The Crazy of Self-Conversation


3 pekan sudah berpisah (jarak) dari rekan-rekan asrama. Sepi? Iya. Kamar kos ini sunyi. Hanya dinding yang mungkin bisa diajak bicara dan puluhan buku yang bisa untuk menjadi inspirasi dalam menulis. Puaskah? Ternyata juga tidak. Kerjaan menumpuk, seolah menjadi teman setia yang menanti untuk diselesaikan. Bukankah ada teman-teman satu kos yang bisa diajak bicara? Iya juga. Tapi, bisa jadi “dunia” ku dengan mereka berbeda. Bukan bermaksud self-proud, tapi aku merasa jika aku ikut arus mereka, aku akan menurunkan pencapaianku selama ini. Segala impian, segala cita-cita, segala obsesi, bahkan sampai segala narasi yang telah tertulis secara rapi.

Salahkah? Bisa jadi iya, bisa jadi tidak. Hidup di kos, memberikan keleluasaan yang sangat tak terbatas. Kita bisa keluar-masuk 24 jam, nyetel lagu apapun, bahkan tak ada satu pun yang memantau diri kita saat dalam kamar kos. Kalau kita tak beriman kuat, Alloh bisa jadi hanya hadir dalam 5 waktu sholat kita. Selebihnya? Bebas, sebebas-bebasnya. Tapi, dampak negatifnya, hidup kembali tak normal dan tak beraturan. Menurun, dibanding apa yang bisa dilakukan di asrama dulu.

Bersyukurkah? Tentu saya bersyukur. Tapi, apakah saya salah jika menginginkan adanya sebuah konsistensi dalam berkarya untuk umat? Salahkah saya jika saya menginginkan lingkungan yang mendukung pada konsistensi tersebut? Tentu nasi sudah menjadi bubur. Saya pun juga punya andil dalam menentukan dimana saya tinggal setelah dari asrama ini. Kalau sudah seperti ini, tak bisa menghindar. Otomatis, achivement must goes on. Pencapaian harus jalan terus. Tak ada kata berhenti apalagi stagnasi. Hidup hanya sekali, sudah itu mati. Jika tak dijalankan sepenuh hati, kita bukan siapa-siapa dalam hidup ini. Separah-parahnya sampah masih bisa didaur ulang dan menjadi barang baru untuk diproduksi. Tapi, manusia adalah sekumpulan hati yang punya kesadaran sendiri. Jika tak melalui hidup ini secara maksimal, penghakiman massal bukan tak mungkin akan melekat secara diam-diam. Masa sudah jauh-jauh ke Amerika, bekerja yang lebih layak saja tak bisa?

Maka, yang paling penting adalah penyiasatan. Hidup di kos, dengan semangat asrama. Hidup di kos, dengan gebrakan lebih hebat dibandingkan di asrama. Nah, menyiasati itu yang terkadang sulit. Butuh kesabaran, keikhlasan, dan self-reminding yang kuat. Tetap berdoa, berusaha, dan berpikiran positif menjadi kunci untuk selalu meraih achievement yang lebih baik di tiap tahunnya. Mulai dari hal yang kecil, Mulai dari diri sendiri, dan Mulai saat ini juga.. Insya Alloh.

Sekadar Curhat
Kos H-25, Karangwuni, Sleman, Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s