Ini Semua tentang Rasa


Saat kecil dulu, kita sering bermain di bawah rintikan air hujan. Bersama teman, menghabiskan waktu seharian. Baju sekolah yang tak sempat diganti, seolah menjadi saksi bahwa ikatan persahabatan itu abadi – meskipun teriakan bunda ketika pulang, selalu nyaring di telinga ini. Persahabatan begitu dekat. Bukan karena dibangun oleh materi (harta) sesaat. Tapi, karena ada rasa. Rasa persahabatan untuk merasakan senasib sepenanggungan.
Entah mengapa, kini setelah dewasa, kita merasa hujan menjadi penghalang berbagai aktivitas kita. Seringnya, kita malah tak menyukai hadirnya hujan. Para pebisnis di kota mencaci hujan karena berpotensi melahirkan macet. Para petani kelimpungan ketika sawahnya terendam banjir. Mahasiswa mencari seribu alasan untuk tidak kuliah atas nama turunnya hujan. Sakit, banjir, macet, longsor, dan sebagainya seolah menjadi sasaran empuk untuk menyalahkan turunnya hujan.
Loh, bukankah dulu waktu kecil kita menyenangi hujan, lalu kemanakah rasa itu sekarang?
Semakin pintar dan bertambahnya usia seseorang, ternyata tak selalu berbanding lurus dengan kemampuan seseorang untuk merasa. Pandai Merasa. Akal menjadi Tuhan untuk menjustifikasi setiap kebenaran. Diskusi-diskusi banyak dihadirkan, tapi tak kunjung menambah kearifan untuk melihat perbedaan. Indikator-indikator tentang kemiskinan dimunculkan dalam angka-angka, tapi gagal menangkap fakta sebenarnya. Uang BLT dihambur-hamburkan, tapi malah memperparah angka kemiskinan. Data, angka, nalar, dan logika ternyata tak mampu menyentuh sisi humanis manusia: rasa!
Kemampuan untuk merasa semakin memudar, seiring memudarnya kecantikan dan ketampanan wajah seseorang yang mulai mendekati usia tua. Wajah kian tua, tapi tak kunjung menambah dewasa. Seolah kemampuan untuk merasa itu hanya untuk dua orang saja: untuk anak kecil dan orang yang sedang dilanda kasmaran. Cuih, orang dewasa dilarang punya perasaan! Melankolis, begitu tuduhannya.
Parahnya, soal rasa ini selalu diidentikkan dengan makna peyoratif: galau, sendu, virus merah-jambu, futur, dan sebagainya. Hampir tak ada sisi positif untuk melihat soal rasa ini. Sesuatu yang lahir karena fitrah manusia ini, selalu dianggap sebagai biang keladi tidak majunya seseorang. Terlalu berperasaan. Seolah, kesuksesan dan kehebatan itu hanyalah milik bagi mereka yang mengagungkan akal dan menafikan perasaan. Sehingga, banyak orang hebat, tapi sendirian. Tak memandang orang sekitar dan mau maju bersama-sama.
Padahal, ibu kita mengandung kita selama 9 bulan dan menyapih selama 2 tahun, itu karena dibekali oleh rasa. Pemimpin yang baik, arif, dan bijaksana melihat (bashiroh)sesuatu bukan dengan fakta dan data semata. Seorang ayah, yang pergi gelap sebelum shubuh dan pulang gelap sesudah maghrib untuk bekerja, itu karena memiliki rasa: rasa tanggung-jawab untuk menafkahi keluarganya. Seorang guru mendidik setiap muridnya, itu karena dibalut rasa cinta akan harapan lahirnya generasi-generasi baru di masa datang. Dunia boleh maju akan teknologi, tapi yang mengoperasikan tetap harus mereka yang memiliki nurani. Ini yang membedakan antara seorang yang dididik oleh alam, dengan yang dididik oleh buku panduan.
Ah, rasanya ingin bermain bebas di bawah rintik hujan kembali…

*Yogyakarta, 23 November 2012,
Di sela-sela rintik hujan,
aku membuat tulisan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s