Bijak Memandang

*Halaman ini ditujukan sebagai sebuah pandangan singkat terhadap isu kontemporer yang terjadi, baik di tanah air maupun mancanegara. Tulisan ini sekadar opini pribadi yang tidak bisa bisa serta-merta dapat dinilai benar-salahnya. Tentu, masih dibutuhkan banyak belajar untuk bisa memahami banyak hal. Tetapi, sebagai sekadar upaya untuk mencari titik-temu antara kedua bandul ekstrem yang bergerak ke kiri dan ke kanan, tulisan ini hadir. Karena Menjadi Bijak itu perlu. Bijak Memandang.

Perayaan Tahun Baru

Menjelang, bahkan pada saat datangnya tahun baru 2014, beberapa orang dan grup whatsapp yang saya ikuti, membahas hal yang sama. Pembahasan terutama mengaitkan antara perayaan tahun baru dengan budaya dan/ atau ajaran agama tertentu, yang dalam penilaian broadcast message tersebut bisa merusak aqidah. Alasannya, perayaan tahun baru adalah bagian dari Ghozwul Fikr (Perang Pemikiran) yang tanpa disadari akan mengikuti ajaran-ajaran tertentu dengan mengikuti tanpa sadar setiap simbol (perayaan, pakaian, dan sebagainya) yang digunakan tersebut. Dalilnya: man tasyabbaha biqoumin fahuwa minhum (Barang siapa yang mengikuti suatu kaum, maka dia menjadi bagian dari kaum tersebut)

Untuk menjawab hal tersebut, seperti inilah tanggapan saya:

Harus diakui, Simbol dan Ajaran itu berkaitan. Keduanya, tidak bisa dipisahkan. Menafikan Simbol tapi tetap menganut Ajarannya, bermasalah. Tetapi, tidak menganut Ajaran tapi tetap menggunakan Simbolnya, juga sama-sama salah. Oleh karena, Ajaran itu esensi. Tapi, dia membutuhkan komunikasi sederhana yang bisa diterima publik secara luas dalam bentuk representasi (simbol).

Maka, yang bijak adalah, minimal menolak yang satu terlebih dahulu sebelum mampu menolak keduanya. Misalnya, kalau belum mampu menolak ajakan teman ikut Tahun Baru-an, minimal kita tidak larut dalam pesta tahun baru tersebut. Atau, tidak ikut Tahun Baru-an, tapi tetap menjaga silaturahim dengan teman-teman yang ikut merayakan pesat tahun baru tersebut.

Jadi, pemahaman tentang perang pemikiran tersebut, haruslah dibaca secara utuh: antara Ajaran dengan Simbol, antara Teks dan Konteks. Di luar itu, dan yang saya kira ini yang lebih penting, Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan antar sesama umat Islam) dan Ukhuwah Wathoniyah (persaudaraan antar sesama bangsa-negara), wajib dan harus tetap dijaga. Harus tetap Tasamuh, toleransi dengan sesama. Sambil pelan-pelan disampaikan bagaimana hal yang sebenarnya, semampunya..

Wallahu’alam bis showab..

Yogyakarta, 1 Januari 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s