Arsenal: Perpaduan antara Tradisi dan Progresifitas


arsenal-fc-logoSemenjak tahun 2005, saya mulai menyukai sepakbola. Di tahun-tahun saat saya mulai melek sepakbola itulah saya mulai menyaksikan sebuah klub liga Inggris bernama Arsenal. Awalnya sekadar euphoria. Wajar, karena di era 2004-2006 tersebut adalah era dimana Arsenal sedang pada fase puncaknya: peringkat kedua liga Champion, juara EPL, FA, bahkan tidak pernah kalah dalam 1 musim ketika penjaga mistar gawangnya adalah David Seamen. Henry yang direkrut di usia sebelum 20 tahun, ternyata meledak menjadi bomber paling menakutkan di Eropa karena sentuhan dingin Arsene Wenger. Pires, Henry, Viera, Ljunberg, Bergkamp, dan sebagainya adalah mereka yang menjadi pahlawan Arsenal di kala itu.
Namun, seiring waktu berjalan, kecintaan saya terhadap Arsenal bukan sebatas euphoria saja. Bukan sekadar fans pengagum yang selalu menongkrongi tiap kali pertandingannya – apalagi sekadar beli jersey Mikel Arteta bernomor punggung 8. Bukan. Tapi, kecintaan saya terhadap kepada Arsenal adalah karena klub ini – menurut saya dan beberapa analisis yang saya baca – adalah 1 diantara 2 klub yang bisa menggabungkan dua hal yang berbeda dalam 1 waktu: menggabungkan antara Tradisi dan Progresifitas. Klub pertama adalah Manchester United, baru yang kedua Arsenal. MU sudah lebih dahulu maju, karena didukung kuatnya kapasitas manajerial dan financial yang tersebar luas hampir di setiap negara.
Saya menyadari, di satu sisi banyak yang mencemooh Arsenal karena tak ubahnya seperti SSB (sekolah sepak bola). Yang tugasnya, tidak lebih dari sekadar mencetak pemain muda berbakat, lalu setelah tumbuh menjadi bintang, dijual. Kondisi seperti itulah yang dialami oleh Fabregas, RvP, Clichy, Toure, Henry, dan sebagainya. Alibi yang paling masuk akal adalah untuk menutup besarnya deficit anggaran yang terjadi karena pemindahan stadion dari Highbury ke Emirates Stadium. Tapi, menurut saya, persoalan SSB seperti itu, dominan bukan karena faktor finansial. Arsenal memiliki 4 pemegang saham utama dalam manajemen. Tapi, ini karena ada Tradisi yang bersifat Konservatif yang ingin dijaga oleh Wenger selama 10 tahun ia mengarsiteki Arsenal. Corak Konservatif itulah yang tercermin dari penggabungan dua hal: cara bermain a la Spanyol (Barcelona), dan mengakomodasi bakat-bakat muda, baik yang berasal dari internal klub (layaknya Bayern Munchen) atau dari luar. Yang pertama, akan melahirkan cara bermain sepak bola yang lebih kolektif – bukan individual; yang kedua, akan lebih menjaga keuangan klub karena pemain muda relative lebih murah harganya. Bagai sebuah pepatah: 1 kali mendayung, 2-3 pulau terlampaui.
Arsene-Wenger
Di sisi lain, Arsenal juga tak ingin terbuai dengan Tradisi. Tapi, juga harus progresif. Disadari atau tidak, Arsenal adalah satu-satunya klub EPL yang selalu masuk 4 besar Liga Champion dalam 15 tahun terakhir. Memang, belum sekalipun juara Championship di tangan Wenger. Tapi, Arsenal punya tradisi untuk terus bersaing menembus empat besar di tiap musimnya. Sembari memastikan bakat-bakat mudanya tumbuh berkembang secara mental dan teknik, sembari itu pula terus menjaga progresivitas klub untuk juara. Sehingga, pembangunan klub tidak semata-mata didasarkan pada aspek financial dari sugar daddy. Finansial penting, tapi kalau bisa menghasilkan kemandirian keuangan dengan tidak mengandalkan satu orang sumber pendanaan  itu jauh lebih penting. Malaga, adalah salah satu bukti klub yang bangkrut hanya karena mengandalkan satu sugar daddy yang pada gilirannya merugi dan menjalar ke keuangan klub.
Wenger memang tidak pernah menjadi pemain sepak bola professional. Ia sekadar manajer lulusan Strasbrough University Prancis bergelar master of management. Tapi, Wenger tahu bagaimana cara mengelola sebuah tim yang bisa menggabungkan dua hal itu: menunggu dengan sabar para pemain muda berbakatnya untuk terus berkembang, sembari memastikan bahwa klub harus terus bersaing dengan klub-klub besar lainnya dalam ketatnya persaingan EPL.
Maka, ketika Jack Wilshere mendekap cedera di usia 19 tahun, Wenger tidak terburu-buru untuk mempercepat kesembuhannya. Baginya, jadikan masa “mundur ke belakang” itu sebagai suatu masa untuk mencari panjangnya pijakan agar bisa melompat lebih jauh. Jadi, mundur bukan berarti kalah. Tapi, siap untuk bertolak lebih kuat agar mampu tampil lebih hebat dibandingkan pemain seusianya. Special treatment seperti itulah yang dialami pula oleh Henry. Henry direkrut oleh Arsenal saat usianya belum mencapai 20 tahun. Meskipun, sudah malang melintang di banyak klub di dunia (Barcelona, MLS, dan sebagainya), Henry tetap menghormati Wenger yang lebih dari seorang pelatih. Karena Henry besar dari Arsenal dan sudah memberikan yang terbaik untuk Arsenal. Sehingga, jika dibuatkan patung Henry di Emirates Stadium.
Di sinilah letak utama kekaguman saya kepada Arsenal. Klub yang terus belajar dan bersabar untuk menjadi juara, tapi di satu sisi juga terus menjaga progresifitas klub agar tidak menjadikan apologi pembelajaran tersebut menjadi alasan untuk tidak bersaing 4 besar tiap musimnya. Sehingga, Tradisi seperti itulah yang akan menguji seberapa besar kecintaan fans terhadap Arsenal: apakah sekadar ikut-ikutan saja, atau memang benar-benar memahami prinsip-prinsip yang dibangun Arsenal, mulai dari pemain hingga para fans sekalipun. Faktor Tradisi  (Konservatif) dan Progresif inilah yang mulai menjadi weltanschung di Arsenal. Karena ini bukan soal menjuarai kompetisi, tapi ini soal membangun institusi yang lebih kuat dan sehat. Dalam konteks yang lebih luas, Tradisi dan Progresif adalah 2 kata kunci kemajuan peradaban! 

 

soc_g_wilshere_d1_576

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s