Dialog Anak Muda dengan Orang Tua (1)


Seakan malam ini, aku ingin bercerita dengan bintang. Tentang segala kegelisahan dan rasa yang tak kunjung menghilang. Tentang sebuah visi yang tak akan pernah lekang. Dari seorang anak negeri yang jauh di perantauan. Dari seorang anak bangsa yang sedang mengalami kegalauan.

Aku galau. Seperti punuk yang merindukan bulan, untuk setia menyapanya di tiap keheningan malam. Untuk menanti cahayanya, di antara redup di sekitarnya. Tapi, aku terus menjaga agar rasa ini tak bergejolak hebat. Sebagaimana ombak yang menerjang pepasir di pantai. Ah, sudahlah! Ini wajar. Manusiawi. Tapi, bukan berarti menyerah atas nama kemanusiaan. Tentu, semangat ini harus terus dikobarkan. Betapapun peliknya. Betapa pun payahnya.

Alhamdulillah, diskusi malam ini memecah itu semua. Bak ombak yang mampu memecah karang di laut, diskusi ini benar-benar merefreshkan diriku. Tidak banyak yang hadir. Hanya 3 orang, itu pun dengan saya. Tapi, pelajaran kehidupan yang bisa kami ambil, sangatlah berguna. Inspiratif, bijak, matang, dan good experience dalam menjalankan kehidupan kelak. Terima kasih Prof. Sudjarwadi (Rektor UGM 2007-2012) atas diskusinya malam ini. UGM tak pernah salah pernah memiliki rektor sesederhana dan se-low profile Bapak.

”Anak muda saat ini, tak semuanya harus menjadi akademisi seperti saya. Berkembanglah sesuai bakatnya masing-masing. Manusia Sesungguhnya (The Real Man) adalah ketika kita mampu menjadi sesuatu yang kita nyaman di sana dan berguna bagi keadaban umat manusia. Dan ketika sudah fokus menjadi sesuatu, bersinergilah dengan yang lain. Jangan sendirian. Jadilah seperti kura-kura yang berhasil mengalahkan elang dalam perlombaan lari. Elang menjadi kalah karena angkuh, menganggap remeh lawan. Sebaliknya, kura-kura menang karena sabar dan mampu bekerjasama dengan yang lain”, Ujar Prof Sudjarwadi, M.Eng. Ph. D dalam 1,5 jam berdiskusi dengan Beliau.

Sosok yang sederhana. Jauh dari gemerlap kemewahan. Lahir dalam keluarga “besar“ yang terdiri dari 17 bersaudara. Satu sama lain saling gayub. Dan untuk membantu pendidikan dan kesehatan di keluarganya, keluarga besar ini menerapkan falsafah I-I (Ikhlas-Iuran), B-B (Berbagi-Beramal), dan G-G (mohon maaf, penulis lupa apa kepanjangannya). Saat bertamu ke rumahnya, ruang tamunya cukup “terbatas“. Hanya cukup diisi 3-5 orang saja. Dan rumahnya, penuh diisi oleh sanak-saudaranya yang menimba ilmu di Yogyakarta.

Kadang kami malu dengan diri sendiri. Saat usianya sudah 65 tahun, semangatnya bicara tentang idealisme, Indonesia, kemanusiaan, keadaban, dan sebagainya masih belum luntur. Bicaranya masih fasih. Duduk di kursi besi masih tegak. Tak sama sekali terlihat aura lelah, padahal sedari pagi mewisuda ribuan Mahasiswa UGM. Sosok yang sama sekali jauh dari sorotan kamera. Lebih memilih di belakang layar. Terakhir, ada satu kata yang kami ingat dari Beliau.

“Justru di kampus-kampus ternama, yang dilihat oleh banyak orang bukanlah rektornya. Rektornya tidak terkenal. Tapi, para penemu-penemunya atau institusinya. Rektor bicara atas nama institusi. Bukan atas nama pribadi. Misalnya, penemuan Z ditemukan oleh universitas A. Laboran atau penemunya adalah yang bernama X dari Fakultas Y“

Sungguh, setiap zaman merindukan Beliau. Merindukan semangatnya yang tak pernah padam dalam mengestafetkan tongkat idealisme kepada para anak muda negeri ini. Kalau pun Beliau kelak sudah kembali kehadapan-Nya, tapi jiwa dan semangatnya masih bersemayam di hati dan pikiran kami yang tekun meneruskan perjuangannya. Semoga.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s