Menjadi Bijak, Bukan “Be A Judge”! (Refleksi Diri)


“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”
(Qs. An-Nahl: 12)

Cerita I: Melihat dari Yang Dekat

Suatu ketika di tahun 2008, penulis mengikuti pelatihan dari sebuah lembaga kampus di UGM. Pemateri memantik peserta pelatihan dengan beberapa pertanyaan sederhana tapi menantang. Karena peserta yang hadir ini sebagian besar adalah mereka yang biasa disebut “Aktivis Dakwah”, pemateri bertanya simple, “Siapa diantara antum (baca: kamu) semua yang tahu nama security di fakultas antum? Siapa diantara antum yang hapal nama teman-teman yang suka duduk di kursi paling depan pas jam kuliah? Dan siapa di antara antum yang tahu nama Wadek antum di fakultas?”

Pemateri memang dikenal cerdas dalam memberikan sentilan-sentilan unik. Sederhana, tapi bermakna. Mungkin biasa, tapi mengena. Dan benar, seperti apa yang dibayangkan: hampir mayoritas dari 20-an peserta yang hadir tidak ada yang angkat tangan. Artinya, hanya kurang dari 5 orang yang bisa jawab secara gamblang ketiga pertanyaan itu. Mayoritas mereka – termasuk juga penulis – sedikit gelagapan ketika harus menjawab pertanyaan seperti itu. Miris, padahal inilah realita lapangan: sesuatu yang sangat dekat dengan kita dan hadir di tengah aktivitas kita. Refleksi Diri.

Cerita II: Pemuda Hari Ini, Pemimpin Masa Depan

Penulis sangat gemar dengan kopi. Mungkin bisa dikatakan pecandu kopi: Coffee-holic. Saking gemarnya, hampir tiap kedai kopi di Yogya, pernah penulis sambangi. Mulai dari yang berharga mewah, sampai yang berharga murah. Tapi, kali ini penulis tak sekadar ingin melepas relax saja dengan duduk 1-1,5 jam di kedai kopi. Penulis ingin ada ”taste” lain tiap detik kehidupan yang penulis hadirkan. Taste itu bernama Inspirasi Pemuda. Penulis sekadar ingin tahu apa yang Pemuda Indonesia lakukan dan perbincangkan kala weekend-nya.

Maka itu, penulis coba buat rangkaian perjalanan malam: mulai dari menikmati  Cappucino di Starbucks Coffee Ambarrukmo Plaza, sampai berakhir pada Kopi Joss di Angkringan Tugu. 2 pilihan tempat ini penulis pilih karena masing-masing tempatnya punya karakternya masing-masing. Starbucks Coffee adalah tempat nongkrong ”high-class” dan Angkringan Tugu adalah tempat nongkrong ”middle-class”. Tapi, diantara keduanya, memiliki kesamaan: yang minum kopi adalah mereka yang tergolong usia muda, kelas menengah, dan terdidik. Ini menarik. Karena Indonesia, sebagian besar perekonomiannnya, ditopang oleh masyarakat kelas seperti ini. Jumlah mereka mungkin sedikit, tapi signifikansi mereka dalam menjaga agar Indonesia tak mengalami krisis ekonomi adalah suatu hal yang mutlak. Karena itu saya ingin menjadi bagian dari mereka. Berbaur meski tanpa melebur. Mewarnai, tapi jangan sampai terwarnai.

Cerita III: Aktivis Dakwah Juga Harus Tahu Ilmu Dunia

Beberapa hari lalu, penulis akan boarding dalam pesawat dari Malaysia menuju Indonesia. Di antara puluhan penumpang pesawat tersebut, ada sekawanan kelompok Islam (mohon maaf, penulis tidak bisa menyebutkan nama jamaah-nya apa) yang akan bersama penulis dalam 1 pesawat. Karena pesawat tersebut mengalami delay, maka ketika pesawatnya sudah mendarat, beberapa penumpang yang sudah tak sabar langsung berdiri antri di depan pintu boarding. Tak pelak, hal ini menimbulkan kericuhan sedikit.

Kericuhan kecil ini muncul karena ternyata awak pesawat meminta para penumpang untuk tidak asal masuk. Penumpang diatur masuknya sesuai dengan penomoran kursi pesawat. Mulai dari yang berada di kabin belakang, baru sampai yang di depan. Hal ini membuat beberapa keluhan para penumpang. Keluhan tersebut pun juga hadir dari para Kelompok Muslim tersebut. Tentu, bukan karena Ajaran Islam-nya yang membuat mereka mengeluh, karena Islam sejatinya tidak mengajarkan manusia untuk mengeluh.

Mereka mengeluh dengan berkata, ”Mbok ya, kalau masuk pesawat itu yang sudah di depan pintu boarding, masuk duluan. Untungnya, orang Indonesia ini sabar-sabar. Diatur kayak gimana pun mereka pasti nerima. Yang sudah di depan, masa disuruh ngantri lagi. Petugasnya ini gimana.” Penulis mendengar keluhan tersebut. Penulis ingin menimpali, tapi penulis rasa bersikap diam adalah sikap yang paling rasional. Meski agak sedikit kesal.

Hikmah yang Didapat (Konklusi)

Dari beberapa pengalaman itulah, atas ijin-Nya, penulis mencoba lebih bijak melihat realita kehidupan. Kita – termasuk juga penulis – mungkin menganggap kita adalah 1 hal (myself) dan mereka adalah hal yang lain (the others). Kita adalah Aktivis Masjid yang terbiasa menyerukan dakwah, tapi tak tahu arah. Kita akan nyaman tatkala berada dalam satu kelompok kita, dan – mohon maaf – ketika harus berada dalam komunitas yang berbeda, kita akan merasa canggung, gelagapan, sampai bingung harus bicara apa.

Kita cenderung untuk dekat kepada elit. Dengan alasan dakwah, kita dekat kepadanya. Kita lupa, bahwa sekeliling kita adalah orang yang juga butuh nasihat. Hikmah. Seolah kita mengalami miopi: rabun dekat, yang gagal melihat hal terdekat dan silau dengan hal-hal jauh dan mewah. Miopi Dakwah. Parah!

Yang lebih parah lagi adalah ketika kita sangat bangga dengan kelompok kita, disertai dengan sikap kita yang nyinyir dengan kelompok lain. Mungkin, kita lupa: sejak dari zaman Nabi Adam, manusia memang tercipta bersuku-suku (Qs Al-Hujuraat: 13). Itu fitrah, tak mungkin dinafikan. Maka, kalau sikap kita hari ini cenderung tidak bisa menerima perbedaan, berarti kita tak mensyukuri rahmat Alloh kepada kita. Kufur nikmat.

Mereka – anak muda yang terbiasa nongkrong-nongkrong itu – bisa jadi mereka masih ”begajulan”. Tapi, itu hari ini.  Urusan hidayah itu ada di tangan Alloh. Kalau Alloh berkenan, kun fa ya kun. Jadi, maka jadilah. Bisa jadi mereka kelak yang akan lebih baik secara keimanan dan pengetahuan ketimbang kita yang men-judge mereka. Lihat! Bagaimana Rasul tak pernah nyinyir kepada Umar bin Khattab ketika belum masuk Islam. Rasul tak pernah sedikit pun membenci Umar yang sangat anti Islam pada masa jahiliyah-nya. Karena Rasul paham: orang yang paling rusak di kala rusaknya (baca: jahiliyahnya) adalah mereka yang terbaik di masa kebaikannya, setelah dapat hidayah. Saking kuat firasatnya, saampai-sampai Rasul berdoa kepada Alloh

Ya, Alloh. Jadikanlah Islam ini kuat dengan masuknya salah satu dari kedua orang ini: Amr bin Hisham atau Umar bin Khottob”.

Dan benar! Alloh mengabulkan doa Rasul. Umar yang tadinya sangat menentang Islam, sangat taklid kepada ajaran nenek moyangnya, bahkan sering melakukan perbuatan jahiliyah (baca: kerusakan) – misalnya, mengubur hidup-hidup bayi perempuan – malah berubah. Ia berbalik 180 derajat. Ia berada di garda depan perjuangan Islam. Ketika menjadi khalifah selama 10 tahun, Islam meluas hingga sampai ke Turki, Iran (Persia), dan Mesir. Bahkan, Beliau dikenal sebagai pemimpin yang zuhud (baca: sederhana), bijaksana, dan adil. Subhanalloh!

Maka, bersikap bijaklah. Dewasa. Kita mesti bisa bedakan antara ia sebagai seorang manusia dan ia sebagai seorang khalifah (pemimpin). Tiap manusia pasti punya kecenderungan buruk, tapi di satu sisi ia juga punya potensi untuk menjadi pemimpin. Maka, berpikir bijak dan adil dalam menilai seseorang menjadi suatu keharusan. Bahkan, kata Pramoedya Ananta Toer, ”Berlaku adillah sejak dalam pikiran”. Dengan demikian, sikap kita yang terbaik adalah Mengajak (asking for) dan Mendoakan (praying for). Minimalisasi berlaku sinis, apalagi sampai membeda-bedakan. Karena bisa jadi sesuatu yang kita olok-olokkan lebih baik ketimbang diri kita sendiri (Qs. Al-Hujuraat: 13)

Bersikap bijak juga berarti kita paham akan dua dimensi yang kita jalani: Bumi dan Langit. Kita tak sekadar paham akan segala sesuatu yang berasal dari ”langit”, tapi kita juga harus tahu tentang segala hal tentang ”dunia”. Duniawi dan Ukhrawi. Jadilah orang yang menyeru kepada kebenaran, tapi juga harus tahu bagaimana caranya menyeru kebenaran. Sederhananya, jadilah seorang ”Agamawan”, juga seorang ”Ilmuwan”. Yang tak bijak adalah ketika kita paham tentang Agama, tapi kita buta akan pengetahuan Dunia. Pun sebaliknya. Kita pintar masalah Dunia, tapi gagap jika harus bicara Agama. Pintar Matematika, tapi sholatnya masih lupa-lupa. Pintar bicara hikmah, tapi di kelas menjadi orang yang kalah. Ini masalah!

Terakhir, penulis akan menutup tulisan ini dengan mengambil falsafah penting tentang kaki

Manusia tercipta dengan dua kaki: Kaki Kanan dan Kaki Kiri. Untuk belajar bahwa ia harus mampu menjadi bijak, moderat, dan berdiri di tengah di antara keduanya. Karena yang ”kiri” tak selamanya salah, dan yang ”kanan” tak selamanya benar”.

 

Wallahu ’alam bis showab

*Dari Sudut Kamar Kos H-25, Karangwuni, Sleman, Yogyakarta..


7 thoughts on “Menjadi Bijak, Bukan “Be A Judge”! (Refleksi Diri)

  1. ‘Ud’u ila sabili rabbika bil hikmati wal maw’izhatil hasanah’. Wah, bagus postingannya, terinspirasi dari Al Quran, Mas RIdwan!🙂 Terus menulis yah.

    Saya izin share di Facebook untuk dibaca teman2 yang lain yah..🙂

    Salam hangat,

    Subhan Zein

    • ok. Mas.. Inspirasi itu hadir dari tiap-tiap yang dekat dengan kita, dan lalu direfleksikan ke dalam diri kita masing-masing… Makasih juga Mas atas posting-an Mas di blog Mas. Saya selalu baca posting-an Mas tsb, meskipun harus berpikir dua kali: 1. Menerjemahkan, 2.Menangkap maksudnya.. hehehe. But, overall thanks 4 appreciating..🙂

      Salam Takzim!

      • Siap Mas. Sudah saya pasang di wall FB saya yah..🙂

        Terimakasih Mas. Mudah2an tulisan2 saya bermanfaat buat Mas Ridwan yah!🙂

        Saya senang Mas Ridwan menulis. Terus menulis yah, Mas. Menulis sebagai latihan kesabaran, ketulusan, dan dedikasi adalah motto yang selalu kita harus pegang teguh. Saya nantikan tulisan2 Mas selanjutnya..🙂

        Salam hangat,

        Subhan Zein

  2. nah, tulisan macam gini yang aku tunggu darimu Wan, tulisan yang ditulis dengan bahasa yang bisa kupahami😀, Dengan tema sederhana tapi mengena, dengan istilah istilah biasa tapi bermakna,

    • Kalau ada tulisanmu yang baru di blog-mu, aku tolong ditag ya, Bro… Dah lama nih gak ketemu ente..semoga dengan melihat tulisan ente tersebut, rasa kangenku bisa terobati =D

      Okey, Gan!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s