Menikmati Kopi Kehidupan (I)


Aku mencintai kopi. Bahkan saking cintanya, 3 hari berturut-turut belakangan ini, aku isi dengan minum kopi di tempat yang beragam. Mulai dari angkringan dekat kosan yang bernuansa kerakyatan, sampai di tempat mahal yang penuh dengan nuansa kemewahan. Semua tempat yang berbau kopi, hampir pernah ku singgahi. Bagiku, duduk di lesehan pun tak masalah, sampai sejenak di kursi megah pun bukan hal yang susah. Mungkin inilah yang dinamakan cinta: ia tak kenal ruang dan waktu untuk bisa berbagi bersamanya. Dan jiwa kita pun akan larut di dalamnya.

Mencintai kopi berarti memahami filosofi yang terkandung di dalamnya. Filosofi Kopi. Mungkin itu yang dimaksud Dee (Dewi Lestari) dalam novelnya tersebut. Mulai dari Kopi Espresso yang dibuat dalam suhu yang sangat tinggi sampai kopi arang yang ada di angkringan-angkringan, semua memiliki filosofinya sendiri. Dan semakin pahit itu kopi, berarti semakin tinggi makna yang tersirat di baliknya: bahwa sesulit / sepahit apapun hidup ini kita mesti menegaknya. Menjalaninya. Mungkin, bisa kita tambah gula agar menjadi manis. Atau kita biarkan tetap pahit, dan kita ubah mindset kita agar menjadi manis. Tapi, sejatinya kopi itu tetap pahit.

Seperti itulah hidup. Hidup ini sebenarnya adalah susah. Tapi, kesusahan itu hanya ada pada orang-orang yang tak mau berpikir positif dan bekerja keras. Kita lahir sudah susah. Ibu kita mengandung 9 bulan pun sangat susah, bahkan hingga menyapihnya selama 2 tahun (Qs. Lukman: 14). Merawat, menjaga, dan memberikan kehidupan bagi kita sampai saat ini bukanlah hal yang mudah. Kerja seharian, bahkan kadang mendapatkan penghasilan yang tak sesuai dengan yang diharapkan. Semua itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh pengorbanan serta air mata yang kadang tak tertahankan.

Tapi, bagaimana pun juga kopi kehidupan itu harus tetap diminum. Dijalankan, dengan sepenuh hati. Meskipun rasa  harus dengan menambah gula-gula pemanis kehidupan agar tampak menjadi manis. Meskipun harus dengan menahan pahit kehidupan agar kopi kehidupan itu cepat habis. Semua harus tetap dinikmati dengan penuh ketenangan hati. Mungkin, kita bisa sembari berbincang dengan orang lain agar lebih enjoy. Mungkin kita bisa nikmati dengan sebuah biskuit agar ada cita rasa lain dalam menikmati kopi.

Maka, nikmatilah kopi kehidupanmu. Kopi yang menunggumu untuk segera dihabiskan, cepat atau lambat. Jika kau menghabiskannya lambat, berarti Alloh memang mengijinkanmu untuk hidup agak panjang. Tapi, jika kau menghabiskannya cepat, berarti skenario Alloh memintamu untuk tak berlama-lama di alam fana ini. Karena itu, bukan perkara cepat-lama, panjang-pendeknya, hidup ini. Melainkan apakah di rentang usia itu kau bisa menikmati hidup ini dan menyadari bahwa ada Dzat yang mengatur cara kita meminum kopi kehidupan ini. Dan di akhir semua itu, kita semua sama: sama-sama dinilai bagaimana cara kita menghabiskan kopi tersebut: apakah kita akan bersyukur atau malah kufur dengan pahitnya kopi kehidupan? Wallahu ’alam bisshowab

8 thoughts on “Menikmati Kopi Kehidupan (I)

  1. i’d never knew that u are coffeeholic. haha…. ogt malah suka teh. aromanya ringan dan mnyegarkan. and, one thing, teh mngingatkan ogt sm ibu dan rumah

    • Yap. I’ve been coffeeholic since 2 years ago.. Sejak gut mulai banyak “kerjaan” dan “pikiran”.. .hehehe..😀

      Gut juga menyukai kopi karena mungkin ketularan ibu juga kali ya.. haha.. ibu itu pecinta kopi lo, karena dengan minum kopi, ibu jadi lapar. So, Ibu jadi harus makan, itu saran dari dokter..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s