Setiap Kita Butuh Kakak


Setiap Kita Butuh Kakak. Ruang tempat kita bisa berekspresi, menyemai segala kegelisahan. Sosok yang mau mendengarkan sekaligus memberi masukan tanpa ada paksaan. Ia bukan sosok ayah  atau ibu yang secara usia sudah jauh rentangnya. Ia bukan sekadar teman yang mau mendengarkan tapi kadang sulit memberi jawaban. Kakak adalah sosok yang secara usia tak jauh beda, tapi kita menghormatinya karena kita nyaman dengannya.
Setiap kita Butuh Kakak. Bukan sekadar Kakak biologis. Tapi, kakak yang benar-benar siap untuk mendengarkan dan memberi masukan setiap kegundahan. Ia bukan sosok malaikat yang serba sempurna. Ia  manusia biasa yang sama-sama punya kelemahan tentunya. Tapi, karena sama-sama punya kelemahan itulah, kita bisa saling berbagi dan belajar bagaimana menjalani hidup sebaik mungkin dari setiap kesalahan. Sama-sama saling bengkok, tapi karena bengkok itulah kita saling meluruskan.
Setiap kita butuh Kakak. Tidak hanya untuk anak terakhir saja, tapi juga untuk anak pertama sekalipun. Anak terakhir jelas butuh Kakak karena belum banyak mengerti arti kehidupan ini. Butuh dibimbing. Anak pertama pun butuh Kakak karena ia manusia biasa yang tak selalu sempurna menghadapi masalah. Anak terakhir butuh Kakak agar tidak jatuh di lubang yang sama. Anak pertama butuh Kakak karena kadang ia rapuh tapi ingin tetap terlihat tegar di hadapan adik-adiknya. Kakak bukan sebatas usia biologis. Ia bisa berlaku kepada siapapun yang saling merasakan kenyamanan.
kakak 2Setiap kita butuh Kakak. Kakak itu bisa berarti suami atau istri kita. Bukan sekadar status yang tercatat di buku nikah semata. Tapi, ia yang sama-sama siap untuk membina rumah tangga, baik di kala suka maupun duka. Ia yang siap berbagi peran untuk menutupi setiap kekurangan. Istri melihat sosok Kakak dalam diri suami karena bertanggung jawab menafkahi keluarga. Suami melihat sosok Kakak dalam diri seorang istri karena mampu meneduhkan saat bimbang tak tahu arah tujuan.
Kakak itu bisa berarti sahabat kita yang lebih tua atau muda. Dari yang tua, kita bisa belajar banyak tentang arti kehidupan. Dari yang muda, kita bisa belajar bagaimana tetap semangat walau banyak badai menghambat. Satu sama lain saling memberi nasihat. Memberikan pelajaran bahwa kearifan itu tidak selalu berbanding lurus dengan usia. Kearifan bukan hanya milik orang-orang tua. Karena kearifan adalah karunia setiap manusia. Dan karena itu Kakak tidak selalu diidentikkan kepada yang lebih tua secara usia.
Kakak itu bisa berarti guru kita. Guru di sekolah, di asrama, atau guru ngaji sekalipun. Guru peradaban yang senantiasa mengajak kepada kebaikan secara perlahan-lahan. Ia yang senantiasa selaras antara perkataan dan perbuatan. Ia yang selalu memberikan contoh apa yang ia katakan. I Do What I Talk, begitu prinsipnya. Ia yang selalu mendorong untuk berpikir besar tapi juga tak melupakan hal-hal yang kecil. Ia adalah Kakak yang berbaju guru. Identitasnya adalah Guru. Tapi, kita menganggapnya Kakak karena hampir tidak ada sekat yang dibangun di antaranya, meski berbeda jauh secara usia.
Karena kita butuh Kakak. Siapapun dan kapanpun. 

its-all-about-love-edited

2 thoughts on “Setiap Kita Butuh Kakak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s