Riset adalah Segalanya*


Me and Mr. AlvinBeberapa hari yang lalu, saya diminta oleh BEM KM UGM untuk menjadi moderator seminar Public Speaking di Purna Budaya UGM. Guest Star pembicara tersebut adalah Alvin Adam, seorang entertainment jurnalist yang mempelopori lahirnya Talkshow “Just Alvin” di salah satu TV berita di Indonesia. Talkshow tersebut hadir dengan membawa konsep “Jurnalisme Rasa”: suatu gagasan tentang dunia jurnalis agar orang yang dianggap tamu undangan bukan diperlakukan sebagai Objek, tapi Subjek. Sehingga, seorang pembawa acara tidak menjadi orang yang merasa paling tahu tentang narasumber, tapi sebaliknya: membiarkan narasumber berbicara apa adanya, selapang-lapangnya, bahkan kalau perlu sampai air mata berlinang sekalipun. Di sinilah letak “rasa” tersebut dihadirkan untuk membawa suasana talkshow bukan menjadi arena persidangan benar-salah. Jurnalisme Rasa.
Honestly, saya belum pernah sekalipun dekat dengan Mas Alvin dalam ruang komunikasi apapun: follow twitter, kirim email, kirim sms, bahkan berbicara face to face. Kebertahuan saya tentang Beliau baru satu arah: mengenalnya di beberapa sinetron, film, dan sebagainya. Sehingga, akan sangat tidak mungkin mengimbangi sebuah diskusi, as a moderator, dimana saya belum sekalipun berinteraksi dengannya. Implikasinya bisa dua hal: diskusi tersebut akan memuaskan banyak orang, atau diskusinya malah tidak memenuhi ekspektasi banyak orang.
17566144Ok, fine. Saya berusaha berpikir sejenak. Lalu, saya teringat sebuah judul dari sub-bab sebuah Novel “Negeri Di Ujung Tanduk” karya Tere-Liye: Riset adalah Segalanya. Tepat! Dalam waktu kurang dari 2 jam selama saya menunggu waktu boarding di bandara, saya coba mencari sebanyaknya informasi tentang Beliau. Thanks, Google! You’re so smart in everything. Dipadu dengan ilmu “menyentuh hati” seseorang dan kecepatan google mendapatkan informasi, saya menemukan sebuah kata tentang Beliau: Jurnalisme Rasa. Saya pahami dengan cepat, sambil berdoa: jika Alloh menghendaki aktivitas ini, maka pasti Dia akan mudahkan segalanya, termasuk menentukan hal apa yang bisa menautkan hati saya dengan Mas Alvin dalam membuka ruang komunikasi di sebuah acara yang dihadiri 200-an orang lebih tersebut.
Setelah mendapatkan beberapa informasi tentang Beliau dan idenya tentang “Jurnalisme Rasa” tersebut, saya mematikan laptop dan bersiap untuk memasuki kabin pesawat. Saat menuju kabin tersebut, entah kenapa, Alloh menjawab doa saya tersebut. Saya bertemu dengan Mas Alvin Adam tepat ketika mau menaiki tangga pesawat dari Jakarta menuju Yogyakarta. Awalnya, saya tidak merasa akan bertemu dengan Mas Alvin karena maskapai yang saya naiki termasuk untuk standar kelas menengah ke bawah, sedangkan Beliau pasti menaiki kelas menengah ke atas. Di sepanjang menaiki tangga tersebutlah, saya berusaha membuka ruang komunikasi dan “menyentuh hati” nya dengan ide “Jurnalisme Rasa” tersebut. Komunikasi yang awalnya kaku karena baru saling mengenal tersebut, akhirnya menjadi cair. Kita tertawa bersama, membangun iklim kedekatan diskusi yang meskipun hanya berjalan 2-3 jam nanti. Beruntungnya, Beliau tipikal orang yang supel dan berasal dari keluarga yang demokratis, sehingga hal tersebut mempermudah kami dalam membangun percakapan. I got it!
Riset itu Segalanya, Sederhana dan Ada Dimana-Mana.
Selama ini kita memahami dunia riset adalah dunia orang-orang yang dahinya terlipat karena kebanyakan mikir. Atau mungkin dunianya orang-orang berkacamata, berjidat lebar, berpenampilan necis, pintar beretorika dan berada di luar sistem. Sebenarnya, tidak juga! Dunia riset itu simple. Kita bisa melakukannya dimana pun dan kapan pun. Mungkin karena terjadi penyempitan makna (peyoratif) dalam waktu yang sangat lama, istilah “riset” menjadi hanya milik segelintir orang. Konstruksi makna mampu membuat suatu hal menjadi dipandang rendah, tinggi, menyempit, atau meluas, di mata banyak orang. Meskipun sebenarnya, realitasnya berbeda dari apa yang kita persepsikan tentang hal tersebut. It’s daily life of research!
Sebelum kita menentukan teman hidup kita selamanya (menikah), misalnya, kita biasa mencari informasi tentangnya dengan berfokus pada 3 hal: Keturunan, Kepunyaan, dan Kematangan. Atau dalam Dunia Jawa disebut Bibit, Bebet, dan Bobot. Proses mencari informasi tersebut bisa dari beragam sumber yang mendukung atau yang berseberangan. Istilah kerennya dalam dunia riset adalah cross-cutting information: mencari informasi sebanyak dan seberagam mungkin si calon, mencari relasinya dengan siapa saja ia bersahabat, hingga menentukan kesimpulan apa yang diambil dari informasi yang didapatkan tersebut (menjadikan ia sebagai pilihan kita atau tidak dalam mengarungi bahtera rumah tangga kelak).
Sebelum kita memilih akan sekolah atau kuliah, misalnya, kita terbiasa mencari banyak hal tentangnya. Mulai dari melihat lingkungan tempat kita kuliah atau sekolah, memperhitungkan biaya yang dikeluarkan, mempertimbangkan nilai ujian kita untuk bisa bersaing mendapatkan sekolah/ kampus tersebut, mengukur international grade jurusan yang akan kita ambil, memprediksi kelak kita akan bekerja atau berkontribusi dimana pasca lulus, hingga apa manfaat baliknya untuk keluarga dan masyarakat kita tinggal. Dunia riset yang simple seperti itu, tanpa sadar, sudah kita lakukan dalam skala terkecil, yaitu menerapkan cara berpikir sistemik, mulai dari input – process – output – feed back. 
Untitled
Nah, di sinilah sebenarnya titik temu antara dunia riset yang kita anggap rumit tersebut dengan dunia keseharian yang kita sering sebut dengan Kearifan Lokal. Titik temu tersebut dalam pepatah diistilahkan dengan Dimana Bumi Dipijak, Di situ Langit Dijunjung. Artinya, kita harus bisa menyesuaikan diri dimana kita berada, termasuk dengan bahasa, adat-istiadat, kebudayaan, sistem nilai yang terbangun bertahun-tahun lamanya di daerah tersebut. Proses untuk “memijaki bumi” tersebut tentu lahir bukan dengan tiba-tiba. Tapi, harus bertahap dan terus disesuaikan antara karakter kita sebagai pribadi dengan karakter orang lain atau masyarakat tempat tinggal. Itulah sebabnya, dalam proses mencari “memijaki bumi”, terkadang kita tak sengaja menginjak paku, berjalan di atas rumput orang, atau berlayar memimpin sebuah perjalanan. Konflik menjadi hal yang wajar, pun dalam dunia riset yang menyiratkan adanya thesis-antithesis-sinthesis.
Dunia Riset Masa Kini
Adanya konstruksi makna dari dunia riset, mau tidak mau, membuat banyak orang skeptis terhadap hal tersebut. Skeptisan tersebut seringnya tercermin dari rendahnya penghargaan negara terhadap dunia riset, beberapa diantaranya adalah
  1. Minimnya penganggaran negara untuk menyediakan dana riset untuk sektor-sektor strategis yang menunjang keberlangsungan negara di masa depan.
  2. Minimnya akomodasi dan aplikasi – ketimbang faktor politik yang selalu dijadikan pertimbangan utama hasil riset – untuk dijadikan landasan dalam mengambil kebijakan
  3. Minimnya publikasi akademik hasil riset untuk masuk dalam jurnal internasional dan nasional
  4. Melemahnya budaya literasi (menulis, membaca, dan berdiskusi) di kalangan banyak orang,  terutama anak muda, dan sebagainya.
Beberapa fakta tersebut harus disikapi secara cermat dan arif. Memetakan dan mencari akar permasalahannya, menjadikan kita lebih semangat mencari penyelesaian ketimbang sekadar mengutuk kegelapan. Fakta tersebut tak mungkin ditolak, tapi hanya berdiam diri dan bersungut terhadap keadaan itu yang lebih layak untuk ditolak. Tugas terpenting adalah membongkar itu semua. Merekonstruksi lagi pemahaman kita dan banyak orang tentang dunia riset, hingga menerapkannya dalam dunia keseharian. Tapi, jangan sampai semangat untuk membongkar tersebut malah seperti mencangkul: menggali sebuah tanah, tapi tanah buangannya diberikan ke tempat lain. Menyelesaikan persoalan dengan tidak menambah persoalan, itu lebih penting dan pastinya kerjanya akan semakin berat.

blog_kualitas_riset

Wallahu ‘alam bis showab

*judul tulisan ini terinspirasi dari judul sub-bab Novel “Negeri Di Ujung Tanduk” Tere-Liye

2 thoughts on “Riset adalah Segalanya*

  1. assalamu’alaykum kang ribud.

    inspiratif bgdd tulisan2 njenengan.entah njenengan lupa atw tidk, kita prnah satu lembaga wktu jamanny pak budiyanto sbg presma. sy pngen ngundang njenengan bwt ngobrol2 di radio komunitas (radiobuku.com). kbetulan sy freelance journalist di sana. klo brkenan&ada ksempatan ke jogja, kmi senang skali klo kang ribud bs brkunjung ke basecamp kami di Patehan Alkid. nuwun..

    Wassalam.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s