Building Character of Winner…

Banyak orang di dunia ini ingin menjadi pemenang. Mengapa? Karena memang watak sedari awal diciptakannya manusia adalah untuk menjadi pemenang. Kita berasal dari satu sel sperma yang berhasil mengalahkan jutaan sperma yang bertarung untuk masuk sel ovum. Hasilnya, sampai saat ini sperma itu berkembang dan tumbuh kembanglah diri kita saat ini. Itulah fakta penciptaan: bahwa sedari awal, kita semua dididik oleh Alloh untuk bertarung ”fastabiqul khoirot” untuk menjadi pemenang. Sebagaimana Alloh firmankan

Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah: 148)

Namun, persoalannya adalah, jika kita bicara dalam konteks negara, mengapa negeri ini tak kunjung membaik dengan munculnya banyak pemenang? Logikanya, jika setiap diri kita adalah pemenang, maka semestinya bangsa ini akan menjadi bangsa pemenang diantara bangsa-bangsa di dunia. Kita mampu bersaing dalam persoalan politik, ekonomi, pendidikan, dan sebagainya. Tapi, kenyataannya tak demikian. Kekayaan di Indonesia hanya dikuasai oleh segelintir orang (koruptor, pengusaha kelas kakap, dsb). Pendidikan, sebagian besar hanya untuk orang berpunya. Politik kita masih dikuasai oleh para politisi yang busuk ketimbang yang baik. Bagaimana dengan kesehatan dan teknologi? Setali tiga uang. Sama saja.

Persoalan inilah yang akan diulas secara singkat dalam tulisan ini. Tulisan ini akan bermula dari fakta sosial bagi mereka yang disebut dengan ”pemenang”. Selanjutnya, pembahasan akan masuk kepada sebuah istilah yang saya sebut dengan ”anak tangga untuk menjadi pemenang”. Dan sebagai penutup, apa saja basis untuk menjadi pemenang akan dipaparkan secara mendalam dan bersifat reflektif.

Pemenang: Konsistensi antara Kompetensi Pribadi dan Kontribusi Komunal

Jika kita lihat di banyak peradaban, mengapa orang-orang yang mengatur urusan-urusan kita, jumlahnya tak banyak ketimbang orang-orang yang diurusnya? Dalam hal ekonomi, berapa banyak – tanpa bermaksud menyinggung SARA – orang-orang China yang menguasai ekonomi Indonesia? Dalam soal pendidikan, berapa banyak toko-toko buku yang hanya bisa diakses di kota-kota besar? Dalam soal kesehatan, berapa banyak rumah-rumah sakit yang fasilitasnya lengkap berbanding lurus dengan mahalnya biaya perawatan? Dalam soal teknologi, berapa banyak teknologi yang kita gunakan hari ini, dikuasai oleh perusahaan-perusahaan kapitalis Amerika, Jepang, dan negara maju lainnya?

Ini tak salah. Karena itulah yang disebut Pemenang: Komunitas yang jumlahnya tak banyak, punya diferensiasi, dan memiliki konsistensi kontribusi serta prestasi tersendiri. Tak banyak orang seperti mereka. Mereka sedikit, tapi punya kapasitas untuk mengelola sumber daya yang banyak. Peristiwa ”the small one” mengalahkan ”the big one” (Arnold Toynbee: Creative Minority) inilah yang Alloh kisahkan 1500 tahun silam dalam perang antara Kaum Thalut melawan kaum Jalut.

”Kaum Thalut berkata, ”Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”  (QS. Al-Baqarah: 249)

jnjnkjjhjhjkhjhjhjhjkhjkhjhjhjhkjhjkhkjhjkhjhkjhjhkjhjhj                                                                                       jkhjkhjkhkhjkhkjhjhjkhjkhjjhjkhjkhjkh

Anak Tangga Pemenang

Menjadi pemenang sebenarnya bukanlah tujuan, melainkan sebuah sarana. Sarana untuk mencapai sesuatu yang menjadi visi hidup kita. Maka untuk menjadi pemenang dibutuhkanlah sebuah anak tangga, bukan lompatan. Kalau anak tangga, berarti ketika sudah sampai di level yang lebih tinggi, kita tak akan melupakan yang sebelumnya. Karena itu dijadikan sebagai pondasi untuk ke atas. Kalau lompatan, berarti kita berpindah dari titik satu ke titik yang lain. Dan itu berarti kita akan banyak melupakan: melupakan teman, potensi diri, jaringan, dan sebagainya. Oleh karena itu, setidaknya ada 3 anak tangga yang harus dilewati untuk menjadi pemenang,f

  1. Memenangi Diri Sendiri. Memenangi diri sendiri ini berarti memenangi setiap ego, emosi, dan ambisi dari diri kita. Kita boleh berobsesi, tapi bukan berambisi. Karena begitu banyak pemenang di negeri ini yang jatuh bukan karena persoalan eksternal di luar dirinya. Tapi, karena persoalan internal dirinya yang tidak mampu memenangi segala ambisi pribadinya. Fira’un jatuh bukan karena dikudeta oleh masyarakat Mesir, tapi karena kesombongannya terhadap yang dimiliki. Umat Islam bisa kalah dalam Perang Uhud bukan karena kalahnya kemampuan, tapi tak mampu menahan diri untuk tidak berebut harta rampasan perang (ghonimah). Bahkan hampir semua pemimpin di negeri ini jatuh bukan karena ketidak-cakapannya dalam mengelola negeri ini, tapi karena ambisinya untuk menjadi presiden seumur hidup.
  2. Memenangi Visi Hidup. Berapa banyak anak muda hari ini yang berani bermimpi tentang masa depan? Kalau pun ada, mungkin hanya mereka yang mencicipi pendidikan minimal SMA atau PT saja, seperti kita. Kalau pun ada, berapa banyak yang masih sungguh-sungguh menjalankan impiannya tersebut? Bermimpi itu mudah, tapi yang sulit adalah menjalankannya. Merangkainya, hingga detil sampai tahu apa yang harus dilakukan hari ini. Sehingga, poin dari memenangi visi hidup ini adalah berani bermimpi untuk yang punya visi secara detil, terencana, tapi juga realistis.
  3. Memenangi Komitmen. Betapa banyak orang cerdas, memiliki kedudukan, dan punya potensi di negeri ini, tapi berapa banyak di antara mereka yang sejalan antara perbuatan dan perkataannya. Komitmen terhadap hal-hal yang kecil yang mereka sangat menjaga hal itu.Sholat tepat waktu di masjid, menjaga penampilan, sikap, dan sering-sering silaturahim. Jangan sampai, semakin tinggi kedudukan dan pendidikan yang kita miliki, semakin rendah hubungan kita dengan sesama saudara dan sahabat kita. Ini sederhana, menjaga silaturahim. Tapi, dari yang sederhana itulah Alloh banyak memberikan pelajaran. Salah satunya, adalah memperbanyak rezeki dengan silaturahmi 

3 Basis Untuk Menjadi Pemenang

1. Finansial: Untuk terus maju dan berkembang, penyiasatan terhadap kondisi keuangan menjadi suatu hal yang urgen. Bekerja, berinvestasi, atau menabung adalah beberapa sarana untuk menguatkan kapasitas finansial. Karena jalan yang ditempuh bukan main-main, butuh perencanaan. Itulah sebabnya, Alloh menekankan pentingnya aspek harta ini sebagai salah satu sarana dalam berdakwah

Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. (Qs. Al-Hujuurat: 15)

2. Komunal: Setiap pemenang, pasti memiliki sebuah ”lingkaran kecil” yang membuat visinya selalu terjaga dengan baik. Dia bukan orang biasa, maka itu dia tidak akan bisa hidup di lingkungan yang kurang sesuai dengan visinya. Soekarno, saat muda, tinggal dengan Kartosuwiryo dan Tan Malaka dalam kos-kosan HOS Cokroaminoto. Rasululloh memiliki para 4 sahabat yang terwariskan menjadi khalifah. Begitu pun dengan PKI yang menerapkan sistem ”lingkaran” untuk menjaga kontinuitas ide komunisnya

3. Mental dan Intelektual: Ini yang paling sulit dibangun karena membutuhkan proses dan waktu yang relatif lama. Banyak membaca, banyak melakukan kontribusi nyata, dan banyak melakukan perenungan merupakan bagian untuk menajamkan basis ini. Karena tak banyak anak muda saat ini di tengah padatnya aktivitas, masih menyempatkan diri untuk membaca. Membaca buku, bukan sekadar membaca koran ataupun majalah yang seringnya hanya sedikit-sedikit informasi yang diberikan. Memang perlu waktu, tapi mesti dimulai dari sekarang. Karena dengan membaca akan melatih kepekaan ruhiyah dan melatih kebijaksanaan.

Maka, teruslah bekerja. Berkontribusilah sampai lelah, sampai lelah itu sendiri yang lelah mengikutimu (Ust. Rahmat Abdulloh). Karena kita tak pernah tahu amalan mana dari yang setiap kita lakukan akan bernilai di mata-Nya. Teruslah bekerja, dan jangan berhitung dan memperhitungkan apa yang setiap kita lakukan. Karena hanya Dia yang pantas menghitung kita di akhirat sana. Jadilah pemenang yang tidak pernah mundur, karena orang yang mundur tidak akan pernah menang 

Topeng Diri (Refleksi)

Seringnya memang saya menjadi orang menyebalkan

Gak tahu aturan

Sering kelayaban

Suka pergi-pergian

Gak betahan

Plus, anak begajulan

 

Gak layak dijadikan panutan

Apalagi inspirasi yang membanggakan

 

Kalau pun ada itu mungkin sekadar topeng yang dibalut keindahan

Topeng keshalehan yang dalamnya penuh kemunafikan

Topeng ke-ustadz-an yang lebih suka keburukan

Astaghfirulloh..

 

Kalau pun ada orang yang menganggap saya baik

Itu mungkin hanya polesan make-up setitik.

Setitik, dari busuknya wajah yang tertera dibalik

 

Ah, bukankah dunia ini memang panggung sandiwara

Penuh tipu daya dan permainan belaka

Apa yang tampak bisa jadi bukan fakta sebenarnya

Apa yang terlihat bisa jadi membutakan mata dan telinga

 

Ya, sudahlah! Toh kalau pun saya buka topeng diri

Nir orang yang akan mau memahami

Lebih-lebih jika mereka tahu ternyata saya sebusuk ini

Tapi, aku yakin ada Dzat Yang Maha Memahami

Mengampuni, seluas langit dan bumi

Ku curhat kepada-Nya di sepertiga malam terakhir..

Rabb! Ampunkanlah hamba..

Fenomena Tua-Muda: Belajar dari “Kembalinya” Thierry Henry dan Paul Scholes

“Oleh karena itu, selalu ada ruang semangat diantara tua dan muda. Ruang yang membuat mereka saling berkolaborasi, kerjasama, dan sadar dimana semestinya mereka bekerja. Yang salah adalah ketika diantara mereka tidak tahu dimana semestinya mereka bekerja”

fdgfdgfdngkfngkfgfdgmfmdhkgdmhskgmdhkmfdgkfdggfdgngjfngjfngfdmgfdmngfdngfdngkfdgmfdngkngkfngkfngkfngkfngkngkfdgnfjnjfngjfng

Kembali-gelanggangnya Thierry Henry ke Arsenal dan Paul Scholes ke Manchester United, ini tentu fenomena unik. Sepanjang sejarah persepak-bolaan manapun jarang ada pemain yang sudah pensiun atau berlabuh ke klub lain, akan kembali ke klub asalnya yang notabene telah membesarkan dirinya. Henry (34 tahun) yang sudah berlabuh di Klub MLS Amerika Serikat sangat senang hati ketika dipanggil kembali oleh coach Arsene Wenger untuk menjadi player, meski bukan sebagai starter. Paul Scholes (27 tahun) yang telah gantung sepatu kini dipanggil kembali oleh coach Ferguson untuk membantu skuad muda MU. Tak tanggung-tanggung, hingga 2 musim ke depan. Selebihnya, kalau memang jadi, Robbie Keane akan kembali ke Aston Villa untuk membantu mengangkat moral tim papan tengah tersebut.

Apa sebenarnya hikmah yang bisa diambil dari kembalinya para superstar itu? Sederhana, mereka mungkin bukan superstar lagi. Yang siap bersinar dan menorehkan catatan emas kepada klubnya. Tapi, sejatinya mereka adalah bintang (star), dan yang namanya bintang itu tak akan pernah pudar atau hilang. Mereka tetap bekerja menyinari dunia. Kalaupun mereka tak terlihat, maka mungkin terjadi karena dua hal: mereka bekerja menyinari tempat lain atau mata kita yang tak mampu melihatnya. Dan karena mereka adalah bintang, maka itulah mereka merendah. Mereka merendah, tapi itu yang membuat mereka tinggi, bukan meninggi. Cahayanya turun ke bumi, menyinari dunia. Tapi, letak mereka sangat tinggi, menaungi umat manusia. Maka, merendahlah!

Merendahlah. Engkau kan seperti bintang-gemintang. Berkilau di pandang orang. Di atas riak dan sang bintang nun jauh tinggi. Jangan seperti asap. Yang mengangkat diri di langit. Padahal dirinya rendah, lagi hina”

(Alm. Ust. Rahmat Abdulloh)


Cahaya superstar itulah yang tetap ada di dalam diri mereka. Sebagai orang tua, mereka siap membimbing para anak muda. Bisa jadi mereka tua secara usia, tapi secara inspirasi mereka tetap muda. Panutan, yang siap berbagi atas berbagai pengalamannya kepada anak muda. Teladan, yang siap membimbing anak muda atas kegamangannya. Para orang tua mungkin secara semangat sudah kendur, tapi sikap dan komitmennya tak akan pernah luntur. Para orang tua mungkin secara mimpi sudah tak begitu berambisi, tapi semangat untuk berbagi tak akan pernah luntur dari diri pribadi. Maka, kembalinya Henry dan Scholes, sangat tepat untuk memacu, menginspirasi, dan role model, bagi para anak muda Arsenal dan MU yang terkadang masih sedikit kurang stabil dalam performance.

Hikmah Sejarah: Dari Rasul sampai Bung Hatta

 Coba kita buka cakrawala berpikir kita ke tempat lain, di ruang dan waktu yang lain. Di Zaman Rasululloh SAW, misalnya. Perang Khandaq terjadi pada Bulan Syawwal tahun kelima Hijriah (Sirah Nabawiyah: Al-Buthy), saat Rasululloh dalam usia sekitar 54 tahun. Di usia yang sudah cukup “tua” tersebut (matang, karena banyaknya peperangan yang Rasul ikuti), Rasululloh tak malah mengangkat diri menentukan keputusan sendiri seperti apa taktik berperang yang terbaik melawan 10.000 kaum Quraisy versus 3000 ribu kaum Muslimin. No!

 Ia paham, era Rasul sudah selesai. Maka, dibutuhkan ide-ide anak muda yang lebih fresh untuk mengalahkan musuh yang jumlahnya 3 kali lipat banyaknya. Maka, hadirlah  Salman Al-Farisi yang secara usia lebih muda sekitar 20 tahun ketimbang Rasululloh. Salman memiliki ide untuk menggunakan parit (khandaq) sebagai taktik perangnya. Ide baru yang belum pernah ada selama Rasul ikut berperang. Tapi, apakah Rasul menolak? Ternyata tidak. Rasul menghargai ide brilian tersebut. Memutuskannya, bahkan menjalakannya. Rasul merasa tidak ada sama sekali harga diri yang direndahkan saat menerima ide brilian dari seorang anak muda bernama Salman. Buktinya, Rasul sendiri yang memimpin penggalian parit untuk memecah bebatuan yang sangat besar.

Segaris dengan Rasululloh, Bung Hatta melakukan hal yang sama. Di detik-detik menjelang Proklamasi tahun 1940an, awalnya Bung Hatta menolak ide revolusioner para anak muda saat itu. Ia bukan tidak mau Indonesia merdeka dengan cara-cara revolusioner, tapi ia pertama-tama ingin mengaturnya dengan baik. Bahkan, Bung Hatta dengan keras menyatakan kepada para pemuda tersebut, “Kalau kalian siap untuk memproklamasikan kemerdekaan sendiri, lakukanlah!”. Des Alwi mengakui, “Om Hatta sangat marah dengan penculikan itu”. Pelik. (Biografi Politik Bung Hatta: Mavin Rose)

Bung Hatta menyadari bahwa kerasnya Beliau adalah bukti cintanya kepada Indonesia dan para anak muda negeri itu. Ia tak ingin Proklamasi yang dicita-citakan dilakukan dengan cara gegabah dan tidak dengan berpikir matang. Dan karena rasa cintanya yang sangat itulah, Bung Hatta kemudian melunak. Ia menerima ”penculikan” oleh para pemuda ke Rengasdengklok untuk merumuskan Teks Proklamasi yang akan menjadi tonggak bersejarah Indonesia ke depannya. Dengan dihadiri beberapa anggota PPKI dan para pemuda saat itu, Bung Hatta dan Bung Karno ”menerima” ide dari para pemuda untuk segera melangsungkan Proklamasi sebagai syarat untuk membawa Indonesia memiliki kebebasan dan kebahagiannya sendiri. Dan benar, hingga tahun 1950an, Bung Hatta berkomitmen dengan ide para anak muda tersebut dengan bersedia menjadi wapres.

Penutup

Maka, tak ada yang salah dengan dikotomi tua – muda. Dikotomi itu tepatnya dikonjungsikan dengan ”dan”, bukan ”versus”. Karena yang membedakan orang tua dengan anak muda, sejatinya hanyalah masalah pengalaman dan usia. Anak muda belum banyak pengalaman, karena itu mereka butuh dibimbing. Sebaliknya, orang tua sudah banyak makan asam-garam, sehingga membuat mereka terkesan ”takut” mengalami perubahan, itulah sebabnya mereka pun butuh didorong oleh anak muda.

Oleh karena itu, selalu ada ruang semangat diantara tua dan muda. Ruang yang membuat mereka saling berkolaborasi, kerjasama, dan sadar dimana semestinya mereka bekerja. Yang salah adalah ketika diantara mereka tidak tahu dimana semestinya mereka bekerja. Yang muda tak harus dibelakang, dan yang tua tak harus melulu di depan. Pun juga sebaliknya. Yang penting, masing-masing mereka tahu dimana letaknya berada, dan komitmen akan setiap keputusan yang diambil. Itulah sekelumit pelajaran dari come-back nya Thierry Henry ke Arsenal dan Paul Scholes di MU…

Sekadar Lintasan Pikiran, Sekadar Celotehan Sebuah Gagasan

Sore ini, tepat pada 11 Januari 2011, di sela-sela padatnya mengerjakan skripsi, mengurus beberapa kajian, kontributor di beberapa situs berita hingga menyiapkan keberangkatan ke Lombok Timur dan/ atau ke Malaysia Bulan Februari, saya mencoba menulis. Sekadar menulis apa yang terlintas di pikiran. Sekadar lintasan pikiran. Karena memang ini ditulis tak butuh persiapan matang: mulai dari buat kerangka tulisan, cari bahan, atau bahkan perenungan yang mendalam. No! Ini sekadar menulis saja sebuah lintasan pikiran.

Maka, karena ini sekadar lintasan pikiran, isinya pun bisa jadi sekadar gurauan. Celotehan, yang tak punya pemaknaan. Sekadar luapan gagasan yang tidak masalah jika terlewatkan. Tapi, saya adalah orang yang sangat menghargai ide. Sekecil atau sesederhana apapun ide itu. Karena tidak ada ide yang bodoh, yang bodoh adalah orang yang menganggap rendah ide tersebut. Maka, karena saya adalah orang yang sangat menghargai ide atau gagasan, saya akan respek dengan siapapun orang yang punya sebuah ide, termasuk jika orang tersebut adalah diri saya sendiri.

Begitu pentingnya gagasan, maka itulah yang saya dokumentasikan ke dalam tulisan ini. Bisa jadi setiap gagasan, belum menemukan zamannnya untuk diterapkan saat ini. Tapi, orang yang sudah menuliskan atau membincangkan gagasan tersebut, minimal, sudah merasa gelisah. Dan karena dia merasa gelisah itulah, maka dia memulai. Memulai dari yang sederhana: menyebarkan kegelisahan, membangun banyak diskusi, membuat kelompok-kelompok kecil, bahkan bergabung ke dalam kelompok-kelompok yang sesuai dengan gagasannya.

Namun, ide atau gagasan itu seringnya berlari lebih cepat ketimbang zamannya. Saat orang lain baru bangun, ia sudah berjalan. Saat orang lain baru berjalan, ia malah sudah berlari. Selalu begitu. Maka, itu orang-orang yang memiliki ide besar, biasanya selalu dianggap gila: karena berpikir di luar orang lain berpikir. Namun, kegilaannya itulah yang menuntun ”penglihatannya” untuk melakukan apa pun yang dia anggap benar. Penglihatan inilah yang Alloh sebut di dalam Qs. Al-Jaatsiyah:23 sebagai ”Bashiroh”. Mata hati.

Ide yang selalu berlari lebih cepat ketimbang zaman inilah yang sudah dialami oleh tokoh-tokoh besar di manapun. Bung Hatta di tahun 1950-an memiliki ide tentang Demokrasi dan Otonomi Daerah. Demokrasi yang disimbolkan dengan hadirnya Partai Politik, dikebiri habis oleh Soekarno, lalu muncul kembali pasca reformasi. Otonomi Daerah baru dijadikan UU No. 2 di tahun 1999  Bahkan, ketika Bangsa Indonesia di era 1920-an masih banyak yang belum bisa berbudaya literasi, Bung Hatta sudah memulainya terlebih dahulu. (Biografi Bung Hatta: Untukmu Negeriku).

Pun halnya yang dialami Rasululloh. Dalam Perang Khandaq, para Sahabat terlihat letih dan tak ada upaya lagi untuk memecah bebatuan yang menghalangi terbentuknya sebuah parit. Rasululloh melihatnya lain. Ia segera bangkit! Bergegas dengan langsung memecah bebatuan yang mengeluarkan percikan cahaya, seraya berkata ”Alloh Maha Besar! Sungguh Aku telah diberikan kunci gebang Negeri Syam. Alloh Maha Besar! Sungguh Aku telah diberikan kunci Parsi. Alloh Maha Besar! Sungguh Aku telah melihat Gerbang Shan’a dari tempatku ini”. Dan benar,  gagasannya memantulkan mata hati (bashiroh) nya untuk melihat sesuatu yang lain dari apa yang dilihat orang lain. Pasca itu, di tahun ke-8, Kaum Muslim membebaskan Mekah. Di tahun ke-9, Kaum Muslimin membebaskan kabilah-kabilah Arab yang masih musyrik di Jazirah Arab. Bahkan di tahun ke-10, pasukan yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid telah berhasil membebaskan Syam (Sirah Nabawiyah: Al-Buthy).

Itulah tahapannya: ide atau gagasan tersebut dipadu dengan mata hati, yang pada gilirannya melahirkan tindakan. Tindakannya bisa jadi tak besar, tapi signifikan dalam melakukan perubahan. Nah, ketika sudah masuk dalam ruang-ruang tindakan nyata inilah, maka konsistensi terhadap sebuah ide itu diuji: apakah kamu tetap yakin dengan idemu tersebut?”. Jika jiwa kita lemah, maka kita akan berhenti dan perlahan mundur teratur. Tapi, jika jiwa kita kuat, maka ide itu akan terus bertahan. Semakin dia ditempa, semakin dia akan kuat. Maka, ide itu seperti emas. Semakin ditempa, semakin berkilau di depan mata. 

Ketika ide ini terus bergerak, perlahan dia mencari orang-orangnya. Inilah yang dilukiskan oleh Rhonda Byrne dalam bukunya ”The Secret”. Bahwa jiwa manusia itu seperti ujung dari sebuah magnet: ia akan mencari kutub-kutub yang memang pas untuk mendekat kepadanya. Mirip, seperti kita datang ke toko buku atau ke perpustakaan. Bukunya bertebaran, tapi jiwa kita hanya akan condong ke satu atau dua buku yang pas dengan jiwa kita. Seperti itulah, ide itu bekerja. Mirip seperti ”gambaran jiwa” yang dilukiskan oleh Rhonda Byrne tersebut.

Maka, tidak mungkin ide itu bertemu dengan orang-orang yang tak sevisi dengannya. Bung Karno sering berdebat intektual dengan Natsir dan Agus Salim ketika memutuskan dasar negara apa yang tepat untuk negeri ini. Bung Hatta sering tidak sepaham dengan Bung Karno mengenai caranya mengatur demokrasi di negeri ini. Wajar, karena ide itu membutuhkan hardware-nya untuk bisa berfungsi. Manusia, itulah hardware yang sangat signifikan dalam melakukan sebuah perubahan dari sebuah software ide. Semakin canggih software serta semakin kuat kapasitas hardware-nya, maka ia akan berlari, jauh melebihi langkah kaki orang lain berlari.

Jadi, sampai di sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa:

ide itu seperti bahan bakar: ia akan tersulut ketika ada api (mata hati) yang bisa melihat bahwa api ini akan menjadi sangat besar menerangi banyak umat manusia. Tapi, api dan bahan bakar itu tidak bisa bertahan lama, jika tak ada orang-orang yang senantiasa memberikan kayu bakar (semangat) untuk menjaga nyala api tersebut. Ketika ada satu saja yang hilang, maka hilanglah pula nyala api tersebut. Mungkin benderang, tapi cepat hilang. Hilang di telan zaman. Nah, ujung dari cahaya api yang menerangi itulah yang kita sebut dengan Cahaya Kebenaran.  

Sebagaimana terlukis dalam bait puisi ini:

Puisi “Imperium Kebenaran”

Ketika orang tertidur,

Kamu terbangun,

Itulah susahnya

 Ketika orang merampas,

Kamu berbagi,

Itulah peliknya

Ketika orang menikmati,

Kamu menciptakan

Itulah rumitnya,

 Ketika orang mengadu,

Kamu bertanggung-jawab

Itulah repotnya

 Maka tidak banyak orang bersamamu di sini

Mendirikan Imperium Kebenaran

-A.M-

 

-Dari Sudut Sempit Kamar Kos H-25 Karangwuni, Sleman, Yogyakarta-