Pulitzer, Media Gurem, dan Pembangunan Opini


 

Media-media di Indonesia tampaknya harus banyak belajar dari media-media internasional, khususnya di Amerika Serikat, dalam melakukan pengemasan berita, baik dalam bentuk artikel maupun foto. Pasalnya, pada pemilu 2014 silam, media-media di Indonesia terlibat intensif dalam pertarungan opini publik dalam dukung-mendukung dua kandidat capres yang bertarung. Hal tersebut, tak ayal, tidak sekadar membuat opini publik ikut terbelah, melainkan juga kohesi sosial kebangsaan menjadi berpotensi terpecah

Pertarungan opini publik tersebut bisa terpecut dari beberapa hal dalam media, misalnya penggunaan paraphrase dalam judul, spinning opinion dalam kesimpulan, atau lead dalam suatu berita. Singkatnya, setiap artikel berita yang disampaikan memiliki pesan tertentu: apahidden agenda dibalik pemberitaan tersebut? Untuk publik yang telah memiliki budaya literasi yang cukup, ia tidak akan percaya pada “pandangan pertama”, tapi, sulitnya, bagi mayoritas publik yang memiliki “sumbu pendek”, pelintiran artikel berita tersebut akan dipahami berbeda dan mengoyak-ngoyak emosi pembaca
fgfdgfdgdfgfdgkdfgmfklmgkldfmgkldfmgklmfdklgmdfklmgkldfmg
Menakar Kekuatan Media dalam Politik
Para pakar media yang berasal dari Universitas San Fransisco California (2012) menjelaskan: Media is the fourth state. Media telah menjadi “negara keempat” dimana peranannya sudah setara dengan lembaga eksekutif, yudikatif, hingga legislatif sekalipun. Hal tersebut sebagaimana telah dijalankan Amerika saat harus bertarung melawan Vietnam dalam Perang Vietnam. Meskipun pada akhirnya kalah, Amerika telah berhasil membentuk “frase khusus” dalam laporan pemberitaan yang dilakukan
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
Sebagai contoh, Departemen Pertahanan Amerika menggunakan istilah “pemindahan paksa warga sipil” dengan istilah “relokasi”, atau istilah “kebohongan” menjadi “elemen-elemen kesenjangan kredibilitas”. Amerika paham bahwa dengan dengan mengggunakan istilah yang lebih hati-hati dan soft tersebut, membuat perang menjadi tidak terlalu menakutkan bagi banyak orang, Perang bukan didanai dari pajak tapi dilakukan untuk memperbaiki pajak, begitu semboyannya
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
Dengan kata lain, dalam rantai panjang pembangunan isu publik, Media adalah awal dari rantai tersebut, tapi meskipun demikian, Media memiliki berpengaruh kuat dalam percaturan politik yang terjadi di negara pun, hingga menentukan proses akhirnya
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
Mengapa Pulitzer?
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
Penghargaan Pulitzer adalah penghargaan tahunan bagi media-media di Amerika Serikat yang terbagi dalam 21 kategori: Layanan Publik, Liputan Berita Terbaru, Liputan Investigasi, Liputan Explanatory, Liputan Lokal, Liputan Nasional, Liputan Internasional, Penulisan Feature, Komentar, Kritik, Tulisan Editorial, Kartun Editorial, Foto Berita Terbaru, Fiksi, Drama, Sejarah, Biografi, Puisi, Non-FIksi Umum, dan Musik
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
Dikutip dari situs pulitzer.org, penghargaan ini dinilai sebagai penghargaan prestisius dalam bidang jurnalisme cetak di Amerika. Dengan mengambil momen di Bulan April, penghargaan ini diberikan pertama kali pada 4 Juni 1917, dengan diambil dari nama Joseph Pulitzer seorang wartawan investigasi pada koran new York World. Untuk lebih menilai secara objektif sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalisme, maka Columbia University Graduate School of Journalism menjadi tim penilai independen untuk menentukan peraih penghargaan tersebut.
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
Kekuatan penghargaan Pulitzer terletak pada Jurnalisme Investigatif. Mulai dari penulisan berita, hingga foto yang dinominasikan, tidak sekadar bernilai artistik tapi juga bernilai investigasi. Untuk kategori jurnalistik, misalnya, penghargaan Pulitzer 2015 diraih oleh kota The Post and Courier dari Charleston, Amerika Serikat. Media gurem yang hanya memiliki 80 karyawan dan oplah 85.000 eksemplar tersebut, faktanya, berhasil meraih medali untuk kategori pelayanan publik, karena mengisahkan tentang tingginya jumlah kematian wanita akibat kekerasan rumah tangga yang dilakukan oleh laki-laki yang terjadi di negara South Carolina
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
The Post and Courier tidak satu-dua bulan menuliskan laporan tersebut. Redaktur Eksekutifnya, Mitch Pugh, bahkan mengatakan laporan investigasi tersebut dilakukan hingga delapan bulan dalam tulisan yang sangat panjang. Dampaknya, dari tulisan investigas ini, kini angka kematian tertinggi wanita di seluruh negara bagian Amerika Serikat tersebut, perlahan mulai menurun
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
The Washington Post, bekerjasama dengan media Inggris, The Guardian, bahkan tahun lalu juga mendapatkan penghargaan tersebut karena menerbitkan serangkaian bertia tentang kegiatan penyadapan Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat, yang dibocorkan oleh Edward Snowden dalam wikileaks. Kini, wikileaks, menjadi salah satu alat politik untuk menekan kedaulatan suatu negara agar mengikuti kemauan suatu negara, seperti terjadi antara hubungan Indonesia dan Australia silam tentang Hukuman Mati Narkoba
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
Belajar dari Pulitzer
 
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
Apa yang bisa dipetik dari Penghargaan Pulitzer tersebut? Apa pesan yang ingin disampaikan kepada seluruh awak media beserta publik yang membacanya? Apa efek signifikan dari pembangunan opini publik menyangkut tatanan sosial-politik tanah air?Kita belajar banyak dari penghargaan ini. Bukan dalam konteks sematan simbolisnya, tapi pada kemampuan para awak media untuk memberikan second opinion, alternatif berita dari media-media mainstream yang sudah ada dengan kekuatan kapital dan jejaring yang sangat massif. Bahwa media tidak berdiri di atas kakinya sendiri. Ia tidak bebas nilai. Setiap pilihan kata (diksi), lead, hingga, judul yang disampaikan punya makna sendiri.kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
dkfmlkfdgmdfgfdg

Media gurem tidak selamanya gurem dari segi pemberitaan. Bisa jadi ia sedang mengabarkan fakta sesungguhnya, yang lebih nyata dibandingkan media kapital pada umumnya. Ia bisa menjadi alternatif saat media mainstream sering menjadi perpanjangan tangan pemerintah untuk melegitimasi kebijakannya. Kalau kebijakan tersebut benar, tercerahkan lah masyarakat, tapi jika salah? wallahu ‘alam bisshowabkfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
dgdfgfdgdfgdfgdf
Kita ingat, apa kata Cokroaminoto saat surat kabar Oetusan Hindia ingin dibredel Belanda karena mengabarkan perlawanan , “Siapa yang sebenarnya mengabarkan kebohongan? Anda sebut ini perlawanan, tapi kami sebut ini kebenaran”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s