Topeng Diri (Refleksi)


Seringnya memang saya menjadi orang menyebalkan

Gak tahu aturan

Sering kelayaban

Suka pergi-pergian

Gak betahan

Plus, anak begajulan

 

Gak layak dijadikan panutan

Apalagi inspirasi yang membanggakan

 

Kalau pun ada itu mungkin sekadar topeng yang dibalut keindahan

Topeng keshalehan yang dalamnya penuh kemunafikan

Topeng ke-ustadz-an yang lebih suka keburukan

Astaghfirulloh..

 

Kalau pun ada orang yang menganggap saya baik

Itu mungkin hanya polesan make-up setitik.

Setitik, dari busuknya wajah yang tertera dibalik

 

Ah, bukankah dunia ini memang panggung sandiwara

Penuh tipu daya dan permainan belaka

Apa yang tampak bisa jadi bukan fakta sebenarnya

Apa yang terlihat bisa jadi membutakan mata dan telinga

 

Ya, sudahlah! Toh kalau pun saya buka topeng diri

Nir orang yang akan mau memahami

Lebih-lebih jika mereka tahu ternyata saya sebusuk ini

Tapi, aku yakin ada Dzat Yang Maha Memahami

Mengampuni, seluas langit dan bumi

Ku curhat kepada-Nya di sepertiga malam terakhir..

Rabb! Ampunkanlah hamba..

2 thoughts on “Topeng Diri (Refleksi)

  1. Bagaimana jika itu bukan topeng? Bagaimana jika itu cita-cita. Dan cita-cita itu memancar dengan cahaya yang lebih terang dari diri kita yang saat ini ada.

    • Mbak.. saya sadar diri Mbak.. saya hanya takut dan khawatir apa yang dirasa dan dipandang baik oleh banyak orang, ternyata berkebalikan 180 derajat. Puisi ini bukan doa, tapi sekadar penjaga. Mirip seperti sistem buffer: agar tidak terlalu jumawa, tapi juga gak terlalu rendah dipandang mata.. fuuh..

      #self-reflectio

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s