Belajar Arif dengan Kehidupan


“kakak.. Kakak kalau melihat wanita tak memakai jilbab, apa tanggapan Kakak? Apakah menurut Kakak wanita yang pakai jilbab itu lebih baik ketimbang yang tidak memakai jilbab?”, Tanya Mbak Y kepada Mas X

dgnfjgnkjfdgnjkdfgndgdjnkjnjnjnjknnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn

Sebut saja, perbincangan tersebut ada di antara Mas X dan Mbak Y. Mbak Y ini adalah partner kerja Mas X ketika akan membawakan sebuah acara di esok harinya. Mbak Y ini tahu bahwa Mas X ini dalam kesehariannya dekat dengan gerakan Islam di sebuah kampus, meskipun secara penampilan tidak menunjukkan simat (tanda) sebagai seorang aktivis Islam: celana gantung, jenggot panjang, baju koko, dahi hitam, mata yang tidak memandang kepada lawan jenis, dan sebagainya. Tidak. Mas X ini berpenampilan dan berperilaku manusia pada umumnya kepada semua orang. Sampai pada suatu ketika, Mbak Y ini berani menanyakan hal ini kepada Mas X tersebut.
Dari perbincangan tersebut, Mas X menemukan bahwa Mbak Y ini kadang merasa tidak nyaman dengan lembaga di mana para wanitanya sebagian besar menggunakan jilbab. Ia merasa tidak lebih baik kepada perempuan yang sudah menggunakan jilbab. Ia gelisah. Ia ingin tetap berkarya di lembaga tersebut, tapi tidak ingin munafik bahwa lingkungan tersebut membuat ia tidak nyaman untuk berkarya.
Mas X tersebut, diam sejenak. Mencoba memahami lebih dalam. Mencoba memahami pertanyaan dan alasan yang ia sampaikan: apakah benar pertanyaan tersebut lahir karena ia ingin mencari jawaban dengan pikiran yang masih kosong, atau sebenarnya persepsi (framing) atas jawaban sudah ada tapi ia sekadar mengetes saja jawaban dari Mas X tersebut. Sampai di titik itu, Mas X meyakini bahwa setiap manusia itu bagaikan sebuah kanvas. Kita tidak bisa menilai baik-buruknya seseorang sampai kanvas tersebut selesai terlukiskan. Sampai nyawa tidak lagi dikandung badan. Yang tersisa hanyalah seonggok tubuh tak bertuan.
Akhirnya, Mas X tersebut menjawab, “Kalau kakak dihadapkan pada pertanyaan tersebut, jawaban dan yang kakak lakukan hanya ada dua: 1. Yakini bahwa perbaikan itu adalah bagian dari sebuah proses panjang yang berkelanjutan, 2. Ikhtiarkan untuk senantiasa berdoa setiap saatnya agar Alloh senantiasa memberikan hidayah kepada wanita yang belum berjilbab tersebut, sembari mengajaknya dengan cara yang terbaik (wal mauizhotil hasanah wa jaadilhum bil latii hiya ahsan). Kenapa? Karena wanita yang belum berjilbab, pada dasarnya ia tahu batas-batas dimana dia harus menutup hal-hal yang semestinya ditutup. Menutupi bagian tubuhnya yang membuat ia menjadi malu jika terbuka. Itu fitrah wanita. Dan yang namanya fitrah, tidak bisa dijelaskan secara logika. Ia hanya bisa dirasakan oleh jiwa dan dilakukan dengan perbuatan. Dan proses perbaikan tersebut, tidak perlu dipaksakan, apalagi sampai terbangun framing baik-buruknya seseorang. Bahwa, sudah memakai jilbab rapi itu bagus, sudah memenuhi salah satu kewajiban dari seorang muslimah. Tapi, kesungguhan untuk menggunakan jilbab dengan niat yang lurus, itu juga tidak kalah bagusnya.
Kenapa saya bisa berargumen demikian tentang soal fitrah menutup aurat? Begini ceritanya.
Belajar dari Pengalaman Berkelana di Mania
4 tahun yang lalu, saya dikaruniai kesempatan ikut student exhange ke Filipina (Manila) selama sepekan dalam Program 7th Asian Youth Forum. Saya, bersama 10 orang delegasi Indonesia lainnya, bertemu dengan 20 orang lebih para delegasi dari sekitar 9 negara yang berbeda: Singapore, Filipina, China, Rusia, Bangladesh, India, Pakistan, Jepang, dan Korea Selatan. Selama sepekan tersebut, saya mengikuti setiap acara yang sudah diatur oleh panitia, termasuk mengikuti kuliah umum yang diselenggarakan di Della Sale University, Manila.
Nah, dalam kuliah umum tersebut, kami dikumpulkan dalam suatu ruangan dengan ketentuan dress code yang tidak terlalu ketat. Artinya, setiap delegasi bebas untuk menggunakan model pakaiannya masing-masing, based on habituasi yang biasa ia lakukan. Tepat ketika kami semua masuk ke dalam ruangan, saya duduk tepat di samping gadis dari Jepang yang menggunakan hot pants. Tak perlu saya jelaskan berapa senti jarak antara ujung kain celana dengan dengkul bagian atasnya, yang jelas bagi lelaki normal, celana tersebut bisa mengundang hal-hal yang tidak diinginkan.
Awalnya, saya sekadar iseng saja memilih duduk di samping dia, kebetulan juga karena kursi di ruangan tersebut yang tersisa kosong masih di depan, tepat di sampingnya. Ketika saya duduk, menyapa gadis tersebut, selang beberapa menit kemudian ia mengambil bantal duduk di belakangnya untuk menutupi (maaf) pahanya yang terbuka. Tak ada sama sekali sepatah kata pun yang saya lontarkan untuk meminta untuk menutup pahanya tersebut. Tak ada gelagat sedikit pun yang saya tunjukkan bahwa saya kurang nyaman duduk di sebelahnya. Tapi, inilah fitrah. Dengan cepat, ia menutup bagian yang terbuka tersebut, karena mungkin dia menyadari bahwa fitrah seorang wanita – tidak hanya bagi seorang wanita muslim – adalah tertutup auratnya.
Kearifan adalah Jalan Bijaksana Menyelesaikan Persoalan
Kalau kita melihat (bashor) tentang kemajuan peradaban umat manusia, maka ada sesuatu yang letaknya sangat tinggi dalam pergaulan antar umat manusia. Sesuatu tersebut adalah Titik Kearifan. Ia hadir melampaui (beyond) usia, keilmuan, dan kedudukan seseorang. Seorang ilmuwan bisa mengatakan benar dan salah terhadap suatu persoalan, jika dia melihat tidak sekadar menggunakan narasi logika dari yang selama ini ia pelajari di kelas-kelas. Seorang anak muda bisa berperilaku arif ketimbang yang lebih muda dalam menghadapi persoalan jika dia melihat dengan menggunakan mata batin. Seorang yang memiliki jabatan terhormat bisa seketika jatuh jika ia berperilaku koersif dan agresif dalam memaksakan kehendaknya, menutup masukan dari orang lain terhadapnya.
Dalam korelasi antara Kearifan dan Usia, sebagaimana yang dicontohkan seorang anak kecil kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Khalifah Umar bin Abdul Aziz lebih memilih seorang utusan dari Yaman yang lebih tua yang datang untuk memberikan selamat karena telah diangkat menjadi Khalifah yang baru. Khalifah tersebut berkata kepada anak kecil yang belum genap belasan tahun tersebut,
“Mundurlah engkau wahai anakku. Berikan kesempatan untuk orang tua”, kata Khalifah. Dengan penuh penghormatan, anak kecil tersebut menjawabnya,
“Wahai Amirul Mukminin. Sesungguhnya manusia itu ditimbang dari dua hal di dalam dirinya, yaitu Hati dan Lisannya. Bila seseorang dikaruniai hati yang cemerlang, dan lisan yang kuat, maka dia sangat layak untuk diapresiasi. Sekiranya segala urusan dilihat dari umuur, maka ada yang lebih tua dari engkau di Madinah yang lebih layak menjadi Khalifah (Pemimpin)”.
Anak kecil tersebut tahu bagaimana memperlakukan dirinya sebaik mungkin tanpa harus merendahkan penguasa tersebut. Ia sekadar memberikan nasihat agar tidak lalai akan mewahnya kedudukan. Sebagaimana nasehat seorang wanita buta kepada Nabi Muhammad agar juga tetap memperhatikan orang-orang miskin papa ketimbang orang-orang berkedudukan tinggi (Qs. Abasa: 1). Wanita buta dan Anak Kecil tersebut berperilaku arif dalam menilai orang lain, meskipun orang yang diajak bicaranya memiliki kedudukan lebih tinggi. Mereka tidak ingin men-judge buru-buru ketika orang lain berbuat kesalahan. Tapi, ia sekadar mengingatkan dengan nasihat yang paling santun dan memilih kata yang sangat terhormat kepada lawan bicaranya tersebut.
Kearifan melampaui usia, melampaui kedudukan, bahkan melampaui keilmuan seseorang. Ia hanya bisa dihadirkan jika berhasil menangkap dibalik (beyond) apa yang tampak dari sebuah permukaan. Tugasnya hanyalah mendidik, bukan menggurui. Mengajak kepada kebaikan, bukan menjustifikasi terhadap sebuah persoalan. Inilah yang mungkin menjelaskan tentang sebuah cerita dari sebuah hadits tentang mengapa ada orang setiap hari beribadah tapi di akhir hidupnya ia melakukan kemaksiatan sehingga ia masuk neraka, tapi ada seorang pelacur yang banyak berbuat zina tapi ia masuk surga karena memberikan minum kepada seekor anjing di akhir hidupnya. Kita tidak pernah cerita panjang hidup manusia. Berperilaku ariflah, sebagaimana kita memberikan warna terbaik pada kanvas yang ingin kita lukiskan.

 

376081_2497246442893_1840506900_n

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s