Jenang-Jeneng Kehidupan..


 “Urip iku ojo cari Jenang. Tapi, carilah Jeneng…”
(alm. Presiden Soeharto, sebagaimana dikutip dari Buku “Untold Story of Soeharto)
Mencari Jenang. Mencari makanan. Mencari sesuatu yang bersifat materi untuk dijadikan orientasi dalam menjalani kehidupan. Sehingga, hidup tak lebih dari sekadar urusan perut dan di bawah perut. Tak lebih dari – maaf – seekor hewan menjalani kehidupan: makan, bekerja, kawin, memiliki keturunan, meninggal. Selesai. Kalau pun ada tindakan yang dilakukan di luar persoalan materi, itu sekadar pelengkap. Bukan menjadi substansi dalam menjalani kehidupan.
20110105190948Sebaliknya, mencari Jeneng. Mencari nama. Mencari kepercayaan dan reputasi dari banyak orang. Mencari sesuatu hal yang tak bisa diukur secara kuantitatif, dan karenanya tak bisa sembarang orang mendapatkannya. Bisa jadi setiap kita mampu memiliki rumah, tapi tak setiap kita bisa menghadirkan kebahagiaan dalam rumah tersebut. Bisa jadi setiap kita memiliki banyak harta, tapi tak setiap kita mampu mendayagunakan harta tersebut agar bermanfaat untuk orang lain. Dalam tataran lebih transcendental-fundamental, kita mestinya mencari sesuatu yang tak bisa terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, dan tak bisa dinalar oleh akal. Itulah yang dinamakan keberkahan dari Alloh SWT. Sebagaimana Jeneng (nama) adalah sebuah doa, maka keberkahan pun adalah sebuah doa yang mengandung hubungan kita dengan-Nya.
Lalu, apakah berarti kita harus hidup melarat? Melarat berbeda dengan Sederhana. Melarat itu berarti miskin tak punya apa-apa. Sedangkan Sederhana memiliki apa-apa tapi tidak ingin dinikmati sendiri-sendiri. Berbagi dengan sesama. Kemakmuran bukan sekadar Kekayaan. Oleh karena, ini soal cara pandang dalam melihat dunia. The Way We View the World. World-View. Orientasi inilah yang pada gilirannya akan menentukan segala perilaku kita dalam menjalani kehidupan. Termasuk dalam menentukan benar atau salah dalam menilai suatu persoalan. Kita perlu Jenang, tapi Jenang tersebut kedudukannya jangan sampai lebih tinggi ketimbang Jeneng.
Bung Hatta bisa saja mendaya-gunakan power-nya untuk bisa hidup mewah di sisa usianya. Tapi, ia tak melakukan itu. Buku-bukunya pun hampir dijual oleh anak-anaknya sekadar upaya agar ada pemasukan lebih bagi penghidupan keluarganya. Tapi, Bung Hatta melarangnya. Beliau bahkan tak mampu beli sepatu Bally – sepatu pantopel mahal seukuran zaman saat itu – hingga Beliau menutup mata. Agus Salim, Buya Hamka, dan Bung Tomo adalah beberapa tokoh lainnya yang lebih mencari Jeneng, ketimbang Jenang. Para founding fathers ini lebih memilih Jeneng (ilmu, nama baik, keberkahan) yang abadi, ketimbang Jenang (harta, tahta, jabatan) yang bisa hilang hanya dalam sehari.
“Ilmu (Jeneng) dan Harta (Jenang) itu sangatlah berbeda. Jika Ilmu akan menjagamu, tapi harta kamulah yang akan menjaganya. Maka, Berilmulah!”
(Imam Ali ra)

bunghatta_sepatubally

One thought on “Jenang-Jeneng Kehidupan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s