Ibu Peri Dokter Riri

Mari, kita flashback sejenak. Mengenang masa-masa kecil kita dahulu.

Aku punya cerita. Saat kecil, tepatnya ketika usia 5 tahun, tubuhku sangat ringkih. Napas mudah sesak, dan tidak tahan dengan kondisi udara yang sangat dingin. Kondisi ini sungguh menyulitkan ku yang sedari kecil sangat senang bermain bola dengan teman-teman sebaya. Kadang, aku merasa iri dengan mereka yang bisa berperan sebagai seorang striker atau pemain sayap yang bisa berlari kencang dengan napasnya yang sangat kuat. Sedangkan aku, paling mungkin hanya menjadi center back yang tidak banyak bergerak atau menjadi kiper yang tugasnya hanya menjaga gawang.

Pun halnya ketika olahraga atletik dan renang. Dengan lincahnya, teman-teman sebayaku sudah bisa renang dan berlari sekencang mungkin. Aku?  Sengaja selalu absen karena kondisi tubuhku yang tak memungkinkan untuk melakukan hal tersebut. Sampai pada kondisi psikologis, bahwa saya tidak mampu bersaing dalam teman-teman sebaya dalam urusan yang berhubungan dengan fisik.

Akhirnya, ibuku yang melihat kelainan ini membawaku ke rumah sakit. Akses ASKES saat itu, di sekitar tahun 96-97 sangatlah terbatas. Pelayanannya pun masih kelas 3, sehingga setiap kekurangan biaya, misalnya membeli obat, masih harus membayar sendiri. Aku ingat sampai saat ini, rumah sakit yang aku sering bolak-balik mendatangi adalah RS Persahabatan yang terletak di daerah Rawamangun, Jakarta Timur. Dengan telatennya, di tengah kesibukan Beliau sebagai guru SMP negeri, Beliau sangat peduli untuk membawaku ke rumah sakit, meskipun harus memotong gaji Beliau karena jarang masuk mengajar.

Ayahku, yang berprofesi sebagai guru pun, juga sangat sibuk mencari biaya tambahan untukku bisa berobat. Sehingga, Beliau tidak bisa mengantar aku berobat tiap kali ke rumah sakit yang jaraknya lebih dari 10 KM. Walhasil, dari rumahku di Kelapa Gading hingga ke Rawamangun, aku dan ibuku selalu menempuh dengan mikrolet, angkutan mini ibukota yang murah-meriah tapi sering menghasilkan asap knalpot yang jorok seolah tidak pernah terurus.

Berulang kali, saya masuk rumah sakit. Berganti obat: mulai dari puyer, pil, hingga obat sedot inhaler, yang hanya bisa untuk meredakan tapi tidak bisa menyembuhkan sesak napas. Akhirnya, setelah berulang kali dibawa ke rumah sakit dan berganti dokter, aku divonis menderita sakit Asma. Hampir semua dokter di rumah sakit tersebut angkat tangan untuk mencari solusi permanen bagaimana menyembuhkan sakit asmaku ini. Hingga, pada akhirnya, aku bertemu Dokter Riri, dokter cadel spesialis pulmonologi yang sudah berumur tapi masih tampak cantik

Waktu aku berusia 7 tahun, Beliau tampak seperti usia 40an tahun. Namun demikian, ia tetap cantik, dengan rambutnya yang terurai panjang, dan dengan lembutnya Beliau seolah menjadi malaikat penolong yang ada di dongeng-dongeng: turun dari langit dengan kedua sayap putihnya, menjumpai seorang anak kecil yang ringkih karena sakit yang dideritanya. Saat itu, aku yang tidak tahu apa-apa, mencoba mengikuti saja apa yang menjadi perintahnya. Karena yang aku tahu hanya satu: Ibu Peri itu datang untuk menyembuhkanku.

Beliau meminta ku  periksa darah untuk mengecek setiap alergi yang harus aku jauhi. Menurutnya, asmaku bukan karena faktor keturunan, tapi karena faktor lingkungan yang juga bisa berasal dari makanan. Untuk itulah, aku dirujuk ke Multi-Lab, tempat laboratorium uji sampel darah untuk melihat setiap derita penyakit yang dikandung oleh pasien. Tidak tanggung-tanggung, 8 tusukan jarum harus mendarat di kedua lenganku. Jadi, total aku harus menahan rasa sakit yang sangat perih 16 tusukan jarum dalam waktu kurang dari 2 jam. Bocah usia 7 tahun sudah diambil darahnya sebanyak 16 kali, Sakit!

Sampai pada satu titik, aku merasa di titik nadir, pasrah kepada Tuhan: kalau memang ini akhir dari hidupku, maka mudahkanlah pengakhirannya. Tapi, jika Engkau masih berikanku kesempatan untuk hidup, maka jadikanlah hidupku yang kedua ini bermanfaat untuk banyak orang dan menjalaninya dengan sebaik mungkin. Ibuku, yang berada tepat di sampingku, tak henti-hentinya membacakan hapalan juz 30 agar aku teralihkan pikirannya dari rasa sakit. Sesaat ingin berhenti, lanjut lagi. Sesaat berhenti, lanjut lagi. Hingga di jarum terakhir ke-16 berakhir, tubuhku lemas. Aku tak sanggup berkata apapun. Petugas lab saat itu mengizinkan aku untuk pulang untuk istirahat karena hasil pengecekan darah baru bisa dilihat besok, disampaikan langsung oleh Ibu Peri Dokter Riri.

Dengan tubuh lemas, aku pulang naik taksi. Pasrah. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Bagiku, operasi saat sunat, sudah cukup sakit. Aku trauma dengan jarum suntik. Tapi, apapun harus ku tempuh untuk kesehatanku. Life must go on, apapun itu. Sembari pulang, ibu tetap setia menemani di sampingku.

Besoknya, Dokter Riri menyampaikan hasil lab. Bahwa aku alergi dengan beberapa hal: tungau, kepiting, udang, debu-debu, dan udara yang sangat dingin. Tubuhku akan rapuh jika berinteraksi dengan hal-hal tersebut. Tapi, Ibu Peri selalu bawa kejutan: Ia memberikan kabar bahagia bahwa kelak jika aku diberi umur panjang sampai akil baligh (dewasa), aku akan sembuh karena faktor asma ku ini bukan karena faktor genetis. Sambil setengah berharap, aku berkata, “Semoga saja, Dok!”

Alhamdulillah, dengan menjalani setiap terapi yang dilakukan secara rutin, menghindari makanan yang menjadi pantangan, dan tetap berolahraga seperti biasa, sampai kini aku sehat. Tidak ada satu pun halangan kesehatan berarti yang aku alami sebagaimana aku kecil dulu. Kini keberadaan Dokter Riri sudah entah dimana, sudah seperti apa, dan bagaimana kabarnya. Yang aku tahu, ada malaikat cantik yang saat itu datang menyapaku, berwajah Ibu Peri, bernama Dokter Riri. Kalau pun, saat ini dia masih hidup aku ingin bertemu dengannya sampaikan ucapan terima kasih. Jika sekarang ia telah kembali ke sisi-Nya, aku ingin menziarahi kuburnya dan mendoakan tiap malam agar diberikan cahaya di Padang Mahsyar sana.

Yogyakarta, 30 November 2013

RS Persahabatan Rawamangun

La Solitude du Meneur

Awalnya, Bung Karno dan Bung Hatta sangat mesra. Bagai pinang dibelah dua, mereka bekerja membangun setiap sendi negeri ini secara perlahan-lahan melalui pembangunan dasar negara bernama Pancasila. Mereka sangat kompak. Bahkan, kami sebagai bagian dari anak bangsa ini bangga menjulukinya mereka berdua dengan Dwi Tunggal. Bung Karno sebagai pemimpin politik yang sangat keras, tampil mengangkat tegak dagu rakyat Indonesia. Sebaliknya, Bung Hatta yang terkenal santun, memperkuat ekonomi yang berguna untuk bangsa ini agar rakyat bisa hidup makmur tanpa terus-menerus mengandalkan pinjaman dari asing (Deliar Noer, 2012).
Sepanjang 10 tahun mereka masih mesra memimpin negeri ini. Sampai pada titik dimana terjadi pemilu pertama tahun 1955 yang membuat Bung Hatta merasa sudah saatnya terjadi regenerasi kepemimpinan dalam lingkup nasional. Ditambah, sikap Bung Karno yang jauh dari semangat presiden konstitusional dan ide untuk menghadirkan Demokrasi Terpimpin yg sangat tersentralistik yang cenderung memaksakan setiap partai yang ada untuk mendukungnya. Semua sikap Bung Karno tersebut membuat Bung Hatta meletakkan jabatannya, baik sebagai wakil presiden maupun perdana menteri yang pernah disandangnya. Singkat kata, mereka lahir dari pengasingan yang penuh kesendirian, lalu bersama, dan ditutup dengan kesendirian pilihan jalan masing-masing kembali.
Tidak jauh berbeda dengan Mahatma Gandhi. Seorang pejuang nasionalis dari India yang gencar menyerukan paham Ahimsa, Swadesi, dan Satyagraha kepada setiap rakyat India yang saat itu sedang terinvasi budaya oleh Inggris. Saat banyak anak muda menggandrungi budaya luar, diam-diam Gandhi melawan dengan caranya sendiri: anti-kekerasan dan berbusana sesuai dengan adat atau tradisi asli India. Perjuangannya tidak banyak disukai. Bahkan, di akhirnya hidupnya, Gandhi sering hidup sendiri dan, sebagaimana Winston Churchill sampaikan: Gandhi tak ubahnya seperti seorang fakir yang sedang menaiki tanggal Istana Viceregal dengan badan setengah telanjang. Gandhi, lahir, besar, dan wafat dalam kesendirian.
Seranai dengan para pemimpin dunia lainnya, Muhammad SAW dari kecil sudah berteman dengan kesendirian. Tepat ketika dalam kandungan 2 bulan, Muhammad ditinggal wafat oleh ayahnya, Abdulloh. Ketika berusia 6 tahun, lagi-lagi Beliau kehilangan orang yang dicintainya, Ibunda Aminah. 2 tahun kemudian, kakeknya, Abdul Muthalib yang jadi pengasuhnya, pun meninggal (Al-Buthy, 1977). Masa muda Beliau penuh diisi dengan kesendirian, hingga di usia 25 tahun, Beliau bertemu Siti Khadijah, seorang janda kaya raya untuk menjadi istrinya.
Alloh SWT telah menakdirkan Muhammad sepanjang hidupnya penuh dengan kesendirian, baik di masa sebelum kenabian ketika mendapatkan wahyu di Gua Hira, hingga menjelang wafatnya ketika memandang sahabatnya dengan penuh cinta ketika sholat. Tak banyak yang berhasil dibina Rasul. Bahkan ketika Rasul hijrah ke Madinah, jumlah pengikut Beliau hanya 30 orang. Tapi, dari 30 orang tersebut, barulah berkembang pengikut Islam, termasuk Hamzah dan Umar bin Khattab yang memiliki kedudukan terhormat di mata kaum Quraisy (Al-Buthy, 1977). Kesendirian melahirkan tangan dingin seorang pemimpin untuk melahirkan generasi brilian setelahnya
Kesendirian bukanlah Seorang Diri
Kalau begitu, apa makna Kesendirian bagi seorang pemimpin? Lebih jauh lagi, belajar dari ceritera di atas, apakah antara Kesendirian adalah cerminan refleksi yang melekat dari setiap Pemimpin? Apakah sama Kesendirian dengan Kesepian? Apakah berarti Kesendirian sederap makna dengan Ke-seorang diri-an? Kalau memang seperti itu, kita bisa mengambil kesimpulan: tidak mungkin ada seorang pemimpin tanpa orang yang dipimpin. Artinya, Pemimpin bukanlah ia yang setiap hari hidup dengan Kesendirian. Silogismenya, kalau kesendirian dimaknai sebagai ke-seorang diri-an, dan Pemimpin dekat dengan Kesendirian, maka tidak akan pernah ada predikat seorang Pemimpin sepanjang sejarah hidup ini.
Agaknya silogisme liar tersebut berbanding terbalik dengan apa yang dialami oleh banyak pemimpin negeri ini. Faktanya, Bapak Pembangunan negeri ini, Pak Harto, yang sangat disegani karena penghormatan atas posisi dan kehormatan atas wibawanya, mengalami kesendirian yang sangat menjelang wafatnya. Beliau mungkin masih banyak ditemani oleh keluarga dan para koleganya. Entah karena menghormati Beliau atas jasanya membangun negeri ini, atau karena sekadar ingin mencari sisa-sisa kepingan kekuasaan sepeninggal Beliau lengser keprabon dari posisi sebagai seorang Presiden RI. Singkat kata, Beliau masih tetap didampingi oleh banyak orang. Tapi, Beliau tetap merasa, sebagaimana banyak orang sampaikan, dilucuti satu-persatu kewibawaannya oleh orang-orang terdekat Beliau sendiri. Beliau merasa asing, sendiri di tengah banyaknya lemparan pujian dan cacian yang tertuju pada Beliau menjelang wafatnya. 
Kesendirian adalah Satu Tahap Menuju Hakikat
Pemimpin dan Kesendirian adalah satu utuh kepemahaman. Tidak ada seorang pemimpin yang tidak pernah merasa sendiri sepanjang hidupnya. Tapi, pasti selalu ada kamus Kesendirian dalam diri seorang Pemimpin. Maka, Pemimpin tidak pernah lahir, sepanjang sejarahnya, dari ruang-ruang keramaian. Ia tidak pernah lahir dari ajang-ajang kontes pencari bakat, tepukan riuh penonton, bahkan penilaian juri seperti yang tampak di layar kaca. Ia sudah didesain oleh alam untuk mengalami masa kesendirian dalam pengasingan, sampai ia menemukan jalan hakikat menuju Tuhannya. Singkat kata, sampai ia menemukan sendiri, hakikat kehidupan yang harus dan hanya bergantung kepada Rabb Semesta Alam. Alam hanya memberi jalan, tapi manusia itu sendirilah yang menemukan hakikat kehidupannya. Penjara, gua, dan tahajud di tengah malam adalah beberapa jalan kesendirianmenuju hakikat sesungguhnya seorang pemimpin.
Maka, tidak pernah ada Pemimpin yang sepi dari caci maki dan sanjungan pujian diri. Ia bukanlah, kata Anies Baswedan, seseorang yang tumbang ketika dicaci dan terbang ketika dipuji. Ia sudah selesai dengan persoalan syari’at (kulit) seperti itu. Oleh karena, ia sudah menemukan Hakikat Kehidupannya dalam setiap masa-masa kesendirian dalam hidupnya. Kata Umar bin Khottob: Ia yang mempesona layaknya singa di tengah keramaian di siang hari, tapi merundukkan badan layaknya rahib kesendirian di malam hari. Singkatnya, alam sudah punya caranya sendiri untuk membentuk hakikat seorang pemimpin dalam kesendiriannya.
Karena Kesendirian, adalah jalan (thoriqot) seorang Pemimpin menuju Hakikat Kehidupan sesungguhnya dalam hidup ini. La Solitude du Meneur. Kesendirian seorang Pemimpin.

 

Bung Karno, Fatmawati, dan Guntur(Bung Karno, Fatmawati, dan Guntur http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/06/06/jayalah-bung-karno-apapun-itu-artinya-468706.html )

Mengkhawatirkan Keburukan? Khawatirlah kepada Kebaikan!

“Apa pertanyaanmu tadi? Kau bergurau. Aku konsultan keuangan profesional. Aku tidak peduli dengan kemiskinan. Yang aku cemaskan justru sebaliknya, kekayaan. Ketika dunia dikuasai segelintir orang, nol koma nol dua persen, orang-orang yang terlalu kaya”, Kata Thomas pada Julia
(Novel “Negeri Para Bedebah” – Tere Liye)
Hampir saban detik, telpon genggam saya bergetar. Bukan karena panggilan masuk. Tapi, karena begitu banyaknya pesan broadcast yang masuk melalui sms atau grup di whatsapp. Pesan singkat tersebut, tidak jauh dari hal yang bersifat Kebaikan: nasihat, tausiyah, atau apapun itu yang mengajak kita untuk selangkah lebih dekat kepada surga. Di sela percakapan di grup, tetiba ada yang berikan nasihat lewat gambar atau pesan broadcast. Tak henti-hentinya, ayat-ayat Tuhan tersebut tertuliskan melalui tinta-tinta papan tombol di layar telpon genggam.
Salahkah? Tidak ada yang salah. Pesan-pesan Kebaikan memang harus selalu disampaikan. Perlu. Di zaman yang serba karut-marut seperti ini, usaha-usaha untuk menjaga akan sehat harus terus diupayakan untuk melawan Keburukan. Tapi, sebagaimana Miskin dan Kaya, apakah kita harus khawatir terhadap Keburukan? Seberapa persen kekhawatiran kita antara Keburukan dengan Kebaikan? Kenapa kita harus khawatir terhadap Keburukan? Bukankah itu sudah sunnatulloh bahwa sepanjang zaman akan selalu ada perang antara Keburukan (kebatilan) dengan Kebaikan? Lalu, buat apa kita terlalu risau terhadap Keburukan, kalau ternyata dibalik Kebaikan pun tersirat sebuah Keburukan pula?
Saya khawatir terhadap maraknya Keburukan. Saya benci. Tapi, saya lebih khawatir terhadap Kebaikan. Ketika kebaikan menjadi sebuah topeng-topeng kemunafikan untuk meraih keuntungan sesaat, itu bisa jauh lebih buruk dari keburukan itu sendiri. Efek pengganda yang dihasilkan darinya bisa jauh lebih parah dari Keburukan yang sudah jelas adanya. Seorang pemabuk, bisa dengan tegas dilarang untuk melakukan sholat. Tapi, seorang pendusta dengan menggunakan dalil agama, sangat sulit untuk ditentukan benar-salahnya, apalagi untuk dijustifikasi keber-Iman-an dan keber-Islam-annya. Ditambah, jika pendusta tersebut memiliki kedudukan terhormat, reputasi yang selama ini dikenal baik, dan tergolong orang cendekia. Argumentasi benar-salah menjadi bias hanya karena power yang dimiliki olehnya. Inilah yang disebut dengan white-collar crime. 
Betapa berbaurnya orang-orang di dunia ini. Yang berpakaian kumal, tidak selalu berkepribadian bebal. Sebaliknya, yang berpakaian necis, tidak selamanya berkeadaban baik. Justru, betapa banyak kejahatan di berbagai negara dilakukan oleh orang-orang berdasi. Sebagaimana yang terjadi pada Amerika belakangan ini (simak lipsus Kompas Sabtu 10 Agustus 2013). Semakin pintar orang, bisa jadi semakin tidak beradab secara pemikiran dan tindakan. Parahnya, mereka diberikan kedudukan. Kekuasaan. Sehingga, apapun yang disampaikan bersifat “dalil” bukan lagi “opini”, yang dikutip habis-habisan oleh media massa. Kehancuran sistematis dimulai dari sini: disampaikan oleh lisan, diamini oleh media, diterima oleh publik, dijadikan pedoman dalam keseharian. Inilah efek domino tersebut.
Apakah mereka orang baik? Mereka baik, tapi Kebaikan mereka sekadar bungkus, berbalut topeng-topeng etika manisnya perkataan dan perbuatan. Apakah mereka terisolasi dari kehidupan nyata? Tidak. Mereka justru ada di tengah-tengah kita. Kedudukan mereka memiliki pengaruh. Bahkan bisa jadi di antara kita ada yang amat suka mendengarkan perkataan mereka (QS. At-Taubah: 47). Tetapi, sebagaimana Kekayaan, Kebaikan yang mereka himpun hanya di atas kertas yang pada akhirnya merusak dari Kebaikan itu sendiri. Jumlah mereka pun tak banyak. Sedikit, tapi menentukan.
Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka. Dan tentu mereka akan bergegas-gegas maju ke muka celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan-kekacauan di antaramu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan, Alloh mengetahui orang-orang yang zholim” (Qs. At-Taubah: 47)
Masih khawatir terhadap Keburukan? Tidak penting. Saya lebih khawatir terhadap Kebaikan. Ketika Kebaikan hanya dijalankan oleh segelintir orang. Apalagi, dari segelintir orang tersebut hanya sedikit yang senantiasa konsisten sebagai penyeru kebaikan. Orang-orang baik yang sedikit seperti inilah yang harus dicemaskan keadaannya. Karena setiap hari ujian fitnah dan cobaan terus menerjangnya. Jika ia bertahan, ia semakin kuat. Jika tidak, semakin sedikit jumlah penyeru kebaikan. Apakah akan diganti dengan yang lebih baik? Tentu iya, tapi bukan itu persoalannya. Persoalannya, Kebaikan itu barang mahal yang hanya bisa kelihatan efeknya jika dilakukan secara bersama-sama. Tidak bisa dengan sendiri-sendiri. Semakin banyak yang berguguran, semakin kecil Kebaikan itu akan terlihat nyata.
Jadi, tidak perlu khawatir dengan Keburukan. Setiap hal sudah memiliki tabiatnya masing-masing. Tugas kita hanyalah menyampaikan Kebaikan dan merawat Kebaikan itu sendiri. Jika Keburukan masih merajalela, itu berarti bukan salah kita. Bisa jadi karena Dia belum berkehendak untuk merubah keadaan suatu kaum. Atau kaum tersebut yang memang tidak mau sadar untuk berubah.
Jadi, biarkanlah Keburukan itu menjadi raya. Tidak perlu cemas. Yang kita cemaskan dan terus dorong adalah Kebaikan. Tapi, bukan Kebaikan Palsu yang dilakukan untuk menutupi Keburukan. Bukan Kebaikan yang disampaikan untuk menjaga citra diri dan legitimasi bahwa kita tetap menjadi bagian dari kumpulan orang-orang yang baik. Biarkan Kebaikan itu mengalir apa adanya. Bukan Keburukan yang berbungkus topeng Kebaikan. Bahkan, jangan sampai, broadcast sms atau whatsapp tentang Kebaikan yang kita sebar, kita sendiri yang tidak paham maksud dari isinya. Atau sekadar topeng untuk menutupi wajah bopeng kita sebenarnya. Kebaikan itu penting. Tapi, jika terlalu sering menyampaikan Kebaikan, khawatir, niatnya sudah berubah menjadi Keburukan (pamer, dan sebagainya). So, masih khawatir terhadap Keburukan? Khawatirlah terhadap Kebaikan…

 

kutipan tereliye

Belajar Arif dengan Kehidupan

“kakak.. Kakak kalau melihat wanita tak memakai jilbab, apa tanggapan Kakak? Apakah menurut Kakak wanita yang pakai jilbab itu lebih baik ketimbang yang tidak memakai jilbab?”, Tanya Mbak Y kepada Mas X

dgnfjgnkjfdgnjkdfgndgdjnkjnjnjnjknnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn

Sebut saja, perbincangan tersebut ada di antara Mas X dan Mbak Y. Mbak Y ini adalah partner kerja Mas X ketika akan membawakan sebuah acara di esok harinya. Mbak Y ini tahu bahwa Mas X ini dalam kesehariannya dekat dengan gerakan Islam di sebuah kampus, meskipun secara penampilan tidak menunjukkan simat (tanda) sebagai seorang aktivis Islam: celana gantung, jenggot panjang, baju koko, dahi hitam, mata yang tidak memandang kepada lawan jenis, dan sebagainya. Tidak. Mas X ini berpenampilan dan berperilaku manusia pada umumnya kepada semua orang. Sampai pada suatu ketika, Mbak Y ini berani menanyakan hal ini kepada Mas X tersebut.
Dari perbincangan tersebut, Mas X menemukan bahwa Mbak Y ini kadang merasa tidak nyaman dengan lembaga di mana para wanitanya sebagian besar menggunakan jilbab. Ia merasa tidak lebih baik kepada perempuan yang sudah menggunakan jilbab. Ia gelisah. Ia ingin tetap berkarya di lembaga tersebut, tapi tidak ingin munafik bahwa lingkungan tersebut membuat ia tidak nyaman untuk berkarya.
Mas X tersebut, diam sejenak. Mencoba memahami lebih dalam. Mencoba memahami pertanyaan dan alasan yang ia sampaikan: apakah benar pertanyaan tersebut lahir karena ia ingin mencari jawaban dengan pikiran yang masih kosong, atau sebenarnya persepsi (framing) atas jawaban sudah ada tapi ia sekadar mengetes saja jawaban dari Mas X tersebut. Sampai di titik itu, Mas X meyakini bahwa setiap manusia itu bagaikan sebuah kanvas. Kita tidak bisa menilai baik-buruknya seseorang sampai kanvas tersebut selesai terlukiskan. Sampai nyawa tidak lagi dikandung badan. Yang tersisa hanyalah seonggok tubuh tak bertuan.
Akhirnya, Mas X tersebut menjawab, “Kalau kakak dihadapkan pada pertanyaan tersebut, jawaban dan yang kakak lakukan hanya ada dua: 1. Yakini bahwa perbaikan itu adalah bagian dari sebuah proses panjang yang berkelanjutan, 2. Ikhtiarkan untuk senantiasa berdoa setiap saatnya agar Alloh senantiasa memberikan hidayah kepada wanita yang belum berjilbab tersebut, sembari mengajaknya dengan cara yang terbaik (wal mauizhotil hasanah wa jaadilhum bil latii hiya ahsan). Kenapa? Karena wanita yang belum berjilbab, pada dasarnya ia tahu batas-batas dimana dia harus menutup hal-hal yang semestinya ditutup. Menutupi bagian tubuhnya yang membuat ia menjadi malu jika terbuka. Itu fitrah wanita. Dan yang namanya fitrah, tidak bisa dijelaskan secara logika. Ia hanya bisa dirasakan oleh jiwa dan dilakukan dengan perbuatan. Dan proses perbaikan tersebut, tidak perlu dipaksakan, apalagi sampai terbangun framing baik-buruknya seseorang. Bahwa, sudah memakai jilbab rapi itu bagus, sudah memenuhi salah satu kewajiban dari seorang muslimah. Tapi, kesungguhan untuk menggunakan jilbab dengan niat yang lurus, itu juga tidak kalah bagusnya.
Kenapa saya bisa berargumen demikian tentang soal fitrah menutup aurat? Begini ceritanya.
Belajar dari Pengalaman Berkelana di Mania
4 tahun yang lalu, saya dikaruniai kesempatan ikut student exhange ke Filipina (Manila) selama sepekan dalam Program 7th Asian Youth Forum. Saya, bersama 10 orang delegasi Indonesia lainnya, bertemu dengan 20 orang lebih para delegasi dari sekitar 9 negara yang berbeda: Singapore, Filipina, China, Rusia, Bangladesh, India, Pakistan, Jepang, dan Korea Selatan. Selama sepekan tersebut, saya mengikuti setiap acara yang sudah diatur oleh panitia, termasuk mengikuti kuliah umum yang diselenggarakan di Della Sale University, Manila.
Nah, dalam kuliah umum tersebut, kami dikumpulkan dalam suatu ruangan dengan ketentuan dress code yang tidak terlalu ketat. Artinya, setiap delegasi bebas untuk menggunakan model pakaiannya masing-masing, based on habituasi yang biasa ia lakukan. Tepat ketika kami semua masuk ke dalam ruangan, saya duduk tepat di samping gadis dari Jepang yang menggunakan hot pants. Tak perlu saya jelaskan berapa senti jarak antara ujung kain celana dengan dengkul bagian atasnya, yang jelas bagi lelaki normal, celana tersebut bisa mengundang hal-hal yang tidak diinginkan.
Awalnya, saya sekadar iseng saja memilih duduk di samping dia, kebetulan juga karena kursi di ruangan tersebut yang tersisa kosong masih di depan, tepat di sampingnya. Ketika saya duduk, menyapa gadis tersebut, selang beberapa menit kemudian ia mengambil bantal duduk di belakangnya untuk menutupi (maaf) pahanya yang terbuka. Tak ada sama sekali sepatah kata pun yang saya lontarkan untuk meminta untuk menutup pahanya tersebut. Tak ada gelagat sedikit pun yang saya tunjukkan bahwa saya kurang nyaman duduk di sebelahnya. Tapi, inilah fitrah. Dengan cepat, ia menutup bagian yang terbuka tersebut, karena mungkin dia menyadari bahwa fitrah seorang wanita – tidak hanya bagi seorang wanita muslim – adalah tertutup auratnya.
Kearifan adalah Jalan Bijaksana Menyelesaikan Persoalan
Kalau kita melihat (bashor) tentang kemajuan peradaban umat manusia, maka ada sesuatu yang letaknya sangat tinggi dalam pergaulan antar umat manusia. Sesuatu tersebut adalah Titik Kearifan. Ia hadir melampaui (beyond) usia, keilmuan, dan kedudukan seseorang. Seorang ilmuwan bisa mengatakan benar dan salah terhadap suatu persoalan, jika dia melihat tidak sekadar menggunakan narasi logika dari yang selama ini ia pelajari di kelas-kelas. Seorang anak muda bisa berperilaku arif ketimbang yang lebih muda dalam menghadapi persoalan jika dia melihat dengan menggunakan mata batin. Seorang yang memiliki jabatan terhormat bisa seketika jatuh jika ia berperilaku koersif dan agresif dalam memaksakan kehendaknya, menutup masukan dari orang lain terhadapnya.
Dalam korelasi antara Kearifan dan Usia, sebagaimana yang dicontohkan seorang anak kecil kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Khalifah Umar bin Abdul Aziz lebih memilih seorang utusan dari Yaman yang lebih tua yang datang untuk memberikan selamat karena telah diangkat menjadi Khalifah yang baru. Khalifah tersebut berkata kepada anak kecil yang belum genap belasan tahun tersebut,
“Mundurlah engkau wahai anakku. Berikan kesempatan untuk orang tua”, kata Khalifah. Dengan penuh penghormatan, anak kecil tersebut menjawabnya,
“Wahai Amirul Mukminin. Sesungguhnya manusia itu ditimbang dari dua hal di dalam dirinya, yaitu Hati dan Lisannya. Bila seseorang dikaruniai hati yang cemerlang, dan lisan yang kuat, maka dia sangat layak untuk diapresiasi. Sekiranya segala urusan dilihat dari umuur, maka ada yang lebih tua dari engkau di Madinah yang lebih layak menjadi Khalifah (Pemimpin)”.
Anak kecil tersebut tahu bagaimana memperlakukan dirinya sebaik mungkin tanpa harus merendahkan penguasa tersebut. Ia sekadar memberikan nasihat agar tidak lalai akan mewahnya kedudukan. Sebagaimana nasehat seorang wanita buta kepada Nabi Muhammad agar juga tetap memperhatikan orang-orang miskin papa ketimbang orang-orang berkedudukan tinggi (Qs. Abasa: 1). Wanita buta dan Anak Kecil tersebut berperilaku arif dalam menilai orang lain, meskipun orang yang diajak bicaranya memiliki kedudukan lebih tinggi. Mereka tidak ingin men-judge buru-buru ketika orang lain berbuat kesalahan. Tapi, ia sekadar mengingatkan dengan nasihat yang paling santun dan memilih kata yang sangat terhormat kepada lawan bicaranya tersebut.
Kearifan melampaui usia, melampaui kedudukan, bahkan melampaui keilmuan seseorang. Ia hanya bisa dihadirkan jika berhasil menangkap dibalik (beyond) apa yang tampak dari sebuah permukaan. Tugasnya hanyalah mendidik, bukan menggurui. Mengajak kepada kebaikan, bukan menjustifikasi terhadap sebuah persoalan. Inilah yang mungkin menjelaskan tentang sebuah cerita dari sebuah hadits tentang mengapa ada orang setiap hari beribadah tapi di akhir hidupnya ia melakukan kemaksiatan sehingga ia masuk neraka, tapi ada seorang pelacur yang banyak berbuat zina tapi ia masuk surga karena memberikan minum kepada seekor anjing di akhir hidupnya. Kita tidak pernah cerita panjang hidup manusia. Berperilaku ariflah, sebagaimana kita memberikan warna terbaik pada kanvas yang ingin kita lukiskan.

 

376081_2497246442893_1840506900_n

Riset adalah Segalanya*

Me and Mr. AlvinBeberapa hari yang lalu, saya diminta oleh BEM KM UGM untuk menjadi moderator seminar Public Speaking di Purna Budaya UGM. Guest Star pembicara tersebut adalah Alvin Adam, seorang entertainment jurnalist yang mempelopori lahirnya Talkshow “Just Alvin” di salah satu TV berita di Indonesia. Talkshow tersebut hadir dengan membawa konsep “Jurnalisme Rasa”: suatu gagasan tentang dunia jurnalis agar orang yang dianggap tamu undangan bukan diperlakukan sebagai Objek, tapi Subjek. Sehingga, seorang pembawa acara tidak menjadi orang yang merasa paling tahu tentang narasumber, tapi sebaliknya: membiarkan narasumber berbicara apa adanya, selapang-lapangnya, bahkan kalau perlu sampai air mata berlinang sekalipun. Di sinilah letak “rasa” tersebut dihadirkan untuk membawa suasana talkshow bukan menjadi arena persidangan benar-salah. Jurnalisme Rasa.
Honestly, saya belum pernah sekalipun dekat dengan Mas Alvin dalam ruang komunikasi apapun: follow twitter, kirim email, kirim sms, bahkan berbicara face to face. Kebertahuan saya tentang Beliau baru satu arah: mengenalnya di beberapa sinetron, film, dan sebagainya. Sehingga, akan sangat tidak mungkin mengimbangi sebuah diskusi, as a moderator, dimana saya belum sekalipun berinteraksi dengannya. Implikasinya bisa dua hal: diskusi tersebut akan memuaskan banyak orang, atau diskusinya malah tidak memenuhi ekspektasi banyak orang.
17566144Ok, fine. Saya berusaha berpikir sejenak. Lalu, saya teringat sebuah judul dari sub-bab sebuah Novel “Negeri Di Ujung Tanduk” karya Tere-Liye: Riset adalah Segalanya. Tepat! Dalam waktu kurang dari 2 jam selama saya menunggu waktu boarding di bandara, saya coba mencari sebanyaknya informasi tentang Beliau. Thanks, Google! You’re so smart in everything. Dipadu dengan ilmu “menyentuh hati” seseorang dan kecepatan google mendapatkan informasi, saya menemukan sebuah kata tentang Beliau: Jurnalisme Rasa. Saya pahami dengan cepat, sambil berdoa: jika Alloh menghendaki aktivitas ini, maka pasti Dia akan mudahkan segalanya, termasuk menentukan hal apa yang bisa menautkan hati saya dengan Mas Alvin dalam membuka ruang komunikasi di sebuah acara yang dihadiri 200-an orang lebih tersebut.
Setelah mendapatkan beberapa informasi tentang Beliau dan idenya tentang “Jurnalisme Rasa” tersebut, saya mematikan laptop dan bersiap untuk memasuki kabin pesawat. Saat menuju kabin tersebut, entah kenapa, Alloh menjawab doa saya tersebut. Saya bertemu dengan Mas Alvin Adam tepat ketika mau menaiki tangga pesawat dari Jakarta menuju Yogyakarta. Awalnya, saya tidak merasa akan bertemu dengan Mas Alvin karena maskapai yang saya naiki termasuk untuk standar kelas menengah ke bawah, sedangkan Beliau pasti menaiki kelas menengah ke atas. Di sepanjang menaiki tangga tersebutlah, saya berusaha membuka ruang komunikasi dan “menyentuh hati” nya dengan ide “Jurnalisme Rasa” tersebut. Komunikasi yang awalnya kaku karena baru saling mengenal tersebut, akhirnya menjadi cair. Kita tertawa bersama, membangun iklim kedekatan diskusi yang meskipun hanya berjalan 2-3 jam nanti. Beruntungnya, Beliau tipikal orang yang supel dan berasal dari keluarga yang demokratis, sehingga hal tersebut mempermudah kami dalam membangun percakapan. I got it!
Riset itu Segalanya, Sederhana dan Ada Dimana-Mana.
Selama ini kita memahami dunia riset adalah dunia orang-orang yang dahinya terlipat karena kebanyakan mikir. Atau mungkin dunianya orang-orang berkacamata, berjidat lebar, berpenampilan necis, pintar beretorika dan berada di luar sistem. Sebenarnya, tidak juga! Dunia riset itu simple. Kita bisa melakukannya dimana pun dan kapan pun. Mungkin karena terjadi penyempitan makna (peyoratif) dalam waktu yang sangat lama, istilah “riset” menjadi hanya milik segelintir orang. Konstruksi makna mampu membuat suatu hal menjadi dipandang rendah, tinggi, menyempit, atau meluas, di mata banyak orang. Meskipun sebenarnya, realitasnya berbeda dari apa yang kita persepsikan tentang hal tersebut. It’s daily life of research!
Sebelum kita menentukan teman hidup kita selamanya (menikah), misalnya, kita biasa mencari informasi tentangnya dengan berfokus pada 3 hal: Keturunan, Kepunyaan, dan Kematangan. Atau dalam Dunia Jawa disebut Bibit, Bebet, dan Bobot. Proses mencari informasi tersebut bisa dari beragam sumber yang mendukung atau yang berseberangan. Istilah kerennya dalam dunia riset adalah cross-cutting information: mencari informasi sebanyak dan seberagam mungkin si calon, mencari relasinya dengan siapa saja ia bersahabat, hingga menentukan kesimpulan apa yang diambil dari informasi yang didapatkan tersebut (menjadikan ia sebagai pilihan kita atau tidak dalam mengarungi bahtera rumah tangga kelak).
Sebelum kita memilih akan sekolah atau kuliah, misalnya, kita terbiasa mencari banyak hal tentangnya. Mulai dari melihat lingkungan tempat kita kuliah atau sekolah, memperhitungkan biaya yang dikeluarkan, mempertimbangkan nilai ujian kita untuk bisa bersaing mendapatkan sekolah/ kampus tersebut, mengukur international grade jurusan yang akan kita ambil, memprediksi kelak kita akan bekerja atau berkontribusi dimana pasca lulus, hingga apa manfaat baliknya untuk keluarga dan masyarakat kita tinggal. Dunia riset yang simple seperti itu, tanpa sadar, sudah kita lakukan dalam skala terkecil, yaitu menerapkan cara berpikir sistemik, mulai dari input – process – output – feed back. 
Untitled
Nah, di sinilah sebenarnya titik temu antara dunia riset yang kita anggap rumit tersebut dengan dunia keseharian yang kita sering sebut dengan Kearifan Lokal. Titik temu tersebut dalam pepatah diistilahkan dengan Dimana Bumi Dipijak, Di situ Langit Dijunjung. Artinya, kita harus bisa menyesuaikan diri dimana kita berada, termasuk dengan bahasa, adat-istiadat, kebudayaan, sistem nilai yang terbangun bertahun-tahun lamanya di daerah tersebut. Proses untuk “memijaki bumi” tersebut tentu lahir bukan dengan tiba-tiba. Tapi, harus bertahap dan terus disesuaikan antara karakter kita sebagai pribadi dengan karakter orang lain atau masyarakat tempat tinggal. Itulah sebabnya, dalam proses mencari “memijaki bumi”, terkadang kita tak sengaja menginjak paku, berjalan di atas rumput orang, atau berlayar memimpin sebuah perjalanan. Konflik menjadi hal yang wajar, pun dalam dunia riset yang menyiratkan adanya thesis-antithesis-sinthesis.
Dunia Riset Masa Kini
Adanya konstruksi makna dari dunia riset, mau tidak mau, membuat banyak orang skeptis terhadap hal tersebut. Skeptisan tersebut seringnya tercermin dari rendahnya penghargaan negara terhadap dunia riset, beberapa diantaranya adalah
  1. Minimnya penganggaran negara untuk menyediakan dana riset untuk sektor-sektor strategis yang menunjang keberlangsungan negara di masa depan.
  2. Minimnya akomodasi dan aplikasi – ketimbang faktor politik yang selalu dijadikan pertimbangan utama hasil riset – untuk dijadikan landasan dalam mengambil kebijakan
  3. Minimnya publikasi akademik hasil riset untuk masuk dalam jurnal internasional dan nasional
  4. Melemahnya budaya literasi (menulis, membaca, dan berdiskusi) di kalangan banyak orang,  terutama anak muda, dan sebagainya.
Beberapa fakta tersebut harus disikapi secara cermat dan arif. Memetakan dan mencari akar permasalahannya, menjadikan kita lebih semangat mencari penyelesaian ketimbang sekadar mengutuk kegelapan. Fakta tersebut tak mungkin ditolak, tapi hanya berdiam diri dan bersungut terhadap keadaan itu yang lebih layak untuk ditolak. Tugas terpenting adalah membongkar itu semua. Merekonstruksi lagi pemahaman kita dan banyak orang tentang dunia riset, hingga menerapkannya dalam dunia keseharian. Tapi, jangan sampai semangat untuk membongkar tersebut malah seperti mencangkul: menggali sebuah tanah, tapi tanah buangannya diberikan ke tempat lain. Menyelesaikan persoalan dengan tidak menambah persoalan, itu lebih penting dan pastinya kerjanya akan semakin berat.

blog_kualitas_riset

Wallahu ‘alam bis showab

*judul tulisan ini terinspirasi dari judul sub-bab Novel “Negeri Di Ujung Tanduk” Tere-Liye

“Lalu Lintas Kehidupan” *

macet

Suatu ketika di waktu pagi, Ibu “memanggil” saya dari Jakarta via telepon. Melalui jejaring kabel tersebut, Beliau berkata, “Le, kamu tidak iri dengan kawan-kawanmu yang sudah lulus, bekerja, dan menikah?”. Mungkin karena masih cukup pagi, saraf-saraf otak saya masih belum cukup “cepat” untuk bekerja menjawab pertanyaan dari Beliau tersebut. Pertanyaannya mungkin sederhana, tapi jawabannya sangat berat. Karena pertanyaan tersebut, sejatinya, bukan untuk dijawab dengan kata. Tapi, dijawab dengan perbuatan. Tindakan yang membutuhkan nafas panjang untuk membalikkan setiap cibiran kata dan pandangan sebelah mata. “Thanks, Mom. Terima kasih sudah membangunkan kesadaran dan tubuh saya di pagi yang masih cukup larut tersebut”, jawabku dalam hati.
Well, harus kita akui bahwa seringnya kita – bahkan juga saya – menilai rumput tetangga lebih hijau. Mungkin tidak sekadar hijau tapi juga lebih lebat dan bermanfaat untuk banyak orang. Godaan-godaan untuk cenderung lebih melihat ke luar, itu wajar. Mungkin itulah makna dari perlombaan – bukan persaingan. Fastabiqul Khoirot. Agar kita senantiasa bersaing dan terus bergerak, tak berdiam diri. Karena – sebagaimana kata Imam Syafii – air yang bergerak tidak akan banyak menimbulkan penyakit. Namun, persoalannya bagaimana jika perasaan iri tersebut malah membuat jadi rendah diri? Bukankah setiap kita diberikan rumputnya masing-masing dan diberikan kemampuan sebesar-besarnya untuk mengolahnya?
Pergolakan tentang rasa iri melihat rekan-rekan seumuran sudah melangkah ke fase berikutnya itulah yang saya – atau mungkin kita – alami belakangan ini. Persoalannya kian rumit kalau kita tidak mengetahui apa sebab utama Alloh hadirkan persoalan tersebut kepada kita. Kita sekadar menggumun terhadap “prestasi” orang lain, tapi gagal menangkap mengapa Alloh membeda-bedakan kita dengan orang lain. Sehingga, landasan praksis tersebut tidak bertemu dengan landasan kognisi. Amukan rasa ini terus saya alami sampai pada satu titik Alloh “mempertemukan” saya dengan hikmah tentang “Lalu-Lintas Kehidupan”, sebagaimana yang ditafsirkan oleh Prof. Quraish Shihab dalam membedah QS. Yunus 1-10:

iklan LA3_thumb[1]

Bahwa sejatinya, setiap manusia adalah node-node kecil dari sebuah jagad raya kehidupan. Mirip, dengan sebuah kendaraan yang sama-sama berjalan di jalan yang sama. Jalan Tuhan. Fisabilillah. Masing-masing kita adalah sebuah kendaraan, yang sedang melaju di jalan yang sama, dan berujung pada akhir jalan yang sama: kematian. Karena berada pada jalan yang sama, maka akan sangat mungkin terjadi pergesekan atau tabrakan yang merusak kesetimbangan alam: kerusuhan, korupsi, dan penyakit-penyakit social lainnya. Untuk itulah perlu diatur agar setiap kendaraan yang melaju tersebut tidak berada pada satu waktu yang sama dan senantiasa menaati peraturan yang ada.
Peraturan itulah yang dinamakan Agama. Dan satuan waktu tersebut dinamakan Takdir. Agama sebagai rambu, tata cara dalam menjalani kehidupan. Sedangkan Takdir adalah tulisan dari pena yang telah diangkat, tepat ketika kita lahir. Oleh karena itu, setiap kita punya traffic light-nya masing-masing. Kapan saatnya kita memiliki lampu hijau untuk jalan terus, lampu kuning untuk menurunkan tempo, dan lampu merah untuk sejenak beristirahat. Dengan kata lain, para ilmuwan menciptakan traffic light, sebenarnya, bukan untuk memperlambat laju kendaraan kita, tapi untuk mempercepat dengan cara mengatur siapa yang lebih dahulu siap dan berada di garis depan. Bayangkan, jika setiap kendaraan kehidupan kita ingin terus melaju, tidak ada waktu untuk berhenti! Yang ada adalah keterlambatan yang disebabkan karena adanya tabrakan-tabrakan social. Kalau pun ada percepatan, itu sekadar mempercepat pengakhiran garis kehidupan kita, yaitu kematian.
spiral-clock
Itulah sebabnya, para pandai hikmah, menyiratkan bahwa Hidup itu tak ubahnya Ibadah. Apapun itu. Setiap Ibadah memiliki waktunya masing-masing. Kita tak bisa – bahkan tidak boleh mempercepat – datangnya waktu ibadah tersebut. Semua ada waktunya, takdirnya, dan masanya. Yang diperbolehkan dan diberikan keleluasaan kepada kita adalah mempersiapkan sebaik mungkin untuk menunggu takdir itu hadir. Kita tidak boleh Sholat sebelum waktunya, tapi kita boleh mandi, berias, menggunakan wewangian, bahkan memilih untuk naik motor, jalan kaki, dan sebagainya, sambil menunggu waktu sholat itu hadir. Mirip dengan pencarian kebenaran: akal dan indera diberikan kemampuan sebesar-besarnya untuk mencari, tapi yang namanya Hidayah dan Intuisi yang berasal dari hati, tetap saja berasal dari Alloh. Itu hak prerogative Alloh.
Bagaimana jika ternyata kita sudah mempersiapkan sebaik mungkin, tapi ternyata berbeda hasilnya dengan yang kita inginkan? Itu tandanya jalan kita masih panjang. Alloh masih memperbanyak trafiic-light dalam kehidupan kita, yang dinamakan kesabaran. Alloh punya nalarnya sendiri, yang tidak akan mungkin kita pahami dengan nalar manusia biasa. Alloh ingin agar kita semakin siap menjalani kehidupan selepas traffic light tersebut berubah warna: dari merah menjadi hijau. Kalau setiap saat kita diberikan lampu hijau, niscaya kita tidak pernah belajar untuk bersabar dan mempersilahkan orang lain untuk sama-sama “sukses” seperti kita. Semua ada gilirannya. Ada waktunya. Sehingga, benar apa kata orang-orang tua: “Hidup itu bagai roda. Ada saat kita di bawah. Ada saat kita di atas”. Yang penting, pastikan kita tetap berada dalam jalan kebaikan. Tempat orang-orang yang selalu menyeru kepada kebaikan.
Wallahu ‘alam bisshowab

*Inspired with Tafsir QS. Yunus 1-10 by Prof. Quraish Shihab

Arsenal: Perpaduan antara Tradisi dan Progresifitas

arsenal-fc-logoSemenjak tahun 2005, saya mulai menyukai sepakbola. Di tahun-tahun saat saya mulai melek sepakbola itulah saya mulai menyaksikan sebuah klub liga Inggris bernama Arsenal. Awalnya sekadar euphoria. Wajar, karena di era 2004-2006 tersebut adalah era dimana Arsenal sedang pada fase puncaknya: peringkat kedua liga Champion, juara EPL, FA, bahkan tidak pernah kalah dalam 1 musim ketika penjaga mistar gawangnya adalah David Seamen. Henry yang direkrut di usia sebelum 20 tahun, ternyata meledak menjadi bomber paling menakutkan di Eropa karena sentuhan dingin Arsene Wenger. Pires, Henry, Viera, Ljunberg, Bergkamp, dan sebagainya adalah mereka yang menjadi pahlawan Arsenal di kala itu.
Namun, seiring waktu berjalan, kecintaan saya terhadap Arsenal bukan sebatas euphoria saja. Bukan sekadar fans pengagum yang selalu menongkrongi tiap kali pertandingannya – apalagi sekadar beli jersey Mikel Arteta bernomor punggung 8. Bukan. Tapi, kecintaan saya terhadap kepada Arsenal adalah karena klub ini – menurut saya dan beberapa analisis yang saya baca – adalah 1 diantara 2 klub yang bisa menggabungkan dua hal yang berbeda dalam 1 waktu: menggabungkan antara Tradisi dan Progresifitas. Klub pertama adalah Manchester United, baru yang kedua Arsenal. MU sudah lebih dahulu maju, karena didukung kuatnya kapasitas manajerial dan financial yang tersebar luas hampir di setiap negara.
Saya menyadari, di satu sisi banyak yang mencemooh Arsenal karena tak ubahnya seperti SSB (sekolah sepak bola). Yang tugasnya, tidak lebih dari sekadar mencetak pemain muda berbakat, lalu setelah tumbuh menjadi bintang, dijual. Kondisi seperti itulah yang dialami oleh Fabregas, RvP, Clichy, Toure, Henry, dan sebagainya. Alibi yang paling masuk akal adalah untuk menutup besarnya deficit anggaran yang terjadi karena pemindahan stadion dari Highbury ke Emirates Stadium. Tapi, menurut saya, persoalan SSB seperti itu, dominan bukan karena faktor finansial. Arsenal memiliki 4 pemegang saham utama dalam manajemen. Tapi, ini karena ada Tradisi yang bersifat Konservatif yang ingin dijaga oleh Wenger selama 10 tahun ia mengarsiteki Arsenal. Corak Konservatif itulah yang tercermin dari penggabungan dua hal: cara bermain a la Spanyol (Barcelona), dan mengakomodasi bakat-bakat muda, baik yang berasal dari internal klub (layaknya Bayern Munchen) atau dari luar. Yang pertama, akan melahirkan cara bermain sepak bola yang lebih kolektif – bukan individual; yang kedua, akan lebih menjaga keuangan klub karena pemain muda relative lebih murah harganya. Bagai sebuah pepatah: 1 kali mendayung, 2-3 pulau terlampaui.
Arsene-Wenger
Di sisi lain, Arsenal juga tak ingin terbuai dengan Tradisi. Tapi, juga harus progresif. Disadari atau tidak, Arsenal adalah satu-satunya klub EPL yang selalu masuk 4 besar Liga Champion dalam 15 tahun terakhir. Memang, belum sekalipun juara Championship di tangan Wenger. Tapi, Arsenal punya tradisi untuk terus bersaing menembus empat besar di tiap musimnya. Sembari memastikan bakat-bakat mudanya tumbuh berkembang secara mental dan teknik, sembari itu pula terus menjaga progresivitas klub untuk juara. Sehingga, pembangunan klub tidak semata-mata didasarkan pada aspek financial dari sugar daddy. Finansial penting, tapi kalau bisa menghasilkan kemandirian keuangan dengan tidak mengandalkan satu orang sumber pendanaan  itu jauh lebih penting. Malaga, adalah salah satu bukti klub yang bangkrut hanya karena mengandalkan satu sugar daddy yang pada gilirannya merugi dan menjalar ke keuangan klub.
Wenger memang tidak pernah menjadi pemain sepak bola professional. Ia sekadar manajer lulusan Strasbrough University Prancis bergelar master of management. Tapi, Wenger tahu bagaimana cara mengelola sebuah tim yang bisa menggabungkan dua hal itu: menunggu dengan sabar para pemain muda berbakatnya untuk terus berkembang, sembari memastikan bahwa klub harus terus bersaing dengan klub-klub besar lainnya dalam ketatnya persaingan EPL.
Maka, ketika Jack Wilshere mendekap cedera di usia 19 tahun, Wenger tidak terburu-buru untuk mempercepat kesembuhannya. Baginya, jadikan masa “mundur ke belakang” itu sebagai suatu masa untuk mencari panjangnya pijakan agar bisa melompat lebih jauh. Jadi, mundur bukan berarti kalah. Tapi, siap untuk bertolak lebih kuat agar mampu tampil lebih hebat dibandingkan pemain seusianya. Special treatment seperti itulah yang dialami pula oleh Henry. Henry direkrut oleh Arsenal saat usianya belum mencapai 20 tahun. Meskipun, sudah malang melintang di banyak klub di dunia (Barcelona, MLS, dan sebagainya), Henry tetap menghormati Wenger yang lebih dari seorang pelatih. Karena Henry besar dari Arsenal dan sudah memberikan yang terbaik untuk Arsenal. Sehingga, jika dibuatkan patung Henry di Emirates Stadium.
Di sinilah letak utama kekaguman saya kepada Arsenal. Klub yang terus belajar dan bersabar untuk menjadi juara, tapi di satu sisi juga terus menjaga progresifitas klub agar tidak menjadikan apologi pembelajaran tersebut menjadi alasan untuk tidak bersaing 4 besar tiap musimnya. Sehingga, Tradisi seperti itulah yang akan menguji seberapa besar kecintaan fans terhadap Arsenal: apakah sekadar ikut-ikutan saja, atau memang benar-benar memahami prinsip-prinsip yang dibangun Arsenal, mulai dari pemain hingga para fans sekalipun. Faktor Tradisi  (Konservatif) dan Progresif inilah yang mulai menjadi weltanschung di Arsenal. Karena ini bukan soal menjuarai kompetisi, tapi ini soal membangun institusi yang lebih kuat dan sehat. Dalam konteks yang lebih luas, Tradisi dan Progresif adalah 2 kata kunci kemajuan peradaban! 

 

soc_g_wilshere_d1_576