La Solitude du Meneur


Awalnya, Bung Karno dan Bung Hatta sangat mesra. Bagai pinang dibelah dua, mereka bekerja membangun setiap sendi negeri ini secara perlahan-lahan melalui pembangunan dasar negara bernama Pancasila. Mereka sangat kompak. Bahkan, kami sebagai bagian dari anak bangsa ini bangga menjulukinya mereka berdua dengan Dwi Tunggal. Bung Karno sebagai pemimpin politik yang sangat keras, tampil mengangkat tegak dagu rakyat Indonesia. Sebaliknya, Bung Hatta yang terkenal santun, memperkuat ekonomi yang berguna untuk bangsa ini agar rakyat bisa hidup makmur tanpa terus-menerus mengandalkan pinjaman dari asing (Deliar Noer, 2012).
Sepanjang 10 tahun mereka masih mesra memimpin negeri ini. Sampai pada titik dimana terjadi pemilu pertama tahun 1955 yang membuat Bung Hatta merasa sudah saatnya terjadi regenerasi kepemimpinan dalam lingkup nasional. Ditambah, sikap Bung Karno yang jauh dari semangat presiden konstitusional dan ide untuk menghadirkan Demokrasi Terpimpin yg sangat tersentralistik yang cenderung memaksakan setiap partai yang ada untuk mendukungnya. Semua sikap Bung Karno tersebut membuat Bung Hatta meletakkan jabatannya, baik sebagai wakil presiden maupun perdana menteri yang pernah disandangnya. Singkat kata, mereka lahir dari pengasingan yang penuh kesendirian, lalu bersama, dan ditutup dengan kesendirian pilihan jalan masing-masing kembali.
Tidak jauh berbeda dengan Mahatma Gandhi. Seorang pejuang nasionalis dari India yang gencar menyerukan paham Ahimsa, Swadesi, dan Satyagraha kepada setiap rakyat India yang saat itu sedang terinvasi budaya oleh Inggris. Saat banyak anak muda menggandrungi budaya luar, diam-diam Gandhi melawan dengan caranya sendiri: anti-kekerasan dan berbusana sesuai dengan adat atau tradisi asli India. Perjuangannya tidak banyak disukai. Bahkan, di akhirnya hidupnya, Gandhi sering hidup sendiri dan, sebagaimana Winston Churchill sampaikan: Gandhi tak ubahnya seperti seorang fakir yang sedang menaiki tanggal Istana Viceregal dengan badan setengah telanjang. Gandhi, lahir, besar, dan wafat dalam kesendirian.
Seranai dengan para pemimpin dunia lainnya, Muhammad SAW dari kecil sudah berteman dengan kesendirian. Tepat ketika dalam kandungan 2 bulan, Muhammad ditinggal wafat oleh ayahnya, Abdulloh. Ketika berusia 6 tahun, lagi-lagi Beliau kehilangan orang yang dicintainya, Ibunda Aminah. 2 tahun kemudian, kakeknya, Abdul Muthalib yang jadi pengasuhnya, pun meninggal (Al-Buthy, 1977). Masa muda Beliau penuh diisi dengan kesendirian, hingga di usia 25 tahun, Beliau bertemu Siti Khadijah, seorang janda kaya raya untuk menjadi istrinya.
Alloh SWT telah menakdirkan Muhammad sepanjang hidupnya penuh dengan kesendirian, baik di masa sebelum kenabian ketika mendapatkan wahyu di Gua Hira, hingga menjelang wafatnya ketika memandang sahabatnya dengan penuh cinta ketika sholat. Tak banyak yang berhasil dibina Rasul. Bahkan ketika Rasul hijrah ke Madinah, jumlah pengikut Beliau hanya 30 orang. Tapi, dari 30 orang tersebut, barulah berkembang pengikut Islam, termasuk Hamzah dan Umar bin Khattab yang memiliki kedudukan terhormat di mata kaum Quraisy (Al-Buthy, 1977). Kesendirian melahirkan tangan dingin seorang pemimpin untuk melahirkan generasi brilian setelahnya
Kesendirian bukanlah Seorang Diri
Kalau begitu, apa makna Kesendirian bagi seorang pemimpin? Lebih jauh lagi, belajar dari ceritera di atas, apakah antara Kesendirian adalah cerminan refleksi yang melekat dari setiap Pemimpin? Apakah sama Kesendirian dengan Kesepian? Apakah berarti Kesendirian sederap makna dengan Ke-seorang diri-an? Kalau memang seperti itu, kita bisa mengambil kesimpulan: tidak mungkin ada seorang pemimpin tanpa orang yang dipimpin. Artinya, Pemimpin bukanlah ia yang setiap hari hidup dengan Kesendirian. Silogismenya, kalau kesendirian dimaknai sebagai ke-seorang diri-an, dan Pemimpin dekat dengan Kesendirian, maka tidak akan pernah ada predikat seorang Pemimpin sepanjang sejarah hidup ini.
Agaknya silogisme liar tersebut berbanding terbalik dengan apa yang dialami oleh banyak pemimpin negeri ini. Faktanya, Bapak Pembangunan negeri ini, Pak Harto, yang sangat disegani karena penghormatan atas posisi dan kehormatan atas wibawanya, mengalami kesendirian yang sangat menjelang wafatnya. Beliau mungkin masih banyak ditemani oleh keluarga dan para koleganya. Entah karena menghormati Beliau atas jasanya membangun negeri ini, atau karena sekadar ingin mencari sisa-sisa kepingan kekuasaan sepeninggal Beliau lengser keprabon dari posisi sebagai seorang Presiden RI. Singkat kata, Beliau masih tetap didampingi oleh banyak orang. Tapi, Beliau tetap merasa, sebagaimana banyak orang sampaikan, dilucuti satu-persatu kewibawaannya oleh orang-orang terdekat Beliau sendiri. Beliau merasa asing, sendiri di tengah banyaknya lemparan pujian dan cacian yang tertuju pada Beliau menjelang wafatnya. 
Kesendirian adalah Satu Tahap Menuju Hakikat
Pemimpin dan Kesendirian adalah satu utuh kepemahaman. Tidak ada seorang pemimpin yang tidak pernah merasa sendiri sepanjang hidupnya. Tapi, pasti selalu ada kamus Kesendirian dalam diri seorang Pemimpin. Maka, Pemimpin tidak pernah lahir, sepanjang sejarahnya, dari ruang-ruang keramaian. Ia tidak pernah lahir dari ajang-ajang kontes pencari bakat, tepukan riuh penonton, bahkan penilaian juri seperti yang tampak di layar kaca. Ia sudah didesain oleh alam untuk mengalami masa kesendirian dalam pengasingan, sampai ia menemukan jalan hakikat menuju Tuhannya. Singkat kata, sampai ia menemukan sendiri, hakikat kehidupan yang harus dan hanya bergantung kepada Rabb Semesta Alam. Alam hanya memberi jalan, tapi manusia itu sendirilah yang menemukan hakikat kehidupannya. Penjara, gua, dan tahajud di tengah malam adalah beberapa jalan kesendirianmenuju hakikat sesungguhnya seorang pemimpin.
Maka, tidak pernah ada Pemimpin yang sepi dari caci maki dan sanjungan pujian diri. Ia bukanlah, kata Anies Baswedan, seseorang yang tumbang ketika dicaci dan terbang ketika dipuji. Ia sudah selesai dengan persoalan syari’at (kulit) seperti itu. Oleh karena, ia sudah menemukan Hakikat Kehidupannya dalam setiap masa-masa kesendirian dalam hidupnya. Kata Umar bin Khottob: Ia yang mempesona layaknya singa di tengah keramaian di siang hari, tapi merundukkan badan layaknya rahib kesendirian di malam hari. Singkatnya, alam sudah punya caranya sendiri untuk membentuk hakikat seorang pemimpin dalam kesendiriannya.
Karena Kesendirian, adalah jalan (thoriqot) seorang Pemimpin menuju Hakikat Kehidupan sesungguhnya dalam hidup ini. La Solitude du Meneur. Kesendirian seorang Pemimpin.

 

Bung Karno, Fatmawati, dan Guntur(Bung Karno, Fatmawati, dan Guntur http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/06/06/jayalah-bung-karno-apapun-itu-artinya-468706.html )

3 thoughts on “La Solitude du Meneur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s