Ceritaku tentang Kampung UGM: Soal Bullying (1st chapter)


kampung UGM

Well. Sudah sekitar ini dua bulan lebih, saya tidak menulis di blog pribadi ini. Agak miris, karena ternyata, dunia kerja secara tidak langsung membuat waktu produktif kita untuk menulis dan membaca menjadi berkurang. Dalam jangka panjang, ini berbahaya. Karena akan memunculkan bibit-bibit minim kearifan yang lahir dari membaca, dan juga kemunduran intelektual untuk dalam membangun narasi ide dari setiap dinamika sosial-politik yang sedang berlangsung.

Proses self-awarness ini, alhamdulillah, saya rasakan betul. Awarness itu setidaknya dari terukur dari mulai hampir tidak pernah lagi kirim tulisan opini ke media, menyelesaikan bacaan buku, bahkan untuk mengirimkan paper untuk konferensi internasional. Saya menduga, kekhawatiran ini tidak sekadar dialami oleh diri ini pribadi, tapi juga bagi mereka yang selama di kampus aktif menghadirkan gagasan ke publik, lalu tiba-tiba saat sudah lulus dan diterima bekerja, mereka menghabiskan sebagian besar waktunya untuk day to day kepentingan pekerjaannya.

Ah, tapi beruntungnya, saya masuk ke dalam sebuah grup bernama Kampung-UGM, baik di grup FB atau di Telegram. Bagi saya pribadi ini grup gokil (baca: aneh bin ajaib bin ngocol). Karena isinya campur-campur: lebih banyak soal politik, tapi juga tak jarang bully-membully satu dua orang. Saya ingat, pertama kali gabung di grup FB Kampung UGM ini dimasukkan oleh Ibu Andi Rahmah pada tahun 2011, sedangkan gabung di grup telegram Kampung UGM baru-baru saja itu pun juga karena saya baru menginstall-nya.

Kenapa saya bilang beruntung? Karena ternyata saya “di-bully” habis-habisan di grup ini,  tentang yang biasa anak muda bujang hadapi: soal jodoh-menjodohkan . Menarik, karena setidaknya, “bullying” ini memaksa saya membuat tulisan satu-dua halaman untuk merekam setiap dinamika yang terjadi di grup dalam bentuk tulisan. Dengan kata lain, dinamika yang terjadi secara keseharian kita, sebenarnya, dapat dijadikan sebuah narasi besar jika kita kaitkan dengan konteks makro, mengkomparasikannya dengan case lain, dan menarik hikmah di dalamnnya. Walaupun, bully-ing nya soal “cocok-mencocokkan”, tapi setidaknya, saya menganggap itu bagian dari kita memperluas silaturahim dan mendewasakan kita dalam berkomunikasi di dunia maya dengan banyak dan beragam kalangan.

Sehingga, bullying itu sebenarnya sebuah kewajaran dalam dinamika kehidupan kita antar sesama manusia (habblumminannas). Meskipun berpeluang untuk melampaui kewajaran, tapi, setidaknya, semua itu kembali kepada diri kita masing-masing: seberapa kuat kita berpegang teguh pada pendirian dan tidak terbawa pada arus emosi sehingga menghilangkan akal sehat untuk menanggapinya. Di sinilah makna dari silaturahim: silaat warahim (menyambung dan memberikan kasih sayang)

Proses memperluas silaturahim ini, harapannya, tidak berhenti sampai di dunia maya saja. Karena, dunia ini penuh topeng, terlebih dunia maya. Maka, kehadiran kita di dalam dunia nyata (baca: kopdar), tampaknya akan lebih bermanfaat dan akan benar-benar menginsyafi apa itu makna silaturahim sesungguhnya. Kalau kata Rasul, perbanyaklah bersilatuhim karena akan memanjangkan usia dan menambah rezeki.

“Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturahim.” (H.R Bukhari)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s