Beruntung, Kita Hidup di Indonesia


“Ada beribu alasan untuk kita pesimis akan bangsa ini. Tapi, ada berjuta alasan untuk kita tetap tegak mengangkat kepala, sejajar dengan semua bangsa di dunia”

Beruntung kita hidup di Indonesia. 1 diantara 6 negara yang kondisi perekonomiannya sedang emerging. New Emerging Economics, Begitu kata Soekarno dulu.  Enam negara itu adalah BRICI: Brazil, Russia, India, China, dan Indonesia. Negara yang tidak hanya melimpah secara natural resources, tapi juga human resources. Ada 80 % penduduk di usia produktif / working age (15-60) negeri ini yang akan menemukan titik kulminasinya di tahun 2020-2050. Zaman keemasan. Golden Age. Zaman dimana hanya Indonesia – yang berasal dari negara berkembang – yang memiliki pasokan usia produktif yang begitu banyaknya.

Negara yang kini maju, sudah tidak bisa diharapkan di masa depan. Roda itu berputar: dari atas menuju ke bawah. Era-era mendatang, adalah eranya negara yang berada di selatan wilayah Khatulistiwa. Tidak ada lagi nama Jepang, Amerika, German, UK, dan sebagainya dalam daftar negara-negara adidaya di masa depan. Asia memang masa depan, tapi titik sentralnya ada di Asia Tenggara. Dan diantara 10 negara di ASEAN tersebut, negara mana yang paling memiliki jumlah penduduk terbesar dan juga stabil secara politik-ekonomi, dialah rajanya. Dan raja di ASEAN itu adalah Indonesia.

Kekuatan ASEAN ini bukan main. Gempuran-gempuran krisis dunia, seperti yang terjadi di tahun 1998, 2008, dan sebagainya, tampaknya tidak banyak mempengaruhi stabilisasi ekonomi ASEAN. ASEAN makin kuat, dan Indonesia lah yang selalu menjadi pelopornya. Kalau karena persoalan minyak negara-negara di timur tengah saling bertikai (Perang Teluk), maka di ASEAN karena ada isu-isu budaya, negara-negara ASEAN menjadi bersatu. Lihat isu Rohingya, Pattani, dan sebagainya. ASEAN banyak belajar dari bagaimana mempersatukan Uni Eropa ke dalam satu negara kawasan. Berawal dari persoalan histori, hingga persoalan bagaimana membangun struktur ekonomi untuk bersaing di tingkat internasional. UE sadar, mereka hanya bisa menandingi kekuatan Amerika jika mereka bersatu. Pun halnya dengan ASEAN: kekuatannya tidak akan tertandingi jika bersatu, apalagi jika memiliki mata uang regional sendiri, seperti halnya mata uang Euro.

Tak ada satu negara pun di dunia ini, yang memiliki segala kelengkapan di dunia seperti di Indonesia. Setiap aliran pemikiran, kepercayaan, agama, budaya, suku, dan sebagainya tumbuh subur bak cendawan di musim hujan di Indonesia ini. Ada orang Atheis, Agnostik, liberal, sekular, agamawan, bahkan sampai yang belum teridentifikasi kepercayaannya pun juga ada. Ada 300 lebih suku bangsa di Indonesia. Masing-masing diantaranya punya kekhasannya masing-masing, punya patronnya masing-masing, dan punya nilai yang harus dijunjung tinggi masing-masing

Beruntung kita hidup di Indonesia. Negara yang memiliki 3000 lebih mahasiswa yang sekarang sedang studi di luar negeri. Diaspora Indonesia tersebut tersebar dari mulai negara-negara di Skandinavia, sampai belahan negara Amerika. Ada juga yang dari India sampai di daerah Russia. Semua memiliki gaya khas berpikirnya masing-masing, punya karyanya masing-masing. Tapi tetap dengan tujuan yang sama: mencipta Indonesia di masa depan dengan lebih baik.

Di dalam negeri, ada ribuan universitas yang tersebar di seluruh Indonesia. 3 diantaranya selalu masuk dalam 500 besar perguruan tinggi terbaik se-dunia: UI, ITB, dan UGM, versi Survey Webometrics dan THES-QS. Setiap tahun jutaan orang yang bersaing untuk bisa merebut bangku kuliah di universitas-universitas ini, dengan harapan agar pendidikan mereka jauh lebih baik ketimbang orang tuanya kini. Sederhana saja. Karena Pendidikan, adalah jalan yang paling ideal untuk memajukan Kesejahteraan setiap umat manusia.

Berapa banyak karya yang dihasilkan dari kampus-kampus tersebut: mobil listrik, inovasi produk makanan, entrepreneur-entrepreneur muda, penulis-penulis berbakat, dan sebagainya. Mereka bergerak dengan passion-nya masing-masing. Natural, seolah bakat alam lah yang membentuknya dengan masuk di universitas. Mereka berinteraksi dan melihat realita langsung di lapangan, sembari mempraktekkan ilmunya di daerah-daerah terpencil melalui program KKN (Kuliah, Kerja Nyata); atau mereka bersaing di tingkat global dengan mengikuti conference atau kompetisi lainnya

Beruntung kita hidup di Indonesia. Hanya dengan bambu runcing, teriakan “Merdeka” dan “Allahu Akbar”, atas ijin-Nya, kita berhasil mengusir penjajah. Mulai dari Belanda, Portugis, Jepang, Spanyol, dan sebagainya. Ke depan tantangannya lebih berat, karena yang dihadapi bukan penjajah di luar negeri, tapi kita menghadapi saudara sendiri. Begitu kata Bung Karno. Karena musuh dalam selimut selalu ada di antara kita.

Hampir semua universitas terbaik di dunia, memiliki para Indonesianis. Mereka sangat tertarik untuk mengkaji Indonesia mulai dari sejarah, budaya, hingga ke persoalan politik. Buku-buku sejarah modern, umumnya, ditulis oleh bukan orang Indonesia sendiri: Nusa Jawa Silang Budaya (Dennys Lombard), Idea of Indonesia (R.E. Olson), Sejarah Indonesia Modern 1200 – 2008 (M.C. Ricklefs), Sejarah 400 Tahun Jakarta (Susan Blackburn), dan sebagainya. Ini membuat kita terlupa: mengapa orang lain yang lebih mengenal diri kita sendiri??

Beruntung kita hidup di Indonesia. Beragam ideologi yang dianut bangsa ini, semakin meningkatkan kohesi sosial kita sebagai bangsa. Kita memang Imagined Communities (komunitas yang terbayang), yang bersatu bukan karena atas persamaan suku. Tapi, karena kesamaan cita-cita sebagaimana tertulis di Aline ke-4 Pembukaan UUD 1945: Melindungi Segenap Bangsa Indonesia, Memajukan Kesejahteraan Umum, Mencerdaskan Kehidupan Bangsa, dan Ikut Melaksanakan Ketertiban Dunia yang Berdasarkan Perdamaian Abadi dan Keadilan Sosial.

21 tahun bangsa ini menganut rezim Nasionalis-Sosialis-Komunis di era Bung Karno; 30 tahun bangsa ini berada di bawah bayang-bayang Kapitalisme-Liberalisme di era Pembangunan Pak Harto; dan 2 hal itu menjadi sebuah sintesa di Era Reformasi yang baru berjalan 13 tahun ini: menggabungkan antara Demokrasi dan Kesejahteraan. Sekarang setiap orang bebas bersuara, tapi juga ditekankan untuk makmur secara ekonomi. Sekarang setiap orang dikasih kesempatan seluas-luasnya untuk mendapatkan pekerjaan (freedom of poverty) tapi juga diberi kesempatan untuk melakukan tindakan politik (freedom of speech).

Kita perlahan belajar dari setiap fase zaman. Era reformasi memperluas spektrum politik dan ekonomi hingga ke daerah-daerah. Ditambah dengan adanya mass media yang menguat, banyak bibit-bibit muda potensial lahir bukan dari kota-kota besar di tanah air. Dari pelosok Papua, kita menemukan Boaz Salosa, Patrick Wanggai sebagai pesepak bola brilian di tanah air. Dari pelosok Aceh, banyak penghafal-penghafal Al-Qur’an (Hafidz) lahir dari bumi Serambi Mekah tersebut. Dari pelosok Sulawesi, kita menemukan pebisnis ulung macam Jusuf Kalla. Dari pelosok NTB, kita mendapati gubernur termuda di Indonesia dengan gelar doktor dari Al-Azhar University Cairo, TGB Zainul Majdi.

Perlahan tapi pasti, otonomi daerah membuat banyak kutub pertumbuhan ekonomi baru. Meski harus disadari pula, membuat banyak korupsi di daerah juga makin meluas. Tapi, setidaknya grand-design 6 Koridor Ekonomi Indonesia mulai dicanangkan di 2013 esok (Dokumen MP3EI). Sumatera: Sentra Produksi dan Pengolahan Hasil Bumi dan Lumbung Energi Nasional; Jawa: Pendorong Industri dan Jasa Nasional; Kalimantan: Pusat Produksi dan Pengolahan Hasil Tambang dan Lumbung Energi Nasional; Sulawesi: Pusat Produksi dan Pengolahan Hasil Pertanian, Perkebunan, Perikanan, Migas, dan Pertambangan Nasional; Bali-Nusra: Pintu Gerbang Pariwisata dan Pendukung Pangan Nasional; Papua-Kep. Maluku: Pusat Pengembangan Pangan, Perikanan, Energi, dan Pertambangan Nasional.

Terakhir, poros itu selalu di tengah. Meski poros itu rawan akan goncangan karena selalu menjadi tumpuan, tapi poros itulah yang selalu menentukan nasib di sekitarnya. Dan kalau kita melihat poros di peta dunia, maka poros itu terletak di negara terbesar ke – 5 di dunia, yaitu Indonesia. Kita lihat, bagaimana Indonesia di masa depan dipegang oleh anak-anak muda berbakat hari ini. Ia yang paling bisa bertahan di kondisi paling sulit, ia adalah pemenang!!

nb: Mohon maaf, jika dalam penulisan serasa terlompat-lompat dalam argumentasi yang dibangun. Agak sedikit tidak fokus, karena disambi di sela pengerjaan skripsi tentang “Perda Zakat di Lombok Timur”. -Rdw-

5 thoughts on “Beruntung, Kita Hidup di Indonesia

  1. Di saat rakyat Indonesia mencaci maki negaranya sendiri, di saat rakyat Indonesia sudah muak hidup di Indonesia, di saat rakyat Indonesia berhenti berharap akan masa depan negara ini, ternyata ada juga orang yang bangga dan tetap optimis akan nasib negara ini ke depannya..
    Salut buat mas,Ridwan..
    Semoga sosok-sosok orang seperti mas ini masih banyak di Indonesia..
    Proud to be Indonesian..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s