Mendamaikan Realitas


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Sudah 5 tahun, aku hidup di Yogya. Sudah 4 tahun aku kuliah ”resmi” di Gadjah Mada. Semua perubahan dari fakultas sampai kampus, benar sangat ku rasakan. Dari mulai Rektor Prof. Sofyan Efendi, Prof. Sudjarwadi, hingga tahun depan menjelang pergantian Rektor UGM. Semua berasa berlau begitu cepat. Sangat cepat.

Usia pun kini beranjak kian tua. Tak ada lagi yang istimewa, selain untuk segera lulus dan berkontribusi di dunia nyata. Idealisme hanya akan menjadi asa ketika tidak dibenturkan dengan realita. Semua akan menjadi fana. Jika tidak segera turun dari singgasana, melihat dunia sebenarnya. Turun dari kenyamanan yang menganggap dunia kampus adalah segalanya. Hampa. Begitulah adanya.

Segala yang terucap ketika masih menjadi aktivis mahasiswa, akan menjadi tantangan untuk dibuktikan kelak jika sudah bekerja. Apakah kita akan menelan ludah kita sendiri dan perlahan-lahan ”memaafkan” segala kesalahan atau kita terus konsisten dengan apa yang dikatakan serta memperbaikinya perlahan-lahan?? Semua adalah pilihan. Tapi, untuk menjadi baik bukanlah suatu pilihan. Itu harus. Bahwa tiap manusia adalah makhluk pembelajar. Dan salah satu indikator sukses atau tidaknya belajar tersebut adalah adanya perbaikan diri tiap saatnya. Sehingga, tidak ada pemakluman lagi bagi mereka yang sudah tua secara usia, tapi tidak bijaksana dalam bersikap dan bertutur kata.

Sederhana. Aku tak ingin Alloh membenci para hamba-Nya yang tidak sejalan antara perbuatan dan perkataan (Qs. As-Shof:3). Karena posisi strategis di kampus tak jarang membuat kita banyak teriak sana-sini. Mencaci sana-sini. Bahkan tak jarang semua serba prasangka, minim data. Sehingga, menganggap posisi mahasiswa adalah seperti malaikat: jauh dari kesalahan dan berhak untuk mencatat segala amal keburukan manusia di sekelilingnya. Miris.

Tak salah memang. Karena fase mahasiswa adalah fase tempat memupuk idealisme setinggi-tingginya. Tapi, jangan lupa bahwa ada dunia di ujung sana yang jauh lebih kompleks untuk tidak cukup hanya diselesaikan dengan teriakan semata. Tak cukup suara dan kata untuk memperbaiki negeri yang kian renta ini. Semua butuh pengorbanan. Dari mulai harta, jiwa, bahkan raga sekalipun. Tak cukup menyelesaikan permasalahan bangsa, jika hanya duduk di depan komputer semata. Maka, aku sering jengah dengan diriku dan sahabat terdekatku, jika ada yang masih bisa menghabiskan waktunya untuk hal yang sia-sia.

Padahal, di sebelah sana, masih banyak jiwa-jiwa yang menjerit kelaparan. Hidup hanya beralaskan tikar dan koran. Tak jelas mau sampai kapan. Karena yang terlintas di benaknya, hanya bagaimana caranya bisa mempertahankan kehidupan. Miris memang. Tapi, itulah fakta di lapangan. Dan kita sebagai mahasiswa tak bisa hanya menutup mata dan sekadar mengangkat tangan di tengah solat malam. Bergerak dan berkontribusi dengan segala yang kita miliki, mungkin saja bisa menjadi setitik cahaya harapan.

Ah, lagi-lagi aku beretorika. Apa benar apa yang diidealismekan selama ini sesuai dengan kenyataan di lapangan? Atau jangan-jangan sekadar pemanis bibir untuk meraih kekuasaan? Mahasiswa tampil ke publik bukan untuk menyuarakan kebenaran, tapi untuk meraih popularitas dan jabatan. Niatnya sudah berbeda, maka hasilnya pun juga akan berbeda. Kosong. Tidak ada sama sekali ruh yang dibangun. Yang ada hanyalah kerja dan kerja. Tapi, tidak mengerti apa yang dikerjakan, untuk apa dikerjakan, dan mengapa harus dikerjakan. Jenuh.

Sehingga, inilah fase kritis lainnya dari mahasiswa yang menjalani fase akhir tahun. Menyiapkan masa depan secara lebih matang dan terarah. Karena umur ini tidak panjang. Rata-rata hanya 60 tahun. Perlu ada sesuatu yang membuat kita berarti di dunia ini. Tak menyia-nyiakan pahit getirnya ibu kita saat melahirkan. Perlu ada sesuatu yang berguna untuk bangsa ini. Sekecil apapun itu. Sesederhana apapun itu. Dan itu semua, membutuhkan perencanaan matang sedari dini. Maka, berdamailah dengan realitas. Berdamailah, karena impian itu juga membutuhkan pijakan realitas untuk bisa melompat lebih tinggi. Berdamailah, selama pijakan realitas itu masih dalam koridor batasan syar’i

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s