Fenomena Tua-Muda: Belajar dari “Kembalinya” Thierry Henry dan Paul Scholes


“Oleh karena itu, selalu ada ruang semangat diantara tua dan muda. Ruang yang membuat mereka saling berkolaborasi, kerjasama, dan sadar dimana semestinya mereka bekerja. Yang salah adalah ketika diantara mereka tidak tahu dimana semestinya mereka bekerja”

fdgfdgfdngkfngkfgfdgmfmdhkgdmhskgmdhkmfdgkfdggfdgngjfngjfngfdmgfdmngfdngfdngkfdgmfdngkngkfngkfngkfngkfngkngkfdgnfjnjfngjfng

Kembali-gelanggangnya Thierry Henry ke Arsenal dan Paul Scholes ke Manchester United, ini tentu fenomena unik. Sepanjang sejarah persepak-bolaan manapun jarang ada pemain yang sudah pensiun atau berlabuh ke klub lain, akan kembali ke klub asalnya yang notabene telah membesarkan dirinya. Henry (34 tahun) yang sudah berlabuh di Klub MLS Amerika Serikat sangat senang hati ketika dipanggil kembali oleh coach Arsene Wenger untuk menjadi player, meski bukan sebagai starter. Paul Scholes (27 tahun) yang telah gantung sepatu kini dipanggil kembali oleh coach Ferguson untuk membantu skuad muda MU. Tak tanggung-tanggung, hingga 2 musim ke depan. Selebihnya, kalau memang jadi, Robbie Keane akan kembali ke Aston Villa untuk membantu mengangkat moral tim papan tengah tersebut.

Apa sebenarnya hikmah yang bisa diambil dari kembalinya para superstar itu? Sederhana, mereka mungkin bukan superstar lagi. Yang siap bersinar dan menorehkan catatan emas kepada klubnya. Tapi, sejatinya mereka adalah bintang (star), dan yang namanya bintang itu tak akan pernah pudar atau hilang. Mereka tetap bekerja menyinari dunia. Kalaupun mereka tak terlihat, maka mungkin terjadi karena dua hal: mereka bekerja menyinari tempat lain atau mata kita yang tak mampu melihatnya. Dan karena mereka adalah bintang, maka itulah mereka merendah. Mereka merendah, tapi itu yang membuat mereka tinggi, bukan meninggi. Cahayanya turun ke bumi, menyinari dunia. Tapi, letak mereka sangat tinggi, menaungi umat manusia. Maka, merendahlah!

Merendahlah. Engkau kan seperti bintang-gemintang. Berkilau di pandang orang. Di atas riak dan sang bintang nun jauh tinggi. Jangan seperti asap. Yang mengangkat diri di langit. Padahal dirinya rendah, lagi hina”

(Alm. Ust. Rahmat Abdulloh)


Cahaya superstar itulah yang tetap ada di dalam diri mereka. Sebagai orang tua, mereka siap membimbing para anak muda. Bisa jadi mereka tua secara usia, tapi secara inspirasi mereka tetap muda. Panutan, yang siap berbagi atas berbagai pengalamannya kepada anak muda. Teladan, yang siap membimbing anak muda atas kegamangannya. Para orang tua mungkin secara semangat sudah kendur, tapi sikap dan komitmennya tak akan pernah luntur. Para orang tua mungkin secara mimpi sudah tak begitu berambisi, tapi semangat untuk berbagi tak akan pernah luntur dari diri pribadi. Maka, kembalinya Henry dan Scholes, sangat tepat untuk memacu, menginspirasi, dan role model, bagi para anak muda Arsenal dan MU yang terkadang masih sedikit kurang stabil dalam performance.

Hikmah Sejarah: Dari Rasul sampai Bung Hatta

 Coba kita buka cakrawala berpikir kita ke tempat lain, di ruang dan waktu yang lain. Di Zaman Rasululloh SAW, misalnya. Perang Khandaq terjadi pada Bulan Syawwal tahun kelima Hijriah (Sirah Nabawiyah: Al-Buthy), saat Rasululloh dalam usia sekitar 54 tahun. Di usia yang sudah cukup “tua” tersebut (matang, karena banyaknya peperangan yang Rasul ikuti), Rasululloh tak malah mengangkat diri menentukan keputusan sendiri seperti apa taktik berperang yang terbaik melawan 10.000 kaum Quraisy versus 3000 ribu kaum Muslimin. No!

 Ia paham, era Rasul sudah selesai. Maka, dibutuhkan ide-ide anak muda yang lebih fresh untuk mengalahkan musuh yang jumlahnya 3 kali lipat banyaknya. Maka, hadirlah  Salman Al-Farisi yang secara usia lebih muda sekitar 20 tahun ketimbang Rasululloh. Salman memiliki ide untuk menggunakan parit (khandaq) sebagai taktik perangnya. Ide baru yang belum pernah ada selama Rasul ikut berperang. Tapi, apakah Rasul menolak? Ternyata tidak. Rasul menghargai ide brilian tersebut. Memutuskannya, bahkan menjalakannya. Rasul merasa tidak ada sama sekali harga diri yang direndahkan saat menerima ide brilian dari seorang anak muda bernama Salman. Buktinya, Rasul sendiri yang memimpin penggalian parit untuk memecah bebatuan yang sangat besar.

Segaris dengan Rasululloh, Bung Hatta melakukan hal yang sama. Di detik-detik menjelang Proklamasi tahun 1940an, awalnya Bung Hatta menolak ide revolusioner para anak muda saat itu. Ia bukan tidak mau Indonesia merdeka dengan cara-cara revolusioner, tapi ia pertama-tama ingin mengaturnya dengan baik. Bahkan, Bung Hatta dengan keras menyatakan kepada para pemuda tersebut, “Kalau kalian siap untuk memproklamasikan kemerdekaan sendiri, lakukanlah!”. Des Alwi mengakui, “Om Hatta sangat marah dengan penculikan itu”. Pelik. (Biografi Politik Bung Hatta: Mavin Rose)

Bung Hatta menyadari bahwa kerasnya Beliau adalah bukti cintanya kepada Indonesia dan para anak muda negeri itu. Ia tak ingin Proklamasi yang dicita-citakan dilakukan dengan cara gegabah dan tidak dengan berpikir matang. Dan karena rasa cintanya yang sangat itulah, Bung Hatta kemudian melunak. Ia menerima ”penculikan” oleh para pemuda ke Rengasdengklok untuk merumuskan Teks Proklamasi yang akan menjadi tonggak bersejarah Indonesia ke depannya. Dengan dihadiri beberapa anggota PPKI dan para pemuda saat itu, Bung Hatta dan Bung Karno ”menerima” ide dari para pemuda untuk segera melangsungkan Proklamasi sebagai syarat untuk membawa Indonesia memiliki kebebasan dan kebahagiannya sendiri. Dan benar, hingga tahun 1950an, Bung Hatta berkomitmen dengan ide para anak muda tersebut dengan bersedia menjadi wapres.

Penutup

Maka, tak ada yang salah dengan dikotomi tua – muda. Dikotomi itu tepatnya dikonjungsikan dengan ”dan”, bukan ”versus”. Karena yang membedakan orang tua dengan anak muda, sejatinya hanyalah masalah pengalaman dan usia. Anak muda belum banyak pengalaman, karena itu mereka butuh dibimbing. Sebaliknya, orang tua sudah banyak makan asam-garam, sehingga membuat mereka terkesan ”takut” mengalami perubahan, itulah sebabnya mereka pun butuh didorong oleh anak muda.

Oleh karena itu, selalu ada ruang semangat diantara tua dan muda. Ruang yang membuat mereka saling berkolaborasi, kerjasama, dan sadar dimana semestinya mereka bekerja. Yang salah adalah ketika diantara mereka tidak tahu dimana semestinya mereka bekerja. Yang muda tak harus dibelakang, dan yang tua tak harus melulu di depan. Pun juga sebaliknya. Yang penting, masing-masing mereka tahu dimana letaknya berada, dan komitmen akan setiap keputusan yang diambil. Itulah sekelumit pelajaran dari come-back nya Thierry Henry ke Arsenal dan Paul Scholes di MU…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s