Sekadar Lintasan Pikiran, Sekadar Celotehan Sebuah Gagasan


Sore ini, tepat pada 11 Januari 2011, di sela-sela padatnya mengerjakan skripsi, mengurus beberapa kajian, kontributor di beberapa situs berita hingga menyiapkan keberangkatan ke Lombok Timur dan/ atau ke Malaysia Bulan Februari, saya mencoba menulis. Sekadar menulis apa yang terlintas di pikiran. Sekadar lintasan pikiran. Karena memang ini ditulis tak butuh persiapan matang: mulai dari buat kerangka tulisan, cari bahan, atau bahkan perenungan yang mendalam. No! Ini sekadar menulis saja sebuah lintasan pikiran.

Maka, karena ini sekadar lintasan pikiran, isinya pun bisa jadi sekadar gurauan. Celotehan, yang tak punya pemaknaan. Sekadar luapan gagasan yang tidak masalah jika terlewatkan. Tapi, saya adalah orang yang sangat menghargai ide. Sekecil atau sesederhana apapun ide itu. Karena tidak ada ide yang bodoh, yang bodoh adalah orang yang menganggap rendah ide tersebut. Maka, karena saya adalah orang yang sangat menghargai ide atau gagasan, saya akan respek dengan siapapun orang yang punya sebuah ide, termasuk jika orang tersebut adalah diri saya sendiri.

Begitu pentingnya gagasan, maka itulah yang saya dokumentasikan ke dalam tulisan ini. Bisa jadi setiap gagasan, belum menemukan zamannnya untuk diterapkan saat ini. Tapi, orang yang sudah menuliskan atau membincangkan gagasan tersebut, minimal, sudah merasa gelisah. Dan karena dia merasa gelisah itulah, maka dia memulai. Memulai dari yang sederhana: menyebarkan kegelisahan, membangun banyak diskusi, membuat kelompok-kelompok kecil, bahkan bergabung ke dalam kelompok-kelompok yang sesuai dengan gagasannya.

Namun, ide atau gagasan itu seringnya berlari lebih cepat ketimbang zamannya. Saat orang lain baru bangun, ia sudah berjalan. Saat orang lain baru berjalan, ia malah sudah berlari. Selalu begitu. Maka, itu orang-orang yang memiliki ide besar, biasanya selalu dianggap gila: karena berpikir di luar orang lain berpikir. Namun, kegilaannya itulah yang menuntun ”penglihatannya” untuk melakukan apa pun yang dia anggap benar. Penglihatan inilah yang Alloh sebut di dalam Qs. Al-Jaatsiyah:23 sebagai ”Bashiroh”. Mata hati.

Ide yang selalu berlari lebih cepat ketimbang zaman inilah yang sudah dialami oleh tokoh-tokoh besar di manapun. Bung Hatta di tahun 1950-an memiliki ide tentang Demokrasi dan Otonomi Daerah. Demokrasi yang disimbolkan dengan hadirnya Partai Politik, dikebiri habis oleh Soekarno, lalu muncul kembali pasca reformasi. Otonomi Daerah baru dijadikan UU No. 2 di tahun 1999  Bahkan, ketika Bangsa Indonesia di era 1920-an masih banyak yang belum bisa berbudaya literasi, Bung Hatta sudah memulainya terlebih dahulu. (Biografi Bung Hatta: Untukmu Negeriku).

Pun halnya yang dialami Rasululloh. Dalam Perang Khandaq, para Sahabat terlihat letih dan tak ada upaya lagi untuk memecah bebatuan yang menghalangi terbentuknya sebuah parit. Rasululloh melihatnya lain. Ia segera bangkit! Bergegas dengan langsung memecah bebatuan yang mengeluarkan percikan cahaya, seraya berkata ”Alloh Maha Besar! Sungguh Aku telah diberikan kunci gebang Negeri Syam. Alloh Maha Besar! Sungguh Aku telah diberikan kunci Parsi. Alloh Maha Besar! Sungguh Aku telah melihat Gerbang Shan’a dari tempatku ini”. Dan benar,  gagasannya memantulkan mata hati (bashiroh) nya untuk melihat sesuatu yang lain dari apa yang dilihat orang lain. Pasca itu, di tahun ke-8, Kaum Muslim membebaskan Mekah. Di tahun ke-9, Kaum Muslimin membebaskan kabilah-kabilah Arab yang masih musyrik di Jazirah Arab. Bahkan di tahun ke-10, pasukan yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid telah berhasil membebaskan Syam (Sirah Nabawiyah: Al-Buthy).

Itulah tahapannya: ide atau gagasan tersebut dipadu dengan mata hati, yang pada gilirannya melahirkan tindakan. Tindakannya bisa jadi tak besar, tapi signifikan dalam melakukan perubahan. Nah, ketika sudah masuk dalam ruang-ruang tindakan nyata inilah, maka konsistensi terhadap sebuah ide itu diuji: apakah kamu tetap yakin dengan idemu tersebut?”. Jika jiwa kita lemah, maka kita akan berhenti dan perlahan mundur teratur. Tapi, jika jiwa kita kuat, maka ide itu akan terus bertahan. Semakin dia ditempa, semakin dia akan kuat. Maka, ide itu seperti emas. Semakin ditempa, semakin berkilau di depan mata. 

Ketika ide ini terus bergerak, perlahan dia mencari orang-orangnya. Inilah yang dilukiskan oleh Rhonda Byrne dalam bukunya ”The Secret”. Bahwa jiwa manusia itu seperti ujung dari sebuah magnet: ia akan mencari kutub-kutub yang memang pas untuk mendekat kepadanya. Mirip, seperti kita datang ke toko buku atau ke perpustakaan. Bukunya bertebaran, tapi jiwa kita hanya akan condong ke satu atau dua buku yang pas dengan jiwa kita. Seperti itulah, ide itu bekerja. Mirip seperti ”gambaran jiwa” yang dilukiskan oleh Rhonda Byrne tersebut.

Maka, tidak mungkin ide itu bertemu dengan orang-orang yang tak sevisi dengannya. Bung Karno sering berdebat intektual dengan Natsir dan Agus Salim ketika memutuskan dasar negara apa yang tepat untuk negeri ini. Bung Hatta sering tidak sepaham dengan Bung Karno mengenai caranya mengatur demokrasi di negeri ini. Wajar, karena ide itu membutuhkan hardware-nya untuk bisa berfungsi. Manusia, itulah hardware yang sangat signifikan dalam melakukan sebuah perubahan dari sebuah software ide. Semakin canggih software serta semakin kuat kapasitas hardware-nya, maka ia akan berlari, jauh melebihi langkah kaki orang lain berlari.

Jadi, sampai di sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa:

ide itu seperti bahan bakar: ia akan tersulut ketika ada api (mata hati) yang bisa melihat bahwa api ini akan menjadi sangat besar menerangi banyak umat manusia. Tapi, api dan bahan bakar itu tidak bisa bertahan lama, jika tak ada orang-orang yang senantiasa memberikan kayu bakar (semangat) untuk menjaga nyala api tersebut. Ketika ada satu saja yang hilang, maka hilanglah pula nyala api tersebut. Mungkin benderang, tapi cepat hilang. Hilang di telan zaman. Nah, ujung dari cahaya api yang menerangi itulah yang kita sebut dengan Cahaya Kebenaran.  

Sebagaimana terlukis dalam bait puisi ini:

Puisi “Imperium Kebenaran”

Ketika orang tertidur,

Kamu terbangun,

Itulah susahnya

 Ketika orang merampas,

Kamu berbagi,

Itulah peliknya

Ketika orang menikmati,

Kamu menciptakan

Itulah rumitnya,

 Ketika orang mengadu,

Kamu bertanggung-jawab

Itulah repotnya

 Maka tidak banyak orang bersamamu di sini

Mendirikan Imperium Kebenaran

-A.M-

 

-Dari Sudut Sempit Kamar Kos H-25 Karangwuni, Sleman, Yogyakarta-

4 thoughts on “Sekadar Lintasan Pikiran, Sekadar Celotehan Sebuah Gagasan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s