Pulitzer, Media Gurem, dan Pembangunan Opini

 

Media-media di Indonesia tampaknya harus banyak belajar dari media-media internasional, khususnya di Amerika Serikat, dalam melakukan pengemasan berita, baik dalam bentuk artikel maupun foto. Pasalnya, pada pemilu 2014 silam, media-media di Indonesia terlibat intensif dalam pertarungan opini publik dalam dukung-mendukung dua kandidat capres yang bertarung. Hal tersebut, tak ayal, tidak sekadar membuat opini publik ikut terbelah, melainkan juga kohesi sosial kebangsaan menjadi berpotensi terpecah

Pertarungan opini publik tersebut bisa terpecut dari beberapa hal dalam media, misalnya penggunaan paraphrase dalam judul, spinning opinion dalam kesimpulan, atau lead dalam suatu berita. Singkatnya, setiap artikel berita yang disampaikan memiliki pesan tertentu: apahidden agenda dibalik pemberitaan tersebut? Untuk publik yang telah memiliki budaya literasi yang cukup, ia tidak akan percaya pada “pandangan pertama”, tapi, sulitnya, bagi mayoritas publik yang memiliki “sumbu pendek”, pelintiran artikel berita tersebut akan dipahami berbeda dan mengoyak-ngoyak emosi pembaca
fgfdgfdgdfgfdgkdfgmfklmgkldfmgkldfmgklmfdklgmdfklmgkldfmg
Menakar Kekuatan Media dalam Politik
Para pakar media yang berasal dari Universitas San Fransisco California (2012) menjelaskan: Media is the fourth state. Media telah menjadi “negara keempat” dimana peranannya sudah setara dengan lembaga eksekutif, yudikatif, hingga legislatif sekalipun. Hal tersebut sebagaimana telah dijalankan Amerika saat harus bertarung melawan Vietnam dalam Perang Vietnam. Meskipun pada akhirnya kalah, Amerika telah berhasil membentuk “frase khusus” dalam laporan pemberitaan yang dilakukan
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
Sebagai contoh, Departemen Pertahanan Amerika menggunakan istilah “pemindahan paksa warga sipil” dengan istilah “relokasi”, atau istilah “kebohongan” menjadi “elemen-elemen kesenjangan kredibilitas”. Amerika paham bahwa dengan dengan mengggunakan istilah yang lebih hati-hati dan soft tersebut, membuat perang menjadi tidak terlalu menakutkan bagi banyak orang, Perang bukan didanai dari pajak tapi dilakukan untuk memperbaiki pajak, begitu semboyannya
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
Dengan kata lain, dalam rantai panjang pembangunan isu publik, Media adalah awal dari rantai tersebut, tapi meskipun demikian, Media memiliki berpengaruh kuat dalam percaturan politik yang terjadi di negara pun, hingga menentukan proses akhirnya
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
Mengapa Pulitzer?
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
Penghargaan Pulitzer adalah penghargaan tahunan bagi media-media di Amerika Serikat yang terbagi dalam 21 kategori: Layanan Publik, Liputan Berita Terbaru, Liputan Investigasi, Liputan Explanatory, Liputan Lokal, Liputan Nasional, Liputan Internasional, Penulisan Feature, Komentar, Kritik, Tulisan Editorial, Kartun Editorial, Foto Berita Terbaru, Fiksi, Drama, Sejarah, Biografi, Puisi, Non-FIksi Umum, dan Musik
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
Dikutip dari situs pulitzer.org, penghargaan ini dinilai sebagai penghargaan prestisius dalam bidang jurnalisme cetak di Amerika. Dengan mengambil momen di Bulan April, penghargaan ini diberikan pertama kali pada 4 Juni 1917, dengan diambil dari nama Joseph Pulitzer seorang wartawan investigasi pada koran new York World. Untuk lebih menilai secara objektif sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalisme, maka Columbia University Graduate School of Journalism menjadi tim penilai independen untuk menentukan peraih penghargaan tersebut.
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
Kekuatan penghargaan Pulitzer terletak pada Jurnalisme Investigatif. Mulai dari penulisan berita, hingga foto yang dinominasikan, tidak sekadar bernilai artistik tapi juga bernilai investigasi. Untuk kategori jurnalistik, misalnya, penghargaan Pulitzer 2015 diraih oleh kota The Post and Courier dari Charleston, Amerika Serikat. Media gurem yang hanya memiliki 80 karyawan dan oplah 85.000 eksemplar tersebut, faktanya, berhasil meraih medali untuk kategori pelayanan publik, karena mengisahkan tentang tingginya jumlah kematian wanita akibat kekerasan rumah tangga yang dilakukan oleh laki-laki yang terjadi di negara South Carolina
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
The Post and Courier tidak satu-dua bulan menuliskan laporan tersebut. Redaktur Eksekutifnya, Mitch Pugh, bahkan mengatakan laporan investigasi tersebut dilakukan hingga delapan bulan dalam tulisan yang sangat panjang. Dampaknya, dari tulisan investigas ini, kini angka kematian tertinggi wanita di seluruh negara bagian Amerika Serikat tersebut, perlahan mulai menurun
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
The Washington Post, bekerjasama dengan media Inggris, The Guardian, bahkan tahun lalu juga mendapatkan penghargaan tersebut karena menerbitkan serangkaian bertia tentang kegiatan penyadapan Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat, yang dibocorkan oleh Edward Snowden dalam wikileaks. Kini, wikileaks, menjadi salah satu alat politik untuk menekan kedaulatan suatu negara agar mengikuti kemauan suatu negara, seperti terjadi antara hubungan Indonesia dan Australia silam tentang Hukuman Mati Narkoba
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
Belajar dari Pulitzer
 
kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
Apa yang bisa dipetik dari Penghargaan Pulitzer tersebut? Apa pesan yang ingin disampaikan kepada seluruh awak media beserta publik yang membacanya? Apa efek signifikan dari pembangunan opini publik menyangkut tatanan sosial-politik tanah air?Kita belajar banyak dari penghargaan ini. Bukan dalam konteks sematan simbolisnya, tapi pada kemampuan para awak media untuk memberikan second opinion, alternatif berita dari media-media mainstream yang sudah ada dengan kekuatan kapital dan jejaring yang sangat massif. Bahwa media tidak berdiri di atas kakinya sendiri. Ia tidak bebas nilai. Setiap pilihan kata (diksi), lead, hingga, judul yang disampaikan punya makna sendiri.kfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
dkfmlkfdgmdfgfdg

Media gurem tidak selamanya gurem dari segi pemberitaan. Bisa jadi ia sedang mengabarkan fakta sesungguhnya, yang lebih nyata dibandingkan media kapital pada umumnya. Ia bisa menjadi alternatif saat media mainstream sering menjadi perpanjangan tangan pemerintah untuk melegitimasi kebijakannya. Kalau kebijakan tersebut benar, tercerahkan lah masyarakat, tapi jika salah? wallahu ‘alam bisshowabkfdmgklfdmgklfdmgklmdfklgmdfklgmkldfgm
dgdfgfdgdfgdfgdf
Kita ingat, apa kata Cokroaminoto saat surat kabar Oetusan Hindia ingin dibredel Belanda karena mengabarkan perlawanan , “Siapa yang sebenarnya mengabarkan kebohongan? Anda sebut ini perlawanan, tapi kami sebut ini kebenaran”
Iklan

Ceritaku tentang Kampung UGM: Soal Bullying (1st chapter)

kampung UGM

Well. Sudah sekitar ini dua bulan lebih, saya tidak menulis di blog pribadi ini. Agak miris, karena ternyata, dunia kerja secara tidak langsung membuat waktu produktif kita untuk menulis dan membaca menjadi berkurang. Dalam jangka panjang, ini berbahaya. Karena akan memunculkan bibit-bibit minim kearifan yang lahir dari membaca, dan juga kemunduran intelektual untuk dalam membangun narasi ide dari setiap dinamika sosial-politik yang sedang berlangsung.

Proses self-awarness ini, alhamdulillah, saya rasakan betul. Awarness itu setidaknya dari terukur dari mulai hampir tidak pernah lagi kirim tulisan opini ke media, menyelesaikan bacaan buku, bahkan untuk mengirimkan paper untuk konferensi internasional. Saya menduga, kekhawatiran ini tidak sekadar dialami oleh diri ini pribadi, tapi juga bagi mereka yang selama di kampus aktif menghadirkan gagasan ke publik, lalu tiba-tiba saat sudah lulus dan diterima bekerja, mereka menghabiskan sebagian besar waktunya untuk day to day kepentingan pekerjaannya.

Ah, tapi beruntungnya, saya masuk ke dalam sebuah grup bernama Kampung-UGM, baik di grup FB atau di Telegram. Bagi saya pribadi ini grup gokil (baca: aneh bin ajaib bin ngocol). Karena isinya campur-campur: lebih banyak soal politik, tapi juga tak jarang bully-membully satu dua orang. Saya ingat, pertama kali gabung di grup FB Kampung UGM ini dimasukkan oleh Ibu Andi Rahmah pada tahun 2011, sedangkan gabung di grup telegram Kampung UGM baru-baru saja itu pun juga karena saya baru menginstall-nya.

Kenapa saya bilang beruntung? Karena ternyata saya “di-bully” habis-habisan di grup ini,  tentang yang biasa anak muda bujang hadapi: soal jodoh-menjodohkan . Menarik, karena setidaknya, “bullying” ini memaksa saya membuat tulisan satu-dua halaman untuk merekam setiap dinamika yang terjadi di grup dalam bentuk tulisan. Dengan kata lain, dinamika yang terjadi secara keseharian kita, sebenarnya, dapat dijadikan sebuah narasi besar jika kita kaitkan dengan konteks makro, mengkomparasikannya dengan case lain, dan menarik hikmah di dalamnnya. Walaupun, bully-ing nya soal “cocok-mencocokkan”, tapi setidaknya, saya menganggap itu bagian dari kita memperluas silaturahim dan mendewasakan kita dalam berkomunikasi di dunia maya dengan banyak dan beragam kalangan.

Sehingga, bullying itu sebenarnya sebuah kewajaran dalam dinamika kehidupan kita antar sesama manusia (habblumminannas). Meskipun berpeluang untuk melampaui kewajaran, tapi, setidaknya, semua itu kembali kepada diri kita masing-masing: seberapa kuat kita berpegang teguh pada pendirian dan tidak terbawa pada arus emosi sehingga menghilangkan akal sehat untuk menanggapinya. Di sinilah makna dari silaturahim: silaat warahim (menyambung dan memberikan kasih sayang)

Proses memperluas silaturahim ini, harapannya, tidak berhenti sampai di dunia maya saja. Karena, dunia ini penuh topeng, terlebih dunia maya. Maka, kehadiran kita di dalam dunia nyata (baca: kopdar), tampaknya akan lebih bermanfaat dan akan benar-benar menginsyafi apa itu makna silaturahim sesungguhnya. Kalau kata Rasul, perbanyaklah bersilatuhim karena akan memanjangkan usia dan menambah rezeki.

“Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturahim.” (H.R Bukhari)”

Merawat Akal Sehat: Cara Mensyukuri Segala Nikmat

bersykur ITak seperti biasanya, malam ini, saya pulang dari kantor dengan kecepatan motor tak lebih dari 60 km/jam. Bukan karena sebab perjalanan di Jakarta yang masih macet sekitar pukul 06.30 pm, tepat saat-saatnya jam pulang kantor. Bukan. Bukan karena itu. Jika diniatkan, mungkin saja saya ambil gas di atas 70 km/jam sehingga dapat menghemat waktu pulang hingga 20 menit lebih cepat.

Tapi, ini soal pikiran yang mengganjal di kepala. Tiba-tiba seolah ada hal yang harus dipikirkan lamat-lamat sepanjang perjalanan pulang. Pentingkah? Mungkin saja penting. Kalau tidak penting, kenapa sampai saya jadikan teman sepanjang perjalanan pulang. Bahkan sebegitu pentingnya, terkadang saya harus meneteskan beberapa titik air mata. Tanpa sadar.

Sepanjang perjalanan pulang itu, saya banyak belajar tentang kehidupan. Terutama, soal mensyukuri setiap nikmat yang diberikan oleh-Nya – di tengah segala kemaksiatan yang tiap harinya saya lakukan. Sebagai hamba yang seringnya kufur akan nikmat dari-Nya, diri ini dihadapkan pada satu fakta bahwa: ternyata ada, bahkan banyak rekan-rekan di kantor, yang diberikan gaji per bulan lebih rendah dibandingkan saya. Bahkan, beberapa di antara mereka telah berposisi sebagai seorang kepala rumah tangga yang sudah tentu memiliki kewajiban untuk memberi nafkah kepada keluarganya

Menurut saya, ini bukan soal kapasitas kemampuan seseorang yang berbanding lurus dengan hak yang sepantasnya. Bukan. Jauh daripada itu. Kalau sekadar persoalan gaji yang kaitannya dengan kemampuan seseorang, itu persoalan kelembagaan yang bersifat eksternal. Tapi, ini kaitannya terhadap persoalan internal-individual: bagaimana saya mampu bersyukur atas segala nikmat dan menginsyafi setiap rezeki yang diberikan tersebut untuk berbuat lebih baik dari hari ke hari.

Ujian: Bukan Hanya Saat Susah, tapi Juga Saat Senang.

Bisa jadi, kita lebih mudah diuji dengan kesabaran saat dilanda kesusahan. Tapi, berapa banyak di antara kita yang tetap eling lan waspada saat diuji dengan kesenangan. Tetap mawas diri saat diuji dengan segala nikmat kemudahan, serta kelapangan hidup dan waktu. Ini lagi-lagi bukan berarti kita tidak bersyukur. Bukan. Bukan itu. Tapi, ini soal bagaimana kita belajar: rezeki berlebih yang Dia berikan kepada kita tersebut, untuk apa akan dihabiskan.

Lalu, apakah itu berarti Alloh tidak adil kepada hamba-Nya yang semestinya mendapatkan lebih karena perannya sudah sebagai kepala rumah tangga? Tidak juga. Yang paling mengetahui sesuatu adalah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Prinsip keadilan tidak didasarkan pada ukuran materi (hardware) antar sesama manusia. Tapi, ukuran keadilan ditentukan berdasarkan kemampuan manajerial seseorang dalam mendayagunakan seluruh potensi yang dimilikinya (software).

Kalau ada orang yang berkemampuan minim, lalu dia dikasih rezeki berlebih untuk mengelolanya, maka yang mungkin terjadi adalah kemudharatan baik kepada dirinya maupun keluarganya. Karena dia tidak mengerti bagaimana mengatur nikmat rezeki tersebut. Sebaliknya, kalau ada orang yang berkemampuan mumpuni, lalu dikasih rezeki yang kurang dari yang dibutuhkan, maka yang terjadi adalah kemudharatan bagi umat karena menjadi tidak optimal dalam melayani umat. Nah, mekanisme untuk menjaga kesetimbangan untuk saling memberi antara The Have dan Not Have tersebut, itu melalui adanya ZIS: Zakat, Infaq, dan Shodaqoh. Itu menjadi kewajiban mutlak bagi seorang muslim untuk membantu saudaranya yang kesusahan.

Dengan kata lain, setiap nikmat itu selalu meminta kita kesadaran untuk berpikir: untuk apa dan kemana saja segala nikmat tersebut digunakan. Kesadaran berpikir ini pada gilirannya yang akan menjaga akal sehat untuk tidak dimabuk akan segala nikmat: Saat susah, tetap bersabar; saat senang, harus bersyukur.  Jika kesadaran berpikir tersebut hilang dari porosnya, maka yang ada adalah: saat susah kita mengeluh, saat senang kita angkuh. Sehingga, merawat akal sehat juga bagian dari kita menjaga agar segala perasaan jiwa kita tetap stabil bagaimana pun kondisinya.

Mudahkah? Tentu tidak. Butuh pelatihan yang intens setiap waktunya. Namun yang jelas, berpagi-pagi Al-Qur’an diturunkan 15 abad silam, Dia telah mengingatkan setiap hamba-Nya untuk tidak lalai dari setiap ujian yang diberikan kepadanya. Kelalaian tersebut disebabkan karena kekaburan akal sehingga mengelabui nurani dan menutup mata untuk mengetahui. Maka, merawat akal sehat adalah bagian dari untuk menjaga kesetimbangan tersebut: agar bagaimana tipu daya ujian itu senantiasa diwaspadai agar tidak larut dalam ujian, lalu tiba-tiba hancur lebur atas nama kufur nikmat.

“ Maka apabila manusia ditimpa bahaya, ia menyeru Kami. Kemudian, apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata, “Sesungguhnya, aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku”. Sebenarnya itu adalah ujia, tetapi kebanyak mereka itu tidak mengetahui” (QS. Az-Zumar: 49)

 

Menulis, Pelipur Segala Sendu serta Rindu

Berbahagialah bagi mereka yang sebagian hobinya menulis. Dalam kesendirian, ia masih bisa berkata lewat secarik kata. Hanya bermodal pena dan kertas, ia sanggup mengusir segala kejemuan di tengah heningnya kesendirian. Meskipun dunia ramai, tapi, ia tetap menikmati kehidupan tanpa sekalipun mencaci serpihan rasa kesepian.
Berbahagilah bagi mereka yang sebagian hobinya menulis. Dalam rasa duka, ia masih sanggup tertawa. Ia cepat merubah segala lara, menjadi membuatnya adalah hal yang biasa. Karena dalam rasa penat dan kekesalannya, ia mampu menumpahkannya dalam rangkaian barisan kata-kata. Hujan badai, panas terik, tak sedikit pun menggoyahkan jiwa teduhnya.
Berbahagialah bagi mereka yang sebagian hobinya menulis. Ia tak perlu meminta orang untuk mendengarkan keinginannya. Cukup menulis secarik dua carik kata, setiap kata akan mengundang sendiri pembacanya. Di tengah dunia yang penuh kepalsuan, setidaknya, hanya kertas dan pena yang masih setia mendengar, tanpa sedikit pun meminta balasan dari celotehan kita..
Berbagialah bagi mereka yang sebagian hobinya menulis. Pelipur segala sendu serta rindu. Tak pernah mengeluh akan diri kita yang selalu mengaduh. Sahabat setia yang pantas dibawa kemana-mana. Walau ia tak bersuara, tapi ia sebenarnya membantu kita mengobati setiap luka dengan cara menuliskannya di setiap bait kata-kata.
Karena menulis, pelipur segala sendu serta rindu..

216741_2080910274749_6925178_n

Ibu Peri Dokter Riri

Mari, kita flashback sejenak. Mengenang masa-masa kecil kita dahulu.

Aku punya cerita. Saat kecil, tepatnya ketika usia 5 tahun, tubuhku sangat ringkih. Napas mudah sesak, dan tidak tahan dengan kondisi udara yang sangat dingin. Kondisi ini sungguh menyulitkan ku yang sedari kecil sangat senang bermain bola dengan teman-teman sebaya. Kadang, aku merasa iri dengan mereka yang bisa berperan sebagai seorang striker atau pemain sayap yang bisa berlari kencang dengan napasnya yang sangat kuat. Sedangkan aku, paling mungkin hanya menjadi center back yang tidak banyak bergerak atau menjadi kiper yang tugasnya hanya menjaga gawang.

Pun halnya ketika olahraga atletik dan renang. Dengan lincahnya, teman-teman sebayaku sudah bisa renang dan berlari sekencang mungkin. Aku?  Sengaja selalu absen karena kondisi tubuhku yang tak memungkinkan untuk melakukan hal tersebut. Sampai pada kondisi psikologis, bahwa saya tidak mampu bersaing dalam teman-teman sebaya dalam urusan yang berhubungan dengan fisik.

Akhirnya, ibuku yang melihat kelainan ini membawaku ke rumah sakit. Akses ASKES saat itu, di sekitar tahun 96-97 sangatlah terbatas. Pelayanannya pun masih kelas 3, sehingga setiap kekurangan biaya, misalnya membeli obat, masih harus membayar sendiri. Aku ingat sampai saat ini, rumah sakit yang aku sering bolak-balik mendatangi adalah RS Persahabatan yang terletak di daerah Rawamangun, Jakarta Timur. Dengan telatennya, di tengah kesibukan Beliau sebagai guru SMP negeri, Beliau sangat peduli untuk membawaku ke rumah sakit, meskipun harus memotong gaji Beliau karena jarang masuk mengajar.

Ayahku, yang berprofesi sebagai guru pun, juga sangat sibuk mencari biaya tambahan untukku bisa berobat. Sehingga, Beliau tidak bisa mengantar aku berobat tiap kali ke rumah sakit yang jaraknya lebih dari 10 KM. Walhasil, dari rumahku di Kelapa Gading hingga ke Rawamangun, aku dan ibuku selalu menempuh dengan mikrolet, angkutan mini ibukota yang murah-meriah tapi sering menghasilkan asap knalpot yang jorok seolah tidak pernah terurus.

Berulang kali, saya masuk rumah sakit. Berganti obat: mulai dari puyer, pil, hingga obat sedot inhaler, yang hanya bisa untuk meredakan tapi tidak bisa menyembuhkan sesak napas. Akhirnya, setelah berulang kali dibawa ke rumah sakit dan berganti dokter, aku divonis menderita sakit Asma. Hampir semua dokter di rumah sakit tersebut angkat tangan untuk mencari solusi permanen bagaimana menyembuhkan sakit asmaku ini. Hingga, pada akhirnya, aku bertemu Dokter Riri, dokter cadel spesialis pulmonologi yang sudah berumur tapi masih tampak cantik

Waktu aku berusia 7 tahun, Beliau tampak seperti usia 40an tahun. Namun demikian, ia tetap cantik, dengan rambutnya yang terurai panjang, dan dengan lembutnya Beliau seolah menjadi malaikat penolong yang ada di dongeng-dongeng: turun dari langit dengan kedua sayap putihnya, menjumpai seorang anak kecil yang ringkih karena sakit yang dideritanya. Saat itu, aku yang tidak tahu apa-apa, mencoba mengikuti saja apa yang menjadi perintahnya. Karena yang aku tahu hanya satu: Ibu Peri itu datang untuk menyembuhkanku.

Beliau meminta ku  periksa darah untuk mengecek setiap alergi yang harus aku jauhi. Menurutnya, asmaku bukan karena faktor keturunan, tapi karena faktor lingkungan yang juga bisa berasal dari makanan. Untuk itulah, aku dirujuk ke Multi-Lab, tempat laboratorium uji sampel darah untuk melihat setiap derita penyakit yang dikandung oleh pasien. Tidak tanggung-tanggung, 8 tusukan jarum harus mendarat di kedua lenganku. Jadi, total aku harus menahan rasa sakit yang sangat perih 16 tusukan jarum dalam waktu kurang dari 2 jam. Bocah usia 7 tahun sudah diambil darahnya sebanyak 16 kali, Sakit!

Sampai pada satu titik, aku merasa di titik nadir, pasrah kepada Tuhan: kalau memang ini akhir dari hidupku, maka mudahkanlah pengakhirannya. Tapi, jika Engkau masih berikanku kesempatan untuk hidup, maka jadikanlah hidupku yang kedua ini bermanfaat untuk banyak orang dan menjalaninya dengan sebaik mungkin. Ibuku, yang berada tepat di sampingku, tak henti-hentinya membacakan hapalan juz 30 agar aku teralihkan pikirannya dari rasa sakit. Sesaat ingin berhenti, lanjut lagi. Sesaat berhenti, lanjut lagi. Hingga di jarum terakhir ke-16 berakhir, tubuhku lemas. Aku tak sanggup berkata apapun. Petugas lab saat itu mengizinkan aku untuk pulang untuk istirahat karena hasil pengecekan darah baru bisa dilihat besok, disampaikan langsung oleh Ibu Peri Dokter Riri.

Dengan tubuh lemas, aku pulang naik taksi. Pasrah. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Bagiku, operasi saat sunat, sudah cukup sakit. Aku trauma dengan jarum suntik. Tapi, apapun harus ku tempuh untuk kesehatanku. Life must go on, apapun itu. Sembari pulang, ibu tetap setia menemani di sampingku.

Besoknya, Dokter Riri menyampaikan hasil lab. Bahwa aku alergi dengan beberapa hal: tungau, kepiting, udang, debu-debu, dan udara yang sangat dingin. Tubuhku akan rapuh jika berinteraksi dengan hal-hal tersebut. Tapi, Ibu Peri selalu bawa kejutan: Ia memberikan kabar bahagia bahwa kelak jika aku diberi umur panjang sampai akil baligh (dewasa), aku akan sembuh karena faktor asma ku ini bukan karena faktor genetis. Sambil setengah berharap, aku berkata, “Semoga saja, Dok!”

Alhamdulillah, dengan menjalani setiap terapi yang dilakukan secara rutin, menghindari makanan yang menjadi pantangan, dan tetap berolahraga seperti biasa, sampai kini aku sehat. Tidak ada satu pun halangan kesehatan berarti yang aku alami sebagaimana aku kecil dulu. Kini keberadaan Dokter Riri sudah entah dimana, sudah seperti apa, dan bagaimana kabarnya. Yang aku tahu, ada malaikat cantik yang saat itu datang menyapaku, berwajah Ibu Peri, bernama Dokter Riri. Kalau pun, saat ini dia masih hidup aku ingin bertemu dengannya sampaikan ucapan terima kasih. Jika sekarang ia telah kembali ke sisi-Nya, aku ingin menziarahi kuburnya dan mendoakan tiap malam agar diberikan cahaya di Padang Mahsyar sana.

Yogyakarta, 30 November 2013

RS Persahabatan Rawamangun

La Solitude du Meneur

Awalnya, Bung Karno dan Bung Hatta sangat mesra. Bagai pinang dibelah dua, mereka bekerja membangun setiap sendi negeri ini secara perlahan-lahan melalui pembangunan dasar negara bernama Pancasila. Mereka sangat kompak. Bahkan, kami sebagai bagian dari anak bangsa ini bangga menjulukinya mereka berdua dengan Dwi Tunggal. Bung Karno sebagai pemimpin politik yang sangat keras, tampil mengangkat tegak dagu rakyat Indonesia. Sebaliknya, Bung Hatta yang terkenal santun, memperkuat ekonomi yang berguna untuk bangsa ini agar rakyat bisa hidup makmur tanpa terus-menerus mengandalkan pinjaman dari asing (Deliar Noer, 2012).
Sepanjang 10 tahun mereka masih mesra memimpin negeri ini. Sampai pada titik dimana terjadi pemilu pertama tahun 1955 yang membuat Bung Hatta merasa sudah saatnya terjadi regenerasi kepemimpinan dalam lingkup nasional. Ditambah, sikap Bung Karno yang jauh dari semangat presiden konstitusional dan ide untuk menghadirkan Demokrasi Terpimpin yg sangat tersentralistik yang cenderung memaksakan setiap partai yang ada untuk mendukungnya. Semua sikap Bung Karno tersebut membuat Bung Hatta meletakkan jabatannya, baik sebagai wakil presiden maupun perdana menteri yang pernah disandangnya. Singkat kata, mereka lahir dari pengasingan yang penuh kesendirian, lalu bersama, dan ditutup dengan kesendirian pilihan jalan masing-masing kembali.
Tidak jauh berbeda dengan Mahatma Gandhi. Seorang pejuang nasionalis dari India yang gencar menyerukan paham Ahimsa, Swadesi, dan Satyagraha kepada setiap rakyat India yang saat itu sedang terinvasi budaya oleh Inggris. Saat banyak anak muda menggandrungi budaya luar, diam-diam Gandhi melawan dengan caranya sendiri: anti-kekerasan dan berbusana sesuai dengan adat atau tradisi asli India. Perjuangannya tidak banyak disukai. Bahkan, di akhirnya hidupnya, Gandhi sering hidup sendiri dan, sebagaimana Winston Churchill sampaikan: Gandhi tak ubahnya seperti seorang fakir yang sedang menaiki tanggal Istana Viceregal dengan badan setengah telanjang. Gandhi, lahir, besar, dan wafat dalam kesendirian.
Seranai dengan para pemimpin dunia lainnya, Muhammad SAW dari kecil sudah berteman dengan kesendirian. Tepat ketika dalam kandungan 2 bulan, Muhammad ditinggal wafat oleh ayahnya, Abdulloh. Ketika berusia 6 tahun, lagi-lagi Beliau kehilangan orang yang dicintainya, Ibunda Aminah. 2 tahun kemudian, kakeknya, Abdul Muthalib yang jadi pengasuhnya, pun meninggal (Al-Buthy, 1977). Masa muda Beliau penuh diisi dengan kesendirian, hingga di usia 25 tahun, Beliau bertemu Siti Khadijah, seorang janda kaya raya untuk menjadi istrinya.
Alloh SWT telah menakdirkan Muhammad sepanjang hidupnya penuh dengan kesendirian, baik di masa sebelum kenabian ketika mendapatkan wahyu di Gua Hira, hingga menjelang wafatnya ketika memandang sahabatnya dengan penuh cinta ketika sholat. Tak banyak yang berhasil dibina Rasul. Bahkan ketika Rasul hijrah ke Madinah, jumlah pengikut Beliau hanya 30 orang. Tapi, dari 30 orang tersebut, barulah berkembang pengikut Islam, termasuk Hamzah dan Umar bin Khattab yang memiliki kedudukan terhormat di mata kaum Quraisy (Al-Buthy, 1977). Kesendirian melahirkan tangan dingin seorang pemimpin untuk melahirkan generasi brilian setelahnya
Kesendirian bukanlah Seorang Diri
Kalau begitu, apa makna Kesendirian bagi seorang pemimpin? Lebih jauh lagi, belajar dari ceritera di atas, apakah antara Kesendirian adalah cerminan refleksi yang melekat dari setiap Pemimpin? Apakah sama Kesendirian dengan Kesepian? Apakah berarti Kesendirian sederap makna dengan Ke-seorang diri-an? Kalau memang seperti itu, kita bisa mengambil kesimpulan: tidak mungkin ada seorang pemimpin tanpa orang yang dipimpin. Artinya, Pemimpin bukanlah ia yang setiap hari hidup dengan Kesendirian. Silogismenya, kalau kesendirian dimaknai sebagai ke-seorang diri-an, dan Pemimpin dekat dengan Kesendirian, maka tidak akan pernah ada predikat seorang Pemimpin sepanjang sejarah hidup ini.
Agaknya silogisme liar tersebut berbanding terbalik dengan apa yang dialami oleh banyak pemimpin negeri ini. Faktanya, Bapak Pembangunan negeri ini, Pak Harto, yang sangat disegani karena penghormatan atas posisi dan kehormatan atas wibawanya, mengalami kesendirian yang sangat menjelang wafatnya. Beliau mungkin masih banyak ditemani oleh keluarga dan para koleganya. Entah karena menghormati Beliau atas jasanya membangun negeri ini, atau karena sekadar ingin mencari sisa-sisa kepingan kekuasaan sepeninggal Beliau lengser keprabon dari posisi sebagai seorang Presiden RI. Singkat kata, Beliau masih tetap didampingi oleh banyak orang. Tapi, Beliau tetap merasa, sebagaimana banyak orang sampaikan, dilucuti satu-persatu kewibawaannya oleh orang-orang terdekat Beliau sendiri. Beliau merasa asing, sendiri di tengah banyaknya lemparan pujian dan cacian yang tertuju pada Beliau menjelang wafatnya. 
Kesendirian adalah Satu Tahap Menuju Hakikat
Pemimpin dan Kesendirian adalah satu utuh kepemahaman. Tidak ada seorang pemimpin yang tidak pernah merasa sendiri sepanjang hidupnya. Tapi, pasti selalu ada kamus Kesendirian dalam diri seorang Pemimpin. Maka, Pemimpin tidak pernah lahir, sepanjang sejarahnya, dari ruang-ruang keramaian. Ia tidak pernah lahir dari ajang-ajang kontes pencari bakat, tepukan riuh penonton, bahkan penilaian juri seperti yang tampak di layar kaca. Ia sudah didesain oleh alam untuk mengalami masa kesendirian dalam pengasingan, sampai ia menemukan jalan hakikat menuju Tuhannya. Singkat kata, sampai ia menemukan sendiri, hakikat kehidupan yang harus dan hanya bergantung kepada Rabb Semesta Alam. Alam hanya memberi jalan, tapi manusia itu sendirilah yang menemukan hakikat kehidupannya. Penjara, gua, dan tahajud di tengah malam adalah beberapa jalan kesendirianmenuju hakikat sesungguhnya seorang pemimpin.
Maka, tidak pernah ada Pemimpin yang sepi dari caci maki dan sanjungan pujian diri. Ia bukanlah, kata Anies Baswedan, seseorang yang tumbang ketika dicaci dan terbang ketika dipuji. Ia sudah selesai dengan persoalan syari’at (kulit) seperti itu. Oleh karena, ia sudah menemukan Hakikat Kehidupannya dalam setiap masa-masa kesendirian dalam hidupnya. Kata Umar bin Khottob: Ia yang mempesona layaknya singa di tengah keramaian di siang hari, tapi merundukkan badan layaknya rahib kesendirian di malam hari. Singkatnya, alam sudah punya caranya sendiri untuk membentuk hakikat seorang pemimpin dalam kesendiriannya.
Karena Kesendirian, adalah jalan (thoriqot) seorang Pemimpin menuju Hakikat Kehidupan sesungguhnya dalam hidup ini. La Solitude du Meneur. Kesendirian seorang Pemimpin.

 

Bung Karno, Fatmawati, dan Guntur(Bung Karno, Fatmawati, dan Guntur http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/06/06/jayalah-bung-karno-apapun-itu-artinya-468706.html )

Mengkhawatirkan Keburukan? Khawatirlah kepada Kebaikan!

“Apa pertanyaanmu tadi? Kau bergurau. Aku konsultan keuangan profesional. Aku tidak peduli dengan kemiskinan. Yang aku cemaskan justru sebaliknya, kekayaan. Ketika dunia dikuasai segelintir orang, nol koma nol dua persen, orang-orang yang terlalu kaya”, Kata Thomas pada Julia
(Novel “Negeri Para Bedebah” – Tere Liye)
Hampir saban detik, telpon genggam saya bergetar. Bukan karena panggilan masuk. Tapi, karena begitu banyaknya pesan broadcast yang masuk melalui sms atau grup di whatsapp. Pesan singkat tersebut, tidak jauh dari hal yang bersifat Kebaikan: nasihat, tausiyah, atau apapun itu yang mengajak kita untuk selangkah lebih dekat kepada surga. Di sela percakapan di grup, tetiba ada yang berikan nasihat lewat gambar atau pesan broadcast. Tak henti-hentinya, ayat-ayat Tuhan tersebut tertuliskan melalui tinta-tinta papan tombol di layar telpon genggam.
Salahkah? Tidak ada yang salah. Pesan-pesan Kebaikan memang harus selalu disampaikan. Perlu. Di zaman yang serba karut-marut seperti ini, usaha-usaha untuk menjaga akan sehat harus terus diupayakan untuk melawan Keburukan. Tapi, sebagaimana Miskin dan Kaya, apakah kita harus khawatir terhadap Keburukan? Seberapa persen kekhawatiran kita antara Keburukan dengan Kebaikan? Kenapa kita harus khawatir terhadap Keburukan? Bukankah itu sudah sunnatulloh bahwa sepanjang zaman akan selalu ada perang antara Keburukan (kebatilan) dengan Kebaikan? Lalu, buat apa kita terlalu risau terhadap Keburukan, kalau ternyata dibalik Kebaikan pun tersirat sebuah Keburukan pula?
Saya khawatir terhadap maraknya Keburukan. Saya benci. Tapi, saya lebih khawatir terhadap Kebaikan. Ketika kebaikan menjadi sebuah topeng-topeng kemunafikan untuk meraih keuntungan sesaat, itu bisa jauh lebih buruk dari keburukan itu sendiri. Efek pengganda yang dihasilkan darinya bisa jauh lebih parah dari Keburukan yang sudah jelas adanya. Seorang pemabuk, bisa dengan tegas dilarang untuk melakukan sholat. Tapi, seorang pendusta dengan menggunakan dalil agama, sangat sulit untuk ditentukan benar-salahnya, apalagi untuk dijustifikasi keber-Iman-an dan keber-Islam-annya. Ditambah, jika pendusta tersebut memiliki kedudukan terhormat, reputasi yang selama ini dikenal baik, dan tergolong orang cendekia. Argumentasi benar-salah menjadi bias hanya karena power yang dimiliki olehnya. Inilah yang disebut dengan white-collar crime. 
Betapa berbaurnya orang-orang di dunia ini. Yang berpakaian kumal, tidak selalu berkepribadian bebal. Sebaliknya, yang berpakaian necis, tidak selamanya berkeadaban baik. Justru, betapa banyak kejahatan di berbagai negara dilakukan oleh orang-orang berdasi. Sebagaimana yang terjadi pada Amerika belakangan ini (simak lipsus Kompas Sabtu 10 Agustus 2013). Semakin pintar orang, bisa jadi semakin tidak beradab secara pemikiran dan tindakan. Parahnya, mereka diberikan kedudukan. Kekuasaan. Sehingga, apapun yang disampaikan bersifat “dalil” bukan lagi “opini”, yang dikutip habis-habisan oleh media massa. Kehancuran sistematis dimulai dari sini: disampaikan oleh lisan, diamini oleh media, diterima oleh publik, dijadikan pedoman dalam keseharian. Inilah efek domino tersebut.
Apakah mereka orang baik? Mereka baik, tapi Kebaikan mereka sekadar bungkus, berbalut topeng-topeng etika manisnya perkataan dan perbuatan. Apakah mereka terisolasi dari kehidupan nyata? Tidak. Mereka justru ada di tengah-tengah kita. Kedudukan mereka memiliki pengaruh. Bahkan bisa jadi di antara kita ada yang amat suka mendengarkan perkataan mereka (QS. At-Taubah: 47). Tetapi, sebagaimana Kekayaan, Kebaikan yang mereka himpun hanya di atas kertas yang pada akhirnya merusak dari Kebaikan itu sendiri. Jumlah mereka pun tak banyak. Sedikit, tapi menentukan.
Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka. Dan tentu mereka akan bergegas-gegas maju ke muka celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan-kekacauan di antaramu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan, Alloh mengetahui orang-orang yang zholim” (Qs. At-Taubah: 47)
Masih khawatir terhadap Keburukan? Tidak penting. Saya lebih khawatir terhadap Kebaikan. Ketika Kebaikan hanya dijalankan oleh segelintir orang. Apalagi, dari segelintir orang tersebut hanya sedikit yang senantiasa konsisten sebagai penyeru kebaikan. Orang-orang baik yang sedikit seperti inilah yang harus dicemaskan keadaannya. Karena setiap hari ujian fitnah dan cobaan terus menerjangnya. Jika ia bertahan, ia semakin kuat. Jika tidak, semakin sedikit jumlah penyeru kebaikan. Apakah akan diganti dengan yang lebih baik? Tentu iya, tapi bukan itu persoalannya. Persoalannya, Kebaikan itu barang mahal yang hanya bisa kelihatan efeknya jika dilakukan secara bersama-sama. Tidak bisa dengan sendiri-sendiri. Semakin banyak yang berguguran, semakin kecil Kebaikan itu akan terlihat nyata.
Jadi, tidak perlu khawatir dengan Keburukan. Setiap hal sudah memiliki tabiatnya masing-masing. Tugas kita hanyalah menyampaikan Kebaikan dan merawat Kebaikan itu sendiri. Jika Keburukan masih merajalela, itu berarti bukan salah kita. Bisa jadi karena Dia belum berkehendak untuk merubah keadaan suatu kaum. Atau kaum tersebut yang memang tidak mau sadar untuk berubah.
Jadi, biarkanlah Keburukan itu menjadi raya. Tidak perlu cemas. Yang kita cemaskan dan terus dorong adalah Kebaikan. Tapi, bukan Kebaikan Palsu yang dilakukan untuk menutupi Keburukan. Bukan Kebaikan yang disampaikan untuk menjaga citra diri dan legitimasi bahwa kita tetap menjadi bagian dari kumpulan orang-orang yang baik. Biarkan Kebaikan itu mengalir apa adanya. Bukan Keburukan yang berbungkus topeng Kebaikan. Bahkan, jangan sampai, broadcast sms atau whatsapp tentang Kebaikan yang kita sebar, kita sendiri yang tidak paham maksud dari isinya. Atau sekadar topeng untuk menutupi wajah bopeng kita sebenarnya. Kebaikan itu penting. Tapi, jika terlalu sering menyampaikan Kebaikan, khawatir, niatnya sudah berubah menjadi Keburukan (pamer, dan sebagainya). So, masih khawatir terhadap Keburukan? Khawatirlah terhadap Kebaikan…

 

kutipan tereliye