“Lalu Lintas Kehidupan” *

macet

Suatu ketika di waktu pagi, Ibu “memanggil” saya dari Jakarta via telepon. Melalui jejaring kabel tersebut, Beliau berkata, “Le, kamu tidak iri dengan kawan-kawanmu yang sudah lulus, bekerja, dan menikah?”. Mungkin karena masih cukup pagi, saraf-saraf otak saya masih belum cukup “cepat” untuk bekerja menjawab pertanyaan dari Beliau tersebut. Pertanyaannya mungkin sederhana, tapi jawabannya sangat berat. Karena pertanyaan tersebut, sejatinya, bukan untuk dijawab dengan kata. Tapi, dijawab dengan perbuatan. Tindakan yang membutuhkan nafas panjang untuk membalikkan setiap cibiran kata dan pandangan sebelah mata. “Thanks, Mom. Terima kasih sudah membangunkan kesadaran dan tubuh saya di pagi yang masih cukup larut tersebut”, jawabku dalam hati.
Well, harus kita akui bahwa seringnya kita – bahkan juga saya – menilai rumput tetangga lebih hijau. Mungkin tidak sekadar hijau tapi juga lebih lebat dan bermanfaat untuk banyak orang. Godaan-godaan untuk cenderung lebih melihat ke luar, itu wajar. Mungkin itulah makna dari perlombaan – bukan persaingan. Fastabiqul Khoirot. Agar kita senantiasa bersaing dan terus bergerak, tak berdiam diri. Karena – sebagaimana kata Imam Syafii – air yang bergerak tidak akan banyak menimbulkan penyakit. Namun, persoalannya bagaimana jika perasaan iri tersebut malah membuat jadi rendah diri? Bukankah setiap kita diberikan rumputnya masing-masing dan diberikan kemampuan sebesar-besarnya untuk mengolahnya?
Pergolakan tentang rasa iri melihat rekan-rekan seumuran sudah melangkah ke fase berikutnya itulah yang saya – atau mungkin kita – alami belakangan ini. Persoalannya kian rumit kalau kita tidak mengetahui apa sebab utama Alloh hadirkan persoalan tersebut kepada kita. Kita sekadar menggumun terhadap “prestasi” orang lain, tapi gagal menangkap mengapa Alloh membeda-bedakan kita dengan orang lain. Sehingga, landasan praksis tersebut tidak bertemu dengan landasan kognisi. Amukan rasa ini terus saya alami sampai pada satu titik Alloh “mempertemukan” saya dengan hikmah tentang “Lalu-Lintas Kehidupan”, sebagaimana yang ditafsirkan oleh Prof. Quraish Shihab dalam membedah QS. Yunus 1-10:

iklan LA3_thumb[1]

Bahwa sejatinya, setiap manusia adalah node-node kecil dari sebuah jagad raya kehidupan. Mirip, dengan sebuah kendaraan yang sama-sama berjalan di jalan yang sama. Jalan Tuhan. Fisabilillah. Masing-masing kita adalah sebuah kendaraan, yang sedang melaju di jalan yang sama, dan berujung pada akhir jalan yang sama: kematian. Karena berada pada jalan yang sama, maka akan sangat mungkin terjadi pergesekan atau tabrakan yang merusak kesetimbangan alam: kerusuhan, korupsi, dan penyakit-penyakit social lainnya. Untuk itulah perlu diatur agar setiap kendaraan yang melaju tersebut tidak berada pada satu waktu yang sama dan senantiasa menaati peraturan yang ada.
Peraturan itulah yang dinamakan Agama. Dan satuan waktu tersebut dinamakan Takdir. Agama sebagai rambu, tata cara dalam menjalani kehidupan. Sedangkan Takdir adalah tulisan dari pena yang telah diangkat, tepat ketika kita lahir. Oleh karena itu, setiap kita punya traffic light-nya masing-masing. Kapan saatnya kita memiliki lampu hijau untuk jalan terus, lampu kuning untuk menurunkan tempo, dan lampu merah untuk sejenak beristirahat. Dengan kata lain, para ilmuwan menciptakan traffic light, sebenarnya, bukan untuk memperlambat laju kendaraan kita, tapi untuk mempercepat dengan cara mengatur siapa yang lebih dahulu siap dan berada di garis depan. Bayangkan, jika setiap kendaraan kehidupan kita ingin terus melaju, tidak ada waktu untuk berhenti! Yang ada adalah keterlambatan yang disebabkan karena adanya tabrakan-tabrakan social. Kalau pun ada percepatan, itu sekadar mempercepat pengakhiran garis kehidupan kita, yaitu kematian.
spiral-clock
Itulah sebabnya, para pandai hikmah, menyiratkan bahwa Hidup itu tak ubahnya Ibadah. Apapun itu. Setiap Ibadah memiliki waktunya masing-masing. Kita tak bisa – bahkan tidak boleh mempercepat – datangnya waktu ibadah tersebut. Semua ada waktunya, takdirnya, dan masanya. Yang diperbolehkan dan diberikan keleluasaan kepada kita adalah mempersiapkan sebaik mungkin untuk menunggu takdir itu hadir. Kita tidak boleh Sholat sebelum waktunya, tapi kita boleh mandi, berias, menggunakan wewangian, bahkan memilih untuk naik motor, jalan kaki, dan sebagainya, sambil menunggu waktu sholat itu hadir. Mirip dengan pencarian kebenaran: akal dan indera diberikan kemampuan sebesar-besarnya untuk mencari, tapi yang namanya Hidayah dan Intuisi yang berasal dari hati, tetap saja berasal dari Alloh. Itu hak prerogative Alloh.
Bagaimana jika ternyata kita sudah mempersiapkan sebaik mungkin, tapi ternyata berbeda hasilnya dengan yang kita inginkan? Itu tandanya jalan kita masih panjang. Alloh masih memperbanyak trafiic-light dalam kehidupan kita, yang dinamakan kesabaran. Alloh punya nalarnya sendiri, yang tidak akan mungkin kita pahami dengan nalar manusia biasa. Alloh ingin agar kita semakin siap menjalani kehidupan selepas traffic light tersebut berubah warna: dari merah menjadi hijau. Kalau setiap saat kita diberikan lampu hijau, niscaya kita tidak pernah belajar untuk bersabar dan mempersilahkan orang lain untuk sama-sama “sukses” seperti kita. Semua ada gilirannya. Ada waktunya. Sehingga, benar apa kata orang-orang tua: “Hidup itu bagai roda. Ada saat kita di bawah. Ada saat kita di atas”. Yang penting, pastikan kita tetap berada dalam jalan kebaikan. Tempat orang-orang yang selalu menyeru kepada kebaikan.
Wallahu ‘alam bisshowab

*Inspired with Tafsir QS. Yunus 1-10 by Prof. Quraish Shihab

Iklan

Arsenal: Perpaduan antara Tradisi dan Progresifitas

arsenal-fc-logoSemenjak tahun 2005, saya mulai menyukai sepakbola. Di tahun-tahun saat saya mulai melek sepakbola itulah saya mulai menyaksikan sebuah klub liga Inggris bernama Arsenal. Awalnya sekadar euphoria. Wajar, karena di era 2004-2006 tersebut adalah era dimana Arsenal sedang pada fase puncaknya: peringkat kedua liga Champion, juara EPL, FA, bahkan tidak pernah kalah dalam 1 musim ketika penjaga mistar gawangnya adalah David Seamen. Henry yang direkrut di usia sebelum 20 tahun, ternyata meledak menjadi bomber paling menakutkan di Eropa karena sentuhan dingin Arsene Wenger. Pires, Henry, Viera, Ljunberg, Bergkamp, dan sebagainya adalah mereka yang menjadi pahlawan Arsenal di kala itu.
Namun, seiring waktu berjalan, kecintaan saya terhadap Arsenal bukan sebatas euphoria saja. Bukan sekadar fans pengagum yang selalu menongkrongi tiap kali pertandingannya – apalagi sekadar beli jersey Mikel Arteta bernomor punggung 8. Bukan. Tapi, kecintaan saya terhadap kepada Arsenal adalah karena klub ini – menurut saya dan beberapa analisis yang saya baca – adalah 1 diantara 2 klub yang bisa menggabungkan dua hal yang berbeda dalam 1 waktu: menggabungkan antara Tradisi dan Progresifitas. Klub pertama adalah Manchester United, baru yang kedua Arsenal. MU sudah lebih dahulu maju, karena didukung kuatnya kapasitas manajerial dan financial yang tersebar luas hampir di setiap negara.
Saya menyadari, di satu sisi banyak yang mencemooh Arsenal karena tak ubahnya seperti SSB (sekolah sepak bola). Yang tugasnya, tidak lebih dari sekadar mencetak pemain muda berbakat, lalu setelah tumbuh menjadi bintang, dijual. Kondisi seperti itulah yang dialami oleh Fabregas, RvP, Clichy, Toure, Henry, dan sebagainya. Alibi yang paling masuk akal adalah untuk menutup besarnya deficit anggaran yang terjadi karena pemindahan stadion dari Highbury ke Emirates Stadium. Tapi, menurut saya, persoalan SSB seperti itu, dominan bukan karena faktor finansial. Arsenal memiliki 4 pemegang saham utama dalam manajemen. Tapi, ini karena ada Tradisi yang bersifat Konservatif yang ingin dijaga oleh Wenger selama 10 tahun ia mengarsiteki Arsenal. Corak Konservatif itulah yang tercermin dari penggabungan dua hal: cara bermain a la Spanyol (Barcelona), dan mengakomodasi bakat-bakat muda, baik yang berasal dari internal klub (layaknya Bayern Munchen) atau dari luar. Yang pertama, akan melahirkan cara bermain sepak bola yang lebih kolektif – bukan individual; yang kedua, akan lebih menjaga keuangan klub karena pemain muda relative lebih murah harganya. Bagai sebuah pepatah: 1 kali mendayung, 2-3 pulau terlampaui.
Arsene-Wenger
Di sisi lain, Arsenal juga tak ingin terbuai dengan Tradisi. Tapi, juga harus progresif. Disadari atau tidak, Arsenal adalah satu-satunya klub EPL yang selalu masuk 4 besar Liga Champion dalam 15 tahun terakhir. Memang, belum sekalipun juara Championship di tangan Wenger. Tapi, Arsenal punya tradisi untuk terus bersaing menembus empat besar di tiap musimnya. Sembari memastikan bakat-bakat mudanya tumbuh berkembang secara mental dan teknik, sembari itu pula terus menjaga progresivitas klub untuk juara. Sehingga, pembangunan klub tidak semata-mata didasarkan pada aspek financial dari sugar daddy. Finansial penting, tapi kalau bisa menghasilkan kemandirian keuangan dengan tidak mengandalkan satu orang sumber pendanaan  itu jauh lebih penting. Malaga, adalah salah satu bukti klub yang bangkrut hanya karena mengandalkan satu sugar daddy yang pada gilirannya merugi dan menjalar ke keuangan klub.
Wenger memang tidak pernah menjadi pemain sepak bola professional. Ia sekadar manajer lulusan Strasbrough University Prancis bergelar master of management. Tapi, Wenger tahu bagaimana cara mengelola sebuah tim yang bisa menggabungkan dua hal itu: menunggu dengan sabar para pemain muda berbakatnya untuk terus berkembang, sembari memastikan bahwa klub harus terus bersaing dengan klub-klub besar lainnya dalam ketatnya persaingan EPL.
Maka, ketika Jack Wilshere mendekap cedera di usia 19 tahun, Wenger tidak terburu-buru untuk mempercepat kesembuhannya. Baginya, jadikan masa “mundur ke belakang” itu sebagai suatu masa untuk mencari panjangnya pijakan agar bisa melompat lebih jauh. Jadi, mundur bukan berarti kalah. Tapi, siap untuk bertolak lebih kuat agar mampu tampil lebih hebat dibandingkan pemain seusianya. Special treatment seperti itulah yang dialami pula oleh Henry. Henry direkrut oleh Arsenal saat usianya belum mencapai 20 tahun. Meskipun, sudah malang melintang di banyak klub di dunia (Barcelona, MLS, dan sebagainya), Henry tetap menghormati Wenger yang lebih dari seorang pelatih. Karena Henry besar dari Arsenal dan sudah memberikan yang terbaik untuk Arsenal. Sehingga, jika dibuatkan patung Henry di Emirates Stadium.
Di sinilah letak utama kekaguman saya kepada Arsenal. Klub yang terus belajar dan bersabar untuk menjadi juara, tapi di satu sisi juga terus menjaga progresifitas klub agar tidak menjadikan apologi pembelajaran tersebut menjadi alasan untuk tidak bersaing 4 besar tiap musimnya. Sehingga, Tradisi seperti itulah yang akan menguji seberapa besar kecintaan fans terhadap Arsenal: apakah sekadar ikut-ikutan saja, atau memang benar-benar memahami prinsip-prinsip yang dibangun Arsenal, mulai dari pemain hingga para fans sekalipun. Faktor Tradisi  (Konservatif) dan Progresif inilah yang mulai menjadi weltanschung di Arsenal. Karena ini bukan soal menjuarai kompetisi, tapi ini soal membangun institusi yang lebih kuat dan sehat. Dalam konteks yang lebih luas, Tradisi dan Progresif adalah 2 kata kunci kemajuan peradaban! 

 

soc_g_wilshere_d1_576