Belajar dari Merawat Kura-Kura


”Alloh tidak akan membebani seseorang melebihi batas kemampuannya”

-Qs. Al-Baqarah: 286

We start from the Small Things for Realizing Great Things”

Pagi ini saya baru saja memberi makan plus menjemur seekor kura-kura. Bongki, namanya. Kura-kura kecil, sekitar usia 2-3 bulan, yang sangat ”asyik” dipandang. Jujur, saya bukan orang yang pecinta binatang banget, seperti kakak-kakak saya yang sering merawat kucing di rumah sampai harus memberikan obat ketika kucing tersebut pada sakit (wow..). Entah mungkin saya yang masih agak egois, tapi bagi saya merawat seekor hewan sampai merawatnya ketika sakit adalah hal yang merepotkan. Mungkin kalau sekadar kasih makan, fine. Tapi, kalau sampai harus berikan obat, menjemur, bahkan mengganti kandangnya, waduh, it was so hard to do it, you know!

 Memang sih waktu saya masih di BEM KM 2009 silam, di sekre BEM tersebut ada akuarium ikan. Tapi, toh saya merasa agak malas untuk merawatnya. Kecuali, hanya sekadar memberi pallet seketika pas saya datang ke sekre saja. Selepas itu, tidak. Jangankan sampai menguras akuariumnya, beri makan teratur saja saya acuh tak acuh. Repot. Selain karena saya merasa adanya akuarium ikan di sekre itu bukan ide saya, jadi saya merasa bukan orang yang paling bertanggung jawab untuk merawat itu ikan. Fair, dong! Lagian itu ikan juga gak pernah dibahas di rapat internal BEM sendiri, so kalaupun saya tidak merawatnya secara telaten apakah salah?

Pun saya pernah gagal dalam merawat makhluk ”lemah” lainnya. Sebut saja Kuda Laut. Ini saya sangat menyesal!! Selain karena pemberian seseorang sahabat di Lombok pas KKN 2011, ia mati gara-gara saya terlalu euforia dengan itu kuda laut sampai-sampai saya tak tahu bagaimana merawatnya. Akumulasi semua itulah yang membuat mengapa saya adalah orang paling terakhir ketika memang saya harus merawat seekor binatang. Bukan apa-apa, mereka itu makhluk Alloh. Dan kalau sampai dia mati, selain memang karena sudah izin-Nya, tapi juga pasti ada andil dari tangan kita yang salah merawatnya. Ini yang sulit. 1 nyawa itu sangat berharga di mata-Nya, cuy!

 Tapi, entah mengapa tiba-tiba tuh Bongki datang ke hadapan saya untuk ”diminta” merawatnya. Cerita kedatangannya pun cukup unik. Tidak serta-merta datang ketika saya tidur atau lebih dahulu hadir dalam mimpi saya (wiih.. kayak di sinetron aja!). No!. Dia datang sebagai sebuah pemberian ketika saya mengisi diskusi di BEM Fakultas Kedokteran Hewan di UGM. Bagi saya ini unik. Karena kalau dikasih kenang-kenangan buku, plakat, atau cinderamata an-organik lainnya itu sudah sangat sering. Tapi, kalau dikasih kenang-kenangan organik, makhluk hidup, itu yang belum pernah, dan itulah kura-kura! What?! Bukannya menolak, justru saya mengapresiasi sangat. Tapi, bagaimana ceritanya saya yang sangat anti merawat binatang, tiba-tiba diberikan oleh Alloh melalui diskusi tersebut, sebuah makhluk hidup yang sangat lemah: kura-kura…

Gak kebayang, menurut salah seorang teman saya di Fakultas Kedokteran Hewan UGM, cara merawatnya harus telaten. Si Bongki tiap pagi, mesti dijemur selama 1 jam. Setelah itu dikasih makan. Sesudah dikasih makan, tiap 2 hari sekali diganti air di akuariumnya. Dan yang paling penting, tinggi air di akuarium tersebut tidak boleh lebih tinggi dari kaki kura-kuranya. Okee.. (Kebayang, saya bilangnya okee-nya itu sambil ngelus dada, hembuskan nafas)….. haha..

Mutiara Hikmah

Tapi, di luar itu semua, pasti ada hikmah terpendam. Salah satu hikmahnya, menurut saya, adalah sebenarnya apapun yang diberikan orang pada kita (amanah, barang, posisi, jabatan, kiriman orang tua, dan sebagainya) hakikatnya adalah pemberian dari Alloh. Alloh punya banyak perantara dalam memberikan sesuatu kepada hamba-Nya. Dan, kalau kita merujuk pada Qs. Al-Baqarah: 286 sebagaimana yang saya sebutkan di atas, berarti sesungguhnya segala apa yang dititipkan oleh Alloh kepada kita pun tidak akan melebihi batas kemampuan kita untuk merawatnya dan menjaganya dengan baik. Alloh tahu seberapa besar kemampuan kita untuk mengelola segala pemberian dari-Nya.

Maka itu, jika kita ingin menjadi seseorang pemimpin. Entah itu pemimpin dalam level rumah tangga sampai negara, pertama yang harus kita sadari adalah Alloh tidak akan pernah salah dalam memberikan level kepemimpinan mana yang tepat buat kita. Dan pasti level kepemimpinan itu sesuai dengan kapasitas kita untuk merawatnya. Merawat pemberian dari-Nya. Semakin sering karakter kepemimpinan kita diuji, berarti semakin semakin siap tatkala kelak kita diamanahkan untuk merawat negara atau rumah tangga (loh, kok ini jadi ngomongin masalah rumah tangga ya….) J

Selain itu, dari merawat kura-kura ini, kita jadi belajar bahwa sesuatu hal yang besar itu dimulai dari yang kecil. We start from Small Things for Realizing Great Things. Kita memulai dari suatu hal yang kecil, sederhana, dan mungkin tidak banyak dianggap orang sebagai suatu yang hebat, populis, dan banyak jadi sorotan media. Tapi, yakinlah tidak ada bangunan besar itu yang lahir tanpa diawali dari batu-bata yang kecil. Tak akan ada angka 1.000.000 kalau tanpa kehadiran angka 0 yang tak ada artinya. Semua hal yang besar, itu diawali dan dijaga dari hal-hal yang kecil. Jika hal-hal yang kecil itu adalah sebuah komitmen terhadap kebenaran, maka impian untuk mendirikan imperium kebenaran itu bukanlah hal yang tidak mungkin. Dan Indonesia kelak akan tersenyum dengan orang-orang yang senantiasa komitmen untuk mendirikan Imperium Kebenaran.

Wallahu’alam bishhowab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s