kehinaan di mata manusia? Tidakkah dirimu berpikir dan membuka hati?

 

Sesaat aku tersontak dengan semua ini. Kelelahan yang menimpaku selama sepekan, membuatku lebih banyak diam ketimbang banyak berbicara tapi tak menghasilkan sebuah makna. Entah karena memang sedang tidak ingin banyak bicara, tapi rasa lelah membuatku terdiam tak berdaya. Walhasil, aku menjadi lebih sering berpikir dan termenung melihat segala fenomena kehidupan.

 

Jalan yang ku lalui, sepulang dari kampus masih sama. Tempat beraktivitasku di kampus pun masih sama. Semua masih tampak sama secara sekilas. Tapi, aku merasa berbeda. Ada sesuatu yang berbeda: hilang, pergi, naik, turun, kuat, lemah. Semua tampak paradoks dan saling kontradiktif. Aku menjadi terbiasa berdiam di kamar, meskipun sendirian. Aku menjadi orang-orang sunyi dalam kerumunan keramaian. Aku menjadi orang-orang sepi saat gemuruh keramaian. Apa yang dulu ku pikirkan tentang dunia, kini perlahan memudar dan menemukan sisi lainnya. Cerita tentang ambisi terhadap posisi, macan yang mengaumkan keangkuhannya, hingga semangat dominasi atas segala hal, kini telah menguap dan terbang entah kemana.

 

Ini yang sering ku pertanyakan. Bahkan saat diriku jenuh mempertanyakan, Aku jawab dengan singkat, “Entahlah!”. Aku sadar ini bukanlah aku, tapi ini sisi lain dariku yang perlahan mulai menyeruak mendominasi jiwaku. Sehingga, wajar malah melahirkan banyak kekecewaan dan persepsi negatif tentang diriku. Aku maklumi hal itu.

 

Dan kini, di usiaku yang tersisa ini, aku hanya ingin satu hal saja untuk ku lakukan dimana saja: belajar. Aku hanya ingin belajar dari seorang kakek tua yang telah menjalani manis-pahit kehidupan sepanjang hidupnya. Aku hanya ingin belajar dari anak muda yang senantiasa energik, berjiwa optimis, dan banyak memiliki ide. Aku hanya ingin belajar dari orang tidak mampu tentang bagaimana menyiasati kondisi keuangan agar bisa adil memenuhi segalanya. Aku hanya ingin belajar dari orang yang kaya tentang bagaimana cara menjadi kaya dan kemana ia menginfakkan hartanya. Aku hanya ingin belajar dari orang-orang yang berilmu tentang bagaimana mereka menjaga ilmunya dan mewariskan kepada generasi selanjurnya. Aku Aku hanya ingin belajar dimanapun, kepada siapapun, dan kapanpun.

 

Semoga apa yang ku pelajari dari semua itu, membuatku menjadi kian arif dan bijaksana….Amin..

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s