Too Muck Talk Will Kill You


foto: ist

foto: ist

“Barangsiapa yang banyak perkataannya, niscaya banyaklah kesalahannya. Barangsiapa yang banyak salahnya, niscaya banyaklah dosanya. Dan barangsiapa yang banyak dosanya, niscaya neraka lebih utama baginya” (Umar bin Khattab ra.)

 

Bisa jadi, salah satu yang membedakan hidup di era kini (pasca reformasi) dengan sebelumnya adalah soal kebiasaan untuk mengeluarkan pendapat. Kebiasaan untuk berkomentar tentang hal apapun yang sedang menjadi pembahasan di publik. Ciri khas budaya – yang katanya – demokrasi tersebut, terlihat dari bagaimana riuhnya pertarungan wacana yang beredar di media sosial: mulai dari yang sekadar asal njeplak, berilmu, hingga berwacana dengan menggunakan ilustrasi (meme)

Ayahku pernah bilang, waktu Beliau masih muda, di zaman Pak Harto jangan coba-coba untuk berkonfrontasi dengan pemerintah. Jangankan memberi ruang untuk konfrontatif, berbeda pilihan meskipun tidak mengambil sikap melawan pun, akan berlaku hukum stick and carrot terhadapnya. Penjara-penjara memang disesaki banyak orang yang melawan rezimnya, tapi itu tak seberapa dibandingkan pemenjaraan pikiran yang diam-diam menyusup di dalam alam bawah sadar bangsa ini. Rezim Soeharto begitu kuat, tapi tipis bedanya dengan otoriter. Begitu tutur Ayah.

Sebagai seorang yang lahir di era transisi dan mendapat penjelasan dari Ayah tersebut, kini aku tahu titik dasar persoalannya: bukan karena dilarang berpendapat di muka umum, tapi substansi yang disampaikan dan efek domino yang ditimbulkan darinya kepada khalayak ramai. Kini kita rasakan itu. Kita rasakan betapa sebagian besar waktu dan emosi kita habis untuk menanggapi suatu hal yang sangat mungkin di luar kapasitas keilmuan, wawasan, serta pengalaman kita terhadapnya.

Sulitnya lagi, media melakukan kapitalisasi atas wacana yang berkembang liar di masyarakat tersebut. Bagai mengayun di antara dua ombak, media seakan menjadi perahu yang berselancar di atasnya dan paling berhak menentukan kemana arah layar pemberitaan yang diinginkannya. Kita sebagai penumpang? Tidak punya pilihan, selain ribut dan tidak membuat sekoci sendiri untuk mencoba keluar darinya.

Susahnya, tidak semua kita dibekali ilmu berenang di lautan lepas pemberitaan. Susahnya lagi, tidak semua kita diajarkan untuk membuat sekoci sendiri untuk tetap mengikuti pemberitaan tapi tidak terjebak dalam kapitalisasi media. Dan yang lebih susah lagi, tidak semua kita belajar teknologi membuat kapal terbang sehingga bisa melakukan helicopter view dalam setiap tren pemberitaan.  Poinnya, pada penguatan keilmuan dan tidak sekadar berwacana di muka umum.

Di satu sisi, Rezim Soeharto itu benar: masyarakat dibiasakan untuk tidak yang penting bicara. Tapi, kekuasaan yang tidak dikawal dan dibatasi pun akan tends to corrupt (Lord Acton) . Di sisi lain, bicara yang penting saja menuntut seseorang untuk memahami betul teks dan konteks setiap wacana yang ia sampaikan ke publik. Teks berkaitan dengan hal yang disampaikan, sedangkan konteks berkaitan dengan dampak (social cost) yang timbul dari setiap orang yang mendengar, melihat, atau membacanya. Sehingga, level yang harus ditapaki bukan lagi sebatas butuh keilmuan tapi juga butuh kearifan saat menyampaikan pendapat, baik dalam bentuk tulisan maupun pembicaraan

Bagai membuka kotak pandora, negeri kita memang baru belajar berdemokrasi secara substansif. Banyak serangga-serangga demokrasi yang membawa racun yang keluar dari kotak tersebut. Kita hanya perlu bersabar menunggu peri kecil hadir dari kotak tersebut, sambil belajar agar imun hadapi serangga-serangga beracun demokrasi. Salah satu pembelajaran yang dapat dipetik adalah belajar untuk menahan diri dari setiap pertarungan wacana, sambil menyiapkan diri kelak saat kita dimintai pendapat di forum terhormat dan disaksikan banyak orang dengan penuh khidmat.

Kalau Queen pernah bilang too much love will kill you, maka bangsa ini perlu menggantinya dengan too much talk will kill you

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s