Ibu Peri Dokter Riri


Mari, kita flashback sejenak. Mengenang masa-masa kecil kita dahulu.

Aku punya cerita. Saat kecil, tepatnya ketika usia 5 tahun, tubuhku sangat ringkih. Napas mudah sesak, dan tidak tahan dengan kondisi udara yang sangat dingin. Kondisi ini sungguh menyulitkan ku yang sedari kecil sangat senang bermain bola dengan teman-teman sebaya. Kadang, aku merasa iri dengan mereka yang bisa berperan sebagai seorang striker atau pemain sayap yang bisa berlari kencang dengan napasnya yang sangat kuat. Sedangkan aku, paling mungkin hanya menjadi center back yang tidak banyak bergerak atau menjadi kiper yang tugasnya hanya menjaga gawang.

Pun halnya ketika olahraga atletik dan renang. Dengan lincahnya, teman-teman sebayaku sudah bisa renang dan berlari sekencang mungkin. Aku?  Sengaja selalu absen karena kondisi tubuhku yang tak memungkinkan untuk melakukan hal tersebut. Sampai pada kondisi psikologis, bahwa saya tidak mampu bersaing dalam teman-teman sebaya dalam urusan yang berhubungan dengan fisik.

Akhirnya, ibuku yang melihat kelainan ini membawaku ke rumah sakit. Akses ASKES saat itu, di sekitar tahun 96-97 sangatlah terbatas. Pelayanannya pun masih kelas 3, sehingga setiap kekurangan biaya, misalnya membeli obat, masih harus membayar sendiri. Aku ingat sampai saat ini, rumah sakit yang aku sering bolak-balik mendatangi adalah RS Persahabatan yang terletak di daerah Rawamangun, Jakarta Timur. Dengan telatennya, di tengah kesibukan Beliau sebagai guru SMP negeri, Beliau sangat peduli untuk membawaku ke rumah sakit, meskipun harus memotong gaji Beliau karena jarang masuk mengajar.

Ayahku, yang berprofesi sebagai guru pun, juga sangat sibuk mencari biaya tambahan untukku bisa berobat. Sehingga, Beliau tidak bisa mengantar aku berobat tiap kali ke rumah sakit yang jaraknya lebih dari 10 KM. Walhasil, dari rumahku di Kelapa Gading hingga ke Rawamangun, aku dan ibuku selalu menempuh dengan mikrolet, angkutan mini ibukota yang murah-meriah tapi sering menghasilkan asap knalpot yang jorok seolah tidak pernah terurus.

Berulang kali, saya masuk rumah sakit. Berganti obat: mulai dari puyer, pil, hingga obat sedot inhaler, yang hanya bisa untuk meredakan tapi tidak bisa menyembuhkan sesak napas. Akhirnya, setelah berulang kali dibawa ke rumah sakit dan berganti dokter, aku divonis menderita sakit Asma. Hampir semua dokter di rumah sakit tersebut angkat tangan untuk mencari solusi permanen bagaimana menyembuhkan sakit asmaku ini. Hingga, pada akhirnya, aku bertemu Dokter Riri, dokter cadel spesialis pulmonologi yang sudah berumur tapi masih tampak cantik

Waktu aku berusia 7 tahun, Beliau tampak seperti usia 40an tahun. Namun demikian, ia tetap cantik, dengan rambutnya yang terurai panjang, dan dengan lembutnya Beliau seolah menjadi malaikat penolong yang ada di dongeng-dongeng: turun dari langit dengan kedua sayap putihnya, menjumpai seorang anak kecil yang ringkih karena sakit yang dideritanya. Saat itu, aku yang tidak tahu apa-apa, mencoba mengikuti saja apa yang menjadi perintahnya. Karena yang aku tahu hanya satu: Ibu Peri itu datang untuk menyembuhkanku.

Beliau meminta ku  periksa darah untuk mengecek setiap alergi yang harus aku jauhi. Menurutnya, asmaku bukan karena faktor keturunan, tapi karena faktor lingkungan yang juga bisa berasal dari makanan. Untuk itulah, aku dirujuk ke Multi-Lab, tempat laboratorium uji sampel darah untuk melihat setiap derita penyakit yang dikandung oleh pasien. Tidak tanggung-tanggung, 8 tusukan jarum harus mendarat di kedua lenganku. Jadi, total aku harus menahan rasa sakit yang sangat perih 16 tusukan jarum dalam waktu kurang dari 2 jam. Bocah usia 7 tahun sudah diambil darahnya sebanyak 16 kali, Sakit!

Sampai pada satu titik, aku merasa di titik nadir, pasrah kepada Tuhan: kalau memang ini akhir dari hidupku, maka mudahkanlah pengakhirannya. Tapi, jika Engkau masih berikanku kesempatan untuk hidup, maka jadikanlah hidupku yang kedua ini bermanfaat untuk banyak orang dan menjalaninya dengan sebaik mungkin. Ibuku, yang berada tepat di sampingku, tak henti-hentinya membacakan hapalan juz 30 agar aku teralihkan pikirannya dari rasa sakit. Sesaat ingin berhenti, lanjut lagi. Sesaat berhenti, lanjut lagi. Hingga di jarum terakhir ke-16 berakhir, tubuhku lemas. Aku tak sanggup berkata apapun. Petugas lab saat itu mengizinkan aku untuk pulang untuk istirahat karena hasil pengecekan darah baru bisa dilihat besok, disampaikan langsung oleh Ibu Peri Dokter Riri.

Dengan tubuh lemas, aku pulang naik taksi. Pasrah. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Bagiku, operasi saat sunat, sudah cukup sakit. Aku trauma dengan jarum suntik. Tapi, apapun harus ku tempuh untuk kesehatanku. Life must go on, apapun itu. Sembari pulang, ibu tetap setia menemani di sampingku.

Besoknya, Dokter Riri menyampaikan hasil lab. Bahwa aku alergi dengan beberapa hal: tungau, kepiting, udang, debu-debu, dan udara yang sangat dingin. Tubuhku akan rapuh jika berinteraksi dengan hal-hal tersebut. Tapi, Ibu Peri selalu bawa kejutan: Ia memberikan kabar bahagia bahwa kelak jika aku diberi umur panjang sampai akil baligh (dewasa), aku akan sembuh karena faktor asma ku ini bukan karena faktor genetis. Sambil setengah berharap, aku berkata, “Semoga saja, Dok!”

Alhamdulillah, dengan menjalani setiap terapi yang dilakukan secara rutin, menghindari makanan yang menjadi pantangan, dan tetap berolahraga seperti biasa, sampai kini aku sehat. Tidak ada satu pun halangan kesehatan berarti yang aku alami sebagaimana aku kecil dulu. Kini keberadaan Dokter Riri sudah entah dimana, sudah seperti apa, dan bagaimana kabarnya. Yang aku tahu, ada malaikat cantik yang saat itu datang menyapaku, berwajah Ibu Peri, bernama Dokter Riri. Kalau pun, saat ini dia masih hidup aku ingin bertemu dengannya sampaikan ucapan terima kasih. Jika sekarang ia telah kembali ke sisi-Nya, aku ingin menziarahi kuburnya dan mendoakan tiap malam agar diberikan cahaya di Padang Mahsyar sana.

Yogyakarta, 30 November 2013

RS Persahabatan Rawamangun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s