“Belajar” Dari Amerika


“Tanpa budaya menulis dan membaca, negara ini akan selalu dianggap negara terbelakang. Semua bangsa yang besar adalah bangsa yang gemar menulis dan membaca. Punya budaya literasi. Indonesia tidak boleh punah dimakan zaman. Indonesia tidak boleh dianggap terbelakang. Indonesia harus dikenal dan diakui, lebih dari sekadar negara yang pintar menari dan bernyanyi. Tapi, juga bangsa yang bisa berbicara ide besar dalam tulisan. Itulah salah satu ciri bangsa besar.” (A. Fuadi – Dalam Novel Negeri 5 Menara)

Malam ini tepat pukul 03:33 am waktu Singapore. Ku lepas lelah sejenak, setelah 16 jam lebih perjalanan dari Atlanta, Amerika Serikat, sembari menunggu pesawat ke Jakarta pukul 07.40 tepat. Akhirnya, aku kembali juga ke negeri Gemah Ripah Loh Jinawi ini. Rindu sangat rasanya, walau hanya sepekan menghabiskan waktu di Amerika untuk menghadiri Indonesia Focus Conference 2011 sebagai Presentator Akademik di University of Pittsburgh, Pennsylvania. Rindu nasi, rindu kehangatan kolektivitas bangsa ini, dan tentunya rindu keluarga di rumah. Hal yang tak mungkin tergantikan di belahan negara manapun.

Meskipun hanya sepekan di sana, aku bisa belajar banyak hal dari Amerika. Tentunya, belajar untuk tidak terus membanding-bandingkan antara Indonesia dengan Amerika. Karena Indonesia, sebagai Bangsa Timur, memiliki ciri khas tersendiri yang tak mungkin bisa disamakan. Every nation has own uniques. Maka, bagiku, jika bangsa ini ingin maju tak perlu mencontoh ke negara-negara barat. Selain dari nilai-nilai universal yang memang mesti berlaku di semua negara, misalnya kedisiplinan, etos kerja, gotong-royong, dan sebagainya. Itu mutlak.

Belajar dari Amerika, berarti belajar tentang dua hal. Yang pertama, adalah fungsi Pelayanan Publik, dari pemerintah ke setiap warganya, baik yang residence, pendatang maupun yang citizen (warga asli). Yang kedua adalah semangat untuk belajar dimanapun dan kapanpun. Need for achievement to learn. Semangat untuk terus membaca, berdiskusi, dan menulis di setiap waktu yang dijalaninya. Semangat berbudaya literasi untuk selalu meningkatkan kapasitas diri.

Dari Publik, oleh Publik, untuk Publik: Fungsi Pelayanan Publik

Dari sisi fungsi pelayanan publik, Amerika sangat memperhatikan bagaimana setiap pajak yang dibayar dari setiap transaksi dapat digunakan sebaik-baiknya untuk kemakmuran rakyat. Ada feed back yang didapatkan dan dirasakan oleh masyarakat dari setiap tax yang ia bayarkan. Cukup mahal memang, rata-rata U$ 14 pajak setiap transaksi. Mulai dari membeli buku, membeli makan, sampai naik bis meski dalam rentang jarak yang cukup dekat. Misalnya, harga gantungan kunci paling murah adalah U$ 1,99 belum ditambah pajak. Harga ini setara dengan Rp. 18.000, belum ditambah pajak, jika dikalkulasi dalam kurs Rupiah. Atau satu kali makan, bisa menghabiskan U$ 4 – U$ 5 ditambah dengan pajak; dan 1 kali naik bis bisa menghabiskan U$ 2,25.Tingginya pajak dan pengeluaran tersebut, serasa tak ada masalah bagi rakyat Amerika dan khususnya pendatang sebagaimana aku kemarin berada di Amerika. Karena sangat maksimal setiap fungsi pelayanan publik yang dilakukan.

Kita tak perlu berlama-lama menunggu bus dengan ditemani oleh panasnya matahari, karena bus akan selalu ada setiap 10 menit sekali. Kita tak perlu membayar uang charge lebih jika kita ke bandara, atau jika menginap di hotel karena pesawat yang delay. Kita tak perlu sering menservis mobil ke bengkel, karena setiap jalan yang dilalui rasanya lebih halus dibanding kulit kita sendiri. Bahkan kebutuhan terhadap ibu hamil, lansia, dan difabel, menjadi suatu hal yang harus diproritaskan. Semua sudah tercukupi, dengan setiap pajak yang dibayarkan.

Bagaimana dengan Indonesia, negara kita tercinta? Untuk hal ini, tampaknya kita harus mau tidak-mau belajar dari Amerika. Ini bukan persoalan cultural burden, antara kita dengan Amerika. Ini masalah kemauan dan kesabaran. Seringkali kita kita mau untuk berubah dan merubah. Tapi, kita tidak cukup sabar untuk melakukan perubahan. Ingin serba cepat dan mudah. Tak bertahap. Sudah terlalu silau dengan keberhasilan negara lain. Maka, hadir jiwa inferiority complex. Solusi cepatnya? demonstrasi anarkis pun dilakukan. Miris, karena semboyan Man Jadda Wa Jada, tak diimbangi dengan Man Shabara Zhafira. Banal.

 

Belajar ”Membaca” dan ”Menulis” dari Amerika

Tak salah rasanya, jika survey tentang kampus-kampus di dunia, selalu menempatkan universitas di Amerika menjadi top ten highest number of universities in the world. Harvard University, Princeton University, MIT, Michigan State University, dan Yale University adalah kampus-kampus favorit incaran mahasiswa-mahasiswa terbaik di seluruh dunia. Tak terkecuali mahasiswa Indonesia. Maka, jika ada anak Indonesia yang terdaftar sebagai salah satu dari mahasiswa di kampus tersebut, tentu kecerdasannya sudah tak diragukan lagi. Ia rajin membaca, menulis, dan berdiskusi secara kritis dan tajam.

Saat berada dalam bis, menunggu pesawat di bandara, atau bahkan sekadar istirahat sejenak di kafe, selalu buku yang menjadi teman setia mereka. Tak pandang usia, bahkan nenek-nenek pun sering membawa buku kemana pun berada. Tampaknya, ia sadar usianya yang tua renta bukan halangan untuk kalah bersaing dengan anak muda. Maka, itu dia sering baca. Maka, mungkin itulah sebabnya, harga buku di Amerika tergolong cukup murah jika disamakan dengan harga di Indonesia. Buku yang memuat foto-foto pembantaian Rakyat Palestina, keluaran 2003 yang sangat tebal dan hard-cover, hanya dijual dengan harga sekitar U$ 3 = Rp. 30.000.

Itulah sebabnya, untuk menghindari rasa malu, aku taruh Buku Kamus Webster’s New Pocket Dictionary di saku kanan jaketku, untuk bisa dibaca setiap saat. Aku malu rasanya, jika kehadiranku sebagai anak muda Indonesia, datang ke Amerika tidak dengan budaya literasi yang kuat. Hanya datang sejenak, berbelanja yang banyak, pulang dengan pengetahuan yang tak bertambah. Malu. Malu kalau begini adanya.

Maka, aku tunjukkan kepada orang-orang Amerika, bahwa anak muda Indonesia tak selamanya menjadi warga dunia kelas dua. Berawal dari malu, aku bertekad untuk selalu membaca kapanpun dan dimanapun. Tak hanya bangsa kulit putih, yang memiliki budaya literasi. Kita, bangsa Indonesia pun juga punya budaya peradaban itu. Bukankah kita juga mewarisi ketamakan membaca dan menulis ini dari para pendahulu kita? Bung Karno dengan ”Di Bawah Bendera Revolusi”, Mpu Tantular dengan ”Kitab Sutasoma”, dan M. Natsir dengan ”Capita Selecta”. Lalu, kemana sekarang budaya itu hilang ditelan zaman?? Miris.

Dan dari Indonesia-lah, Kita Memulai..

Dari Indonesia, kita memulai. Kita memulai membuka sejarah baru peradaban ini. Belajar dari para pendahulu, untuk mengambil yang baik serta membuang yang buruk. Belajar dari negara yang telah maju, tanpa harus melepaskan setiap kearifan lokal negeri ini. Belajar untuk terus berjuang agar setara dan bermartabat dengan negara lain. Tidak lagi dipandang sebelah mata oleh bangsa-bangsa utara. Tidak lagi dipandang sebelah mata oleh bangsa kulit putih, lebih tinggi, dan lebih makmur ketimbang Indonesia.

Karena Indonesia punya segalanya. Tapi, belum mampu mengelola setiap sumber dayanya. Kita baru mampu memiliki, belum sampai mengelola dan menyejahterakan setiap warga negaranya. Ini tantangannya. Dan saya yakin, setiap orang yang baca tulisan ini berarti siap menanggung masa depan Indonesia yang lebih baik di masa yang akan datang. Semoga.

Singapore, 3 Juni 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s