Jakarta, Berkacalah!

Live Report from Kuala Lumpur,Malaysia, 16-20 February 2012 via Twitter –> @suaraJKT atau @ridwannegarawan

  1. Dear Jakartans.. Mulai kamis ini tanggal 16 sampai 20 Feb, saya akan berkunjung ke KL. Sekalian melihat bagaimana sistem transportasi disana #catatanKL
  2. Sekitar jam 16.30 tadi, jl. protokol di KL Malaysia tidak macet seperti di Jakarta. Tapi, di KL pun masih sama kayak di Jakarta: masih ada slum-area..#catatanKL
  3. Tetap pantengin hashtag #catatanKL ya.. Maaf, klo agak jarang2x karena sulit cari koneksi wifi di KL. #catatanKL 16-21 Feb
  4. Semaju2xnya Kuala Lumpur, tetap saja ada slum-area di sini. Rumah teras tidak ada. Adanya rumah flat. Apartmen.Gak luas. Karena tingginya harga tanah #catatanKL
  5. Transportasi di KL, saya akui: salut! ada banyak pilihan. Mulai dari MRT, LRT, Bus,dsb. stiap 10 menit sekali hadir. 2 ringgit. Affordable #catatanKL
  6. Banyak orang di KL, pake mobil nasional: Proton. & jarang yang mobilnya beragam kayak di JKT: 1 type banyak yg pake. Bangga akan produk nasional #catatanKL
  7. Kita mesti punya perbandingan utk maju. Tapi, bukan utk membanding2kan. Tapi, belajar: sesuatu yg baru lahir kenapa kalah maju dibanding kita #catatanKL
  8. Semalam saya naik LRT d KL, Great! Ada mesin pembayarannya, klo macet ada loket manualnya. Gimana ya dengan sistem busway di JKT? #catatanKL
  9. Sistem elektronik pembayaran LRT di KL, sangat mudah. Klo pun uangnya mesti ada kembalian, tenang aja. Nyedian kok. Gak harus uang pas #catatanKL
  10. Selain itu sistem LRT di KL, gak ribet kayak busway d JKT. Cukup pake koin kayak maen karambol. Biayanya murah. Bayangkan klo pake kartu! #CatatanKL
  11. Klo dikata KL gak punya public sphere karena negara maju, jangan salah di KL itu juga ada lapangan besar untuk nonton bola. di daerah Dataran Merdeka. Di Jakarta? #catatanKL
  12. waktu tanding bigmatch Liga Inggris, Dataran Merdeka penuh utk nonton. Di atas rumput. Ramai. Everybody can watch it. FREE!#catatanKL
  13.  Dan yg oke lagi, di KL itu kamu tidak usah bayar biaya parkir. 1000-2000.. FREE! Tp, kamu juga harus tahu dimana mestinya kamu parkir. Jangan asal #catatanKL
  14. Oh ya, naik bus d KL harus pake kartu deposit. Kamu gak bisa klo harus pake uang cash. Bakal dtolak+dmarahin sama supirnya. Sangat disiplin #catatanKL
  15. Meskipun sudah maju, ternyata KL pun jg masih menyisakan kemacetan. Bahkan di malam minggu pun, jalanan daerah Bukit Bintang, sangat macet #catatanKL
  16.  Tapi, utk menghilangkan kepenatan karena kemacetan itu, beberapa musisi jalanan di KL, memainkan musik syahdu nan merdu. Seru!#catatanKL
  17. Tapi, hati2x di KL klo sudah menjelang tengah malam. Sama kayak d JKT: transportasi mulai sulit. Bahkan taksi aja gak pake argo. Siap debat! #catatanKL
  18. Apalagi kalo supir taksinya tahu klo kita bukan orang Malaysia asli.siap2 dimahalkan.. Makanya, ajak 1 org teman/ bisa berbahasa Melayu #catatanKL
  19. Oh ya, naik Taksi di KL, kalau penumpangnya lebih dari 3 org, siap2x nambah 4 sen. Dan supirnya gak mau klo penumpangnya sampai 5. Kena tilang #catatanKL
  20. Ini foto pintu masuk KLIA Express. Kereta cepat dr KLCC menuju Bandara KL. Hanya 30 menit. Plus wifi juga #catatanKLhttp://pic.twitter.com/oAxwdcxy
  21. Jadi, klo ke bandara di KL ada beberapa pilihan: 1. Bus Express,2. Kereta Express, 3. Taksi, 4. Bus biasa. Di JKT, paling cepat Damri! 😦 #catatanKL
  22. Beberapa foto Slum-Area di Kuala Lumpur. Di daerah Chow-Kit..#catatanKLhttp://pic.twitter.com/ThB8Vs7p
  23. Slum Area d Kuala Lumpur.. Daerah ni dinamakan Chow-Kit. Banyak orang Indonesia di sini. Kebanyakan adalah pekerja #catatanKLhttp://pic.twitter.com/gpiH2Xh4
  24. Ini rumah type flat yg ad di KL. 1 bangunan, bisa smpai 17 lantai. 1 lantai rata2x ada 10 rumah. diisi o/ mhs/pekerja #catatanKLhttp://pic.twitter.com/GwROWCq
  25. Saya sedang melihat billboard jalur LRT,MRT,&Bus Rapid KL yg terintegrasi. Ini mempermudah para wisatawan u/ jalan2x #catatanKLhttp://pic.twitter.com/IPMPWw2I
  26. Bagian kiri foto menunjukkan mesin pembelian koin utk naik LRT. Jika trouble, penumpang bisa beli via loket (sebelah kanan) #catatanKLhttp://pic.twitter.com/4V4CJCbR
  27. Ini adalah koin utk naik LRT. Koin ini digunakn sebelum & sesudah naik LRT. Di koin tersebut ada nomor utk detect di pintu masuk #catatanKLhttp://pic.twitter.com/7UHp6hAc
  28. Klo di KLCC (Kuala Lumpur Convention Centre) pengunjung bisa datang smpai jam 10 malam. Gak ada biaya masuk. Free. Di Monas? #catatanKLhttp://pic.twitter.com/5eBzbVB7
  29. Trotoar di KL sangat rapi. Humanis.& tersusun dari paving-blok yg akomodatif utk para difable. Tidak ada sampah. bersih. #catatanKLhttp://pic.twitter.com/klQT7fuT
  30. Ini foto musisi jalanan yang pernah admin bilang. Adanya di daerah Bukit Bintang. Musikny slow. Pas buat ngilangin penat #catatanKLhttp://pic.twitter.com/GDiKQEzO
  31. Naik bus d KL jangan khawatir dipermainkan sama awak bus. Karena jauh dekat harga sama & ada karcisnya. Jadi, transparan #catatanKLhttp://pic.twitter.com/3rgKKZEy
  32.  Ini adlh salah 1 billboard aspirasi yg disediakan oleh pemerintah utk nampung aspirasi dari masyarkat. Letaknya strategis #catatanKLhttp://pic.twitter.com/wHn2bB0s
  33. Lihat bagaimana masyarakat KL menyampaikan aspirasinya demi perbaikan MRT. Tiap org bisa nulis, bisa membacanya. Di JKT? #CatatanKLhttp://pic.twitter.com/yqR4Hm6S
  34. Ok. Mungkin sampai di sini dulu laporan #catatanKL-nya selama saya ke Kuala Lumpur, 16-20 Feb 2012. Semoga tweet ini efektif utk prubahan JKT. Thanx

Iklan

Menjadi Bijak, Bukan “Be A Judge”! (Refleksi Diri)

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”
(Qs. An-Nahl: 12)

Cerita I: Melihat dari Yang Dekat

Suatu ketika di tahun 2008, penulis mengikuti pelatihan dari sebuah lembaga kampus di UGM. Pemateri memantik peserta pelatihan dengan beberapa pertanyaan sederhana tapi menantang. Karena peserta yang hadir ini sebagian besar adalah mereka yang biasa disebut “Aktivis Dakwah”, pemateri bertanya simple, “Siapa diantara antum (baca: kamu) semua yang tahu nama security di fakultas antum? Siapa diantara antum yang hapal nama teman-teman yang suka duduk di kursi paling depan pas jam kuliah? Dan siapa di antara antum yang tahu nama Wadek antum di fakultas?”

Pemateri memang dikenal cerdas dalam memberikan sentilan-sentilan unik. Sederhana, tapi bermakna. Mungkin biasa, tapi mengena. Dan benar, seperti apa yang dibayangkan: hampir mayoritas dari 20-an peserta yang hadir tidak ada yang angkat tangan. Artinya, hanya kurang dari 5 orang yang bisa jawab secara gamblang ketiga pertanyaan itu. Mayoritas mereka – termasuk juga penulis – sedikit gelagapan ketika harus menjawab pertanyaan seperti itu. Miris, padahal inilah realita lapangan: sesuatu yang sangat dekat dengan kita dan hadir di tengah aktivitas kita. Refleksi Diri.

Cerita II: Pemuda Hari Ini, Pemimpin Masa Depan

Penulis sangat gemar dengan kopi. Mungkin bisa dikatakan pecandu kopi: Coffee-holic. Saking gemarnya, hampir tiap kedai kopi di Yogya, pernah penulis sambangi. Mulai dari yang berharga mewah, sampai yang berharga murah. Tapi, kali ini penulis tak sekadar ingin melepas relax saja dengan duduk 1-1,5 jam di kedai kopi. Penulis ingin ada ”taste” lain tiap detik kehidupan yang penulis hadirkan. Taste itu bernama Inspirasi Pemuda. Penulis sekadar ingin tahu apa yang Pemuda Indonesia lakukan dan perbincangkan kala weekend-nya.

Maka itu, penulis coba buat rangkaian perjalanan malam: mulai dari menikmati  Cappucino di Starbucks Coffee Ambarrukmo Plaza, sampai berakhir pada Kopi Joss di Angkringan Tugu. 2 pilihan tempat ini penulis pilih karena masing-masing tempatnya punya karakternya masing-masing. Starbucks Coffee adalah tempat nongkrong ”high-class” dan Angkringan Tugu adalah tempat nongkrong ”middle-class”. Tapi, diantara keduanya, memiliki kesamaan: yang minum kopi adalah mereka yang tergolong usia muda, kelas menengah, dan terdidik. Ini menarik. Karena Indonesia, sebagian besar perekonomiannnya, ditopang oleh masyarakat kelas seperti ini. Jumlah mereka mungkin sedikit, tapi signifikansi mereka dalam menjaga agar Indonesia tak mengalami krisis ekonomi adalah suatu hal yang mutlak. Karena itu saya ingin menjadi bagian dari mereka. Berbaur meski tanpa melebur. Mewarnai, tapi jangan sampai terwarnai.

Cerita III: Aktivis Dakwah Juga Harus Tahu Ilmu Dunia

Beberapa hari lalu, penulis akan boarding dalam pesawat dari Malaysia menuju Indonesia. Di antara puluhan penumpang pesawat tersebut, ada sekawanan kelompok Islam (mohon maaf, penulis tidak bisa menyebutkan nama jamaah-nya apa) yang akan bersama penulis dalam 1 pesawat. Karena pesawat tersebut mengalami delay, maka ketika pesawatnya sudah mendarat, beberapa penumpang yang sudah tak sabar langsung berdiri antri di depan pintu boarding. Tak pelak, hal ini menimbulkan kericuhan sedikit.

Kericuhan kecil ini muncul karena ternyata awak pesawat meminta para penumpang untuk tidak asal masuk. Penumpang diatur masuknya sesuai dengan penomoran kursi pesawat. Mulai dari yang berada di kabin belakang, baru sampai yang di depan. Hal ini membuat beberapa keluhan para penumpang. Keluhan tersebut pun juga hadir dari para Kelompok Muslim tersebut. Tentu, bukan karena Ajaran Islam-nya yang membuat mereka mengeluh, karena Islam sejatinya tidak mengajarkan manusia untuk mengeluh.

Mereka mengeluh dengan berkata, ”Mbok ya, kalau masuk pesawat itu yang sudah di depan pintu boarding, masuk duluan. Untungnya, orang Indonesia ini sabar-sabar. Diatur kayak gimana pun mereka pasti nerima. Yang sudah di depan, masa disuruh ngantri lagi. Petugasnya ini gimana.” Penulis mendengar keluhan tersebut. Penulis ingin menimpali, tapi penulis rasa bersikap diam adalah sikap yang paling rasional. Meski agak sedikit kesal.

Hikmah yang Didapat (Konklusi)

Dari beberapa pengalaman itulah, atas ijin-Nya, penulis mencoba lebih bijak melihat realita kehidupan. Kita – termasuk juga penulis – mungkin menganggap kita adalah 1 hal (myself) dan mereka adalah hal yang lain (the others). Kita adalah Aktivis Masjid yang terbiasa menyerukan dakwah, tapi tak tahu arah. Kita akan nyaman tatkala berada dalam satu kelompok kita, dan – mohon maaf – ketika harus berada dalam komunitas yang berbeda, kita akan merasa canggung, gelagapan, sampai bingung harus bicara apa.

Kita cenderung untuk dekat kepada elit. Dengan alasan dakwah, kita dekat kepadanya. Kita lupa, bahwa sekeliling kita adalah orang yang juga butuh nasihat. Hikmah. Seolah kita mengalami miopi: rabun dekat, yang gagal melihat hal terdekat dan silau dengan hal-hal jauh dan mewah. Miopi Dakwah. Parah!

Yang lebih parah lagi adalah ketika kita sangat bangga dengan kelompok kita, disertai dengan sikap kita yang nyinyir dengan kelompok lain. Mungkin, kita lupa: sejak dari zaman Nabi Adam, manusia memang tercipta bersuku-suku (Qs Al-Hujuraat: 13). Itu fitrah, tak mungkin dinafikan. Maka, kalau sikap kita hari ini cenderung tidak bisa menerima perbedaan, berarti kita tak mensyukuri rahmat Alloh kepada kita. Kufur nikmat.

Mereka – anak muda yang terbiasa nongkrong-nongkrong itu – bisa jadi mereka masih ”begajulan”. Tapi, itu hari ini.  Urusan hidayah itu ada di tangan Alloh. Kalau Alloh berkenan, kun fa ya kun. Jadi, maka jadilah. Bisa jadi mereka kelak yang akan lebih baik secara keimanan dan pengetahuan ketimbang kita yang men-judge mereka. Lihat! Bagaimana Rasul tak pernah nyinyir kepada Umar bin Khattab ketika belum masuk Islam. Rasul tak pernah sedikit pun membenci Umar yang sangat anti Islam pada masa jahiliyah-nya. Karena Rasul paham: orang yang paling rusak di kala rusaknya (baca: jahiliyahnya) adalah mereka yang terbaik di masa kebaikannya, setelah dapat hidayah. Saking kuat firasatnya, saampai-sampai Rasul berdoa kepada Alloh

Ya, Alloh. Jadikanlah Islam ini kuat dengan masuknya salah satu dari kedua orang ini: Amr bin Hisham atau Umar bin Khottob”.

Dan benar! Alloh mengabulkan doa Rasul. Umar yang tadinya sangat menentang Islam, sangat taklid kepada ajaran nenek moyangnya, bahkan sering melakukan perbuatan jahiliyah (baca: kerusakan) – misalnya, mengubur hidup-hidup bayi perempuan – malah berubah. Ia berbalik 180 derajat. Ia berada di garda depan perjuangan Islam. Ketika menjadi khalifah selama 10 tahun, Islam meluas hingga sampai ke Turki, Iran (Persia), dan Mesir. Bahkan, Beliau dikenal sebagai pemimpin yang zuhud (baca: sederhana), bijaksana, dan adil. Subhanalloh!

Maka, bersikap bijaklah. Dewasa. Kita mesti bisa bedakan antara ia sebagai seorang manusia dan ia sebagai seorang khalifah (pemimpin). Tiap manusia pasti punya kecenderungan buruk, tapi di satu sisi ia juga punya potensi untuk menjadi pemimpin. Maka, berpikir bijak dan adil dalam menilai seseorang menjadi suatu keharusan. Bahkan, kata Pramoedya Ananta Toer, ”Berlaku adillah sejak dalam pikiran”. Dengan demikian, sikap kita yang terbaik adalah Mengajak (asking for) dan Mendoakan (praying for). Minimalisasi berlaku sinis, apalagi sampai membeda-bedakan. Karena bisa jadi sesuatu yang kita olok-olokkan lebih baik ketimbang diri kita sendiri (Qs. Al-Hujuraat: 13)

Bersikap bijak juga berarti kita paham akan dua dimensi yang kita jalani: Bumi dan Langit. Kita tak sekadar paham akan segala sesuatu yang berasal dari ”langit”, tapi kita juga harus tahu tentang segala hal tentang ”dunia”. Duniawi dan Ukhrawi. Jadilah orang yang menyeru kepada kebenaran, tapi juga harus tahu bagaimana caranya menyeru kebenaran. Sederhananya, jadilah seorang ”Agamawan”, juga seorang ”Ilmuwan”. Yang tak bijak adalah ketika kita paham tentang Agama, tapi kita buta akan pengetahuan Dunia. Pun sebaliknya. Kita pintar masalah Dunia, tapi gagap jika harus bicara Agama. Pintar Matematika, tapi sholatnya masih lupa-lupa. Pintar bicara hikmah, tapi di kelas menjadi orang yang kalah. Ini masalah!

Terakhir, penulis akan menutup tulisan ini dengan mengambil falsafah penting tentang kaki

Manusia tercipta dengan dua kaki: Kaki Kanan dan Kaki Kiri. Untuk belajar bahwa ia harus mampu menjadi bijak, moderat, dan berdiri di tengah di antara keduanya. Karena yang ”kiri” tak selamanya salah, dan yang ”kanan” tak selamanya benar”.

 

Wallahu ’alam bis showab

*Dari Sudut Kamar Kos H-25, Karangwuni, Sleman, Yogyakarta..


CeriTwit (Cerita Twitter) Pribadi Saat “Ngobrol” dengan Sakti Sheila on 7 (Salman Al-Jhugjawy)

  1. Sahabat.. selama 30 menit ini, saya ingin bercerita pengalaman saya ketika ngobrol dekat dengan Mantan Gitaris @sheilaon7, Sakti namanya..sila yg mo gabung
  2. Awal perjumpaan saya dengan #SaktiS07 adalah ketika masih jadi pengajar di TPA Al-Ittihaad, Karangwuni, Sleman Yogya..
  3. Waktu itu TPA kami ingin mengundang #SaktiS07 dalam salah 1 acara Ramadhan Di Masjid. Temanya: “Pemuda Islam”. Kita undang Beliau sebagai pembicara
  4. Pas, saat tu panitia mendaulat (waduh..mendaulat :D) saya sebagai moderatornya.. Jadi, terasa banget kan”hawa” duduk samping Beliau #SaktiS07
  5. Nah, singkat cerita mulai acara diskusi itu: Satu Jam Bersama #SaktiS07, dengan Tema: Pemuda Islam. Jreng.. Jreng… dengan banyak muda/i kampung hadir 😮
  6. #SaktiS07 mulai pembicaraan tentang proses dia dapat hidayah: dari yang “jahiliyah” menjadi “berkopiah” … sekadar istilah, Gan… 🙂
  7. #SaktiS07 bercerita, dy sering “cur-heart” dengan sahabat dekatnya di @Sheilaon7, Eross. Curheart-annya, sederhana tapi penuh makna: K.E.M.A.T.I.A.N..
  8. #SaktiS07 sering dapat hal-hal yg di luar nalar. Misalnya, ketika Sakti &Eross mau naik pesawat akan konser, mereka sering ketemu dengan hal2x yang berbau kematian
  9. Misalnya, ketika saat di bandara nunggu pesawat, #SaktiS07 sering ketemu majalah tentang “Kematian”. Saat bersamaan, ibunya juga sedang menderita sakit keras
  10. #SaktiS07 berkata dalam hati, “kenapa hal2x seperti ini yang saya sering temukan ketika akan berangkat naik pesawat? Gimana kalau nanti saya meninggal sebelum tobat?”
  11. #SaktiS07 lalu flashback lagi akan glamornya hidup yang snantiasa ia jalani slama msh menjadi gitaris @sheilaon7: wanita, musik, hura2x, dsb..
  12. Bahkan #SaktiS07 brkata di forum ini tepat di sebelah saya,” Bahkan, Mas Ridwan, klo saya mo main perempuan saat itu, saya sangat bisa! Gak ada orang yang akan tahu”
  13. #SaktiS07 “curhat” panjang lebar dg Eross saat itu saat mengalami masa2 ini. Tapi, tetap dia tak mendapat jawaban akan kegelisahannya. Galau!
  14. Ibunya gak sembuh2x.. Nuansa kematian trus membelenggu diri #SaktiS07… Ia sangat mencintai ibunya..Tapi, bingung harus berbuat apa..
  15. Akhirnya, #SaktiS07 brtemu dg beberapa rekan dr Jamaah Tabligh yang biasa melakukan “khuruj” untuk mengajaknya pd amal-sholih…
  16. Bagi #SaktiS07, hidup ini sangat fana. Singkat. Penuh fatamorgana. Apa yg tampak, bisa jadi bukan sebenarnya. Ia yakin akan hal itu..
  17. Saat itu jg, #SaktiS07 tobat. Kembali pada ajaran Islam yg selama ini ia tinggalkan. Bisa jadi ia sholat 5 waktu, tp sholatnya skdr matuk2 kayak burung.
  18. Ada nuansa ketenangan yg selama ini jauh darinya, “Harta, tahta, wanita, popularitas, dsb itu hanya fatamorgana. Melenakan,” Kata #SaktiS07..
  19. Ketika #SaktiS07 kmbali pd ajaran Islam, subhanalloh, Alloh mempertemukan dia dengan segera kepada Wanita Sholihah alumni Psikologi UGM. Berkah.
  20. Ribuan wanita yang selama ini hadir di antara #SaktiS07, tak membuat ia bergeming untuk memilihnya. Ia lbh memilih akhwat yang jauh dari nuansa hura2x
  21. Prtemuannya pn sderhana: Ayahnya #SaktiS07 saat itu sedang ada bisnis dengan calon istri tersebut, tak dsangka pertemuan itu berbuah keberkahan: lamaran
  22. Pd saat itu pula, #SaktiS07 mendapat kabar bahwa Ibundanya sembuh. Subhanalloh, Alloh memberikan kberkahan 2 skaligus: Ibunya sehat, Istri sholihat
  23. Bahkan resepsi pernikahan #SaktiS07 diadakan d hall utama gedung UGM: Graha Sabha Pramana. Lihat, betapa banyak doa yang mengalir di sana. Berkah!
  24. Dan sampai sekarang, #SaktiS07 masih sering bertemu dengan Rekan2x Jamaah Tabligh d Masjid Al-Ittihaad, Karangwuni, Yogya. Beliau sering sholat di sana.
  25. Terakhir diskusi dengan Beliau, #SaktiS07 akan mengeluarkan album religi bareng Icha Jikustik. Itu aktivitasnya selain berbisnis.. Barakalloh..
  26. Tweet terakhir. Mari, kita sama2 doakan u/ #SaktiS07, “Barakallohu laka wa baroka ‘alaika wa jama’aa bainakumaa fii khoirin”..Amin 😀
#Yogyakarta, Kamis, 02-02-2012, 18.30-19.15. Kos H-25 Karangwuni, Yogyakarta