Menikmati Kopi Kehidupan (II)

6 tahun di Yogya,  5 tahun (resmi) kuliah di Universitas Gadjah Mada. Tapi, di tahun inilah saya memahami benar bahwa tidak cukup hanya sekadar menjadi mahasiswa. Tidak cukup hanya sekadar menjadi entitas intelektual yang jumlahnya paling sedikit diantara orang-orang yang berhasil menempuh pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Tidak cukup hanya sekadar menjadi penikmat bangku kuliah yang di setiap detik pembelajarannya, disubsidi oleh negara lewat pajak. Butuh kearifan menjadi seorang mahasiswa. Butuh kacamata yang luas untuk menjadi mahasiswa. Tidak sekadar hitam-putih. Tapi, bisa jadi ada wilayah abu-abu yang bisa mempertautkan antara buruknya si Hitam dan baiknya si Putih itu. Karena yang hitam tak selamanya salah, dan yang putih tak selamanya baik.

Kalau ada istilah popular “cover both sides”, maka mahasiswa mestinya bisa melihat lebih dari itu: cover every sides. Karena mahasiswa adalah calon pemimpin, bukan penghakim. Kalaupun ia kelak menjadi hakim, tapi hakim yang memiliki watak leader: mampu mempertimbangkan segala sesuatunya di luar ortodoksi keilmuan hukum positif selama ini. Sederhananya, hukum progressif mesti menjadi karakter yang ada di setiap hakim yang berwatak leader, not a judge an sich.

Oleh karena, tugas mahasiswa adalah mengambil jalan terbaik di antara banyaknya pilihan yang baik. Di sinilah dibutuhkan kearifan. Kebijaksanaan untuk berdiri di atas banyak kaki, tanpa kehilangan sebuah jati diri. Memang, sulit untuk menjadi seperti ini. Saya pun mengakui. Tapi, kampus adalah kawah candra di muka yang (sangat) ideal untuk berproses. Proses kematangan intelektual, organisasional, bahkan emosional bisa dipelajari sedikit demi sedikit di tempat ini.

Itulah sebabnya, saya mungkin adalah bagian dari anda yang (sedang) mengalami hal-hal di atas. Atau bisa jadi saya bagian dari anda yang (pernah) mengalami hal-hal serupa. Di sela waktu pengerjaan skripsi, di sela itu pula saya menikmati secangkir kopi. Tapi, nikmatnya minum kopi tak begitu berarti tanpa adanya sebuah diskusi. Diskusi yang hadir bersama rekan-rekan sebaya atau bersama adik-adik angkatan. Mendengar, berbagi cerita, bahkan mendengar keluh-kesah hingga 2-3 jam sekali ngopi, rasanya melengkapi apa yang selama ini hilang dalam diri pribadi.

Kalau cara berpikirnya sangat kuantitatif-struktural, mungkin acara ngopi seperti ini sangat membosankan. Buang-buang waktu, seolah tidak ada kerjaan lagi yang harus segera diselesaikan. Buang-buang uang, seolah 10-15 ribu yang dikeluarkan sekali ngopi tak ada gunanya. Ini tidak salah. Karena setiap orang memiliki cara pandangnya masing-masing untuk menilai setiap perbuatan kita. Perbuatan yang dilakukan oleh pengangguran terdidik untuk keluar sejenak dari kejenuhan atas nama skripsi, urusan lembaga, dan sebagainya.

Tapi, kalau cara pandang kita adalah kualitatif-kultural, bisa jadi acara ngopi seperti ini akan berguna untuk melahirkan apa yang selama ini minim dari aktivisme mahasiswa: kearifan. Karakter yang tak akan tumbuh tanpa dipupuk perlahan-lahan, dan dibangun dengan kedewasaan. Ini tak bisa dibangun secara instant, sebagaimana dulu Roro Jonggrang pernah membangun 1000 candi dalam semalam. Tapi, butuh kesabaran, proses, tapi juga tetap terarah. Agar proses interaksi yang dibangun selama ngopi itu tetap dalam konteks membina seseorang, bukan sekadar menghabiskan uang.

Memang, ada cost yang habis di sana, tapi tidak ada cost yang hilang untuk mempersiapkan kader-kader generasi terbaik negeri dan umat ini. Ini yang sulit-sulit mudah. Karena menghasilkan pemimpin itu mudah, tapi membangun seorang yang berkarakter pemimpin itu yang sulit. Kalau bukan karena kesabaran, keyakinan, dan keterarahan akan sebuah visi yang jelas, niscaya kita perlahan-lahan akan mundur teratur. Mundur teratur dari barisan penyeru kebaikan ini. Mungkin kita hebat, tapi kehebatan yang kita bangun hanya untuk diri sendiri. Gagal untuk meregenerasikan kehebatan kita untuk orang lain.

Di sinilah arti penting memaknai sebuah kearifan. Butuh kearifan untuk dan selama menjadi mahasiswa. Dan ngopi, adalah salah satu jalan untuk melahirkan kearifan-kearifan tersebut. Kearifan yang dibangun di sela pahitnya meminum kopi dan hangatnya diskusi. Kearifan untuk menghadirkan pemimpin-pemimpin negarawan di saat negeri ini lebih banyak melahirkan pemimpin politisi. Kearifan untuk menghadirkan rasa manis di tengah pahit-getirnya kopi kehidupan. Karena sepahit apapun kopi kehidupan, pasti ada manis yang Alloh hadirkan..  🙂

Wallahu ‘alam bis showab.

Air (Part I)

I

Air itu baik.

Tapi jika ia diam tergenang,

maka ia akan menjadi buruk.

Maka, meskipun air itu mengalir ke selokan, tapi selama ia tetap mengalir deras, maka dengan sendirinya ia akan mampu menjernihkan dirinya kembali.

Maka, meskipun air itu mengalir ke bawah, tapi selama ia tetap mengalir, ia akan tetap memberi manfaat bagi sekelilingnya.

Karena baiknya air itu terletak ketika ia bergerak.

Mengalir, menembus batas setiap ruang dan waktu.

II

Begitu pun dengan kebaikan.

Kebaikan itu bagaikan air

Yang mesti menembus batas ruang dan waktu.

Maka, kebaikan itu mesti dinamis.

Naik turun

Menang kalah

Atas bawah

Karena kebaikan yang dinamis, itu lebih baik ketimbang kebaikan yang statis

Karena baiknya air itu terletak ketika ia bergerak.

Mengalir, menembus batas setiap ruang dan waktu.

III

Air itu menyejukkan.

Tapi, juga bisa menjadi bencana yang menenggelamkan.

Karena itulah sifat air

Tenang tapi mampu menghanyutkan.

Maka, seperti itu kebaikan.

Kebaikan itu menenangkan,

Tapi, ketika ia tak terkelola dengan baik, kebaikan itu bisa berubah menjadi keburukan

Yang mampu menghancurkan setiap peradaban

Karena itulah sifat air

Tenang tapi diam-diam menghanyutkan

Belajar dari Merawat Kura-Kura

”Alloh tidak akan membebani seseorang melebihi batas kemampuannya”

-Qs. Al-Baqarah: 286

We start from the Small Things for Realizing Great Things”

Pagi ini saya baru saja memberi makan plus menjemur seekor kura-kura. Bongki, namanya. Kura-kura kecil, sekitar usia 2-3 bulan, yang sangat ”asyik” dipandang. Jujur, saya bukan orang yang pecinta binatang banget, seperti kakak-kakak saya yang sering merawat kucing di rumah sampai harus memberikan obat ketika kucing tersebut pada sakit (wow..). Entah mungkin saya yang masih agak egois, tapi bagi saya merawat seekor hewan sampai merawatnya ketika sakit adalah hal yang merepotkan. Mungkin kalau sekadar kasih makan, fine. Tapi, kalau sampai harus berikan obat, menjemur, bahkan mengganti kandangnya, waduh, it was so hard to do it, you know!

 Memang sih waktu saya masih di BEM KM 2009 silam, di sekre BEM tersebut ada akuarium ikan. Tapi, toh saya merasa agak malas untuk merawatnya. Kecuali, hanya sekadar memberi pallet seketika pas saya datang ke sekre saja. Selepas itu, tidak. Jangankan sampai menguras akuariumnya, beri makan teratur saja saya acuh tak acuh. Repot. Selain karena saya merasa adanya akuarium ikan di sekre itu bukan ide saya, jadi saya merasa bukan orang yang paling bertanggung jawab untuk merawat itu ikan. Fair, dong! Lagian itu ikan juga gak pernah dibahas di rapat internal BEM sendiri, so kalaupun saya tidak merawatnya secara telaten apakah salah?

Pun saya pernah gagal dalam merawat makhluk ”lemah” lainnya. Sebut saja Kuda Laut. Ini saya sangat menyesal!! Selain karena pemberian seseorang sahabat di Lombok pas KKN 2011, ia mati gara-gara saya terlalu euforia dengan itu kuda laut sampai-sampai saya tak tahu bagaimana merawatnya. Akumulasi semua itulah yang membuat mengapa saya adalah orang paling terakhir ketika memang saya harus merawat seekor binatang. Bukan apa-apa, mereka itu makhluk Alloh. Dan kalau sampai dia mati, selain memang karena sudah izin-Nya, tapi juga pasti ada andil dari tangan kita yang salah merawatnya. Ini yang sulit. 1 nyawa itu sangat berharga di mata-Nya, cuy!

 Tapi, entah mengapa tiba-tiba tuh Bongki datang ke hadapan saya untuk ”diminta” merawatnya. Cerita kedatangannya pun cukup unik. Tidak serta-merta datang ketika saya tidur atau lebih dahulu hadir dalam mimpi saya (wiih.. kayak di sinetron aja!). No!. Dia datang sebagai sebuah pemberian ketika saya mengisi diskusi di BEM Fakultas Kedokteran Hewan di UGM. Bagi saya ini unik. Karena kalau dikasih kenang-kenangan buku, plakat, atau cinderamata an-organik lainnya itu sudah sangat sering. Tapi, kalau dikasih kenang-kenangan organik, makhluk hidup, itu yang belum pernah, dan itulah kura-kura! What?! Bukannya menolak, justru saya mengapresiasi sangat. Tapi, bagaimana ceritanya saya yang sangat anti merawat binatang, tiba-tiba diberikan oleh Alloh melalui diskusi tersebut, sebuah makhluk hidup yang sangat lemah: kura-kura…

Gak kebayang, menurut salah seorang teman saya di Fakultas Kedokteran Hewan UGM, cara merawatnya harus telaten. Si Bongki tiap pagi, mesti dijemur selama 1 jam. Setelah itu dikasih makan. Sesudah dikasih makan, tiap 2 hari sekali diganti air di akuariumnya. Dan yang paling penting, tinggi air di akuarium tersebut tidak boleh lebih tinggi dari kaki kura-kuranya. Okee.. (Kebayang, saya bilangnya okee-nya itu sambil ngelus dada, hembuskan nafas)….. haha..

Mutiara Hikmah

Tapi, di luar itu semua, pasti ada hikmah terpendam. Salah satu hikmahnya, menurut saya, adalah sebenarnya apapun yang diberikan orang pada kita (amanah, barang, posisi, jabatan, kiriman orang tua, dan sebagainya) hakikatnya adalah pemberian dari Alloh. Alloh punya banyak perantara dalam memberikan sesuatu kepada hamba-Nya. Dan, kalau kita merujuk pada Qs. Al-Baqarah: 286 sebagaimana yang saya sebutkan di atas, berarti sesungguhnya segala apa yang dititipkan oleh Alloh kepada kita pun tidak akan melebihi batas kemampuan kita untuk merawatnya dan menjaganya dengan baik. Alloh tahu seberapa besar kemampuan kita untuk mengelola segala pemberian dari-Nya.

Maka itu, jika kita ingin menjadi seseorang pemimpin. Entah itu pemimpin dalam level rumah tangga sampai negara, pertama yang harus kita sadari adalah Alloh tidak akan pernah salah dalam memberikan level kepemimpinan mana yang tepat buat kita. Dan pasti level kepemimpinan itu sesuai dengan kapasitas kita untuk merawatnya. Merawat pemberian dari-Nya. Semakin sering karakter kepemimpinan kita diuji, berarti semakin semakin siap tatkala kelak kita diamanahkan untuk merawat negara atau rumah tangga (loh, kok ini jadi ngomongin masalah rumah tangga ya….) J

Selain itu, dari merawat kura-kura ini, kita jadi belajar bahwa sesuatu hal yang besar itu dimulai dari yang kecil. We start from Small Things for Realizing Great Things. Kita memulai dari suatu hal yang kecil, sederhana, dan mungkin tidak banyak dianggap orang sebagai suatu yang hebat, populis, dan banyak jadi sorotan media. Tapi, yakinlah tidak ada bangunan besar itu yang lahir tanpa diawali dari batu-bata yang kecil. Tak akan ada angka 1.000.000 kalau tanpa kehadiran angka 0 yang tak ada artinya. Semua hal yang besar, itu diawali dan dijaga dari hal-hal yang kecil. Jika hal-hal yang kecil itu adalah sebuah komitmen terhadap kebenaran, maka impian untuk mendirikan imperium kebenaran itu bukanlah hal yang tidak mungkin. Dan Indonesia kelak akan tersenyum dengan orang-orang yang senantiasa komitmen untuk mendirikan Imperium Kebenaran.

Wallahu’alam bishhowab