Ghost Fleet, Hawking, dan Narasi Terselubung

Ramai. Dunia sosial media dan para politisi di negeri ini heboh soal Novel Ghost Fleet. Perdebatan terjadi antara mereka yang menganggap otentifikasi keilmiahan dari sebuah novel, serta mereka yang menganggap novel tersebut bagian dari future prediction secara emosional – terlepas dari narasi saintifik yang dibangun.

Di antara para pengagum dunia strategic intelligence, kehadiran Ghost Fleet bukanlah hal yang baru. Apa yang disampaikan jenderal itu dalam sebuah forum, bukanlah sebuah hal yang mewah. Ia juga bukan orang sembarangan tentu dalam mengutip. Pengalamannya berpuluh tahun di dunia kemiliteran internasional dan dalam negeri, tentu sangat berhati-hati dalam menyampaikan suatu narasi.

Jadi, tulisan ini memuji-muji tentangnya? Bukan. Tulisan ini ingin sampaikan bahwa kajian future prediction yang berbasis pada strategic intelligence itu bukanlah hal yang baru. Banyak – saya menyebutnya dengan – Narasi Terselubung yang dibangun bukan dari kajian bersumber dan dirumuskan secara ilmiah.

Sifatnya memang lebih dekat pada propaganda. Advokasi Kebijakan. Ia tidak membaca ruang secara retroaktif tapi melihatnya secara progresif, dari sebuah tanda serta gejala yang mengiringinya. Implikasinya bisa banyak: Menjadi antisipatif atau curiga dengan penyampai pesan. Itu pilihan.

Narasi Terselubung itu memang dibangun “diam-diam”, mengikuti tren zaman dan berupaya masuk ke alam bawah sadar. Ia masuk lewat banyak cara: food, fashion, sport, novel, dan sebagainya. Narasinya begitu halus, sampai-sampai kita tidak sadar: apakah ini benar atau tidak?

RFID dan pemasangan barcode ke dalam tubuh (microchip implant), adalah bukti lain. Sistem teknologi masa depan itu sudah jauh diulas dalam sebuah novel. Setidaknya, dari yang saya baca, novel itu telah terbit di awal tahun 2000-an ini – tentu dalam konteks ini tidak perlu dipublikasi judulnya, bahkan berbahasa Indonesia. Dan kini, dunia sedang menuju ke sana untuk penerapan teknologinya: anda bisa bayangkan betapa bayi yang lahir langsung dipaksa untuk dipasang chip?

Sejalan, film sci-fi – tanpa sebut judul filmnya – yang memuat teknologi Hologram dan Softlens Teknologi Kamera sudah diperkenalkan dalam film tersebut sebelum tahun 2010. Kini,Google X Lab sedang mencoba memproduksi massal, khususnya bagi pekerja yang terlibat di industri manufaktur. Apakah itu film itu sekadar fiksi?!

Atas dasar itu, August Cole bertanya kepada sesama kolega penulis novel tersebut, “fiction, not prediction, right?”. Jawab, Peter W. Singer, “Ask the Indonesian general..”. See that? Penulis novelnya sendiri tidak yakin fiksi atau benar-benar prediksi.

Terakhir, mungkin kita perlu banyak belajar dari Hawking. Wafatnya, seorang fisikawan dunia itu telah membuka mata kita tentang banyak hal di dunia ini yang di luar nalar. Hawking menyebutnya dengan istilah “Semesta Mengejutkan”. Tesis ini ia sampaikan untuk sekaligus membantah pernyataan Einstein bahwa Tuhan Tidak Bermain Dadu. “Bukan,” kata Hawking, “Tuhan Bermain Dadu. Bahkan, Tuhan juga membingungkan manusia dengan melemparkan dadu ke tempat yang tidak terlihat”. Semesta berkehendak, di luar nalar. Tuhan punya caranya sendiri mengatur manusia – sekehendak-Nya. Kita cukup mengimani-Nya.

Wallahu’alam bisshowab.

Iklan

Nietzsche dan Proses Keberimanan Kita

Suatu ketika seorang Filsuf Besar, Nietzsche pernah membuat sebuah buku berjudul “Also Sprach Zarathustra”.

Kira-kira, kalau dalam pemahaman Goenawan Mohammad dalam tulisannya di Majalah Tempo yang berjudul “Akhir”, intisari dari buku tersebut bahwa manusia adalah keragaman sejarah yang tak selesai. Nietzsche sendiri, kata Goenawan Mohammad, menggambarkan manusia sebagai sosok yang selalu berada di jembatan atau tali titian di atas jurang. Ia bukan makhluk monokrom, hitam-putih, yang tidak bisa disimpulkan begitu saja. Arus perjalanan hidupnya, tidak ditentukan satu dua momen, tapi sepanjang hidupnya.

Maka, dalam dimensi transendental, proses keberimanan dan keberagamaan kita juga demikian: ia kadang naik-turun, keluar-masuk. Al-imaanu yaziidu wa yanqus. Iman juga tergantung pada lingkungan dan sahabatnya ia bergaul: jika kamu berteman dengan pandai besi, maka kau akan ikut pula berbau besi. Tapi, jika kau berteman dengan penjual minyak wangi, maka kau pun juga akan turut wangi. Begitu kira-kira dhawuh-nya Kanjeng Nabi. Begitu rapuhnya kita sebagai manusia.

Maka, dalam situasi keberimanan yang vulnerable itu, kita memang perlu menjaga batas toleransi (tasamuh) kepada orang di luar kita: membiarkan mencari sendiri jalan hidupnya sampai ia menemukan bentuk yang ideal menurutnya. Ber-amar ma’ruf.

Tapi, di saat yang bersamaan, konsekuensi keberimanan juga punya kewajiban lain: ber-nahi munkar kepada sesama manusia. Mencegahnya, mendoakannya, dan mengingatkanya dengan cara yang ahsan. Wa jaadilhum bil latii hiya ahsan.

Dengan demikian, manusia sebelum ajalnya datang bak lukisan yang masih terus dikanvas. Kita belum bisa menilai lukisan itu sampai menganvas itu selesai. Tapi, dari cara pelukis menganvas itu, kita sudah tahu kira-kira bagaimana bentuk akhir dari lukisan yang dibuat. Di sanalah Takdir Tuhan dan Kehendak Manusia bermain.

“..dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata”. (QS Al An’aam 59)

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka” QS 13:11

Wallahu ‘alam bis showaab.

Jakarta, 14 Maret 2018

Jikalau Anda Dizolimi…

Jikalau anda dizolimi, tenang dulu. Jangan langsung marah. Ambil segelas kopi, seduh dengan panas sekali, sambil nikmati hari dengan penuh ceria di hati.

Jikalau anda dizolimi, mungkin bisa jadi anda kurang introspeksi. Lebih banyak menilai orang lain daripada diri sendiri. Jadi, kalau anda dizolimi, seolah-olah itu bukan berasal dari kita pribadi.

Jikalau anda dizolimi, perbanyaklah istighfar. Minta ampun kepada Gusti Alloh. Mungkin terlalu percaya diri bahwa segalanya tergantung pada amalan kita. Padahal, ada Dia yang menentukan segala isinya.

Jikalau anda dizolimi, baiknya cari tahu apa kesalahan anda. Biar bisa lebih baik dalam beretika. Tapi, jika tidak pernah disampaikan alasannya, berarti memang ada pihak yang berniat menyingkirkan anda.

Jikalau anda dizolimi, tetaplah berfikir positif. Bisa jadi Gusti Alloh akan kasih yang lebih baik. Bukankah sabda-Nya, “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku?”

Jikalau anda dizolimi, tetaplah jaga silaturahmi. Karena rezeki, tidak tahu dari tangan siapa ia akan mengalir. Min haytsu laa yahtasib.

Jikalau anda dizolimi, itu tanda untuk berteman lebih hati-hati. Tidak semua orang punya maksud baik, bahkan seringnya dibungkus dengan senyuman nan menarik.

Jikalau anda dizolimi, tetaplah jalani hari. Bangun terus reputasi diri. Perbanyak prestasi. Karena yang namanya emas akan selalu berkilau, meskipun telah dipotong dan dibuang ke danau.

Jikalau anda dizolimi, perlu sesekali bangun perlawanan. Tapi, jangan berlebihan. Yang terpenting, perbanyak doa yang dipanjatkan. Karena Gusti Alloh sebaik-baik pemberi balasan. Wa makaruu,  wa makaralloh, wallohu khoyrul maakiriin.

 

                        sumber: konsultasisyariah.com

 

Bincang Bersama Sesepuh: Sebuah Proses Mencari Makna

Semalem, sekitar pukul 9, saya ngobrol banyak dengan salah seorang pengurus masjid di Kalibata. Bapak Rusdi, namanya.

Beliau cerita banyak tentang kondisi masjid, kondisi sosial-politik nasional, hingga persoalan keluarganya..

Dilihat dari perawakannya, saya mengira usia Beliau selisih sekitar 25 tahun dari saya. Rambut dan jenggotnya yang memutih, bicaranya yang pelan, sampai banyaknya pengalaman hidup yang Beliau ceritakan, cukup mewakili dari rentanya usia Beliau.

Apa yang saya dapatkan dari momen itu adalah bahwa soal bagaimana kita memaknai sebuah hidup. Betapa, dalam aktivitas keseharian, seringkali kita kehilangan makna tentang apa yang kita jalani, apa yang kita pikirkan, serta apa yang kita ucapkan.

Bekerja adalah aktivitas kita menjemput rezeki-Nya. Iya. Itu betul. Tapi dalam kerangka aktivitas itu, manusia punya ruhiyah yang tidak dipungkiri akan menentukan motif ia dalam menjemput rezeki itu. Jika ruhiyahnya kosong dari orientasi langit, maka tak ubahnya seperti mesin yang terus bekerja di bumi tapi tanpa makna.

Pak Rusdi, alumni ITB itu, terus mendidik anaknya agar menjaga kehalalan rezeki dari tangan yang dihasilkan dari pekerjaannya.

“Saya tidak ingin dari jari-jari saya ini, nak,” begitu Beliau memanggil saya,” lahir sesuatu yang haram untuk anak-anak saya.

“Setiap botol susu yang saya beli,” tambahnya,” tidak ingin dibeli dari sesuatu yang syubhat,”

Saya mendengar tiap kata lirih yang ia sampaikan. Penuh makna. Dalam. Seperti keluar dari rongga hatinya yang paling jernih, hingga tak ada sedikit pun yang tertinggal. Hati kami seperti bertaut, meskipun jarang sekali bertemu. Tapi dari tiap kata yang ia sampaikan, sangat jelas ajaran integritas yang ingin Beliau sampaikan ke saya.

“Hidup bukan untuk mengeluh dan mengaduh,” jelasnya. “Jalanilah setiap momen hidupmu saat ini, seberapapun kamu tidak merasa nyaman terhadapnya. Tapi, yakinlah, di luar sana, banyak orang yang antri ingin beraktivitas baik sepertimu,” ujarnya lembut seperti menangkap sesuatu dariku.

Akhirnya, kami berpisah sekitar pukul 11 malam. Kami tutup obrolan sembari cicipi sesobek roti bakar dan segelas jus jambu saat itu. Terakhir, yang saya ingat dari Beliau: selalu naik turun tangga di pagi dini hari, hanya untuk ambil air wudhu sholat shubuh berjamaah di masjid.

Allahu yarham. Rahmati orang-orang sepuh seperti Beliau. Berkahi hidup mereka yang senantiasa jadi suri tauladan di tengah masyarakat, meski tanpa sorotan kamera dan media. Dari mereka, kami belajar ketulusan. Dari mereka, kami belajar menjadi baik terus dan terus dari waktu ke waktu.

Yaa muqollibal quluub tsabbit quluubana ‘alad diinik.

kamis 23 Maret 2017

 

995589_10202041313386779_616799442_n

Yang Mahal Itu..

Yang mahal itu kesendirian. Menikmati setiap detik waktu berjalan dan memaknai setiap pergantian fase hidup yang Tuhan berikan. Bukan tidak mungkin, padatnya pekerjaan, menjadikan kita buruh-buruh bagi berputarnya peradaban.

Yang mahal itu menjadi teladan. Saat setiap orang hanya ingin menjadi ikutan, sungguh sedikit yang mau menjadi panutan. Semua menunggu untuk diatur, khawatir takut digusur kalau kebanyakan bertutur.

Yang mahal itu diam. Berapa banyak tempat yang kita isi dengan riuhnya percakapan, hingga kadang mengeraskan jiwa-jiwa kemanusiaan. Hidup yang digerakkan otot mulut hanya membuat orang menjadi saling sikut untuk sekadar mengenyangkan perut.

Yang mahal itu rindu. Rindu untuk saling bertatap muka penuh cinta dan makna. Rindu yang dihiasi dengan saling mendoakan agar tetap berjalan dalam jalan-jalan keberkahan. Rindu yang tak bertepi ruang dan waktu. Selamanya, di tiap sujud tetap mendoakanmu.

Yang mahal itu belajar. Belajar untuk mau mendengar. Belajar untuk mau melihat lebih dekat . Belajar untuk mau dididik untuk menjadi lebih baik. Belajar kepada siapapun, dimanapun, dan dalam kondisi apapun.

Yang mahal itu sujud di waktu malam. Bertemu dengan Tuhan-mu di antara nikmatnya pembaringan. Dengan berbalur dosa, kita memohon pengampunan. Mohon ampun dari segala kekhilafan dan kedustaan yang kita lakukan. Qum Fa andzir! Bangun dan serulah Tuhan-mu.

Yang Mahal itu…


*gambar: muhammakiify.files.wordpress.com

 

Too Muck Talk Will Kill You

foto: ist

foto: ist

“Barangsiapa yang banyak perkataannya, niscaya banyaklah kesalahannya. Barangsiapa yang banyak salahnya, niscaya banyaklah dosanya. Dan barangsiapa yang banyak dosanya, niscaya neraka lebih utama baginya” (Umar bin Khattab ra.)

 

Bisa jadi, salah satu yang membedakan hidup di era kini (pasca reformasi) dengan sebelumnya adalah soal kebiasaan untuk mengeluarkan pendapat. Kebiasaan untuk berkomentar tentang hal apapun yang sedang menjadi pembahasan di publik. Ciri khas budaya – yang katanya – demokrasi tersebut, terlihat dari bagaimana riuhnya pertarungan wacana yang beredar di media sosial: mulai dari yang sekadar asal njeplak, berilmu, hingga berwacana dengan menggunakan ilustrasi (meme)

Ayahku pernah bilang, waktu Beliau masih muda, di zaman Pak Harto jangan coba-coba untuk berkonfrontasi dengan pemerintah. Jangankan memberi ruang untuk konfrontatif, berbeda pilihan meskipun tidak mengambil sikap melawan pun, akan berlaku hukum stick and carrot terhadapnya. Penjara-penjara memang disesaki banyak orang yang melawan rezimnya, tapi itu tak seberapa dibandingkan pemenjaraan pikiran yang diam-diam menyusup di dalam alam bawah sadar bangsa ini. Rezim Soeharto begitu kuat, tapi tipis bedanya dengan otoriter. Begitu tutur Ayah.

Sebagai seorang yang lahir di era transisi dan mendapat penjelasan dari Ayah tersebut, kini aku tahu titik dasar persoalannya: bukan karena dilarang berpendapat di muka umum, tapi substansi yang disampaikan dan efek domino yang ditimbulkan darinya kepada khalayak ramai. Kini kita rasakan itu. Kita rasakan betapa sebagian besar waktu dan emosi kita habis untuk menanggapi suatu hal yang sangat mungkin di luar kapasitas keilmuan, wawasan, serta pengalaman kita terhadapnya.

Sulitnya lagi, media melakukan kapitalisasi atas wacana yang berkembang liar di masyarakat tersebut. Bagai mengayun di antara dua ombak, media seakan menjadi perahu yang berselancar di atasnya dan paling berhak menentukan kemana arah layar pemberitaan yang diinginkannya. Kita sebagai penumpang? Tidak punya pilihan, selain ribut dan tidak membuat sekoci sendiri untuk mencoba keluar darinya.

Susahnya, tidak semua kita dibekali ilmu berenang di lautan lepas pemberitaan. Susahnya lagi, tidak semua kita diajarkan untuk membuat sekoci sendiri untuk tetap mengikuti pemberitaan tapi tidak terjebak dalam kapitalisasi media. Dan yang lebih susah lagi, tidak semua kita belajar teknologi membuat kapal terbang sehingga bisa melakukan helicopter view dalam setiap tren pemberitaan.  Poinnya, pada penguatan keilmuan dan tidak sekadar berwacana di muka umum.

Di satu sisi, Rezim Soeharto itu benar: masyarakat dibiasakan untuk tidak yang penting bicara. Tapi, kekuasaan yang tidak dikawal dan dibatasi pun akan tends to corrupt (Lord Acton) . Di sisi lain, bicara yang penting saja menuntut seseorang untuk memahami betul teks dan konteks setiap wacana yang ia sampaikan ke publik. Teks berkaitan dengan hal yang disampaikan, sedangkan konteks berkaitan dengan dampak (social cost) yang timbul dari setiap orang yang mendengar, melihat, atau membacanya. Sehingga, level yang harus ditapaki bukan lagi sebatas butuh keilmuan tapi juga butuh kearifan saat menyampaikan pendapat, baik dalam bentuk tulisan maupun pembicaraan

Bagai membuka kotak pandora, negeri kita memang baru belajar berdemokrasi secara substansif. Banyak serangga-serangga demokrasi yang membawa racun yang keluar dari kotak tersebut. Kita hanya perlu bersabar menunggu peri kecil hadir dari kotak tersebut, sambil belajar agar imun hadapi serangga-serangga beracun demokrasi. Salah satu pembelajaran yang dapat dipetik adalah belajar untuk menahan diri dari setiap pertarungan wacana, sambil menyiapkan diri kelak saat kita dimintai pendapat di forum terhormat dan disaksikan banyak orang dengan penuh khidmat.

Kalau Queen pernah bilang too much love will kill you, maka bangsa ini perlu menggantinya dengan too much talk will kill you

 

 

 

 

 

Pulitzer, Media Gurem, dan Pembangunan Opini

 

Media-media di Indonesia tampaknya harus banyak belajar dari media-media internasional, khususnya di Amerika Serikat, dalam melakukan pengemasan berita, baik dalam bentuk artikel maupun foto. Pasalnya, pada pemilu 2014 silam, media-media di Indonesia terlibat intensif dalam pertarungan opini publik dalam dukung-mendukung dua kandidat capres yang bertarung. Hal tersebut, tak ayal, tidak sekadar membuat opini publik ikut terbelah, melainkan juga kohesi sosial kebangsaan menjadi berpotensi terpecah

Pertarungan opini publik tersebut bisa terpecut dari beberapa hal dalam media, misalnya penggunaan paraphrase dalam judul, spinning opinion dalam kesimpulan, atau lead dalam suatu berita. Singkatnya, setiap artikel berita yang disampaikan memiliki pesan tertentu: apahidden agenda dibalik pemberitaan tersebut? Untuk publik yang telah memiliki budaya literasi yang cukup, ia tidak akan percaya pada “pandangan pertama”, tapi, sulitnya, bagi mayoritas publik yang memiliki “sumbu pendek”, pelintiran artikel berita tersebut akan dipahami berbeda dan mengoyak-ngoyak emosi pembaca
fgfdgfdgdfgfdgkdfgmfklmgkldfmgkldfmgklmfdklgmdfklmgkldfmg
Menakar Kekuatan Media dalam Politik
Para pakar media yang berasal dari Universitas San Fransisco California (2012) menjelaskan: Media is the fourth state. Media telah menjadi “negara keempat” dimana peranannya sudah setara dengan lembaga eksekutif, yudikatif, hingga legislatif sekalipun. Hal tersebut sebagaimana telah dijalankan Amerika saat harus bertarung melawan Vietnam dalam Perang Vietnam. Meskipun pada akhirnya kalah, Amerika telah berhasil membentuk “frase khusus” dalam laporan pemberitaan yang dilakukan
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
Sebagai contoh, Departemen Pertahanan Amerika menggunakan istilah “pemindahan paksa warga sipil” dengan istilah “relokasi”, atau istilah “kebohongan” menjadi “elemen-elemen kesenjangan kredibilitas”. Amerika paham bahwa dengan dengan mengggunakan istilah yang lebih hati-hati dan soft tersebut, membuat perang menjadi tidak terlalu menakutkan bagi banyak orang, Perang bukan didanai dari pajak tapi dilakukan untuk memperbaiki pajak, begitu semboyannya
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
Dengan kata lain, dalam rantai panjang pembangunan isu publik, Media adalah awal dari rantai tersebut, tapi meskipun demikian, Media memiliki berpengaruh kuat dalam percaturan politik yang terjadi di negara pun, hingga menentukan proses akhirnya
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
Mengapa Pulitzer?
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
Penghargaan Pulitzer adalah penghargaan tahunan bagi media-media di Amerika Serikat yang terbagi dalam 21 kategori: Layanan Publik, Liputan Berita Terbaru, Liputan Investigasi, Liputan Explanatory, Liputan Lokal, Liputan Nasional, Liputan Internasional, Penulisan Feature, Komentar, Kritik, Tulisan Editorial, Kartun Editorial, Foto Berita Terbaru, Fiksi, Drama, Sejarah, Biografi, Puisi, Non-FIksi Umum, dan Musik
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
Dikutip dari situs pulitzer.org, penghargaan ini dinilai sebagai penghargaan prestisius dalam bidang jurnalisme cetak di Amerika. Dengan mengambil momen di Bulan April, penghargaan ini diberikan pertama kali pada 4 Juni 1917, dengan diambil dari nama Joseph Pulitzer seorang wartawan investigasi pada koran new York World. Untuk lebih menilai secara objektif sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalisme, maka Columbia University Graduate School of Journalism menjadi tim penilai independen untuk menentukan peraih penghargaan tersebut.
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
Kekuatan penghargaan Pulitzer terletak pada Jurnalisme Investigatif. Mulai dari penulisan berita, hingga foto yang dinominasikan, tidak sekadar bernilai artistik tapi juga bernilai investigasi. Untuk kategori jurnalistik, misalnya, penghargaan Pulitzer 2015 diraih oleh kota The Post and Courier dari Charleston, Amerika Serikat. Media gurem yang hanya memiliki 80 karyawan dan oplah 85.000 eksemplar tersebut, faktanya, berhasil meraih medali untuk kategori pelayanan publik, karena mengisahkan tentang tingginya jumlah kematian wanita akibat kekerasan rumah tangga yang dilakukan oleh laki-laki yang terjadi di negara South Carolina
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
The Post and Courier tidak satu-dua bulan menuliskan laporan tersebut. Redaktur Eksekutifnya, Mitch Pugh, bahkan mengatakan laporan investigasi tersebut dilakukan hingga delapan bulan dalam tulisan yang sangat panjang. Dampaknya, dari tulisan investigas ini, kini angka kematian tertinggi wanita di seluruh negara bagian Amerika Serikat tersebut, perlahan mulai menurun
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
The Washington Post, bekerjasama dengan media Inggris, The Guardian, bahkan tahun lalu juga mendapatkan penghargaan tersebut karena menerbitkan serangkaian bertia tentang kegiatan penyadapan Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat, yang dibocorkan oleh Edward Snowden dalam wikileaks. Kini, wikileaks, menjadi salah satu alat politik untuk menekan kedaulatan suatu negara agar mengikuti kemauan suatu negara, seperti terjadi antara hubungan Indonesia dan Australia silam tentang Hukuman Mati Narkoba
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
Belajar dari Pulitzer
 
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
Apa yang bisa dipetik dari Penghargaan Pulitzer tersebut? Apa pesan yang ingin disampaikan kepada seluruh awak media beserta publik yang membacanya? Apa efek signifikan dari pembangunan opini publik menyangkut tatanan sosial-politik tanah air?Kita belajar banyak dari penghargaan ini. Bukan dalam konteks sematan simbolisnya, tapi pada kemampuan para awak media untuk memberikan second opinion, alternatif berita dari media-media mainstream yang sudah ada dengan kekuatan kapital dan jejaring yang sangat massif. Bahwa media tidak berdiri di atas kakinya sendiri. Ia tidak bebas nilai. Setiap pilihan kata (diksi), lead, hingga, judul yang disampaikan punya makna sendiri.kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
dkfmlkfdgmdfgfdg

Media gurem tidak selamanya gurem dari segi pemberitaan. Bisa jadi ia sedang mengabarkan fakta sesungguhnya, yang lebih nyata dibandingkan media kapital pada umumnya. Ia bisa menjadi alternatif saat media mainstream sering menjadi perpanjangan tangan pemerintah untuk melegitimasi kebijakannya. Kalau kebijakan tersebut benar, tercerahkan lah masyarakat, tapi jika salah? wallahu ‘alam bisshowabkfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
dgdfgfdgdfgdfgdf
Kita ingat, apa kata Cokroaminoto saat surat kabar Oetusan Hindia ingin dibredel Belanda karena mengabarkan perlawanan , “Siapa yang sebenarnya mengabarkan kebohongan? Anda sebut ini perlawanan, tapi kami sebut ini kebenaran”