Energi Kebaikan itu Bernama Tulisan


Siang ini di Bandara Juanda Surabaya. Tepat pukul 13.34 di jam tanganku. Dengan merogoh kocek lebih dalam agar bisa online, aku coba membeli mocca chocolate dengan harapan bisa mengisi waktu luang menunggu pesawat ke Jakarta. Tidak ada yang istimewa. Karena diri ini adalah bagian terkecil dari semesta jagad raya. Seperti debu, yang mudah hilang, saat badai menerpa. Maka, karena aku tak ingin sia-sia, aku coba tuliskan setiap peristiwa yang ku rasakan. Semoga tak sampai tertelan oleh zaman.

Karena setiap tulisan yang kita buat – kata Pramoedya Ananta Toer – pada hakikatnya adalah bekerja. Bekerja untuk keabadian. Maka, tak heran jika kita melihat pemimpin besar di banyak belahan negara mana pun, di ruang dan waktu kapan pun, adalah mereka yang menarasikan setiap gagasannya ke dalam sebuah tulisan. Rasululloh SAW dengan sabda-sabdanya. Soekarno dengan “Di Bawah Bendera Revolusinya”. Hatta dengan “Alam Pikiran Yunani”nya. M. Natsir dengan “Capita Selecta”nya. Dan beberapa tokoh-tokoh besar di dunia ini yang tak sempat terangkum oleh sejarah.

Mengapa mereka bisa lahir dan diabadikan dalam patahan-patahan sejarah dunia? Karena mereka bekerja atas dasar keikhlasan. Bukan bekerja atas dasar eksistensi, kekuasaan, apalagi jabatan. Karena itulah mereka besar. Bukan mereka sendiri yang membesar-besarkan dirinya. Tapi, setiap manusia yang merasakan kebesaran dari sebuah pengorbanan dan kontribusi dari yang mereka lakukan. Sederhana. Karena alam ini seperti magnet. Ia akan mendekat sesuai dengan apa yang manusia itu lakukan. Jika kita banyak melakukan hal-hal negatif maka itu efeknya dari itu akan berbalik ke kita. Tapi, jika kita banyak melakukan hal-hal positif maka kita pun akan merasakan energi positifnya.

Seperti itulah yang Alloh firmankan dalam Qs. Ar-Rahman: 60, ”Balasan terhadap kebaikan adalah kebaikan pula”. Karena setiap kebaikan akan mendatangkan kebaikan selanjutnya. Itu sudah hukum alam. Maka, mari kita bayangkan berapa banyak energi kebaikan itu hadir dan mewarnai negeri ini, jika setiap anak bangsa komitmen untuk melakukan kebaikan di setiap detiknya?? Anggaplah 50% dari 220 juta penduduk negeri ini melakukan kebaikan untuk negeri, maka efek yang dirasakan tidak hanya untuk mereka sendiri, tapi juga untuk 50% penduduk lainnya di negeri ini. Dan kita bisa bayangkan, bagaimana jadinya negeri ini kelak jika dipimpin dan memimpin orang-orang yang baik.

Karena kebaikan itu adalah idealita. Maka, dia membutuhkan ruangnya untuk bisa terwarisi di alam nyata. Salah satu ruang yang mungkin ada untuk idealita itu bisa hadir adalah melalui tulisan. Maka, selama apa yang kita tuliskan memiliki energi kebaikan, jangan ragu. Tulis saja. Meski itu hanya sekadar status di facebook, kicauan di Twitter, atau narasi panjang di komputer. Karena kita tidak pernah tahu, kebaikan apa yang membuat amal kita berat. Bisa jadi, amal kita berat di akhirat karena tulisan yang kita buat.

Maka, tuliskan apa yang kita rasa itu pantas dituliskan. Sebarkan setiap kebaikan di mana pun itu tempatnya. Karena tulisan yang baik, tidak hanya untuk konsumsi pribadi. Tapi, untuk konsumsi banyak orang. Mungkin, bisa berbentuk inspirasi atau mungkin bisa berbentuk bacaan biasa. Tapi, apapun itu yakinkan bahwa tulisan kita mengandung makna kegelisahan. Kegelisahan tentang umat. Tentang negeri ini. Karena kegelisahan itulah yang membuat tulisan memiliki ruh dan daya dobraknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s