Building Character of Winner…


Banyak orang di dunia ini ingin menjadi pemenang. Mengapa? Karena memang watak sedari awal diciptakannya manusia adalah untuk menjadi pemenang. Kita berasal dari satu sel sperma yang berhasil mengalahkan jutaan sperma yang bertarung untuk masuk sel ovum. Hasilnya, sampai saat ini sperma itu berkembang dan tumbuh kembanglah diri kita saat ini. Itulah fakta penciptaan: bahwa sedari awal, kita semua dididik oleh Alloh untuk bertarung ”fastabiqul khoirot” untuk menjadi pemenang. Sebagaimana Alloh firmankan

Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah: 148)

Namun, persoalannya adalah, jika kita bicara dalam konteks negara, mengapa negeri ini tak kunjung membaik dengan munculnya banyak pemenang? Logikanya, jika setiap diri kita adalah pemenang, maka semestinya bangsa ini akan menjadi bangsa pemenang diantara bangsa-bangsa di dunia. Kita mampu bersaing dalam persoalan politik, ekonomi, pendidikan, dan sebagainya. Tapi, kenyataannya tak demikian. Kekayaan di Indonesia hanya dikuasai oleh segelintir orang (koruptor, pengusaha kelas kakap, dsb). Pendidikan, sebagian besar hanya untuk orang berpunya. Politik kita masih dikuasai oleh para politisi yang busuk ketimbang yang baik. Bagaimana dengan kesehatan dan teknologi? Setali tiga uang. Sama saja.

Persoalan inilah yang akan diulas secara singkat dalam tulisan ini. Tulisan ini akan bermula dari fakta sosial bagi mereka yang disebut dengan ”pemenang”. Selanjutnya, pembahasan akan masuk kepada sebuah istilah yang saya sebut dengan ”anak tangga untuk menjadi pemenang”. Dan sebagai penutup, apa saja basis untuk menjadi pemenang akan dipaparkan secara mendalam dan bersifat reflektif.

Pemenang: Konsistensi antara Kompetensi Pribadi dan Kontribusi Komunal

Jika kita lihat di banyak peradaban, mengapa orang-orang yang mengatur urusan-urusan kita, jumlahnya tak banyak ketimbang orang-orang yang diurusnya? Dalam hal ekonomi, berapa banyak – tanpa bermaksud menyinggung SARA – orang-orang China yang menguasai ekonomi Indonesia? Dalam soal pendidikan, berapa banyak toko-toko buku yang hanya bisa diakses di kota-kota besar? Dalam soal kesehatan, berapa banyak rumah-rumah sakit yang fasilitasnya lengkap berbanding lurus dengan mahalnya biaya perawatan? Dalam soal teknologi, berapa banyak teknologi yang kita gunakan hari ini, dikuasai oleh perusahaan-perusahaan kapitalis Amerika, Jepang, dan negara maju lainnya?

Ini tak salah. Karena itulah yang disebut Pemenang: Komunitas yang jumlahnya tak banyak, punya diferensiasi, dan memiliki konsistensi kontribusi serta prestasi tersendiri. Tak banyak orang seperti mereka. Mereka sedikit, tapi punya kapasitas untuk mengelola sumber daya yang banyak. Peristiwa ”the small one” mengalahkan ”the big one” (Arnold Toynbee: Creative Minority) inilah yang Alloh kisahkan 1500 tahun silam dalam perang antara Kaum Thalut melawan kaum Jalut.

”Kaum Thalut berkata, ”Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”  (QS. Al-Baqarah: 249)

jnjnkjjhjhjkhjhjhjhjkhjkhjhjhjhkjhjkhkjhjkhjhkjhjhkjhjhj                                                                                       jkhjkhjkhkhjkhkjhjhjkhjkhjjhjkhjkhjkh

Anak Tangga Pemenang

Menjadi pemenang sebenarnya bukanlah tujuan, melainkan sebuah sarana. Sarana untuk mencapai sesuatu yang menjadi visi hidup kita. Maka untuk menjadi pemenang dibutuhkanlah sebuah anak tangga, bukan lompatan. Kalau anak tangga, berarti ketika sudah sampai di level yang lebih tinggi, kita tak akan melupakan yang sebelumnya. Karena itu dijadikan sebagai pondasi untuk ke atas. Kalau lompatan, berarti kita berpindah dari titik satu ke titik yang lain. Dan itu berarti kita akan banyak melupakan: melupakan teman, potensi diri, jaringan, dan sebagainya. Oleh karena itu, setidaknya ada 3 anak tangga yang harus dilewati untuk menjadi pemenang,f

  1. Memenangi Diri Sendiri. Memenangi diri sendiri ini berarti memenangi setiap ego, emosi, dan ambisi dari diri kita. Kita boleh berobsesi, tapi bukan berambisi. Karena begitu banyak pemenang di negeri ini yang jatuh bukan karena persoalan eksternal di luar dirinya. Tapi, karena persoalan internal dirinya yang tidak mampu memenangi segala ambisi pribadinya. Fira’un jatuh bukan karena dikudeta oleh masyarakat Mesir, tapi karena kesombongannya terhadap yang dimiliki. Umat Islam bisa kalah dalam Perang Uhud bukan karena kalahnya kemampuan, tapi tak mampu menahan diri untuk tidak berebut harta rampasan perang (ghonimah). Bahkan hampir semua pemimpin di negeri ini jatuh bukan karena ketidak-cakapannya dalam mengelola negeri ini, tapi karena ambisinya untuk menjadi presiden seumur hidup.
  2. Memenangi Visi Hidup. Berapa banyak anak muda hari ini yang berani bermimpi tentang masa depan? Kalau pun ada, mungkin hanya mereka yang mencicipi pendidikan minimal SMA atau PT saja, seperti kita. Kalau pun ada, berapa banyak yang masih sungguh-sungguh menjalankan impiannya tersebut? Bermimpi itu mudah, tapi yang sulit adalah menjalankannya. Merangkainya, hingga detil sampai tahu apa yang harus dilakukan hari ini. Sehingga, poin dari memenangi visi hidup ini adalah berani bermimpi untuk yang punya visi secara detil, terencana, tapi juga realistis.
  3. Memenangi Komitmen. Betapa banyak orang cerdas, memiliki kedudukan, dan punya potensi di negeri ini, tapi berapa banyak di antara mereka yang sejalan antara perbuatan dan perkataannya. Komitmen terhadap hal-hal yang kecil yang mereka sangat menjaga hal itu.Sholat tepat waktu di masjid, menjaga penampilan, sikap, dan sering-sering silaturahim. Jangan sampai, semakin tinggi kedudukan dan pendidikan yang kita miliki, semakin rendah hubungan kita dengan sesama saudara dan sahabat kita. Ini sederhana, menjaga silaturahim. Tapi, dari yang sederhana itulah Alloh banyak memberikan pelajaran. Salah satunya, adalah memperbanyak rezeki dengan silaturahmi 

3 Basis Untuk Menjadi Pemenang

1. Finansial: Untuk terus maju dan berkembang, penyiasatan terhadap kondisi keuangan menjadi suatu hal yang urgen. Bekerja, berinvestasi, atau menabung adalah beberapa sarana untuk menguatkan kapasitas finansial. Karena jalan yang ditempuh bukan main-main, butuh perencanaan. Itulah sebabnya, Alloh menekankan pentingnya aspek harta ini sebagai salah satu sarana dalam berdakwah

Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. (Qs. Al-Hujuurat: 15)

2. Komunal: Setiap pemenang, pasti memiliki sebuah ”lingkaran kecil” yang membuat visinya selalu terjaga dengan baik. Dia bukan orang biasa, maka itu dia tidak akan bisa hidup di lingkungan yang kurang sesuai dengan visinya. Soekarno, saat muda, tinggal dengan Kartosuwiryo dan Tan Malaka dalam kos-kosan HOS Cokroaminoto. Rasululloh memiliki para 4 sahabat yang terwariskan menjadi khalifah. Begitu pun dengan PKI yang menerapkan sistem ”lingkaran” untuk menjaga kontinuitas ide komunisnya

3. Mental dan Intelektual: Ini yang paling sulit dibangun karena membutuhkan proses dan waktu yang relatif lama. Banyak membaca, banyak melakukan kontribusi nyata, dan banyak melakukan perenungan merupakan bagian untuk menajamkan basis ini. Karena tak banyak anak muda saat ini di tengah padatnya aktivitas, masih menyempatkan diri untuk membaca. Membaca buku, bukan sekadar membaca koran ataupun majalah yang seringnya hanya sedikit-sedikit informasi yang diberikan. Memang perlu waktu, tapi mesti dimulai dari sekarang. Karena dengan membaca akan melatih kepekaan ruhiyah dan melatih kebijaksanaan.

Maka, teruslah bekerja. Berkontribusilah sampai lelah, sampai lelah itu sendiri yang lelah mengikutimu (Ust. Rahmat Abdulloh). Karena kita tak pernah tahu amalan mana dari yang setiap kita lakukan akan bernilai di mata-Nya. Teruslah bekerja, dan jangan berhitung dan memperhitungkan apa yang setiap kita lakukan. Karena hanya Dia yang pantas menghitung kita di akhirat sana. Jadilah pemenang yang tidak pernah mundur, karena orang yang mundur tidak akan pernah menang 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s