Surat Untuk Presiden SBY

Surat Untuk Calon Presiden Baruku

Kepada Yang Terhormat

Bapak SBY

Di Tempat

Assalammualaykum

Apa Kabar, Pak…

Aku berharap Bapak baik-baik saja

Seperti Aku saat ini

Bapak, namaku Faiz

Sekarang aku duduk di kelas 3 SD

Aku suka sekali membaca dan menulis

Alhamdulillah Aku sudah menerbitkan 2 buah buku

Tahun lalu aku mengirim surat pada Ibu Presiden

Kata orang suratku lucu

Ibu Mega sempat juga membalasnya

Bapak sayang

Selamat ya sudah dipilih orang untuk menjadi presiden yang baru

Selain bersyukur, aku tahu Bapak pasti deg-degan

Soalnya menjadi presiden itu kan susah

PR nya banyaaakk sekali

Lebih banyak dari PR seluruh murid di sekolah di dunia ini

Misalnya, PR bagaimana membuat rakyat tersenyum

Kan susah ya Pak?

Kalau semua harga mahal untuk makan, berobat, dan sekolah saja susah

Bagaimana rakyat bisa tersenyum 😦

Apalagi cari pekerjaan pun sukar sekali

Ku dengar di luar negeri banyak tenaga kerja kita yang disiksa

Terus juga PR membuat negeri kita lebih aman

Agar jangan banyak orang jahat berkeliaran

Apalagi ngebom segala!!!

Kami takuut sekali

Kalau bisa nanti negeri kita tidak mendapatkan ranking 1 lagi untuk korupsi

Sedih kalau ingat itu

Padahal teman-teman kecilku banyak yang harus berjuang di jalanan

Padahal negeri kita kaya lo..

Makanya, aku berharap Bapak bisa peka dan tegas

Mimpiku sih ingin punya presiden yang dekaaaattt sekali dengan rakyat

Tidak malu makan di warung

Sering jalan ke tempat kumuh

Ngobrol dengan orang kecil seperti aku

Dan sering tersenyum.. 🙂 

Bapak yang ganteng dan pintar

Betapa beratnya jadi presiden yang tumbuh dari duka lara rakyat

Apalagi rakyatnya selalu berharap terus seperti aku

Seperti yang Bapak bilang Bapak tak bisa berjuang sendirian

Tapi, bersama kita bisa

Aku yakin itu!

Aku juga ingat kata Bunda

Kalau kita menjadi orang baik dan punya hati yang bersih

Tak ada lagi air mata duka

Hanya ada pelangi di mata kita

Seperti lagu yang sering Bapak nyanyikan itu lho…

Selamat berjuang Presiden baruku

Aku akan selalu mendoakan Bapak

Tapi, kalau Bapak salah.

Biarpun Bapak Presiden, Doktor, dan Jenderal berbadan tegap

Aku boleh menegur ya?

Dan Bapak jangan marah ya..

Sebab itu aku lakukan karena Cinta

Terima kasih

Salam Hormat

Abdurahman Faiz

The Crazy of Self-Conversation

3 pekan sudah berpisah (jarak) dari rekan-rekan asrama. Sepi? Iya. Kamar kos ini sunyi. Hanya dinding yang mungkin bisa diajak bicara dan puluhan buku yang bisa untuk menjadi inspirasi dalam menulis. Puaskah? Ternyata juga tidak. Kerjaan menumpuk, seolah menjadi teman setia yang menanti untuk diselesaikan. Bukankah ada teman-teman satu kos yang bisa diajak bicara? Iya juga. Tapi, bisa jadi “dunia” ku dengan mereka berbeda. Bukan bermaksud self-proud, tapi aku merasa jika aku ikut arus mereka, aku akan menurunkan pencapaianku selama ini. Segala impian, segala cita-cita, segala obsesi, bahkan sampai segala narasi yang telah tertulis secara rapi.

Salahkah? Bisa jadi iya, bisa jadi tidak. Hidup di kos, memberikan keleluasaan yang sangat tak terbatas. Kita bisa keluar-masuk 24 jam, nyetel lagu apapun, bahkan tak ada satu pun yang memantau diri kita saat dalam kamar kos. Kalau kita tak beriman kuat, Alloh bisa jadi hanya hadir dalam 5 waktu sholat kita. Selebihnya? Bebas, sebebas-bebasnya. Tapi, dampak negatifnya, hidup kembali tak normal dan tak beraturan. Menurun, dibanding apa yang bisa dilakukan di asrama dulu.

Bersyukurkah? Tentu saya bersyukur. Tapi, apakah saya salah jika menginginkan adanya sebuah konsistensi dalam berkarya untuk umat? Salahkah saya jika saya menginginkan lingkungan yang mendukung pada konsistensi tersebut? Tentu nasi sudah menjadi bubur. Saya pun juga punya andil dalam menentukan dimana saya tinggal setelah dari asrama ini. Kalau sudah seperti ini, tak bisa menghindar. Otomatis, achivement must goes on. Pencapaian harus jalan terus. Tak ada kata berhenti apalagi stagnasi. Hidup hanya sekali, sudah itu mati. Jika tak dijalankan sepenuh hati, kita bukan siapa-siapa dalam hidup ini. Separah-parahnya sampah masih bisa didaur ulang dan menjadi barang baru untuk diproduksi. Tapi, manusia adalah sekumpulan hati yang punya kesadaran sendiri. Jika tak melalui hidup ini secara maksimal, penghakiman massal bukan tak mungkin akan melekat secara diam-diam. Masa sudah jauh-jauh ke Amerika, bekerja yang lebih layak saja tak bisa?

Maka, yang paling penting adalah penyiasatan. Hidup di kos, dengan semangat asrama. Hidup di kos, dengan gebrakan lebih hebat dibandingkan di asrama. Nah, menyiasati itu yang terkadang sulit. Butuh kesabaran, keikhlasan, dan self-reminding yang kuat. Tetap berdoa, berusaha, dan berpikiran positif menjadi kunci untuk selalu meraih achievement yang lebih baik di tiap tahunnya. Mulai dari hal yang kecil, Mulai dari diri sendiri, dan Mulai saat ini juga.. Insya Alloh.

Sekadar Curhat
Kos H-25, Karangwuni, Sleman, Yogyakarta