Mengkhawatirkan Keburukan? Khawatirlah kepada Kebaikan!


“Apa pertanyaanmu tadi? Kau bergurau. Aku konsultan keuangan profesional. Aku tidak peduli dengan kemiskinan. Yang aku cemaskan justru sebaliknya, kekayaan. Ketika dunia dikuasai segelintir orang, nol koma nol dua persen, orang-orang yang terlalu kaya”, Kata Thomas pada Julia
(Novel “Negeri Para Bedebah” – Tere Liye)
Hampir saban detik, telpon genggam saya bergetar. Bukan karena panggilan masuk. Tapi, karena begitu banyaknya pesan broadcast yang masuk melalui sms atau grup di whatsapp. Pesan singkat tersebut, tidak jauh dari hal yang bersifat Kebaikan: nasihat, tausiyah, atau apapun itu yang mengajak kita untuk selangkah lebih dekat kepada surga. Di sela percakapan di grup, tetiba ada yang berikan nasihat lewat gambar atau pesan broadcast. Tak henti-hentinya, ayat-ayat Tuhan tersebut tertuliskan melalui tinta-tinta papan tombol di layar telpon genggam.
Salahkah? Tidak ada yang salah. Pesan-pesan Kebaikan memang harus selalu disampaikan. Perlu. Di zaman yang serba karut-marut seperti ini, usaha-usaha untuk menjaga akan sehat harus terus diupayakan untuk melawan Keburukan. Tapi, sebagaimana Miskin dan Kaya, apakah kita harus khawatir terhadap Keburukan? Seberapa persen kekhawatiran kita antara Keburukan dengan Kebaikan? Kenapa kita harus khawatir terhadap Keburukan? Bukankah itu sudah sunnatulloh bahwa sepanjang zaman akan selalu ada perang antara Keburukan (kebatilan) dengan Kebaikan? Lalu, buat apa kita terlalu risau terhadap Keburukan, kalau ternyata dibalik Kebaikan pun tersirat sebuah Keburukan pula?
Saya khawatir terhadap maraknya Keburukan. Saya benci. Tapi, saya lebih khawatir terhadap Kebaikan. Ketika kebaikan menjadi sebuah topeng-topeng kemunafikan untuk meraih keuntungan sesaat, itu bisa jauh lebih buruk dari keburukan itu sendiri. Efek pengganda yang dihasilkan darinya bisa jauh lebih parah dari Keburukan yang sudah jelas adanya. Seorang pemabuk, bisa dengan tegas dilarang untuk melakukan sholat. Tapi, seorang pendusta dengan menggunakan dalil agama, sangat sulit untuk ditentukan benar-salahnya, apalagi untuk dijustifikasi keber-Iman-an dan keber-Islam-annya. Ditambah, jika pendusta tersebut memiliki kedudukan terhormat, reputasi yang selama ini dikenal baik, dan tergolong orang cendekia. Argumentasi benar-salah menjadi bias hanya karena power yang dimiliki olehnya. Inilah yang disebut dengan white-collar crime. 
Betapa berbaurnya orang-orang di dunia ini. Yang berpakaian kumal, tidak selalu berkepribadian bebal. Sebaliknya, yang berpakaian necis, tidak selamanya berkeadaban baik. Justru, betapa banyak kejahatan di berbagai negara dilakukan oleh orang-orang berdasi. Sebagaimana yang terjadi pada Amerika belakangan ini (simak lipsus Kompas Sabtu 10 Agustus 2013). Semakin pintar orang, bisa jadi semakin tidak beradab secara pemikiran dan tindakan. Parahnya, mereka diberikan kedudukan. Kekuasaan. Sehingga, apapun yang disampaikan bersifat “dalil” bukan lagi “opini”, yang dikutip habis-habisan oleh media massa. Kehancuran sistematis dimulai dari sini: disampaikan oleh lisan, diamini oleh media, diterima oleh publik, dijadikan pedoman dalam keseharian. Inilah efek domino tersebut.
Apakah mereka orang baik? Mereka baik, tapi Kebaikan mereka sekadar bungkus, berbalut topeng-topeng etika manisnya perkataan dan perbuatan. Apakah mereka terisolasi dari kehidupan nyata? Tidak. Mereka justru ada di tengah-tengah kita. Kedudukan mereka memiliki pengaruh. Bahkan bisa jadi di antara kita ada yang amat suka mendengarkan perkataan mereka (QS. At-Taubah: 47). Tetapi, sebagaimana Kekayaan, Kebaikan yang mereka himpun hanya di atas kertas yang pada akhirnya merusak dari Kebaikan itu sendiri. Jumlah mereka pun tak banyak. Sedikit, tapi menentukan.
Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka. Dan tentu mereka akan bergegas-gegas maju ke muka celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan-kekacauan di antaramu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan, Alloh mengetahui orang-orang yang zholim” (Qs. At-Taubah: 47)
Masih khawatir terhadap Keburukan? Tidak penting. Saya lebih khawatir terhadap Kebaikan. Ketika Kebaikan hanya dijalankan oleh segelintir orang. Apalagi, dari segelintir orang tersebut hanya sedikit yang senantiasa konsisten sebagai penyeru kebaikan. Orang-orang baik yang sedikit seperti inilah yang harus dicemaskan keadaannya. Karena setiap hari ujian fitnah dan cobaan terus menerjangnya. Jika ia bertahan, ia semakin kuat. Jika tidak, semakin sedikit jumlah penyeru kebaikan. Apakah akan diganti dengan yang lebih baik? Tentu iya, tapi bukan itu persoalannya. Persoalannya, Kebaikan itu barang mahal yang hanya bisa kelihatan efeknya jika dilakukan secara bersama-sama. Tidak bisa dengan sendiri-sendiri. Semakin banyak yang berguguran, semakin kecil Kebaikan itu akan terlihat nyata.
Jadi, tidak perlu khawatir dengan Keburukan. Setiap hal sudah memiliki tabiatnya masing-masing. Tugas kita hanyalah menyampaikan Kebaikan dan merawat Kebaikan itu sendiri. Jika Keburukan masih merajalela, itu berarti bukan salah kita. Bisa jadi karena Dia belum berkehendak untuk merubah keadaan suatu kaum. Atau kaum tersebut yang memang tidak mau sadar untuk berubah.
Jadi, biarkanlah Keburukan itu menjadi raya. Tidak perlu cemas. Yang kita cemaskan dan terus dorong adalah Kebaikan. Tapi, bukan Kebaikan Palsu yang dilakukan untuk menutupi Keburukan. Bukan Kebaikan yang disampaikan untuk menjaga citra diri dan legitimasi bahwa kita tetap menjadi bagian dari kumpulan orang-orang yang baik. Biarkan Kebaikan itu mengalir apa adanya. Bukan Keburukan yang berbungkus topeng Kebaikan. Bahkan, jangan sampai, broadcast sms atau whatsapp tentang Kebaikan yang kita sebar, kita sendiri yang tidak paham maksud dari isinya. Atau sekadar topeng untuk menutupi wajah bopeng kita sebenarnya. Kebaikan itu penting. Tapi, jika terlalu sering menyampaikan Kebaikan, khawatir, niatnya sudah berubah menjadi Keburukan (pamer, dan sebagainya). So, masih khawatir terhadap Keburukan? Khawatirlah terhadap Kebaikan…

 

kutipan tereliye

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s