Merawat Akal Sehat: Cara Mensyukuri Segala Nikmat


bersykur ITak seperti biasanya, malam ini, saya pulang dari kantor dengan kecepatan motor tak lebih dari 60 km/jam. Bukan karena sebab perjalanan di Jakarta yang masih macet sekitar pukul 06.30 pm, tepat saat-saatnya jam pulang kantor. Bukan. Bukan karena itu. Jika diniatkan, mungkin saja saya ambil gas di atas 70 km/jam sehingga dapat menghemat waktu pulang hingga 20 menit lebih cepat.

Tapi, ini soal pikiran yang mengganjal di kepala. Tiba-tiba seolah ada hal yang harus dipikirkan lamat-lamat sepanjang perjalanan pulang. Pentingkah? Mungkin saja penting. Kalau tidak penting, kenapa sampai saya jadikan teman sepanjang perjalanan pulang. Bahkan sebegitu pentingnya, terkadang saya harus meneteskan beberapa titik air mata. Tanpa sadar.

Sepanjang perjalanan pulang itu, saya banyak belajar tentang kehidupan. Terutama, soal mensyukuri setiap nikmat yang diberikan oleh-Nya – di tengah segala kemaksiatan yang tiap harinya saya lakukan. Sebagai hamba yang seringnya kufur akan nikmat dari-Nya, diri ini dihadapkan pada satu fakta bahwa: ternyata ada, bahkan banyak rekan-rekan di kantor, yang diberikan gaji per bulan lebih rendah dibandingkan saya. Bahkan, beberapa di antara mereka telah berposisi sebagai seorang kepala rumah tangga yang sudah tentu memiliki kewajiban untuk memberi nafkah kepada keluarganya

Menurut saya, ini bukan soal kapasitas kemampuan seseorang yang berbanding lurus dengan hak yang sepantasnya. Bukan. Jauh daripada itu. Kalau sekadar persoalan gaji yang kaitannya dengan kemampuan seseorang, itu persoalan kelembagaan yang bersifat eksternal. Tapi, ini kaitannya terhadap persoalan internal-individual: bagaimana saya mampu bersyukur atas segala nikmat dan menginsyafi setiap rezeki yang diberikan tersebut untuk berbuat lebih baik dari hari ke hari.

Ujian: Bukan Hanya Saat Susah, tapi Juga Saat Senang.

Bisa jadi, kita lebih mudah diuji dengan kesabaran saat dilanda kesusahan. Tapi, berapa banyak di antara kita yang tetap eling lan waspada saat diuji dengan kesenangan. Tetap mawas diri saat diuji dengan segala nikmat kemudahan, serta kelapangan hidup dan waktu. Ini lagi-lagi bukan berarti kita tidak bersyukur. Bukan. Bukan itu. Tapi, ini soal bagaimana kita belajar: rezeki berlebih yang Dia berikan kepada kita tersebut, untuk apa akan dihabiskan.

Lalu, apakah itu berarti Alloh tidak adil kepada hamba-Nya yang semestinya mendapatkan lebih karena perannya sudah sebagai kepala rumah tangga? Tidak juga. Yang paling mengetahui sesuatu adalah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Prinsip keadilan tidak didasarkan pada ukuran materi (hardware) antar sesama manusia. Tapi, ukuran keadilan ditentukan berdasarkan kemampuan manajerial seseorang dalam mendayagunakan seluruh potensi yang dimilikinya (software).

Kalau ada orang yang berkemampuan minim, lalu dia dikasih rezeki berlebih untuk mengelolanya, maka yang mungkin terjadi adalah kemudharatan baik kepada dirinya maupun keluarganya. Karena dia tidak mengerti bagaimana mengatur nikmat rezeki tersebut. Sebaliknya, kalau ada orang yang berkemampuan mumpuni, lalu dikasih rezeki yang kurang dari yang dibutuhkan, maka yang terjadi adalah kemudharatan bagi umat karena menjadi tidak optimal dalam melayani umat. Nah, mekanisme untuk menjaga kesetimbangan untuk saling memberi antara The Have dan Not Have tersebut, itu melalui adanya ZIS: Zakat, Infaq, dan Shodaqoh. Itu menjadi kewajiban mutlak bagi seorang muslim untuk membantu saudaranya yang kesusahan.

Dengan kata lain, setiap nikmat itu selalu meminta kita kesadaran untuk berpikir: untuk apa dan kemana saja segala nikmat tersebut digunakan. Kesadaran berpikir ini pada gilirannya yang akan menjaga akal sehat untuk tidak dimabuk akan segala nikmat: Saat susah, tetap bersabar; saat senang, harus bersyukur.  Jika kesadaran berpikir tersebut hilang dari porosnya, maka yang ada adalah: saat susah kita mengeluh, saat senang kita angkuh. Sehingga, merawat akal sehat juga bagian dari kita menjaga agar segala perasaan jiwa kita tetap stabil bagaimana pun kondisinya.

Mudahkah? Tentu tidak. Butuh pelatihan yang intens setiap waktunya. Namun yang jelas, berpagi-pagi Al-Qur’an diturunkan 15 abad silam, Dia telah mengingatkan setiap hamba-Nya untuk tidak lalai dari setiap ujian yang diberikan kepadanya. Kelalaian tersebut disebabkan karena kekaburan akal sehingga mengelabui nurani dan menutup mata untuk mengetahui. Maka, merawat akal sehat adalah bagian dari untuk menjaga kesetimbangan tersebut: agar bagaimana tipu daya ujian itu senantiasa diwaspadai agar tidak larut dalam ujian, lalu tiba-tiba hancur lebur atas nama kufur nikmat.

“ Maka apabila manusia ditimpa bahaya, ia menyeru Kami. Kemudian, apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata, “Sesungguhnya, aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku”. Sebenarnya itu adalah ujia, tetapi kebanyak mereka itu tidak mengetahui” (QS. Az-Zumar: 49)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s